Share

Bab 180

Author: Skyy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-26 23:02:14

Perguruan besar seperti Perguruan Sangkara tentu tidak akan sembarangan memilih lokasi pendirian. Tanah yang mereka tempati pasti memiliki energi spiritual yang jauh lebih kaya daripada tempat biasa.

Di berbagai lokasi strategis, paviliun juga dibangun untuk memanfaatkan energi tersebut. Energi spiritual yang terkumpul di dalam paviliun itu telah terakumulasi selama bertahun-tahun. Jika seseorang bisa berkultivasi di tempat seperti itu, manfaatnya jelas jauh lebih besar.

Menurut Bram, seseorang
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 185

    Bayu, Harsa, Dwiki, Viona, dan yang lainnya saling bertukar pandang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.Di atas arena, kondisi Dito sudah semakin buruk. Tubuhnya hampir kehilangan tenaga dan kedua kakinya bahkan tidak mampu menopang tubuh dengan baik. Dia ingin menjatuhkan diri dan langsung mengakui kekalahan. Namun,Revan tetap tidak memberinya kesempatan. Satu tangan mencengkeram leher Dito, mengangkat tubuhnya sedikit dari tanah. Tangan lainnya kembali bergerak.Plak!Tamparan keras menghantam wajah Dito.“ARGH!” Dito menjerit kesakitan.Pertarungan terus berlanjut. Namun, sejak awal sampai saat itu, Dito tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan untuk menyerang. Dia hanya mampu bertahan sambil menerima pukulan demi pukulan dari Revan.Bayu akhirnya terbatuk pelan. “Ehem... Bukankah anak ini agak terlalu kasar?”Dia melirik Harsa di sampingnya.Harsa mengangguk dengan wajah serius. “Memang agak berlebihan.”Menurutnya, Revan sudah kelewat jauh. Dito yang menjadi lawannya b

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 184

    Revan tertegun, dia benar-benar tidak menyangka Dito akan mengatakan hal seperti itu.Minta dikasihani?Bahkan sudah memohon agar aku tidak terlalu keras?Revan mencibir. Tatapannya berubah aneh saat memandang Dito, seperti sedang melihat seseorang yang baru saja mengatakan sesuatu yang sangat konyol. “Karena kau sudah meminta seperti itu, aku akan mengampuni nyawamu.”“Apa?!” Dito hampir tidak percaya.Dia merasa sudah merendahkan dirinya sejauh mungkin dengan membawa nama Keluarga Sinaga dan Kakaknya. Tujuannya sederhana, berharap Revan mau memberinya sedikit kelonggaran.Namun, jawaban yang diterimanya justru membuatnya semakin tidak berdaya.“Tenang saja, nyawamu akan kuselamatkan.”Belum sempat Dito mengatakan apa-apa lagi, sosok Revan tiba-tiba menghilang dari hadapannya.Duagh! Duagh!Dua pukulan menghantam perut Dito secara beruntun. Tubuhnya langsung membungkuk. Darah segar menyembur dari mulutnya, wajahnya memerah menahan rasa sakit.Keduanya sama-sama berada di tingkat ketu

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 183

    Daren mengulurkan tangan. “Daren Renjana.”“Bram Semesta.”Keduanya berjabat tangan singkat sebagai salam. Begitu tangan mereka terlepas, kedua sosok itu langsung melesat maju. Mereka menyerang hampir bersamaan, mengerahkan seluruh kekuatan sejak awal.Para penonton langsung terkejut.Kekuatan keduanya memang tidak bisa dibandingkan dengan para jenius papan atas, tetapi semangat bertarung mereka benar-benar tinggi.Revan justru tersenyum tipis. Dia tahu persis apa yang ada di balik serangan membabi buta tersebut. Keduanya sedang menunggu satu kesempatan.Siapa pun yang lebih dulu lengah akan langsung menjadi sasaran serangan mendadak.Daren melayangkan pukulan, dan Bram membalas dengan tendangan. Keduanya terus bertukar serangan, saling menekan tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk mengambil napas.Jumlah penonton di sekitar arena itu tidak banyak. Pertarungan tersebut juga tidak bisa disebut sebagai tontonan terbesar hari itu.Namun, Revan terlihat menikmatinya. Di sampingnya,

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 182

    Suasana arena seketika berubah.“Kali ini aturannya berbeda dari seleksi sebelumnya. Seluruh pertandingan akan ditentukan melalui undian dan dilaksanakan secara bersamaan di tiga arena.”Bayu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Begitu kalian kalah satu kali, kalian langsung didiskualifikasi dan tersingkir dari kompetisi.”Senyumnya tetap terlihat tenang ketika dia menoleh kepada Harsa.Harsa memahami maksudnya. Dia segera mengangguk dan melangkah maju dua langkah. “Aku akan memimpin jalannya pertandingan berikutnya. Kalian semua tuliskan nama masing-masing di secarik kertas. Nama yang dipanggil nanti harus segera naik ke arena.”Harsa berbicara lantang sambil menepuk tas penyimpanan di pinggangnya. Dalam sekejap, lima ratus lembar kertas beserta pena melesat keluar dan berhenti tepat di tangan setiap peserta.Setelah seluruh peserta selesai menuliskan nama mereka, seorang murid maju untuk mengumpulkan semua kertas tersebut. Potongan-potongan itu kemudian dimasukkan ke dalam sebuah

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 181

    Tanpa terasa, tiga hari berlalu.Hari kompetisi seleksi dan pemeringkatan akhirnya tiba.Di arena utama, Revan, Livia, Arvin, Naren, dan para jenius lainnya berdiri bersama lima ratus murid yang berhasil lolos dari seleksi sebelumnya.Kompetisi kali ini bersifat sukarela. Meski begitu, sebagian besar murid tetap memilih untuk ikut serta. Hanya sebagian kecil yang memutuskan untuk tidak datang. Bahkan mereka yang sadar bahwa peluangnya kecil tetap ingin mencobanya.Bram, Daren, dan beberapa murid lain yang kekuatannya berada di bawah para jenius utama juga hadir. Mereka tentu berharap bisa memperoleh sedikit keberuntungan dari kompetisi tersebut.Di depan kerumunan, Harsa berdiri dengan ekspresi tenang. Namun, kali ini dia tidak datang sendirian.Di sampingnya berdiri tiga sosok tetua yang memiliki kedudukan tinggi. Salah satunya seorang pria tua dengan rambut hitam lebat, sedangkan di sisi lain berdiri seorang wanita paruh baya dengan paras yang masih terlihat cantik.Di barisan palin

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 180

    Perguruan besar seperti Perguruan Sangkara tentu tidak akan sembarangan memilih lokasi pendirian. Tanah yang mereka tempati pasti memiliki energi spiritual yang jauh lebih kaya daripada tempat biasa.Di berbagai lokasi strategis, paviliun juga dibangun untuk memanfaatkan energi tersebut. Energi spiritual yang terkumpul di dalam paviliun itu telah terakumulasi selama bertahun-tahun. Jika seseorang bisa berkultivasi di tempat seperti itu, manfaatnya jelas jauh lebih besar.Menurut Bram, seseorang bahkan bisa mengalami peningkatan kultivasi hanya dengan tidur di dalam paviliun tersebut. Mungkin itu sedikit berlebihan. Namun, ucapan tersebut cukup menggambarkan betapa berharganya sebuah paviliun khusus di Perguruan Sangkara.“Revan, jumlah paviliun khusus seperti itu sebenarnya tidak banyak. Bahkan sebagian besar wakil tetua pun belum tentu mendapat tempat seperti itu.” Bram menatap Revan dengan serius. “Perguruan Sangkara sengaja memberikan fasilitas tersebut untuk membina calon penerus

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status