Share

Bab 181

Author: Skyy
last update publish date: 2026-09-27 21:51:29

Tanpa terasa, tiga hari berlalu.

Hari kompetisi seleksi dan pemeringkatan akhirnya tiba.

Di arena utama, Revan, Livia, Arvin, Naren, dan para jenius lainnya berdiri bersama lima ratus murid yang berhasil lolos dari seleksi sebelumnya.

Kompetisi kali ini bersifat sukarela. Meski begitu, sebagian besar murid tetap memilih untuk ikut serta. Hanya sebagian kecil yang memutuskan untuk tidak datang. Bahkan mereka yang sadar bahwa peluangnya kecil tetap ingin mencobanya.

Bram, Daren, dan beberapa muri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 220

    “Bocah sialan!” Amarah Gilang langsung meledak. Dia tidak pernah menyangka seorang murid baru berani mempermalukannya seperti ini di depan orang lain.Dia adalah seorang jenius yang telah berkultivasi hingga ambang Fase Surga. Selama bertahun-tahun menjadi murid resmi, kapan ada orang yang berani menyuruhnya pergi dengan cara seperti ini?Ledakan aura tiba-tiba mengguncang area sekitar.Kekuatan yang jauh melampaui Puncak Fase Roh menyembur dari tubuh Gilang. Otot-otot di lengannya menegang, tubuhnya mengembang dengan cepat hingga jubah biru yang dikenakannya tertarik kencang. Setiap gerakannya memancarkan tekanan fisik yang luar biasa.Mata Jovian langsung berbinar.Gilang terkenal karena mengolah tubuh. Kekuatan fisiknya jauh melampaui kultivator biasa. Bahkan di antara para kultivator yang baru menyentuh Fase Surga, tidak banyak yang mampu menandingi kekuatan tubuhnya.Jovian segera mundur beberapa langkah. Dia tidak ingin terkena dampak pertarungan secara tidak sengaja.Elang send

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 219

    Revan menatap ketiganya beberapa saat. Kemudian, sorot matanya berubah dingin. “Kalau aku tidak mau memberikannya?”Nada suaranya datar, tetapi tatapannya tajam hingga membuat suasana di depan gua seketika berubah.Jovian mencibir, tatapannya berubah semakin tajam ketika Revan menolak begitu saja. “Kalau kau tidak mau menyerahkannya, aku akan membuatmu menyesal. Paling tidak, kedua tangan dan kakimu akan kupatahkan lebih dulu.”Jovian melangkah maju sambil menyeringai. “Ini memang Perguruan Sangkara, jadi aku tidak bisa membunuhmu terang-terangan. Namun, sebaiknya kau ingat satu hal. Kalau tidak tahu cara menjaga diri, kehilangan nyawa di kemudian hari bukan sesuatu yang mustahil.”Gilang dan Elang ikut tertawa dingin. Keduanya berada di Puncak Fase Roh dan sudah menyentuh ambang Fase Surga. Mereka termasuk murid berbakat yang telah bergabung dengan Perguruan Sangkara sejak beberapa tahun lalu. Saat mengikuti seleksi awal, peringkat mereka juga cukup tinggi, hanya saja keduanya gagal

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 218

    Beberapa tetua saling berpandangan. Mereka akhirnya menyadari bahwa kedua kejadian tersebut terjadi dalam rentang waktu yang hampir bersamaan.“Mungkinkah target mereka adalah Revan?”“Besar kemungkinan begitu.”“Kalau memang demikian, kenapa tidak satu pun dari mereka yang kembali? Dan bagaimana keadaan Revan sekarang?”Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di dalam aula.Setelah berdiskusi cukup lama, Keluarga Draksa akhirnya sepakat untuk merahasiakan kabar tersebut terlebih dahulu. Mereka juga akan mengirim seseorang untuk mencari tahu keadaan Revan dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi.Di tempat lain, Nayara kembali menjalani kebiasaannya selama sebulan terakhir. Hampir setiap hari dia mengurung diri di halaman kediamannya. Sesekali, gadis itu hanya berdiri diam sambil memandang ke arah timur, seakan berharap seseorang akan kembali dari sana.Kiara akan datang setiap kali memiliki waktu luang untuk menemani Nayara berbincang. Bagaimanapun, sejak Naraka pergi dan Revan meni

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 217

    “Tuan Muda, hubungan Revan dengan Kepala Balai Perdagangan Harta Langka memang cukup baik. Namun, tokoh itu tidak mungkin terus berada di Kota Jayagiri.” Kepala pelayan mencondongkan tubuh sedikit, suaranya berubah semakin pelan. “Begitu dia pergi, Anda bisa menantang Revan secara terbuka. Pertarungan dilakukan di atas arena, disaksikan banyak orang. Dalam keadaan seperti itu, Balai Perdagangan tidak akan bisa melindunginya.”Senyum licik muncul di wajah kepala pelayan. “Selama Anda mampu mengalahkannya di arena, tidak akan ada seorang pun yang bisa menyalahkan Anda.”Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Bahkan jika Keluarga Draksa berniat mengambil tindakan setelahnya, mereka tetap harus mempertimbangkan posisi Anda.”Arya terdiam beberapa saat sebelum sudut bibirnya terangkat. “Bagus.”“Bagus sekali…”Senyum di wajahnya perlahan berubah menjadi seringai ganas. Dalam benaknya, dia sudah membayangkan bagaimana dirinya akan menghancurkan Revan di hadapan semua orang. Kalau memungki

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 216

    Jauh dari Perguruan Sangkara, di sebuah tempat yang diselimuti kabut dan berdiri bangunan-bangunan megah milik Perguruan Nirakasa, suasana di dalam sebuah gua terasa jauh dari tenang.Arya duduk di atas bangku batu dengan wajah mengeras. Di hadapannya berdiri kepala pelayan Keluarga Cakrawala yang sejak tadi menundukkan kepala, tidak berani menatap langsung pemuda tersebut.“Sialan…”Jari-jari Arya mengepal.“Sialan—!”Matanya memerah, niat membunuh yang pekat perlahan memenuhi ruangan.Baru saja keluar dari Danau Penyucian Raga, Arya sempat membayangkan akan melihat Revan dibawa ke hadapannya. Dia ingin memaksa kakaknya itu mengungkapkan kesempatan luar biasa yang selama ini berhasil membuat kekuatannya berkembang begitu pesat.Namun, yang menyambutnya setelah keluar dari danau justru kabar bahwa kepala pelayan sudah menunggunya di Perguruan Nirakasa. Begitu mereka bertemu, seluruh kejadian setelah Bagas berangkat diceritakan kepadanya.Arya sama sekali tidak menyangka bahwa orang ya

  • Menantu Tak Berguna? Aku Pewaris Langit   Bab 215

    Revan hanya bisa menghela napas. Sekarang dia sadar bahwa alasannya tadi terdengar agak tidak jujur. Bagaimanapun juga, dia memang telah membiarkan makhluk ini kelaparan selama lebih dari setengah bulan.Singa itu makan dengan lahap sampai tidak menyisakan apa pun. Setelah seluruh makanan habis, perutnya mengembung dan tubuhnya kembali terlihat jauh lebih puas.Revan memperhatikannya beberapa saat sebelum bertanya, “Kau punya nama sendiri?”Singa itu menggeleng. Kemudian ia mengedipkan mata, menjulurkan lidah, dan mulai mengibaskan ekornya sambil menatap Revan dengan tingkah yang sangat jinak.“Kau mau aku yang memberimu nama?”Kepala besar Singa itu kembali menggeleng. Setelah itu, ia malah mengangguk berkali-kali.“Hmm...” Revan mengusap dagunya.Dia memang tidak terlalu pandai memberi nama. Setelah memperhatikan bulu emas yang menutupi seluruh tubuh singa tersebut, sebuah nama akhirnya muncul di benaknya.“Kalau begitu, bagaimana kalau aku memanggilmu Rimba? Bagaimana?”Singa Beram

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status