MasukRevan mendekati aksara itu dan mulai membacanya dengan saksama. Ia belum mengetahui tingkatan artefak Porselen Alkemis tersebut, benda yang tersimpan di dalam Cincin Langit tentu layak untuk diteliti. Terlebih lagi, pengetahuan alkimia di hadapannya merupakan sesuatu yang sangat ia butuhkan saat ini.Semakin lama membaca, semakin serius pula Revan menyelami isinya. Tiba-tiba, ia berhenti pada sebuah bagian yang sebelumnya terasa rumit dan sulit dipahami. Kali ini, penjelasan yang dahulu membingungkannya justru terasa jauh lebih mudah dicerna, seakan pemahamannya terbuka dengan sendirinya.“Jangan-jangan ini efek Anugerah Dao?” gumamnya Revan, matanya berbinar.Jika dugaannya benar, Anugerah Dao bukan hanya memberinya kesempatan luar biasa, tapi juga dapat mempercepat prosesnya dalam mempelajari aksara kuno dan memahami teknik kultivasi. Keuntungan semacam itu akan sangat berarti bagi perkembangannya di masa depan.Setelah menghabiskan sekitar satu jam untuk mempelajari berbagai catata
Di samping mereka, Kahfi menghela napas dalam hati. Sang pemimpin perguruan memang bijaksana.“Jadi, Revan akan tetap berada di wilayah perguruan murid baru untuk sementara waktu. Perlakuan terhadapnya tidak boleh berbeda dari sebelumnya. Biarkan dia mengasah mental selama masih muda, sekaligus memastikan kultivasinya terus berkembang. Kalian mengerti?”Tak seorang pun membantah. Keputusan itu masuk akal, dan mereka tidak memiliki alasan kuat untuk menentangnya. Bakat memang menentukan titik awal seseorang, tetapi tanpa usaha untuk mengembangkan diri, seorang jenius pun tidak akan melangkah jauh.“Jika tidak ada urusan lain, kalian boleh pergi. Kahfi, kau tetap di sini.”Mendengar perintah itu, para pemimpin aliran saling melirik sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut. Meski keputusan pemimpin perguruan telah menunda persaingan mereka, tak seorang pun berniat menyerah. Mereka hanya perlu menunggu kesempatan yang lebih tepat untuk merekrut Revan.Setelah semua orang pergi, Kahfi
Perdebatan kembali pecah di depan gua. Para pemimpin aliran saling bersaing dengan segala cara, mulai dari mengajukan alasan hingga meratap demi mendapatkan dukungan. Bahkan Kirana sampai membawa-bawa mendiang ibunya untuk memperkuat argumennya.Kahfi yang berdiri di samping mereka mulai memasang wajah muram. Ia merasa telah melakukan kesalahan besar dengan membawa persoalan ini ke hadapan sang pemimpin perguruan. Awalnya, ia berharap kedatangan mereka ke sini bisa menyelesaikan perselisihan secara adil. Kenyataannya, para pemimpin aliran justru semakin sulit dikendalikan.Yang membuatnya semakin gelisah adalah kesunyian dari dalam gua. Sang pemimpin perguruan sudah lama tidak memberikan jawaban.Kahfi menduga bahwa Tuan Besar mereka mungkin mulai kehilangan kesabaran menghadapi keributan tersebut. Namun, ia sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.Di dalam gua, sang pemimpin perguruan memang sedang menahan amarah, hanya saja kemarahannya bukan ditujukan kepada orang
Revan yang memiliki Anugerah Dao jelas bukan murid biasa. Bakat semacam itu hanya muncul sekali dalam kurun waktu yang sangat panjang, menjadikannya seorang jenius yang berpotensi mengguncang dunia kultivasi.Jika bukan karena serangan balik dari ramalan yang dilakukannya sehari sebelumnya, sang pemimpin perguruan tentu tidak akan melewatkan kesempatan untuk menyaksikan sendiri kebangkitan tersebut. Ia bahkan mungkin akan turun tangan secara langsung untuk membimbing Revan.Sayangnya, ia baru mengetahui semuanya setelah kejadian itu berlalu.Di luar gua, Kahfi dan keempat pemimpin aliran tidak mengetahui gejolak pikiran sang pemimpin perguruan. Mereka hanya menunggu dengan sabar, berharap keputusan yang keluar nanti tidak merugikan kepentingan masing-masing."Demikianlah yang terjadi, Tuan Besar. Kami ingin memohon keputusan Anda mengenai aliran mana yang paling tepat untuk menerima Revan Cakrawala." ujarnya.Kahfi sengaja menyerahkan persoalan itu sepenuhnya kepada sang pemimpin perg
Tak seorang pun menyangka bahwa seorang murid baru mampu membangkitkan Anugerah Dao. Kemunculan seorang jenius dengan potensi semacam itu pasti akan mengguncang Negara Baladewa, terutama jika kabar tersebut kelak sampai ke telinga berbagai kekuatan besar.Namun, persoalan di aula utama belum sepenuhnya selesai.Wajah Dwiki tampak muram. Begitu Revan pergi, ia langsung mengalihkan pandangan tajam kepada Harsa, Tio, dan Viona. Kekesalan yang sejak tadi ditahannya kini tak lagi bisa disembunyikan.“Revan membangkitkan Anugerah Dao setelah mengikuti pelajaranku. Kalian malah berusaha merebutnya dariku. Apa kalian tidak punya rasa malu? Jelas sekali dia memiliki bakat luar biasa dalam garis keturunan alkimia!”Dwiki meluapkan amarahnya tanpa menahan diri. Selama Revan masih berada di sana, ia terpaksa menjaga sikap agar tidak memperburuk keadaan. Sekarang pemuda itu sudah pergi, ia tak punya alasan untuk terus memendam kekesalannya.Viona mendengus kesal. Ia melirik Dwiki dengan tatapan me
Namun, Revan sendiri belum beranjak dari tempatnya.Bukan karena ingin tinggal lebih lama, melainkan karena ia tak berani pergi begitu saja. Bayu, Harsa, Dwiki, dan beberapa tokoh lainnya masih mengarahkan pandangan kepadanya. Tatapan mereka membuat Revan merasa dirinya menjadi pusat perhatian yang tak bisa dihindari.Dua lelaki tua yang sejak tadi berada di luar Balai Kitab juga belum meninggalkan tempat mereka. Keduanya tetap mengamati Revan dalam diam, seolah sedang menimbang sesuatu yang hanya mereka pahami.Sejak awal, kedua tetua itu memang tidak ikut campur dalam keributan. Balai Kitab memiliki kedudukan yang berbeda dari tempat lain di Perguruan Sangkara. Mereka tidak menerima murid ataupun mencari penerus, sehingga tidak perlu bersaing dengan kekuatan lain untuk merekrut seorang jenius.Di antara keduanya, Tetua Rigo tampak paling puas. Ia melirik lelaki tua dari Balai Kitab yang berdiri di sampingnya, lalu mengangkat dagu dengan ekspresi penuh kebanggaan. Tatapannya seakan m







