Share

Rendahan?

last update Last Updated: 2024-03-04 17:53:29

Sebuah penghinaan bagi Baron Sang Jendral harus bersujud dan memohon kepada keluarga Hasya yang sudah membuangnya terutama Ivan yang paling ia benci.

"Bersujud? Kepada keluarga yang sudah membuangku, dan sekarang aku harus bersujud demi tempat di keluarga Hasya?"

Niat Baron hanyalah untuk bersama lagi dengan istrinya bukan keluarga istrinya, namun sayang niat Baron malah dimanfaatkan oleh Ivan yang ingin sekali merendahkan Baron serendah-rendahnya.

"Ayo cepat! Katanya kau ingin kembali dengan Aghnia! Ayo memohonlah seperti anjing kepada tuannya!" caci Ivan kepada Baron.

"Ayolah! Bukannya dari dulu kau selalu menjilat orang-orang untuk memenangkan hati Aghnia? Kenapa sekarang kau sombong sekali? Atau...sekarang kamu sudah menjadi anjing jalanan!" celetuk Jessica.

Baron semakin murka dibuat oleh pasangan itu hingga Baron pun membalas ucapan Jessica.

"Tutup mulutmu j*lang! Kau tidak memiliki hak atas penghinaanmu kepadaku!" ujar Baron dengan sorot mata tajam ke arah Jessica dan juga Ivan.

Hinaan Baron kepada Jessica jelas membuat keluarga Hasya terkejut dan juga murka, terutama Ivan wajahnya menjadi merah dan keningnya mengerut.

"B*NGSAT!! TARIK KEMBALI UCAPANMU!" teriak Ivan dengan menggebu-gebu.

Ivan melangkah dengan cepat ke arah Baron dan Ivan ingin sekali memukul Baron. Padahal, Ivan sudah tahu kekuatan Baron yang membuktikan bahwa ia terhempas dengan mudah.

"Br*ngsek! Setelah aku memukulmu akan ku paksa kau makan kotoran dan menjilati sepatuku sepanjang hidupmu! Kemari kau!" kutuk Ivan kepada Baron.

Baron memasang muka yang tersenyum sinis kepada Ivan yang hendak mendatanginya.

Aghnia langsung memasang badan untuk Baron yang akan dipukuli oleh Ivan, namun jika tidak dibela pun Baron akan dengan mudah mengalahkan Ivan semudah ia mematahkan kayu dengan jarinya.

"Berhenti! Apa yang kakak pikirkan? Kamu mau memukuli Baron lagi seperti dulu? Apa kakak sudah lupa apa yang sudah terjadi barusan?" Aghnia berdiri di depan Baron dengan ekspresi yang ikut marah.

"Minggir kau, adik tidak berguna! Kau memilih untuk melindungi k*parat yang satu ini dan melupakan keluargamu sendiri hah?! Kamu tidak lihat dia sudah melakukan kekerasan padaku Dan dia juga menghina Jessica, kakak iparmu!"

"Minggir Aghnia! Menurut saja sekali kepada kakakmu! Biarkan Ivan memberikannya pelajaran tentang tata krama bersosial! Seperti orang ud*k saja!" ujar Sophie.

"Tidak akan! Jangan pernah kalian berharap untuk bisa memukuli Baron!"

"Kep*rat kau!" bentak Baron.

Tangan Ivan melayang akan menampar Aghnia, sebuah tindakan bodoh ketika dia akan menampar Aghnia, padahal Ivan sudah dihempaskan oleh Baron tadi.

Baron yang muak dengan perlakuan Ivan ia langsung mencengkram tangan Ivan dengan kuat.

"Ughh...lepaskan aku b*ngsat!"

Ivan meronta agar tangannya dilepaskan oleh Baron namun meski dengan kedua tangannya, Ivan masih belum mampu untuk lepas dari cengkraman tangan Baron.

"Apa-apaan kekuatannya ini? Padahal dia dulu tidak bisa menahan tanganku!"

"Apa yang sedang kamu lakukan kepada istriku? Ivan, dari awal kamu berniat memukul Aghnia dengan stik golf lalu aku menghempaskanmu, dan sekarang kamu masih ingin menamparnya? Kira-kira apa yang harus aku lakukan agar kamu sadar?" tanya Baron.

"Ivan! Jangan bercanda! Cepat tampar kedua pasangan sampah itu! Tunjukkan bahwa kamu itu lebih kuat dari dirinya!" ujar Jessica.

Baron menatap Jessica dengan dingin dan itu disadari oleh Jessica.

"K-kenapa dia menatapku begitu?" gumam Jessica.

Baron balik menampar Ivan, yang awalnya Ivan berniat menampar Aghnia.

Tamparan yang keras itu terdengar keras di seisi ruangan dan itu mengejutkan semua orang hingga gigi depan Ivan terlepas dan Ivan sendiri tersungkur ke tanah.

Ivan dan semuanya terkejut karena Ivan seumur hidupnya tidak pernah sama sekali mendapatkan kekerasan, bahkan Joshua tidak pernah menampar Ivan itu menjelaskan bahwa Ivan adalah anak kesayangan dari keluarga Hasya, berbeda dengan Aghnia yang perlakukan seperti alat dan juga anak buangan!

“Apa…Apa yang baru saja kamu lakukan!” bentak Joshua yang melihat Ivan ditampar oleh Baron.

“Apa ayah mertua tidak melihat apa yang sudah aku lakukan terhadap kakak iparku? Apa ayah mertua ingin melihatnya lagi di sisi lainnya?” tanya Baron.

Disana Sophie mengeluarkan kekuasaannya terhadap keluarga Hasya yaitu ia mengendalikan emosi keluarga Hasya.

“Joshua, Jessica, tenang dulu! Baron, apa yang kamu inginkan dari keluarga Hasya? Jika kamu butuh uang katakan berapa jumlahnya akan aku berikan asal kamu tinggalkan Aghnia!” ujar Sophie.

“Aku hanya ingin kembali dengan istriku, yaitu Aghnia!” tegas Baron.

Sophie merenung sejenak dan ia mengatakan hal yang membuat semuanya yang membuat terkejut, “Baiklah, kamu bisa kembali ke keluarga Hasya namun kau harus bekerja dan besok akan aku siapkan!”

“Apa? Ibu aku tidak setuju dengan itu! Baron sudah menampar Ivan! Dia harus di-” ucap Jessica.

“Cukup Jessica! Baron adalah suamiku dan dia adalah milikku!” potong Aghnia.

Aghnia membawa Baron ke kamarnya dan meninggalkan keluarga Hasya yang lain serta Ivan yang masih tersungkur karena ia baru pertama kali ditampar oleh seseorang.

“Kenapa Sophie? Tidak biasanya kamu membela si menantu sampah itu!”

Namun, dari semua itu wajah sinis dan licik dari seorang Sophie Hasya muncul, “Seorang rendahan akan terus menjadi rendahan! Dan seorang rendahan cocok ditempatkan di tempat dimana ia berada!”

Baron yang dibawa ke kamar mereka berdua pun terkejut karena banyak barang-barang dan foto mereka berdua yang masih terpajang dan tersusun rapi di sana.

“Aku cukup terkejut, aku kira Aghnia sudah membuang semua ini setelah kejadian itu dan melupakanku!”

“Aghni—”

Plaakk!

Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Baron dan Aghnia berubah tatapannya menjadi tatapan yang membenci Baron, penuh dengan dendam dan juga amarah tersirat jelas di mata Aghnia!

“Kenapa…kenapa kau kembali setelah kejadian 7 tahun lalu! Setelah kau memadu kasih dengan sahabatku! Di mana kau berduaan dengannya dan di mana kau mengkhianatiku! Kau pikir semuanya akan sama?!”

Aghnia benar-benar marah pada Baron, wajar saja melihat suaminya berduaan tanpa sehelai benangpun istri mana yang tak marah akan hal itu.

“Aghnia, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku pada saat itu, itu semua berada di luar kendaliku! Aku bersungguh-sungguh Aghnia!” ujar Baron dengan memegang tangan Aghnia.

Aghnia pun menepis tangan Baron yang memegangnya.

“Aku bukan wanita yang dengan mudah percaya begitu saja setelah apa yang kulihat dengan mataku sendiri!” ujar Aghnia.

Sikap Aghnia berbeda dengan yang ia temui beberapa hari ke belakang bahkan Aghnia membela Baron.

“Lalu tadi?”

“Aku hanya bersikap seperti itu di depan keluargaku! Aku hanya tidak mau menikah dengan keluarga Vigo!”

Aghnia pun berjalan ke arah laci dan mengeluarkan sebuah kertas dan itu adalah surat perjanjian.

“Tandatangani ini!”

Baron membaca surat itu dan disana tertulis bahwa Baron harus bersikap seperti suami istri di depan keluarga, teman. Namun, ketika berada di kamar mereka harus bersikap seperti tidak saling kenal.

“Dan kamu dilarang untuk jatuh cinta denganku! Dan setelah 3 bulan kita akan bercerai!”

“Aghnia, disini tertulis tanggal setelah sehari aku dibuat setelah aku pergi?”

Aghnia hanya mengangguk dan tanpa ragu Baron menandatangani perjanjian itu dan memberikan surat itu kepada Aghnia.

“Lalu, bagaimana jika kamu yang jatuh cinta denganku?” tanya Baron.

“Jangan mimpi! Itu tidak akan pernah!”

Aghnia pun pergi mandi dan Baron berkeliling sebentar dan ia menemukan sebuah surat yang tertulis bahwa perusahaan yang dirintisnya mengalami kebangkrutan dan harus membayar uang sebanyak 50 miliar.

“Astaga, ternyata begitu ya?”

Baron menelpon Nolan.

“Halo Jendral! Apa yang anda butuhkan?”

“Kau lupa ya? Lupakan soal itu, aku akan ada di rumah keluarga istriku hingga waktu yang tak ditentukan! Aku mau besok siapkan uang sebesar 50 miliar! Besok pagi harus ada paham?!”

“Baik!”

Baron pun duduk melihat kamarnya dan memejamkan matanya.

“3 bulan? Aku rasa itu cukup untuk mengembalikan derajat istriku! Awas kalian keluarga Hasya! Aku akan membalaskan dendamku!”

Bersambung…

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mohd Saleh Mohd Tab
Lancaulah Baron
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menantu sang Dewa Perang   Eksekutor!

    Suara tembakan yang menggelegar di seluruh Tarot Palace Auction menghentikan ucapan sang Juru Lelang. Teriakan histeris para miliarder yang kehilangan martabatnya memenuhi ruangan Tarot Palace Auction. Mereka yang tadinya merasa di atas angin, kini merangkak di lantai seperti tikus yang terjebak di lubang gelap, semuanya berhamburan karena takut akan menjadi sasaran. Semua menuju pintu keluar, namun pintu tersebut tertutup dan terkunci seperti sudah disabotase oleh pihak luar.“Pintunya! Buka pintunya!” Semua mencoba menggedor-gedor pintu dan berteriak berharap ada yang membuka pintu dari luar."Baron! Ayo cepat kita keluar!" teriak Praja sembari menarik bahu Baron. Namun, Baron tetap berdiri tegak. Pupil matanya melebar, mencoba menangkap sisa cahaya atau gerakan di tengah kegelapan total ini."Praja, diam. Jangan nyalakan lampu ponselmu kalau kau tidak ingin kepalamu menjadi sasaran empuk," desis Baron dengan nada dingin yang belum pernah didengar Praja sebelumnya.“Tempat in

  • Menantu sang Dewa Perang   Hawa Kematian

    Banyak orang yang berbondong-bondong untuk menawar perahiasan tersebut dengan harga yang tinggi. Namun, disisi lain Baron Vasilias memperhatikan dengan seksama Surya Vigo yang terlihat dengan sangat jelas begitu menginginkan berlian tersebut. Dari harga pembukaan yang lelang dengan nilai yang fantastis tentunya hanya orang-orang yang memiliki kekayaan tak berseri yang berani menawar perhiasan tersebut, di sisi lain Baron tampak bimbang karena berlian tersebut sangat ingin ia miliki untuk hadiah bagi Aghnia. Praja melihat Baron yang begitu terfokus pada berlian tersebut meskipun seluruh ruangan gelap gulita tapi Praja bisa merasakan aura yang dipancarkan oleh Baron."Baron ini, dia terlihat sekali menginginkan berlian itu, tapi dibuka dari 50 miliar? ditambah dengan orang-orang itu yang sedang menghubungi pihak bank," batin Praja sembari melihat para peserta lelang."Berlian Cullinan itu, kalau aku dapat memilikinya lalu apa yang harus aku katakan pada Aghnia, ya? terlebih lagi berl

  • Menantu sang Dewa Perang   Termakan Oleh Ego!

    Dandy sudah termakan oleh egonya, ia benar-benar tidak peduli dengan uang yang ia keluarkan hanya gengsi yang ia miliki.“12 miliar! Aku tawar itu, anak-anak seperti kalian tidak cocok dengan giok!” Surya yang kini menunjukkan aura yang ia miliki adalah keangkuhan yang absolut.Baron tersenyum sinis. Dia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Dandy, dengan egonya yang tinggi, pasti akan terus menaikkan harga sampai titik di mana dia tidak mampu lagi, “Surya, dia benar-benar ingin menunjukkan semuanya, ya?” gumam Baron. Baron sebenarnya sudah tidak begitu tertarik kepada giok itu dan dia memilih untuk mundur terlebih dahulu, “Praja, aku rasa aku akan mundur kali ini. Aku ingin melihat sejauh mana ego Dandy akan mengelabuinya,” bisik Baron yang disetujui oleh Praja.“Bagus Baron, tidak ada gunanya jika kamu hanya terus memberi makan ego Dandy!” balas Praja. Dandy semakin frustasi karena ia harus kembali merogoh kocek dengan harga yang fantastis. Tapi, ketika ia melirik ke Baro

  • Menantu sang Dewa Perang   Permainan Anak-anak?

    Seorang pria tua usianya namun tidak dengan fisiknya yang seperti pria berusia 30 tahun, pria itu menawar dengan jumlah yang lebih tinggi dari yang ditawar oleh Dandy. 3 miliar adalah jumlah yang cukup banyak untuk sebuah kalung giok, terutama itu merupakan giok yang memiliki kualitas tinggi. Namun, dibalik itu Baron seperti cukup familiar dengan pria tua tersebut terutama orang-orang dibelakangnya.“Pria itu, apa mungkin dia—”“Baron, dia Surya Vigo pemimpin keluarga Vigo. Dia, adalah harimau yang sudah tua namun harimau tetaplah harimau,” bisik Praja. Baron pun tertawa kecil, “Baru saja aku atasi anaknya, apa kini aku harus bersinggungan dengannya?” kata Baron. Praja menasehati Baron dengan kata-kata yang sedikit menyindir Baron, “Baron, aku tidak tahu kamu tinggal di negara mana yang bisa bebas memukul orang. Tapi, jangan gegabah melawan Surya Vigo, dia salah satu orang yang berpengaruh di negeri ini. Dan, dia juga pernah masuk jajaran orang terkaya di dunia, kamu pasti tahu F

  • Menantu sang Dewa Perang   Pelelangan!

    “Selamat malam, para kolektor sejati! Malam ini, kita menghadirkan banyak sekali barang-barang yang berkualitas tinggi serta langka! Dan, hasil dari lelang ini semuanya akan diserahkan ke panti asuhan!”Ruang lelang yang mewah itu dipenuhi oleh para kolektor kaya raya dan pengusaha sukses. Mata mereka berbinar-binar penuh ambisi, siap untuk saling sikut demi mendapatkan harta yang mereka inginkan Biasanya, orang-orang yang menghadiri lelang hanyalah perwakilan saja. Dan, orang kaya yang sesungguhnya tidak perlu repot-repot pergi ke tempat lelang. Namun, beda halnya dengan Tarot Palace Auction, tidak boleh ada perwakilan sama sekali, hanya orang-orang yang memiliki kekayaan yang cukup untuk ikut salan lelang tersebut . Praja berbisik pada Baron, “Baron lihat semua orang-orang ini. Mereka, bukan hanya dari negara Asia saja. Bahkan, orang Eropa pun ada!” Baron melihat semua orang dan memang benar, mereka semua adalah orang yang cukup berpengaruh. Terutama, ada seseorang yang menjadi

  • Menantu sang Dewa Perang   Dipeluk Kematian?

    Di tengah ketegangan antara Baron, Dandy, dan Elina, Louis muncul dengan ide baru untuk meredakan situasi dan sekaligus membuat Baron semakin dihormati.Louis mengumumkan diadakannya lelang amal di Tarot Palace Auction, sebuah tempat lelang ternama yang hanya dihadiri oleh para elit dan orang-orang kaya. Lelang ini akan menjadi kesempatan bagi para tamu untuk menunjukkan kekayaan mereka dan saling memperkuat posisi dan juga kehormatan mereka. Dandy dan Elina, yang terobsesi dengan kekayaan dan status, langsung tertarik dengan ide lelang ini. Mereka berdua bertekad untuk menjadi pemenang lelang dan menunjukkan kepada Baron siapa yang lebih kaya dan berkuasa.“Bagaimana? Tarot Palace Auction sangat terkenal melelang banyak sekali barang-barang berharga. Bahkan, tidak jarang para Raja-raja di Timur Tengah datang untuk mendapatkan permata,” jelas Louis. Dandy tersenyum sinis, “Untuk apa melakukan lelang? Bukannya sudah jelas, bahwa aku adalah yang paling kaya?” Elina melirik Baron ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status