LOGINHari berikutnya, jam di dinding menunjukkan tengah malam lewat beberapa menit ketika Sera menyalakan lampu kamarnya yang remang-remang. Tenggorokannya terasa sangat kering dan gatal. Dengan mata yang setengah terpejam, ia keluar dari kamar untuk mengambil segelas air minum di dapur.
Namun, baru dua langkah menapak di ruang tengah, bulu kuduknya langsung meremang. Tidak ia sangka ruangan di luar kamarnya bahkan jauh lebih dingin daripada di dalam. Udara malam menebar sensasi beku yang menusuk hingga ke tulang. Sera menyeret kakinya yang dingin ke arah dapur kecil yang terletak persis membelakangi ruang tamu. Ia meraih gelas kaca, mengisinya dengan air mineral suhu ruangan, lalu meminumnya hingga kandas. Segelas air dingin itu pun berhasil mengikis rasa haus yang menyiksa. Sera berbalik untuk masuk kembali ke dalam kamarnya yang hangat. Namun, ketika tangannya baru menyentuh gagang pintu, pandangannya tak sengaja berbelok menoleh ke arah sofa cokelat tua di ruang tamunya. Di sana, sosok Felio tengah tertidur pulas. Pria itu meringkuk rapat, memeluk dadanya sendiri demi menghalau tiupan angin malam yang menembus celah jendela. Sera berjalan mendekatinya pelan-pelan. Dalam jarak dekat, terlihat jelas wajah tampan pria itu yang tampak agak pucat, bibirnya sedikit bergetar, dan napasnya terengah halus. Sera mendesah pelan. Ia tersadar bahwa suhu dingin ekstrem malam ini bisa saja membuat pria keras kepala itu jatuh sakit esok hari. Dengan segera Sera melangkah masuk kembali ke dalam kamarnya, lalu keluar dengan memeluk sebuah selimut tebal baru di tangannya. Mungkin keputusan ini lebih didasari atas rasa kemanusiaan. Tidak mungkin ia bisa tidur nyenyak di atas kasur empuk di dalam kamar, sedangkan pria yang sudah membantunya itu hampir sakit parah di luar hanya karena kedinginan. Perlahan dan hati-hati agar tidak membangunkannya, Sera membentangkan selimut tebal itu dan menyelimuti tubuh tinggi Felio. Kain selimut itu tak kalah tebal dengan yang biasa ia pakai sendiri. Ada rasa kasihan yang mendalam dan juga cemas yang mendadak menyelusupi benaknya ketika sesekali Sera mendengar suara eluhan kecil dari mulut Felio yang terdengar begitu lemah. Tampaknya pria itu cukup kuat menahan dinginnya malam tanpa harus terbangun dari tidurnya. “Jika kau sakit itu akan sangat menyulitkanku nantinya kalau sampai harus mengurus orang sakit,” ucap Sera pelan pada diri sendiri seraya merapatkan kembali ujung selimut itu ke dekat leher dan wajah Felio. — Keesokan harinya di kampus, suasana kantin tampak begitu riuh oleh hiruk-pikuk mahasiswa yang mengantre makanan. “Gila sih, tampan sekali! Bagaimana bisa ada manusia setampan itu?” Alih-alih menyantap makan siangnya yang masih menumpuk di piring, Rena—sahabat Sera—malah asyik melirikkan matanya pada sosok pria berkecepatan tinggi yang mengenakan kemeja putih bersih di sudut jauh kantin. “Sera, coba lihat pria dengan kemeja putih di sana!” bisik Rena penuh antusiasme sambil menyenggol lengan Sera. Sera menghentikan sedotannya pada es air mineral, lalu mengikuti ke mana arah telunjuk Rena mengarah. Matanya menyipit memperhatikan sosok yang dimaksud. “Ya ampun… bukannya dia mahasiswa baru dari Fakultas Seni itu, kan? Hah… dia benar-benar tampan bak karakter komik. Seandainya saja aku tidak sedang berkencan dengan Luis saat ini, pasti sudah kukutip nomor ponselnya!” celoteh Rena dramatis. Ia lalu mendekatkan wajahnya pada Sera dan berbisik misterius, “Kau tahu tidak? Orang-orang dari berbagai jurusan banyak sekali yang mau mengajaknya berteman. Tapi ada rumor panas yang berembus di kampus kita. Ada yang mengatakan kalau dia itu sebenarnya adalah satu-satunya putra tunggal pemilik KERND Group!” BFFFT! Sera yang baru saja meneguk air mineralnya tidak mampu menahan rasa terkejut. Tanpa sengaja, ia menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya tepat ke arah wajah Rena. KERND Group?! Perusahaan raksasa nasional itu?! Pria kemeja putih itu?! Sera tertawa renyah, menganggap bahwasannya lelucon Rena kali ini benar-benar tidak masuk akal. Namun, tawanya mendadak tertahan saat ia menyadari wajah cantik Rena kini sudah basah kuyup terkena cipratan air dari mulutnya. “YAK! SERA!” jerit Rena kesal setengah mati. Matanya membelalak sambil mengusap mukanya yang basah. Sera yang menyadari kesalahannya langsung panik. Ia menghentikan tawanya dan dengan cepat mengambil beberapa lembar tisu dari kotak di sampingnya untuk mengelap wajah sahabatnya itu. “Aduh, maaf! Rena! Aku benar-benar tidak sengaja, aku kaget mendengarnya!” “Ada apa sih denganmu?! Aish… bajuku jadi ikut basah begini, tahu!” gerutu Rena sembari mengeringkan kerah bajunya yang terkena air. “Maaf ya, habisnya rumor yang kau katakan itu sangat lucu,” jawab Sera masih tertawa kecil. “Tapi aku serius! Kurasa rumor itu ada benarnya. Tampangnya saja sudah kelihatan seperti anak konglomerat. Ah… bagaimana ini, bajuku jadi basah kuyup,” keluh Rena lagi seraya memprotes nasib sialnya sore ini. Putra tunggal dari KERND Group? Sera hanya menggelengkan kepala. Mungkin hanya sebagian kecil mahasiswa polos yang percaya jika rumor semacam itu benar adanya. Selebihnya, orang-orang lebih memilih diam atau hanya menganggap rumor itu sebagai lelucon di tengah stresnya tugas kuliah—seperti yang dipikirkan Sera saat ini. Bagaimana bisa pria berdarah biru seperti yang diceritakan Rena ada di sekitarnya? Lagipula, dengan sangat jelas Sera mengingat bagaimana kejadian kemarin malam: Felio masuk ke dalam apartemennya dengan wajah memelas seperti orang yang kelaparan berat, lalu melahap dua mangkuk mie instan murah yang ia buatkan sampai tak tersisa. Mana ada anak pemilik KERND Group yang sampai kelaparan gara-gara tidak makan ramen selama setahun? Lelucon yang diucapkan Rena sukses membuat Sera kembali menggeleng-gelengkan kepalanya meremehkan. Sore harinya, suasana apartemen terasa sepi. Felio baru saja keluar dari rumah beberapa saat lalu tanpa mengatakan hendak pergi ke mana. Sebenarnya tidak ada hal yang istimewa setelah mereka memutuskan untuk tinggal bersama di tempat sempit ini. Sera yang sibuk dengan jadwal kuliah yang padat dan kerja paruh waktunya terkadang hanya bisa bertemu dan bertegur sapa dengan Felio ketika malam hari saja. Begitu pula dengan Felio yang tampak selalu sibuk mengurusi urusan atau tugas pribadinya di kamar jika malam tiba. Tok! Tok! Tok! Sera yang sedang menyusun buku pelajaran di meja langsung beranjak dari duduknya ketika mendengar suara ketukan di pintu apartemen. Ia berjalan santai dan memutar gagang pintu. Begitu pintu terbuka, matanya membelalak kaget. Seorang pria dengan setelan kemeja rapi, rambut tersisir rapi, serta membawa dua cup minuman hangat di tangannya kini tengah berdiri tegap di depan pintu apartemennya. Sera terkejut bukan main tatkala menyadari pria yang beberapa hari yang lalu tak sengaja ia temui di toko buku itu kini mendadak muncul di depan kediamannya. Dean—pria yang pernah menjadi teman sekelasnya ketika masa SMA dulu—tersenyum hangat sembari mengangkat salah satu tangannya untuk melambaikan salam. Sera membalas melambaikan tangan dengan senyuman yang sangat kaku. “Kenapa dia bisa ada di sini? Bagaimana dia tahu alamat apartemenku?” batin Sera menjerit bingung. Pria yang beberapa hari lalu menolongnya mengangkat tumpukan buku tebal di toko buku memang adalah Dean. Saat pertama kali bertemu kemarin, Sera sempat pangling. Ia tak menyangka bahwa anak laki-laki SMA yang dulu terlihat sangat biasa dan pemalu itu kini telah tumbuh menjadi pria dewasa yang jauh lebih tampan, tinggi, dan karismatik. Sampai-sampai Sera tidak menyadari bahwa pria yang tersenyum padanya di toko buku waktu itu adalah teman lamanya. “Dean? Ada apa kau kemari?” tanya Sera akhirnya, mencoba mencairkan kecanggungan. “Aku hanya ingin mampir sebentar,” jawab Dean ramah. “Oh ya, aku membelikan cokelat hangat favoritmu. Boleh aku masuk? Apa kau tinggal sendiri di sini?” tanya Dean penasaran. Ia memanjangkan kepalanya sedikit, berusaha mengintip ke dalam area interior apartemen Sera. Saran dan pertanyaan Dean seketika membuat Sera diserang rasa panik luar biasa. Otaknya berputar cepat memikirkan apa yang harus ia katakan pada Dean. Ia tidak mungkin menerima Dean sebagai tamu dan membiarkannya masuk ke dalam begitu saja! Pasalnya, Sera sendiri yang menulis aturan ketat di kertas perjanjian bersama Felio: Dilarang keras membawa tamu asing ke dalam apartemen. Perjanjian itu dibuat oleh jemarinya sendiri, dan sangat tidak masuk akal jika ia sendiri yang melanggarnya pertama kali. “Ah… iya, aku tinggal sendiri. Tapi aku sedang agak sibuk, jadi—” “Lho, bukannya itu foto kita waktu SMA dulu?” potong Dean cepat. Tanpa menunggu diizinkan, Dean justru melangkah masuk ke dalam apartemen Sera. Pandangannya tertuju pada sebuah figura foto kayu yang terletak di atas meja ruang tamu, yang memang dapat terlihat jelas dari arah pintu masuk yang terbuka. Sera hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah frustrasi. Bagaimana caranya mengusir Dean keluar dari apartemennya secara halus sekarang?! Pria itu sudah telanjur masuk dan dengan santainya mendaratkan tubuhnya di atas sofa cokelat tua milik ruang tamunya. Sera menggelengkan kepala pasrah, lalu perlahan menutup pintu apartemennya seraya berdoa dalam hati agar Felio tidak pulang dalam waktu dekat. “Apa kau tidak bekerja hari ini, Dean?” tanya Sera berusaha membuka basa-basi demi mengalihkan perhatian. “Tidak. Aku sedang mengambil libur kerja hari ini,” jawab Dean santai. Tangannya meraih figura foto di atas meja. “Oh ya, kau ternyata masih menyimpan foto ini?” Dean melihat kembali foto masa SMA Sera bersama teman-teman sekelas mereka. Di dalam foto lusuh itu, sosok Dean muda masih terlihat sangat lugu dengan kacamata tebalnya. Mereka semua tersenyum bersama ke arah kamera, terlihat sangat bahagia tanpa beban. “Iya, tentu saja aku masih menyimpannya. Itu kenangan berharga,” sahut Sera pelan. “Diminum cokelatnya. Aku tahu kau sangat suka cokelat hangat, makanya aku membelikan ini bukannya kopi,” ujar Dean seraya menyodorkan salah satu cup kertas yang masih berasap tipis. “Terima kasih.” Sera menatap gelas cokelat itu dengan perasaan campur aduk. Ketika Sera mengalami kecelakaan hebat tiga tahun yang lalu, Dean adalah teman pertama yang datang berkunjung dan menjenguknya di rumah sakit. Pria itu benar-benar histeris, menangis, dan sangat khawatir ketika mendengar kabar bahwa Sera mengalami kecelakaan parah bahkan sempat dinyatakan mengalami masa-masa kritis mati suri. Sejak kejadian trauma itu, hubungan mereka kembali sangat dekat. Namun, karena Sera harus pindah untuk melanjutkan kuliah di luar kota, jarak akhirnya membuat kedua orang ini terpisah dan jarang berkomunikasi. “Hahaha… ya ampun, kau masih ingat saja tentang kejadian konyol itu? Bagaimana caranya kau bisa ingat detail sekali?” Sera akhirnya larut dalam perbincangan. Ia menghabiskan waktunya untuk mendengarkan cerita masa lalu yang dilontarkan Dean. Memang, tidak hanya sekadar teman biasa, Dean baginya sudah seperti sosok sahabat jauh yang sangat memahami jalan pikirannya. Namun, di sela-sela perbincangan dan tawa hangat mereka, pandangan Sera tak sengaja melirik sekilas ke arah lorong pintu masuk apartemen. Bip! Bip! Bip! Lampu sensor yang ada di dekat gagang pintu mendadak menyala terang. Bola mata Sera membelalak sempurna seketika. Tubuhnya kaku. Pintu terbuka, dan sosok Felio melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Langkah pria itu terhenti seketika saat pandangannya menatap tajam ke arah Sera dan Dean yang tengah duduk berdampingan di sofa cokelatnya. Suasana ruang tamu yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedingin es. Sera dan Dean terlihat seperti sepasang orang yang tertangkap basah sedang melakukan kesalahan besar. Sera gelabakan setengah mati. Wajahnya pucat pasi hingga ia hanya mampu mengumbar senyuman hambar yang sangat tidak natural. Mampus aku! batinnya menjerit. Apa yang harus ia lakukan sekarang?! Sementara itu, Dean hanya terdiam bingung di tempatnya. Ia ikut membalas tatapan Felio yang kini tengah berdiri membisu di dekat pintu dengan pandangan mata yang sangat datar, dingin, dan tanpa ekspresi. Pria misterius itu sama sekali tidak menunjukkan luapan emosinya secara terbuka, namun aura di sekitarnya terasa sangat menekan. “Siapa dia, Sera?” tanya Dean heran sambil menatap bergantian ke arah Sera dan pria asing kemeja hitam itu. Sera tersenyum hambar lagi, lalu berdiri dengan cepat. Ia melangkah mendekati Felio dan memberanikan diri menarik lengan baju pria itu untuk membawanya mendekat ke arah Dean. Awalnya Felio menolak keras dan menahan pijakan kakinya, tapi karena Sera menatapnya dengan pandangan memohon yang amat sangat, pria itu akhirnya mau menurut dan mendekati tempat Dean duduk. “Dia, dia ini sepupuku! Iya, sepupuku yang baru pindah!” jawab Sera berbohong dengan suara gemetar. Ia lalu berpaling menatap Felio dengan panik. “Felio, kau pasti mau mengambil buku milikmu yang tertinggal di kamar kemarin, kan? Ayo, kubantu carikan!” Tanpa memberikan kesempatan pada Felio untuk bersuara, Sera langsung menyeret lengan pria itu dengan kuat untuk masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Dean seorang diri yang terdiam mematung di ruang tamu dalam kebingungan. Ada rasa aneh yang mengganjal di dalam dada Dean ketika mengingat bagaimana tatapan mata dingin Felio saat menatapnya tadi. Tatapan itu tidak ramah sama sekali. Seperti ada rasa marah yang tertahan, rasa cemburu, atau sejenis emosi dominan lainnya. Namun, Dean berusaha menggelengkan kepala, berpikir bahwa mungkin saja itu hanya perasaan subjektifnya belaka. Sementara itu, di dalam kamar yang tertutup rapat, suasana terasa makin mencekik. “Fel, aku… aku sungguh tidak mengira kalau dia akan mampir ke sini sore ini. Tidak apa-apa, kan?” bisik Sera gugup, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. —Andai saja waktu dapat berputar kembali, Sera ingin di saat-saat Dean memanggil namanya ia tidak berpaling melihat pria itu. Hanya saja semua itu mustahil. Kehidupan yang mereka jalani nyatanya berbeda. Mungkin dengan kebersamaan yang mereka rasakan selama ini akan menjadi pelajaran hidup saja, dan kemudian menjadi sebuah kenangan yang diakhiri rasa penyesalan. Delio memeluk Sera erat. Ada rasa tak ingin kehilangan gadis itu, hanya saja ia tidak dapat lagi untuk melakukannya. Melindungi gadis itu ataupun mendengar suara hati gadis itu lagi. Rasa cinta itu mungkin saja akan segera menghilang seiring berjalannya waktu. Tapi semuanya akan berjalan begitu lama hingga akhirnya Delio menyadari betapa bodohnya dirinya saat ini yang merelakan kehadiran gadis itu untuk pria lain. 3 Tahun kemudian... Arloji di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul lima sore. Bibirnya bahkan sudah kaku untuk terus tersenyum dan memberikan tanda tangannya pada tumpukan buku dan juga kertas yang ada
“Aku menyukaimu Sera.”Deg.Satu kalimat yang sudah ada di dalam otak Dean sejak tadi kini dengan cepat ia ucapkan. Memang Dean sangat menyukai buku-buku yang ada di dalam perpustakaan, namun sampai saat ini ada satu hal yang tak dapat ia tiru dalam buku itu: yaitu merangkai kata yang indah. Buktinya ia hanya dapat mengungkapkan tiga kata itu menjadi satu kalimat. Ia tak dapat mengatakan lebih karena sejauh ini perasaannya seakan meledak dengan deburan cahaya dalam matanya.“Aku menyukaimu, aku mencintaimu, Sera Han.”Sera terdiam lagi. Ia bahkan tak dapat berkedip sekali pun ketika butiran halus salju itu menyentuh kelopak matanya. Dean sedikit mengeratkan pegangannya pada tangan Sera, berharap agar gadis itu tersadar bahwa ia terlalu lama untuk berdiam diri dan membiarkan Dean menanti jawabannya.Dean kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Sera. Satu langkahnya bahkan hampir menghapus sebagian jarak di antara mereka. Sera tersadar penuh, tapi entah kenapa k
“Sekaligus? Kau tidak tau, masalahnya akan semakin banyak Delio. Wanita tua itu pasti akan memperbudakmu lagi. Sadarlah, kini Sera tidak hanya menunggumu untuk datang ke festival itu.”Delio menoleh cepat menatap Kevin yang berdiri di sampingnya. Kalimat terakhir Kevin sukses membuatnya menoleh dan berharap akan ada kejelasan selanjutnya.“Dean, sahabat Sera itu. Dia, sehari sebelum kau memberikan tiket festival itu dia sudah memberikannya terlebih dahulu pada Sera. Mungkin saat ini Sera sedang dalam keraguan sama sepertimu. Ia tak dapat menolak kalian berdua. Maka dari itu pergilah sekarang, Pergilah selagi semua masalah yang ingin kau bereskan itu tidak semakin panjang. Pergilah mengejarnya, dia gadis yang baik aku yakin hatinya hanya untukmu. Kau tidak akan berdiam di sini saja, kan?”Dean? Sempat beberapa kali nama pria itu mengusik pikirannya. Walaupun begitu, awalnya Delio mengira bahwa persahabatan mereka hanyalah sebatas sahabat satu SMA. Namun tampaknya, apa yang dipikirkan D
Malam yang gulita mungkin sanggup diterangi dengan mudah oleh pendar cahaya lampu kota. Namun tidak dengan sudut hati Sera yang malam ini mulai goyah dan dirundung keraguan hebat. Gadis itu melangkah gontai mendekati meja belajarnya, lalu menarik laci kayu teratas perlahan. Dari dalam sana, jemarinya mengeluarkan dua lembar tiket masuk Seoul Winter Flower Festival. Dua lembar tiket dengan desain hologram emas yang sama persis, namun berasal dari dua pria yang membawa makna berbeda di dalam hidupnya. Sera menatap lekat-lekat pada tiket kedua yang baru saja ia terima tadi siang dari tangan Delio di taman kampus. Jauh di lubuk hatinya, andai saja Delio melangkah sedikit lebih cepat, ia pasti akan bersorak gembira menyambut ajakan tersebut. Namun takdir seakan gemar mempermainkan waktu; langkah Delio tidak lebih gesit dibandingkan Dean—pria yang pernah menjadi cinta pertamanya semasa mengenakan seragam putih abu-abu di Busan. Kemarin malam, saat mereka melangkah pulang usai menyan
“Lalu siapa orang yang membelikan tiket ini untukmu? Apakah... Felio?”Delio menoleh cepat, tatapan matanya menajam saat Kevin melontarkan nama mendiang adiknya dengan artikulasi yang begitu lugas.Kevin melangkah mendekat, meletakkan tangannya di pundak Delio dan menatapnya lekat-lekat. “Jika memang benar sosok yang menyelipkan tiket ini adalah adikmu sendiri, Delio... maka kau harus pergi ke sana. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Ajaklah Sera untuk menemanimu ke festival itu. Aku sangat yakin, jauh di dalam lubuk hatinya, Sera pasti akan menerima ajakanmu dengan senang hati.”Delio terdiam membisu, jemarinya meremas pelan tepian tiket berhologram emas tersebut.Ada benarnya apa yang dikatakan Kevin. Selama setahun penuh mendiami dunia fana sebagai roh halus, Felio telah mengorbankan begitu banyak hal hanya demi membuka tabir kebenaran dan menyatukan kembali dirinya dengan Sera. Namun, pertanyaan besar seketika menghantam dinding logika Delio: Apakah ia sanggup men
“Ide yang bagus! Ayo, aku yang traktir minumannya!” balas Sera riang, menyunggingkan senyuman manisnya kembali.Mereka berdua melangkah santai menyusuri trotoar jalan raya yang diterangi temaram lampu kota. Namun, baru beberapa langkah kaki mereka terayun, pandangan Sera mendadak terpaku lurus ke depan. Dua orang pemuda jangkung tampak berdiri tegak di tengah trotoar tepat di hadapan mereka.Langkah Sera seketika terhenti kaku. Dean yang berada di sisinya ikut tersentak, menyadari tatapan menusuk yang dilayangkan oleh kedua pria asing di depannya. Refleks, Sera langsung menurunkan dan melepaskan tangan Dean dari pundaknya dengan gerakan canggung.Salah satu dari kedua pemuda itu adalah sosok yang sangat ia kenal dan memenuhi benaknya belakangan ini: Lee Delio. Sementara pemuda di sebelahnya adalah Kevin, sahabat lama Delio yang wajahnya tampak tak asing bagi Sera.Melihat atmosfer yang mendadak membeku bagaikan es, Kevin dengan sigap menepuk punggung Delio untuk menc







