Partager

Mencari Jejak Maria
Mencari Jejak Maria
Auteur: Lis Susanawati

MJM 1

last update Date de publication: 2026-05-28 09:05:23

MARIA

- 1 Delapan Minggu

"8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.

Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu dan mengembalikan di tempat semula. Kemudian keluar dari mobil sang suami dan tidak jadi membersihkannya.

Maria menarik napas panjang, baru kemudian masuk rumah sambil melepaskan pasminanya. Dia tadi baru saja pulang pengajian rutinan di komplek perumahan mereka. Saat itu Rangga sibuk di depan layar laptop di ruang kerjanya.

Tanpa bertanya pada sang suami tentang apa yang ditemukannya tadi, Maria segera bergegas ke belakang untuk menyiapkan makan malam.

"Hati, tenanglah. Kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Jangan cengeng, ya," ujarnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Ini takdir kita, Maria." Ia ingat ucapan Tamara ketika mereka bertemu suatu hari. Wanita itu sangat ramah padanya.

🖤LS🖤

"Mas, kamu dengar kan apa yang aku ceritakan tadi? Anak-anak itu begitu lucu."

Suara Maria terdengar renyah. Matanya menatap penuh harap pada lelaki yang duduk tepat di sampingnya. Ia mencoba mengabaikan tentang apa yang ditemukan di mobil tadi.

Rangga bergeming. Ibu jarinya mengetik di atas layar ponsel yang berpendar terang, menyinari wajahnya yang tegas dan datar. Alisnya sesekali bertaut, seolah apa yang ada di dalam ponselnya sangat penting.

"Iya, dengar," jawab Rangga menoleh sebentar untuk memandangnya.

Maria menghela napas pendek, mencoba menelan kekecewaan yang mulai mengganjal di dada. Baru saja ia bersemangat menceritakan keriuhan pengajian rutin di aula kompleks sore tadi untuk menyembunyikan luka yang baru saja di dapatnya.

Maria bercerita tentang betapa menggemaskannya anak-anak kecil yang ikut ibu mereka. Ada yang berebut kue kotak hingga menangis, ada yang salah memakai sandal, dan ada seorang balita yang duduk saja di depan ibunya dan berakhir dengan tertidur pulas di pangkuan ibunya. Maria ingin membagikan kehangatan itu pada Rangga, berharap lelaki itu merespon. Ia cerita untuk membangun komunikasi di antara mereka. Mungkin bagi Rangga, ini bukan cerita yang penting dan harus ia dengar. Bukankah pria itu sedang berbahagia?

Karena sikap suaminya yang tak seberapa menanggapi, Maria akhirnya memilih diam. Ia memalingkan wajah kembali ke arah televisi.

Tiba-tiba ponsel di tangan Rangga berdering. Sebuah melodi standar yang terdengar nyaring di ruang yang sunyi itu.

Rangga segera bangkit tanpa berkata sepatah kata pun dan melangkah cepat menuju teras.

Maria menoleh, menatap punggung suaminya dari balik kaca. Wajahnya yang tadi mencoba tegar langsung berubah. Sorot matanya meredup, menyimpan luka yang sudah lama ia simpan dalam diam. Hatinya terasa perih. Tapi Maria segera membuang muka. Ia mengingatkan dirinya sendiri. Inilah takdir yang harus ia terima.

Hubungan mereka memang unik atau mungkin lebih tepatnya rumit. Maria bukanlah orang asing bagi keluarga Rangga. Ia merupakan anak dari saudara angkat kerabat bapaknya Rangga, yang bernasib malang. Saat usianya baru menginjak 13 tahun, sebuah kecelakaan merenggut kedua orang tuanya, meninggalkan Maria sebatang kara.

Orang tua Rangga membawanya pulang ke rumah mereka. Merawat Maria seperti anak sendiri. Di rumah itulah, Maria menemukan kembali arti sebuah keluarga.

"Maria, kamu dari mana?" tanya Bu Hasna, mamanya Rangga pada Maria yang baru kembali ke rumah menjelang Maghrib beberapa tahun yang lalu.

"Dari TPQ, Tante. Lihat anak-anak mengaji," jawabnya sambil tersenyum.

Hampir setiap sore, gadis berusia tiga belas tahun itu selalu pergi ke TPQ untuk melihat remaja dan anak-anak mengaji di sana. Ia selalu berangkat ikut Tantri, si teman dekatnya. Maria akan menunggu di bangku yang ada di halaman gedung itu. Dia tidak mungkin masuk karena seorang kristian.

Akhirnya Maria yang saat itu berusia tujuh belas tahun memutuskan untuk memeluk agama Islam. Ia menjadi mualaf bukan karena paksaan, melainkan karena ia jatuh cinta pada ketenangan yang ia lihat dari cara Pak Haji Ali dan Bu Hajah Hasna menjalani hidup. Pada rutinitas anak-anak yang mengaji dan berkegiatan di masjid yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah Pak Ali.

Ia juga kagum pada Rangga. Meski kakak angkat sekaligus sepupu jauhnya itu memang pendiam. Maria mengagumi Rangga dalam diam. Kecerdasannya, ketegasannya, dan caranya menjaga kehormatan keluarga. Lelaki itu hanya bicara seperlunya.

"Kamu nikah saja sama Rangga, Maria," kata Bu Hasna saat Maria membantunya memasak di dapur. Maria tersipu dan menganggap itu hanya gurauan.

Saat Maria menginjak usia 23 tahun dan baru saja menyandang gelar sarjana, sebuah permintaan datang dari Pak Ali. Sebuah perjodohan.

"Maria, Bapak dan Ibu ingin kau menjadi bagian dari keluarga ini selamanya. Kamu bersedia menjadi istrinya Rangga, kan?" tanya Pak Ali malam itu.

Bagi Maria, itu adalah mimpi yang menjadi nyata. Ia menerima dengan ikhlas, bahkan dengan rasa bahagia yang sulit disembunyikan. Namun bagi Rangga itu merupakan beban. Rangga sempat menolak keras. Maria tahu itu. Ia mendengar perdebatan di ruang kerja Pak Ali, suara Rangga yang menyatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Maria selain rasa kasihan sebagai adik.

"Pak, aku nggak bisa. Aku akan menikah dengan Tamara. Orang tuanya sudah mendesakku supaya segera melamar putrinya."

Namun Pak Ali tak memberikan restunya. Dan Rangga tak memiliki pilihan. Akhirnya ia menerima. Pernikahan pun digelar dengan megah. Tapi Maria tahu, di balik pengantin lelaki yang gagah itu, hati Rangga tertinggal di tempat lain dan memang tidak pernah ada untuknya. Walaupun pria itu tetap menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab padanya.

Maria pun sempat menolak karena Rangga tidak mau. Namun Pak Ali memaksanya. "Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Maria."

Maria menghela napas panjang. Remang cahaya lampu ruang tamu membuatnya merasa semakin kesepian. Ia merasa tak berguna menunggu di sana. Niatnya tadi ingin mengajak suaminya berbincang. Tapi Rangga memang sedang berbahagia dengan yang di 'sana'. Surat pemeriksaan tadi menjelaskan semuanya.

Dengan gerakan lunglai, ia mematikan televisi. Lalu beranjak ke kamar utama, tanpa menoleh ke arah teras tempat Rangga masih sibuk berbicara di telepon. Ia langsung merebahkan tubuhnya di sisi kiri tempat tidur, berbaring miring, dan menarik selimut hingga ke dada.

Tak berapa lama, pintu kamar terbuka. Rangga duduk begitu dekat dengan punggungnya, lalu menyentuh pundaknya. "Kamu sudah tidur?"

Next ....

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (4)
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
ya Allah..ni Crita poligami ya..baca bab pertama dah di suguhi. yg Melo gini ya.ni si Rangga poligami ortunya tau gak ya?
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
Nyesek y jadi Maria.. jadi istri tapi dicuekin.. suaminya punya perempuan lain pula.. hadeeewww...
goodnovel comment avatar
Siti Dede
Rangga nanti nasibnya spt Davin ya mbak?
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Mencari Jejak Maria    MJM 5

    MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," lanjut Bu Arsi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, tapi setiap kata-katanya terasa seperti belati yang ditancapkan perlahan di dada Maria. "Tamara sekarang sedang hamil dua bulan. Sebagai ibunya, saya nggak bisa membiarkan putri saya terus-menerus berada dalam status pernikahan siri yang nggak menentu. Anaknya nanti butuh kepastian hukum, butuh akta kelahiran dengan nama ayahnya yang sah di mata negara."Maria masih membisu. Matanya menatap jauh ke tanaman bunga, tapi telinganya mendengarkan setiap kalimat yang merobek-robek harga dirinya sebagai istri pertama."Saya tahu ini sulit bagimu, tapi kamu harus mengerti. Saya ke sini mewakili Tamara untuk meminta secara baik-baik, tolonglah

  • Mencari Jejak Maria    MJM 4

    MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menunggu.""Nggak apa-apa. Kami juga barusan nyampe. Rangga belum pulang kerja?"Dada Maria berdegup kencang. Dia takut untuk berbohong, tapi juga takut untuk bicara jujur. Baru kali ini mertuanya datang, pas kebetulan Rangga tidak di rumah. "Mas Rangga ke luar kota, Bu," jawab Maria sambil membuka pintu rumah dan mempersilakan mereka masuk."Ke mana?" tanya Bu Hasna.Duh, ke mana, ya? Maria benar-benar gugup. "Ke Blitar, Bu." Akhirnya Maria menyebut nama kota itu. Kota di mana sekarang Rangga berada untuk mengunjungi Tamara. Ingin rasa hati bicara yang sebenarnya, tapi melihat kondisi mertuanya, Maria tidak tega."O, ya sudah. Tapi kamu berani sendirian di rumah?""Berani." Maria tersenyum. "Bapak

  • Mencari Jejak Maria    MJM 3

    MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria dalam-dalam."Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu, Nak Maria?" Bu Nafisah bertanya dengan suara tenang.Maria tersenyum tipis. "Hanya ingin tahu, Bu. Saya belum memahaminya."Bu Nafisah mengangguk pelan. Masuk akal, pikirnya. Sebagai mualaf, rasa ingin tahu Maria memang selalu tinggi. Namun ada mendung di wajah Maria yang tidak bisa disembunyikan. Bu Nafisah sudah banyak pengalaman, membuatnya bisa membaca raut wajah itu."Poligami dalam Islam memang diperbolehkan, Nak Maria. Tapi itu bukan sekadar pintu untuk menambah istri." Bu Nafisah mulai menjelaskan dengan nada yang lembut. "Dasarnya ada dalam Surah An-Nisa, di mana seorang lelaki dibatasi maksimal memiliki empat istri. Namun ayat itu dit

  • Mencari Jejak Maria    MJM 2

    MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas panjang supaya air matanya tidak jatuh. Kemudian duduk. Apa sang suami akan memberitahu tentang kabar bahagianya yang sebentar lagi akan menjadi ayah? "Ada apa, Mas? Mau kubuatin kopi? Tadi sore aku belum sempat bikinin.""Tidak usah. Sudah jam delapan malam. Ada yang ingin aku omongin."Dada Maria berdebar kencang. Rasa perih juga mengguncang di dalam sana. Ah, sampai kapan ia bisa bertahan dalam posisi seperti ini. "Ngomong apa?" suara Maria bergetar."Ada kabar bahagia?""Oh, iya. Apa itu?" Jantung Maria kian berpacu. Ia harus siap mendengarkan kabar bahagia bagi Rangga, tapi pasti perih untuk dirinya."Mulai Senin depan, aku sudah resmi menjabat sebagai Manajer Operasional," ucap Rangga. Ma

  • Mencari Jejak Maria    MJM 1

    MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu dan mengembalikan di tempat semula. Kemudian keluar dari mobil sang suami dan tidak jadi membersihkannya. Maria menarik napas panjang, baru kemudian masuk rumah sambil melepaskan pasminanya. Dia tadi baru saja pulang pengajian rutinan di komplek perumahan mereka. Saat itu Rangga sibuk di depan layar laptop di ruang kerjanya.Tanpa bertanya pada sang suami tentang apa yang ditemukannya tadi, Maria segera bergegas ke belakang untuk menyiapkan makan malam. "Hati, tenanglah. Kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Jangan cengeng, ya," ujarnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri. "Ini takdir kita, Maria." Ia ingat ucapan Tamara ketika mereka bertemu suatu hari. Wanita itu sangat ramah pa

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status