LOGIN
MARIA
- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil. Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu dan mengembalikan di tempat semula. Kemudian keluar dari mobil sang suami dan tidak jadi membersihkannya. Maria menarik napas panjang, baru kemudian masuk rumah sambil melepaskan pasminanya. Dia tadi baru saja pulang pengajian rutinan di komplek perumahan mereka. Saat itu Rangga sibuk di depan layar laptop di ruang kerjanya. Tanpa bertanya pada sang suami tentang apa yang ditemukannya tadi, Maria segera bergegas ke belakang untuk menyiapkan makan malam. "Hati, tenanglah. Kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Jangan cengeng, ya," ujarnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri. "Ini takdir kita, Maria." Ia ingat ucapan Tamara ketika mereka bertemu suatu hari. Wanita itu sangat ramah padanya. 🖤LS🖤 "Mas, kamu dengar kan apa yang aku ceritakan tadi? Anak-anak itu begitu lucu." Suara Maria terdengar renyah. Matanya menatap penuh harap pada lelaki yang duduk tepat di sampingnya. Ia mencoba mengabaikan tentang apa yang ditemukan di mobil tadi. Rangga bergeming. Ibu jarinya mengetik di atas layar ponsel yang berpendar terang, menyinari wajahnya yang tegas dan datar. Alisnya sesekali bertaut, seolah apa yang ada di dalam ponselnya sangat penting. "Iya, dengar," jawab Rangga menoleh sebentar untuk memandangnya. Maria menghela napas pendek, mencoba menelan kekecewaan yang mulai mengganjal di dada. Baru saja ia bersemangat menceritakan keriuhan pengajian rutin di aula kompleks sore tadi untuk menyembunyikan luka yang baru saja di dapatnya. Maria bercerita tentang betapa menggemaskannya anak-anak kecil yang ikut ibu mereka. Ada yang berebut kue kotak hingga menangis, ada yang salah memakai sandal, dan ada seorang balita yang duduk saja di depan ibunya dan berakhir dengan tertidur pulas di pangkuan ibunya. Maria ingin membagikan kehangatan itu pada Rangga, berharap lelaki itu merespon. Ia cerita untuk membangun komunikasi di antara mereka. Mungkin bagi Rangga, ini bukan cerita yang penting dan harus ia dengar. Bukankah pria itu sedang berbahagia? Karena sikap suaminya yang tak seberapa menanggapi, Maria akhirnya memilih diam. Ia memalingkan wajah kembali ke arah televisi. Tiba-tiba ponsel di tangan Rangga berdering. Sebuah melodi standar yang terdengar nyaring di ruang yang sunyi itu. Rangga segera bangkit tanpa berkata sepatah kata pun dan melangkah cepat menuju teras. Maria menoleh, menatap punggung suaminya dari balik kaca. Wajahnya yang tadi mencoba tegar langsung berubah. Sorot matanya meredup, menyimpan luka yang sudah lama ia simpan dalam diam. Hatinya terasa perih. Tapi Maria segera membuang muka. Ia mengingatkan dirinya sendiri. Inilah takdir yang harus ia terima. Hubungan mereka memang unik atau mungkin lebih tepatnya rumit. Maria bukanlah orang asing bagi keluarga Rangga. Ia merupakan anak dari saudara angkat kerabat bapaknya Rangga, yang bernasib malang. Saat usianya baru menginjak 13 tahun, sebuah kecelakaan merenggut kedua orang tuanya, meninggalkan Maria sebatang kara. Orang tua Rangga membawanya pulang ke rumah mereka. Merawat Maria seperti anak sendiri. Di rumah itulah, Maria menemukan kembali arti sebuah keluarga. "Maria, kamu dari mana?" tanya Bu Hasna, mamanya Rangga pada Maria yang baru kembali ke rumah menjelang Maghrib beberapa tahun yang lalu. "Dari TPQ, Tante. Lihat anak-anak mengaji," jawabnya sambil tersenyum. Hampir setiap sore, gadis berusia tiga belas tahun itu selalu pergi ke TPQ untuk melihat remaja dan anak-anak mengaji di sana. Ia selalu berangkat ikut Tantri, si teman dekatnya. Maria akan menunggu di bangku yang ada di halaman gedung itu. Dia tidak mungkin masuk karena seorang kristian. Akhirnya Maria yang saat itu berusia tujuh belas tahun memutuskan untuk memeluk agama Islam. Ia menjadi mualaf bukan karena paksaan, melainkan karena ia jatuh cinta pada ketenangan yang ia lihat dari cara Pak Haji Ali dan Bu Hajah Hasna menjalani hidup. Pada rutinitas anak-anak yang mengaji dan berkegiatan di masjid yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah Pak Ali. Ia juga kagum pada Rangga. Meski kakak angkat sekaligus sepupu jauhnya itu memang pendiam. Maria mengagumi Rangga dalam diam. Kecerdasannya, ketegasannya, dan caranya menjaga kehormatan keluarga. Lelaki itu hanya bicara seperlunya. "Kamu nikah saja sama Rangga, Maria," kata Bu Hasna saat Maria membantunya memasak di dapur. Maria tersipu dan menganggap itu hanya gurauan. Saat Maria menginjak usia 23 tahun dan baru saja menyandang gelar sarjana, sebuah permintaan datang dari Pak Ali. Sebuah perjodohan. "Maria, Bapak dan Ibu ingin kau menjadi bagian dari keluarga ini selamanya. Kamu bersedia menjadi istrinya Rangga, kan?" tanya Pak Ali malam itu. Bagi Maria, itu adalah mimpi yang menjadi nyata. Ia menerima dengan ikhlas, bahkan dengan rasa bahagia yang sulit disembunyikan. Namun bagi Rangga itu merupakan beban. Rangga sempat menolak keras. Maria tahu itu. Ia mendengar perdebatan di ruang kerja Pak Ali, suara Rangga yang menyatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan apa pun pada Maria selain rasa kasihan sebagai adik. "Pak, aku nggak bisa. Aku akan menikah dengan Tamara. Orang tuanya sudah mendesakku supaya segera melamar putrinya." Namun Pak Ali tak memberikan restunya. Dan Rangga tak memiliki pilihan. Akhirnya ia menerima. Pernikahan pun digelar dengan megah. Tapi Maria tahu, di balik pengantin lelaki yang gagah itu, hati Rangga tertinggal di tempat lain dan memang tidak pernah ada untuknya. Walaupun pria itu tetap menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab padanya. Maria pun sempat menolak karena Rangga tidak mau. Namun Pak Ali memaksanya. "Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Maria." Maria menghela napas panjang. Remang cahaya lampu ruang tamu membuatnya merasa semakin kesepian. Ia merasa tak berguna menunggu di sana. Niatnya tadi ingin mengajak suaminya berbincang. Tapi Rangga memang sedang berbahagia dengan yang di 'sana'. Surat pemeriksaan tadi menjelaskan semuanya. Dengan gerakan lunglai, ia mematikan televisi. Lalu beranjak ke kamar utama, tanpa menoleh ke arah teras tempat Rangga masih sibuk berbicara di telepon. Ia langsung merebahkan tubuhnya di sisi kiri tempat tidur, berbaring miring, dan menarik selimut hingga ke dada. Tak berapa lama, pintu kamar terbuka. Rangga duduk begitu dekat dengan punggungnya, lalu menyentuh pundaknya. "Kamu sudah tidur?" Next ....Sore itu mereka mengantarkan Zahra, Zein, dan baby Nuh ke Bandara Dhoho. Sedangkan Bu Hindun sudah kembali ke Malang siang tadi.Naima menciumi sang cucu dan Zahra. "Jaga diri kalian baik-baik," pesannya."Iya, Bun."Akhirnya Zein dan Zahra pamitan. Mereka melangkah untuk check in. Semua barang sudah masuk ke bagian bagasi.Zahra tersenyum sambil melambaikan tangan pada keluarganya yang masih berdiri di ujung sana.🖤LS🖤Tinggal di Jakarta, Zahra menjalani kehidupan seperti biasanya. Sebagai istri dan ibu. Bagi Zein yang penting Zahra memperhatikan putra mereka. Makanya Zahra jarang masak kecuali pas Zein libur. Membersihkan rumah juga dibantu sang suami. Dua bulan kemudian, SK pindah tugas di kantor diterima Zein. Jadi dia tidak lagi meninggalkan istri dan anaknya sampai berhari-hari. Hanya saja panggilan tugas mendadak di tengah malam, itu sudah biasa. Zahra pun sangat memahaminya.Ia tetap aktif di kegiatan Bhayangkari sambil membawa anaknya. Baby Nuh bisa diajak kerjasama dan ja
Di kamar, Zein merengkuh tubuh Zahra erat-erat, mendaratkan kecupan lama di kening sang istri. "Dua bulan lagi, Sayang. Kalian ikut Mas ke Jakarta.""Iya.""Tunggu Mas sampai menjemput kalian."Zahra mengangguk sambil tersenyum tulus, menyandarkan pipinya sebentar di dada bidang Zein. Ia akan menuruti kata bunda dan papanya. Sebab sadar kalau belum sanggup merawat Nuh sendirian di sana tanpa bantuan. Bayinya masih terlalu kecil. Lagipula mengurus bayi baru lahir membutuhkan stamina ekstra.Zein lantas membungkuk di boks bayi, mengelus lembut pipi putranya yang tertidur pulas, lalu menciumnya pelan-pelan. "Papa tugas dulu, ya. Jangan rewel."Akhirnya dengan langkah berat, Zein meninggalkan kamar lalu turun dan menuju kendaraan yang akan mengantarnya ke Bandara. Ia pamitan pada kedua mertuanya. Dan Elvaro yang ikut mengantarkan ke Dhoho.🖤LS🖤Sebulan kemudian kabar bahagia kembali menghampiri keluarga Emir. Aurel di Surabaya mengabari kalau sedang hamil empat minggu. Dia dilanda mabuk
"Iya. Dia selalu tidur bersamaku di sini. Di sofa itu." Zahra memandang sofa. "Sekarang ada di kamar sebelah. Sebab aku bilang kalau Mas mau pulang."Untuk beberapa lama mereka duduk sambil memandangi baby Nuh. Zahra cerita keseharian mereka yang belum diceritakan pada sang suami. Zahra kemudian menidurkan bayinya ke dalam boks.Zein menarik tangan Zahra, membimbing istrinya untuk berbaring bersama di atas ranjang. Mereka saling memeluk.Seperti biasa, Zein tak pernah menceritakan misi yang baru saja diselesaikannya. Dia hanya cerita sewajarnya. Sesuatu yang aman Zahra ketahui.Pria itu menatap lekat wajah istrinya, mengusap helai rambut yang menutupi pipi Zahra. "Sayang, Mas cuma dapat cuti empat hari. Lusa Mas sudah harus kembali ke markas."Raut sedih sempat terlintas di paras Zahra, tapi ia selalu paham dan akhirnya mengangguk pelan. "Iya, nggak apa-apa. Aku mengerti. Mas sudah cerita kemarin di telepon, kan? Walaupun sebentar, tapi masih sempat pulang nyambangi kami. Mas, pasti c
Zein- 27 TamatPerjalanan panjang itu tak bisa membuat Zein tertidur. Ia naik kereta api menuju Surabaya. Nanti akan menyambung kereta lokal ke Tulungagung. Sebab tidak ada kereta yang direct langsung ke kota marmer itu. Di tengah gemuruh roda kereta, matanya terkunci pada layar ponsel. Memandangi foto dan rekaman video singkat Baby Nuh yang dikirimkan istrinya. Bayi mungil berparas tampan itu menimbulkan rasa hangat yang membakar dadanya. Kepulangan kali ini didapatkan penuh perjuangan. Tiket pesawat pagi ludes, membuatnya tak punya pilihan selain menempuh perjalanan darat yang menguras tenaga.Dan cuti kali ini teramat singkat. Zein hanya mengantongi izin empat hari. Rasa ingin segera memboyong Zahra dan Nuh ke Jakarta membubung tinggi, bahkan Zahra sempat bersikeras ikut. Akan tetapi nasehat para orang tua menghalangi keputusan mereka. Mengurus bayi baru lahir sendirian di ibu kota tanpa ART jelas bukan perkara mudah. Mereka harus bersabar hingga Nuh genap berusia tiga bulan.Puk
Tepat pukul satu dini hari, lengkingan suara tangis bayi pecah menggema, membelah keheningan malam di klinik itu.Sebentar kemudian seluruh rasa sakit yang membakar tubuh Zahra menguap tanpa sisa. Naima seketika membungkuk, merangkul tubuh putrinya yang terkulai lemas bersimbah peluh. Keduanya tumpah dalam tangis keharuan. Dokter yang menangani mengucapkan selamat.Seorang bayi laki-laki tampan dengan berat 3,5 kilogram telah lahir sehat dan sempurna usai sembilan jam perjuangan yang hebat.Usai penanganan pasca persalinan, Bidan mempersilakan keluarga masuk untuk mengazani sang bayi. Bidan menyodorkan bayi mungil berbedong kain biru muda itu pada Emir.Pria itu tersenyum sambil merengkuh cucunya. Kemudian ia mengambil ponsel di saku celananya. "Tunggu sebentar, Bu Bidan."Emir mencoba menghubungi Zein, lalu mengubah panggilan ke mode panggilan video. Panggilan itu diangkat hanya dalam satu kali dering. Layar ponsel menampilkan wajah Zein yang sembap dan tegang. Dia pun tidak tidur sa
Zahra mengusap lembut perutnya dan berbisik pada sang buah hati. "Nggak apa-apa ya, Nak. Papa lagi ada tugas. Kita berdua kuat, ya?"Ucapan itu dibalas spontan oleh sang buah hati. Tendangan kecil dari dalam perutnya sebagai bentuk respon dari bayinya.Sejak awal ia sudah memprediksi bahwa peluang Zein untuk pulang sangatlah tipis. Kendati ia dikelilingi support system yang begitu luar biasa di rumah ini, kekosongan di sisi hatinya tak bisa dibohongi.Beberapa malam terakhir, Zahra kian sulit memejamkan mata akibat rasa pegal yang menjalar hingga ke tulang punggung. Di tambah dengan rasa cemas yang tak kunjung surut. Memahami kegelisahan sang putri, Naima izin pada suaminya untuk menemani Zahra tidur setiap malam."Bun, temani Papa saja. Nanti kalau ada apa-apa, Zahra bisa nelepon Bunda." Zahra merasa tak enak hati dengan papanya. Pria itu masih terbilang muda. Baru juga setengah abad. Bundanya belum genap usia 50 tahun. Jelas ia paham kebutuhan biologis suami istri."Nggak apa-apa. P
MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan
MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan







