Share

27

last update publish date: 2026-09-27 22:39:28

​Keheningan romantis di gazebo itu akhirnya pecah oleh derit halus ban mobil yang bergesekan dengan aspal paving pelataran rumah. Marvin melirik jam tangan chronograph di pergelangan kirinya di bawah temaram lampu gantung.

​Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh sembilan menit. Sisa enam puluh detik sebelum ancaman ban kempes dari sang mantan penguasa dunia bawah itu benar-benar dieksekusi.

​Dari balik pagar kayu, terdengar suara pintu mobil ditutup dengan s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   29

    Dua minggu sebelum masa orientasi mahasiswa dimulai, langit Kota Bandung menjadi saksi bisu kegilaan dua kakek super kaya yang menolak keras membiarkan cucu mereka hidup seperti mahasiswa biasa. Kesepakatan awal untuk membiarkan Aria "hidup mandiri" ternyata diterjemahkan secara sangat ekstrem oleh Marx Vance dan Pak Darmawan.​Perang akuisisi properti dimulai dalam senyap. Pak Darmawan lebih dulu mengutus tim pengacaranya untuk membeli seluruh lantai penthouse di apartemen paling elite di Ciumbuleuit, lengkap dengan taman gantung dan sistem filtrasi air setara rumah sakit. Namun, Marx Vance sang raja mafia merasa itu belum cukup aman. Hanya dalam kurun waktu dua hari, Marx membeli seluruh gedung apartemen tersebut, mengusir sisa penghuni dengan kompensasi sepuluh kali lipat, dan menyulap lobi gedung menjadi pos komando taktis yang dijaga oleh anak buah Carlo yang menyamar secara bergantian sebagai satpam, kurir paket, hingga tukang sapu jalanan.​Jihan hanya bisa mengurut d

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   28

    ​Waktu melesat lebih cepat dari putaran mesin V8. Aria Vance kini duduk di kelas dua belas, dan kata 'kuliah' resmi menjadi pemicu kepanikan nasional tingkat tinggi di kediaman keluarga Vance-Darmawan.​Malam itu, ruang keluarga townhouse Jihan dan Marvin tidak lagi terlihat seperti tempat bersantai, melainkan ruang konferensi intelijen. Meja kaca di tengah ruangan tertutup rapat oleh dua tumpukan dokumen yang saling bersaing.​Di sisi kiri, Pak Darmawan menyusun rapi setumpuk brosur universitas Ivy League, lengkap dengan cetak biru rencana ekspansi perusahaan propertinya sepuluh tahun ke depan. Di sisi kanan, Marx Vance membentangkan peta geopolitik dunia, brosur akademi militer swasta dari Swiss, dan dokumen kepemilikan pabrik senjata yang baru saja ia beli atas nama Aria.​"Harvard Business School adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal, Vance!" Pak Darmawan memulai persidangan, mengetuk brosurnya dengan pena emas murni. "Aria akan mewarisi takhta Darmawan Group.

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   27

    ​Keheningan romantis di gazebo itu akhirnya pecah oleh derit halus ban mobil yang bergesekan dengan aspal paving pelataran rumah. Marvin melirik jam tangan chronograph di pergelangan kirinya di bawah temaram lampu gantung. ​Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh sembilan menit. Sisa enam puluh detik sebelum ancaman ban kempes dari sang mantan penguasa dunia bawah itu benar-benar dieksekusi. ​Dari balik pagar kayu, terdengar suara pintu mobil ditutup dengan sangat tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian, Aria berjalan santai memasuki halaman belakang, sementara siluet Bara di kejauhan terlihat berlari kembali ke kursi kemudi seolah nyawanya sedang dipertaruhkan. Deru mesin mobil pemuda itu melesat pergi tepat saat jarum detik menyentuh angka dua belas. ​Jihan terkekeh pelan di dalam pelukan suaminya. "Nyali anak itu patut diacungi jempol. Dia benar-benar berani menantang batas kecepatan kota Jakarta demi mengalahkan tenggat waktu dari algojo

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   26

    ​Deru mesin mobil Bara kembali terdengar di pelataran rumah pada malam Minggu berikutnya. Kali ini, remaja itu terlihat sedikit lebih rileks, meski postur tubuhnya tetap tegap layaknya prajurit yang sedang menjalani wajib militer. Aria turun dari lantai dua mengenakan dress selutut berwarna navy dan cardigan tipis, memancarkan pesona Jihan di masa mudanya namun dengan langkah merdeka ala Marvin.​"Papa, Mama, Aria pergi dulu," pamit gadis itu seraya mencium pipi kedua orang tuanya.​Marvin mengangguk, melipat lengannya di depan dada. "Jam sepuluh tepat, Bara. Lewat semenit, ban mobil lo otomatis gue kempesin dari jauh pakai remote."​Bara menelan ludah dan mengangguk kaku, berjanji dengan sungguh-sungguh akan mengembalikan Aria tanpa kurang satu lecet pun. Begitu siluet mobil mereka menghilang di balik gerbang, keheningan yang asing namun mendamaikan turun menyelimuti rumah tersebut. Jihan menoleh menatap suaminya, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa min

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   25

    ​Tujuh hari setelah Aria memberikan ultimatumnya, ruang makan keluarga Darmawan-Vance berubah menjadi arena uji nyali. Alih-alih makan malam kasual yang diharapkan Aria, Marx Vance dan Pak Darmawan menyulap ruangan itu menjadi lokasi jamuan kenegaraan tingkat tinggi.​Bara duduk membeku di kursi pualam yang terasa sedingin es. Remaja malang itu mengenakan setelan jas rapi yang kerahnya tampak mencekik lehernya sendiri. Di hadapannya, tersaji hidangan foie gras, caviar, dan irisan truffle putih yang mungkin harganya setara dengan uang jajannya selama tiga tahun.​"Jadi, anak muda," Marx Vance memotong daging steak wagyu A5-nya dengan gerakan lambat yang sangat mengancam. Pria paruh baya itu menatap tajam layaknya elang yang mengincar mangsa. "Bagaimana pendapatmu tentang fluktuasi pasar gelap... maksudku, pasar saham global pada kuartal ini? Aku perlu tahu apakah kau punya insting bertahan hidup yang memadai."​Di sebelah kanannya, Pak Darmawan menyesap air mineral dari g

  • Mencari Kamu di Ribuan Bintang   24

    ​Pagi di Serambi Pulang selalu diawali dengan aroma biji kopi panggang dan mentega hangat. Namun, ketenangan Jihan yang sedang menata croissant di etalase harus terhenti saat Marvin melangkah masuk dengan wajah ditekuk maksimal. Mantan peretas jalanan itu tidak mengenakan jaket kulitnya, melainkan kemeja kasual yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, menampakkan kalung rantai peraknya.​Di tangan Marvin terdapat sebuah map kulit tebal bergembok digital. Pria itu menghempaskan dirinya di kursi bar depan Jihan, meletakkan map itu dengan bunyi bantingan pelan.​"Biar kutebak," sapa Jihan santai, menyodorkan secangkir espresso ganda kepada suaminya. "Papa dan Daddy berulah lagi?"​Marvin mengusap wajahnya frustrasi, lalu meminum kopinya dalam satu tegukan. Ia menatap Jihan dengan sorot mata putus asa yang hanya pernah ia tunjukkan pada istrinya itu. "Mereka berdua menyewa agen intelijen militer swasta, Han."​Jihan menghentikan gerakannya. "Intelijen? Untuk apa?"​"U

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status