Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia
Kylie Slavonia, seorang gadis jalanan berjiwa tangguh yang tewas dalam kecelakaan tragis, mendapati jiwanya bertransmigrasi ke tubuh Kyara Ardennes Hargens. Kyara adalah wanita muda kaya raya yang tunarungu, dibenci oleh keluarganya sendiri, dan terkurung dalam pernikahan tanpa cinta.
Suaminya, Calvin Hargens, seorang pria berkuasa yang dingin dan kejam, menatap Kyara dengan penuh kebencian. Calvin terpaksa menikahi Kyara hanya demi memenuhi janji kepada sang Nenek, sementara cintanya telah habis untuk wanita lain bernama Belva. Di mata Calvin, Kyara tak lebih dari sekadar "pajangan bisu" dan pemuas amarahnya.
Jika Kyara yang asli selalu pasrah, menangis, dan menerima setiap hinaan serta kekerasan batin dari Calvin, kehadiran jiwa Kylie mengubah segalanya. Mengandalkan ketangguhan masa lalunya dan kemampuan membaca gerak bibir, Kylie menolak menjadi korban!
Read
Chapter: 6Malam harinya, saat Calvin Hargens melangkah masuk ke dalam mansion, ia disambut oleh sisa-sisa badai. Neneknya telah mengunci diri di kamar dengan dokter keluarga yang sibuk menenangkannya, Clarissa menolak keluar, sementara pelayan membersihkan pecahan kristal di ruang tamu dengan wajah pucat.Dan sumber dari semua kekacauan itu? Istrinya sedang duduk tenang di ujung meja makan kayu mahoni panjang, menyesap segelas wine merah seolah dunia sedang baik-baik saja.Calvin mendekat, melempar jas mahalnya asal-asalan ke atas kursi. "Kau benar-benar berniat menghancurkan kediaman ini dalam satu hari, Kyara?"Kylie menoleh. Tatapannya tenang, sedingin es. Tanpa terburu-buru, ia meraih botol wine, menuangkan isinya ke gelas kosong di sebelahnya, lalu mendorong gelas itu ke arah Calvin.Calvin menghela napas kasar dan menjatuhkan diri ke kursi. Ia menatap istrinya dengan sorot mata yang rumit. Beberapa jam yang lalu, Rian baru saja melaporkan hasil penyelidikannya: Nihil. Tidak ada satu p
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: 5Di tengah napasnya yang masih memburu setelah melumpuhkan ketiga preman, indra kewaspadaan Kylie menangkap perubahan drastis di sekelilingnya.Bising pasar itu mendadak mati. Orang-orang yang semula menonton tiba-tiba melangkah mundur secara serentak, membuka jalan dengan kepala tertunduk ngeri. Melalui ekor matanya, Kylie menangkap sebuah pergerakan bayangan yang tegap. Ia memutar tubuh, bersiap untuk serangan susulan, namun gerakannya terhenti.Calvin Hargens berdiri hanya dua langkah di depannya.Aura pria itu sedingin es utara, namun matanya berkilat seperti neraka yang bocor. Tanpa aba-aba, Calvin melangkah maju, memangkas sisa jarak. Tangan besarnya mencengkeram lengan atas Kylie. Cengkeraman itu tak berniat mematahkan tulang, namun sarat akan kepemilikan mutlak dan rasa frustrasi yang tak tertampung.Wajah Calvin menunduk, mendekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Pria itu tidak berteriak untuk memamerkan amarahnya, melainkan mendesiskan kata-kata agar hanya gerak
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: 4Deru mesin Ducati merah itu membelah kemacetan pinggiran ibu kota dengan buas. Di balik kacamata hitamnya, Kylie—dalam cangkang tubuh Kyara—membiarkan angin panas Jakarta menerpa wajah dan mengacak-acak sanggul rapinya. Baginya, tamparan angin ini adalah pelukan; getaran mesin bertenaga besar di bawahnya adalah detak jantung yang meyakinkan bahwa ia masih bernapas. Melewati gedung-gedung pencakar langit, pemandangan perlahan menyusut menjadi deretan ruko kusam dan jalanan berlubang. Udara yang semula terfiltrasi AC gedung kini berganti menjadi aroma tajam bensin eceran yang bercampur dengan bau anyir sampah pasar. Laju Ducati itu perlahan mengendur saat sebuah persimpangan besar mulai terlihat. Persimpangan maut itu. Kylie menepikan motornya di trotoar retak. Begitu ujung sepatunya memijak aspal, lututnya mendadak kehilangan tenaga. Ini adalah tanah yang sama tempat napas terakhir Kylie Slavonia direnggut paksa. Ia melangkah gontai mendekati sudut jalan. Sisa-sisa garis polisi ber
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: 3Jarum jam kakek antik di sudut ruang kerja Calvin berdenting pelan menunjuk angka dua dini hari. Ruangan itu diselimuti bayangan, hanya pendar kekuningan dari lampu meja bercorong hijau dan titik api dari ujung cerutu yang memberikan cahaya. Calvin Hargens tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk bersandar di kursi kulitnya, menatap kosong kepulan asap yang meliuk di udara sebelum memudar. Sayangnya, bayangan insiden di ruang makan tadi tidak bisa menguap semudah asap cerutu itu. "Sialan," desisnya. Suaranya serak dan tertahan. Pria yang ditakuti karena darah dinginnya dalam memimpin sindikat itu kini merasa terusik. Bukan oleh ancaman kartel rival atau penggerebekan polisi, melainkan oleh seorang wanita yang selama dua tahun terakhir tak lebih dari sekadar perabot rusak di rumahnya. Istrinya sendiri. Memori itu berputar bagai kaset rusak di kepalanya. Sorot mata Kyara. Dulu, mata itu adalah mata seekor kelinci yang terperangkap jerat pemburu—selalu basah, berkabut, dan menghindari
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: 2Calvin mendengus muak melihat ketegaran semu di mata istrinya. Pria itu membalikkan badan, melangkah pergi dan membanting pintu tanpa sudi menoleh lagi. Ia meninggalkan istrinya di tengah kekacauan porselen tajam dan sisa makanan yang berserakan. Begitu getaran dari bantingan pintu itu memudar di telapak kakinya, bahu Kylie merosot. Ia menghela napas panjang. Ditatapnya pecahan beling berlumur bubur di lantai marmer itu, lalu pandangannya beralih kembali ke cermin besar. Ia mengangkat tangan, menyentuh bayangan wajah Kyara di permukaan kaca yang dingin. "Kyara Ardennes..." bisiknya dalam keheningan pikirannya. "Kau punya kekayaan yang tak habis dimakan tujuh turunan, tapi kau membiarkan jiwamu membusuk hanya karena kau tidak bisa mendengar? Hanya karena kau memohon cinta dari pria yang hatinya sudah mati?" Kylie mengepalkan tangannya perlahan. Tulang-tulang jarinya yang kini putih dan halus terasa asing, namun tekad yang mengalir di pembuluhnya tetap sama. "Kylie Slavonia mungkin
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: 1"Ayah... Sudah lama kita duduk berhadapan, tapi entah kenapa percakapan kita selalu berhenti di permukaan. Aku ingin bercerita banyak. Aku tahu Ayah peduli. Ayah hanya tak pandai merangkai kata. Namun hari ini... aku ingin kita bicara dari hati ke hati. Tanpa gengsi, tanpa jarak. Ayo kita cerita, Yah. Aku rindu didengarkan... seperti dulu." Kylie Slavonia menatap layar ponselnya yang retak di ujung. Ibu jarinya melayang di atas tombol Kirim, sebelum akhirnya ia kembali menekan Simpan sebagai Draf. Pesan itu hanya akan bermukim di sana, di tumpukan catatan kusam ponselnya. Tidak akan pernah terkirim. Padahal, pria yang seharusnya membaca pesan itu—beserta wanita yang paling merengkuhnya di dunia—kini hanya tersisa sebagai dua gundukan tanah berdampingan di bawah nisan yang dingin. Ia sendirian di dunia yang terlalu bising ini. Langit Jakarta sore itu seolah ikut menanggung beban Kylie. Awan kelabu menggantung rendah, memuntahkan gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan deras. Ga
Last Updated: 2026-08-05