
Mencari Kamu di Ribuan Bintang
Sinopsis: Di Balik Tawa Jihan
Bagi dunia luar, Jihan Andexa adalah definisi gadis eksentrik yang tak pernah kehabisan baterai. Ia periang, cerewet, dan tawanya selalu mendominasi ruangan. Namun, di balik senyum lebarnya yang nyaris tanpa celah, Jihan menyembunyikan sepi yang menggema keras di dinding-dinding rumahnya sendiri. Beruntung, ia memiliki Kalandra—kekasih green flag dengan kesabaran seluas samudra yang selalu menjadi pelabuhan tenangnya.
Di sudut kampus yang berbeda, ada Marvin Alexander. Si biang onar fakultas, playboy kelas kakap, sekaligus musuh bebuyutan Jihan sejak zaman putih abu-abu. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik balutan jaket kulit dan mulut pedasnya, Marvin menyimpan satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia telah mencintai Jihan dalam diam selama bertahun-tahun.
Saat Maudy—kekasih Marvin yang haus validasi—semakin menuntut, dan Kalandra mulai kewalahan membagi waktu dengan kewajiban keluarganya, semesta seolah sengaja menarik Jihan dan Marvin ke dalam garis singgung yang tak pernah mereka prediksi.
Akankah Jihan terus bersandar pada cinta yang menenangkan? Ataukah tanpa sadar, ia justru jatuh pada seseorang yang telah lama rela memeluk bayangannya dalam gelap?
Read
Chapter: 20Tiga tahun berlalu bagai kedipan mata. Aria Vance kini telah tumbuh menjadi balita berusia tiga tahun yang luar biasa aktif, cerdas, dan tentu saja—mewarisi kombinasi genetik yang sangat mematikan dari kedua orang tuanya. Ia memiliki mata elang setajam milik Marvin, namun dibingkai dengan senyum semanis Jihan.Satu hal yang paling membuat kedua kakeknya pusing tujuh keliling: Aria ternyata sama sekali tidak tertarik pada kemewahan.Siang itu, Pak Darmawan tiba di townhouse Jihan dengan kening berkerut. Di belakangnya, dua asisten membawakan tutu balet berbahan sutra asli dari Paris dan sepatu balet custom-made. Hari ini adalah jadwal Aria memulai kelas balet perdananya di studio eksklusif yang—tentu saja—sudah dibeli lunas oleh Pak Darmawan."Jihan! Di mana cucu Papa?" panggil Pak Darmawan saat melangkah masuk ke ruang tengah.Jihan, yang sedang melukis di sudut ruangan dengan celemek penuh noda cat, menoleh dan tersenyum kikuk. "Eh, Papa... Aria lagi... um... m
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: 19Aria Vance baru berusia dua minggu, tetapi bayi mungil itu sudah berhasil melumpuhkan dua pria paling berbahaya dan paling kaku di Jakarta tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.Kamar bayi di townhouse Jihan dan Marvin kini terlihat seperti gabungan antara galeri kemewahan kerajaan dan markas komando taktis. Di satu sudut, Pak Darmawan sibuk mengawasi pemasangan sistem filtrasi udara tingkat medis dan meletakkan miniatur gedung pencakar langit bertuliskan nama cucunya. Di sudut lain, Marx Vance sedang berdebat serius dengan Carlo tentang jenis bahan kain paling aman dan lembut yang cocok dijadikan selimut sang cucu."Dia cucuku, Vance! Dia harus belajar tentang analisis pasar dan strategi investasi sejak dini!" seru Pak Darmawan seraya menata buku-buku dongeng berbahasa Prancis di rak kayu mahal."Cucuku akan belajar cara memegang kemudi helikopter sebelum dia bisa berjalan!" balas Marx tak mau kalah, memoles sepatu bayi edisi terbatas buatan perajin Italia.
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: 18Kehamilan Jihan kini telah memasuki bulan ketujuh. Perutnya yang semakin membesar berbanding lurus dengan tingkat kepanikan eksponensial dari dua keluarga raksasa yang menaungi mereka. Di rumah townhouse kecil mereka, Marvin harus bekerja keras menerapkan aturan ketat untuk membendung arus "bantuan" berlebihan dari luar.Tabel Persaingan Para Calon KakekDemi menyambut sang cucu pertama, kedua ayah mereka seolah berlomba memecahkan rekor pengeluaran yang tidak masuk akal:Sosok KakekPersiapan Paling AbsurdReaksi MarvinMarx VanceMembeli peternakan sapi perah di Selandia Baru hanya agar asupan susu Jihan selalu segar.Mematikan ponselnya selama dua hari.Pak DarmawanMembeli rumah tetangga sebelah, merobohkannya, lalu membangun taman bermain indoor yang diklaim 100% steril.Memijat pelipis menahan sakit kepala.Protokol Keamanan Tingkat DewaTingkah laku para pengawal bayangan juga tidak kalah luar biasa. Tanpa sepengetahuan Jihan, rutinitas mereka telah diubah
Last Updated: 2026-09-18
Chapter: 17Bulan madu eksotis di Karibia telah usai, digantikan oleh realitas aspal panas Jalan Sudirman dan deru klakson ibu kota. Membawa status baru sebagai sepasang suami istri—dan pewaris sah kerajaan bisnis raksasa serta dunia bawah—Jihan dan Marvin memilih rutinitas yang jauh dari ekspektasi publik.Dinamika Nyonya Bos di Serambi PulangKafe milik Jihan kini semakin ramai. Gadis itu tetap sibuk di balik mesin espresso dan oven pastry, namun ada beberapa perubahan "kecil" sejak ia resmi menyandang nama belakang Vance:Pemasok Misterius: Biji kopi langka kualitas grand cru dari Kolombia tiba-tiba dikirim rutin setiap minggu. Pengirimnya? Tulisan di boks hanya menyebutkan "Kolega Ayah Mertua".Penjagaan Tak Kasat Mata: Tiga pria berjas rapi pimpinan Carlo selalu duduk di sudut kafe setiap hari. Mereka hanya memesan satu espresso selama delapan jam penuh demi memastikan tidak ada pelanggan yang berani komplain dengan nada tinggi kepada Jihan.Fasilitas Ekstra: Selur
Last Updated: 2026-09-17
Chapter: 16Gemerincing lampu kristal Swarovski asli—yang diimpor langsung atas titah Marx Vance—memantulkan ribuan bianglala kecil di seluruh penjuru ballroom VVIP hotel bintang enam tersebut. Malam itu, Jakarta seolah berhenti berputar, memusatkan seluruh poros kemewahannya pada satu titik altar pualam putih.Penyatuan dua kerajaan ini menciptakan pemandangan tamu undangan yang luar biasa absurd namun megah:Sektor Kiri: Menteri Perekonomian, para duta besar, dan deretan konglomerat yang sibuk memuji dekorasi ribuan mawar putih dari Ekuador.Sektor Kanan: Bos-bos kartel, petinggi La Cosa Nostra dari Sisilia, dan Carlo sang bodyguard yang menahan tangis haru di balik kacamata hitamnya.Di ujung altar, Marvin Alexander berdiri dengan napas tertahan. Ia tampak mematikan sekaligus menawan dalam balutan tuksedo Tom Ford hitam pekat. Tidak ada lagi sisa-sisa montir berjaket kulit; malam itu, sang Pangeran Kegelapan akhirnya menerima mahkotanya. Marx Vance, yang duduk di baris t
Last Updated: 2026-09-16
Chapter: 15Jika Jihan dan Marvin berpikir mereka bisa merencanakan pernikahan taman yang sederhana dengan dihadiri lima puluh orang terdekat, maka mereka jelas lupa siapa nama belakang yang mengalir di nadi mereka.Menyatukan keluarga Darmawan—raksasa konglomerasi properti Jakarta—dan keluarga Vance—penguasa mutlak dunia bawah—dalam sebuah kepanitiaan pernikahan, sama saja dengan menyatukan kembang api dan dinamit di dalam satu ruang tertutup. Ledakannya sudah pasti megah, namun kerusakannya tidak bisa diprediksi.Siang itu, di ballroom VVIP sebuah hotel bintang enam di pusat kota, pertemuan technical meeting pernikahan digelar.Seorang Wedding Organizer kelas atas yang biasa menangani pernikahan keluarga kerajaan Asia, tampak berdiri dengan lutut bergetar di ujung meja bundar raksasa. Di sisi kanan meja, Ayah Jihan duduk didampingi tiga asisten pribadinya yang sibuk mencatat. Di sisi kiri, Marx Vance duduk bersandar dengan gaya arogan khas seorang mafia, didampingi Carlo sang
Last Updated: 2026-09-15
Transmigrasi ke Tubuh Istri Bisu Sang Mafia
Kylie Slavonia, seorang gadis jalanan berjiwa tangguh yang tewas dalam kecelakaan tragis, mendapati jiwanya bertransmigrasi ke tubuh Kyara Ardennes Hargens. Kyara adalah wanita muda kaya raya yang tunarungu, dibenci oleh keluarganya sendiri, dan terkurung dalam pernikahan tanpa cinta.
Suaminya, Calvin Hargens, seorang pria berkuasa yang dingin dan kejam, menatap Kyara dengan penuh kebencian. Calvin terpaksa menikahi Kyara hanya demi memenuhi janji kepada sang Nenek, sementara cintanya telah habis untuk wanita lain bernama Belva. Di mata Calvin, Kyara tak lebih dari sekadar "pajangan bisu" dan pemuas amarahnya.
Jika Kyara yang asli selalu pasrah, menangis, dan menerima setiap hinaan serta kekerasan batin dari Calvin, kehadiran jiwa Kylie mengubah segalanya. Mengandalkan ketangguhan masa lalunya dan kemampuan membaca gerak bibir, Kylie menolak menjadi korban!
Read
Chapter: . Tidak ada keraguan. Tidak ada lagi sisa-sisa moralitas remaja atau batasan dunia terang yang selama ini mengurung Atlas Mahardika.Saat bibir mereka akhirnya bertemu, tidak ada kelembutan klise layaknya romansa picisan anak sekolahan. Sentuhan itu adalah sebuah hantaman absolut. Sebuah proklamasi kepemilikan yang kasar, menuntut, dan dipenuhi oleh gairah gelap yang selama ini tertidur di dalam diri Atlas.Mata Vea membelalak untuk sepersekian detik saat bibir pemuda itu melumat bibirnya. Udara di paru-parunya seakan dirampas secara paksa. Atlas tidak meminta izin; ia mengambil kendali sepenuhnya. Tangan kirinya menelusup kuat ke tengkuk Vea, menahan kepala gadis itu agar tidak bisa menghindar, sementara tangan kanannya yang tadi menangkup rahang kini turun, mencengkeram pinggang ramping Vea yang hanya terbalut keringat dan udara dingin.Vea, pembunuh bayaran yang terbiasa mencabut nyawa tanpa berkedip, untuk pertama kalinya dalam hidupnya merasa dilumpuhkan.Rasa
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: . Deru mesin V8 Bi-Turbo dari Audi RS7 itu menjadi satu-satunya suara yang mendominasi di dalam kabin kedap suara, membelah jalan tol Jagorawi dengan kecepatan yang membuat mobil-mobil lain tampak seperti siput yang merangkak mundur.Tangan Atlas mencengkeram setir berlapis kulit Nappa hitam dengan kekuatan yang cukup untuk membengkokkan besi. Tulang-tulang di buku jarinya menonjol putih. Ia menatap lurus ke depan, matanya sedingin bongkahan es di tengah badai, sementara otaknya berputar merangkai kepingan-kepingan realitas baru yang baru saja menghancurkan hidupnya.Ia baru saja lari dari sekolah. Ia membawa kabur seorang buronan mafia. Ia menodongkan senjata api curian ke arah pembunuh bayaran kartel. Dan yang paling gila dari semua itu? Atlas tidak merasakan setitik pun penyesalan.Di kursi penumpang sebelah kiri, Vea Kendoveks duduk terdiam. Gadis itu menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, matanya terpejam. Kaus hitam ketat yang membalut tubuhnya kini tampak semak
Last Updated: 2026-09-19
Chapter: . Gagang besi berkarat itu berputar dengan lambat, menciptakan bunyi decit pelan yang terdengar bagaikan gesekan pisau di atas kaca dalam kesunyian ruang sempit tersebut.Satu sentimeter. Dua sentimeter. Celah cahaya lampu neon dari lorong perlahan merayap masuk, membelah kegelapan yang menyelimuti Atlas dan Vea.Di dalam sangkar beton yang pengap itu, waktu seolah berhenti berdetak. Atlas menahan napasnya. Tangan kanannya mencengkeram gagang Beretta 92FS dengan mantap, larasnya terangkat lurus, membidik tepat ke arah celah cahaya yang semakin melebar. Jari telunjuknya sudah melingkar di atas pelatuk, siap memberikan tekanan seberat tiga pon yang akan mengirimkan timah panas menembus tengkorak siapa pun yang berani membuka pintu ini sepenuhnya.Tidak ada keraguan di mata Atlas. Tidak ada sisa-sisa moralitas remaja sekolah menengah. Yang ada hanyalah insting purba seorang pria yang wilayahnya, wanitanya, sedang terancam.Vea, sang putri mafia yang biasanya tak gent
Last Updated: 2026-09-18
Chapter: . Adrenalin membanjiri pembuluh darah Atlas bagaikan bensin yang disiramkan ke atas kobaran api.Ia berlari menyusuri koridor utama SMA Pelita Harapan Bangsa, menabrak bahu beberapa siswa yang langsung melontarkan protes, namun Atlas bahkan tidak menoleh untuk mengumpat balik. Pandangannya lurus, tajam, dan liar. Otaknya berpacu dengan kecepatan maksimal, memetakan setiap inci dari sekolah seluas tiga hektar ini.Di mana dia? Di mana gadis keras kepala itu bersembunyi?Sekolah ini adalah kerajaannya. Atlas tahu setiap titik buta kamera pengawas CCTV, setiap pintu darurat yang kuncinya rusak, dan setiap lorong sepi yang jarang dilewati guru. Jika Vea ingin menghindari konfrontasi terbuka yang bisa memicu pembantaian massal terhadap anak-anak sekolah, gadis itu pasti mencari lokasi yang terisolasi.Sayap barat.Napas Atlas memburu saat ia membelok tajam ke arah gedung sayap barat yang sedang direnovasi—tempat di mana ia mengurung Vea pagi tadi. Lorong itu menda
Last Updated: 2026-09-17
Chapter: . Udara di lorong utama SMA Pelita Harapan Bangsa terasa lebih padat dari biasanya begitu bel istirahat pertama berdentang nyaring. Ratusan siswa berhamburan keluar dari ruang kelas, menciptakan gelombang kebisingan yang dipenuhi tawa renyah, gosip murahan, dan suara gesekan sepatu di atas lantai pualam yang mengilap.Bagi dunia luar, tempat ini adalah surga bagi para pewaris takhta kekayaan Indonesia. Namun, pagi ini, di balik dinding-dinding kaca megah itu, sebuah pergeseran lempeng tektonik sosial tengah terjadi.Atlas Mahardika berjalan di koridor utama dengan langkah lebar yang mendominasi. Di samping kanannya—persis berjarak satu jengkal dari tubuhnya—Vea Kendoveks melangkah dalam diam. Gadis itu tidak lagi pincang separah pagi tadi; efek adrenalin dan ketahanan fisik seorang tentara bayangan tampaknya mulai mengambil alih rasa sakit di bahu kirinya. Kendati demikian, setiap kali ada siswa yang tidak sengaja menyenggol bahunya terlalu dekat, tangan Atlas dengan reflek
Last Updated: 2026-09-16
Chapter: . Riuh rendah suara siswa di koridor perlahan mereda saat Atlas dan Vea membelok ke sayap barat gedung sekolah—area yang sengaja dihindari sebagian besar murid karena sedang dalam tahap renovasi. Udara di sini terasa lebih dingin, berbau cat basah, debu semen, dan kesunyian yang mencekam. Jauh dari tatapan memuja sekaligus menghakimi dari anak-anak elit Pelita Harapan Bangsa. Sepanjang perjalanan, tangan kanan Atlas tidak pernah melepaskan cengkeramannya dari siku Vea. Cengkeraman itu tidak menyakiti, namun cukup tegas untuk mengunci posisi gadis itu agar tetap berada di dekatnya. Di sisi kirinya, tersembunyi dari pandangan dunia, lengan gadis itu menggantung kaku. Begitu mereka tiba di ujung lorong buntu yang berbatasan dengan tangga darurat menuju atap, Atlas tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya, dan dengan satu gerakan cepat namun terukur, ia mendorong bahu kanan Vea hingga punggung gadis itu menabrak dinding beton yang belum dicat.
Last Updated: 2026-09-15