LOGINSetelah tiga hari penuh dirawat di rumah sakit, sore ini Kanaya diizinkan pulang. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Wajah tidak pucat dan tensi sudah normal. Hanya tubuh yang masih sedikit lemah.Namun, kata dokter itu bukan masalah. Asal pola makan dijaga, istirahat cukup, dan rutin meminum obat serta vitamin yang diresepkan, kondisi Kanaya akan pulih dalam waktu dekat.Persis seperti sebelumnya, hari ini pun hanya Davin seorang yang menemani dan membantu kepulangannya. Tidak ada Abi di sana. Pria yang bergelar ayah itu masih sibuk di rumah makan, katanya ada urusan yang tidak bisa ditinggal.Akan tetapi, entahlah. Kanaya tidak sepenuhnya percaya. Terlebih lagi Davin. Sedikit pun tidak menganggap adanya kejujuran dari semua ucapan Abi. Mengingat malam itu yang justru menghilang tiba-tiba dari rumah sakit, dan kembali setelah lewat dini hari, Davin sungguh tak habis pikir. Ke mana otak pria itu, atau ... dari awal memang tak ada otak."Mau langsung pulang atau mampir ke mana dulu? Mun
Di tengah pikiran yang masih tak menentu, Abi mengangkat wajah dan menatap ke segala arah. Sampai kemudian ... sepasang matanya terkunci pada wanita dengan pakaian rumah sakit, sedang duduk di kursi roda dan didorong oleh seorang dokter, di koridor seberang sana.Abi tercekat sesaat. Lantas refleks ia beranjak dan mengayunkan langkah ke arah sana. Parsel buah dan cheesecake ia tinggal begitu saja, demi menghampiri satu sosok yang persis dengan Rumi.Agak cepat Abi berjalan karena langkah dokter di depan sana juga terburu-buru. Namun, ketika jarak tinggal beberapa meter, fokus Abi malah terbagi dengan getar ponsel di saku celananya.Sambil tetap melangkah, Abi merogoh ponselnya dan menatap sekilas nama yang tertera di layar. Nana. Wanita itu yang menghubungi."Halo, Nana, ada apa?""Mas, kamu di mana?""Aku ... baru tiba di rumah sakit. Ada apa?" tanya Abi sambil terus berjalan.Kini, ia dan dokter yang mendorong pasien mirip Rumi sudah berada di koridor yang sama. Jarak mereka tinggal
Tak lama setelah berbicara dengan ayahnya via telepon, Kanaya mulai beristirahat. Ia turuti arahan Davin dan juga dokter yang menangani.Otaknya terlalu lelah untuk meredam semua beban dan masalah yang mendera. Tak akan ada jeda jika dirinya masih terjaga. Oleh sebab itu, Kanaya patuh dan menjemput lelapnya. Berharap kondisi akan sedikit lebih baik di saat ia bangun nanti. Entah kondisi fisik atau pun peliknya jalan hidup. Ya ... semoga saja.Kini, meski Kanaya sudah tenang dalam lelapnya, Davin masih tak beranjak dari tempat duduknya. Ia setia di sana, menjaga dan menemani Kanaya tanpa melewatkan satu detik pun. Ia pandangi deru napas yang lembut itu, lantas wajah ayu yang masih pucat, juga jari-jari lentik yang seakan mengundang untuk terus ia genggam. Senyaman dan sebahagia itu ia saat bersama Kanaya."Nay, maafin aku yang mulai nggak bisa menganggapmu adik. Bagiku sekarang kamu lebih dari itu. Nay, apa kamu akan marah, seandainya aku benar-benar mencintaimu dan berharap kamu bisa
Awalnya Davin membawa Kanaya ke klinik kampus, mempercayakan keselamatan gadis itu pada tenaga medis yang ada di sana. Namun, karena dua jam lebih diinfus kondisi Kanaya tak kunjung membaik, akhirnya Davin memutuskan untuk membawa Kanaya ke rumah sakit. Wajah pucat, tubuh lemas, dan tekanan darah yang sangat rendah membuat Davin khawatir. Oleh sebab itu, ia memilih menunda urusannya—membersihkan masalah kemarin, demi mengantar Kanaya agar mendapat penanganan yang lebih baik. Dengan dukungan fasilitas yang lebih lengkap dan dokter yang lebih ahli, ia berharap Kanaya lekas pulih dalam waktu dekat. Ia tak tega melihat gadis itu terbaring lemah, sementara sang ayah entah ke mana. Dari detik pertama Kanaya masuk klinik kampus, Davin sudah berusaha menghubungi Abi. Namun, berkali-kali ia menelepon, tak sekali pun Abi meresponnya. Bahkan, saat Davin meninggalkan pesan, Abi masih tak membacanya sampai beberapa jam kemudian. Sampai kini mereka sudah tiba di rumah sakit, Abi masih belum membu
"Lo brengsek, Nay! Lo gila! Lo sialan! Kenapa sih lo nggak mati aja sana!" Kanaya tersentak dan tak sempat menghindar saat Mireya tiba-tiba menghadang langkahnya dan mendorongnya dengan kasar. Tubuh Kanaya sampai terhuyung dan nyaris jatuh andai dia tidak cepat-cepat menyambar tumpuan. "Lo kan yang nyuruh Davin buat ngancam Ardan? Pengecut lo, Nay! Cuma bisa berlindung di bawah ketiaknya Davin! Lo ngerasa kalah ya dari gue? Nggak bisa ngandalin diri sendiri, makanya cowok sialan itu yang lo suruh maju!" bentak Mireya dengan mata yang melotot tajam. Sedikit pun tidak ada jejak persahabatan di dalam tingkah dan raut wajah. Kanaya yang tak mengerti apa-apa, sekadar menatap bingung, sembari tangannya tetap bertumpu pada pilar koridor agar tubuhnya tidak limbung akibat dorongan tadi. "Seneng kan lo sekarang? Merasa menang lo dari gue?" Mireya tertawa sinis. "Silakan aja lo ngerasa di atas awan. Tapi, lihat aja ... mulai detik ini Papa nggak akan pernah ada di pihak lo!" "Sebenarnya
Ancaman yang dilayangkan Davin, rupanya membuahkan hasil. Sehari setelah pesan-pesan tersebut dikirim, adik tingkat yang menyandang nama Ardan dan Rizky itu akhirnya datang ke kampus. Meski wajah masih menyisakan sedikit lebam, tetapi keduanya tidak terlihat lemah atau mirip orang sakit, malah tampak sehat dan bugar. Kawan-kawannya menyambut kehadiran Ardan dan Rizky dengan antusias. Ada kesenangan tersendiri melihat sang teman bisa bergabung kembali di kampus. Rasa semangat lebih meningkat karena formasi lengkap, begitulah pikir mereka. Akan tetapi, berbeda hal dengan Mireya. Dia yang sebelumnya sudah menunggu kabar terbaru dari kasus Davin—sudah yakin sanksi lelaki itu diperberat karena berhasil menyuap Ardan, tetapi pagi ini tiba-tiba ia melihat Ardan dan Rizky seenak jidat datang ke kampus. Emosi Mireya bangkit seketika, hingga tanpa membuang waktu, pun tanpa berpikir panjang, ia langsung menghampiri dua lelaki yang sedang bercanda dengan kawan-kawannya itu. "Gue mau ngomon







