Chapter: Permintaan Rumi"Aku udah tahu semuanya, Ma."Setelah keduanya saling mengurai pelukan dan kemudian duduk berdampingan di kursi usang, di dalam ruang tamu tersebut, Kanaya mulai membuka pembicaraan.Kepalanya masih tertunduk, sesak tak terkira dan seakan tak kuasa jika beradu tatap dengan ibunya. Sekadar tangannya yang begitu erat menggenggam jemari Rumi, yang kini jauh lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu."Siapa yang memberitahumu, Nak?" tanya Rumi dengan lirih.Entah bagaimana perasaannya kala itu. Antara lega, terharu, sedih, dan menyesal, bercampur menjadi satu. Membuatnya canggung dan hampir tak mengerti harus melakukan apa.Kanaya pun, detik itu ada di posisi yang sama. Ia tak ingin memberitahukan tentang Diana, tetapi ia juga tak bisa menutupinya dengan kebohongan. Alhasil, Kanaya sekadar diam dengan kepala yang masih setia menunduk.Melihat diamnya Kanaya, Rumi mulai bisa menebak. Pastilah Diana, seseorang di balik ini semua. Hanya dia, satu-satunya orang yang paling paham deng
Terakhir Diperbarui: 2026-09-26
Chapter: TerungkapSudah tiga jam lebih Kanaya menunggu. Lima gelas iced coffee sudah dia pesan, pun sudah dihabiskan. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan Diana di sana.Kanaya mulai was-was. Apa jangan-jangan wanita itu tidak serius dengan pesannya tadi? Atau ... mungkinkah niat itu terlebih dahulu diketahui ibunya?"Ahh!"Kanaya mende-sah panjang. Gelas terakhir sudah tandas dari dua menit lalu. Haruskah ia memesan lagi sekarang? Atau lebih baik ia pulang? Mungkin saja penantian itu memang tidak akan berujung baik."Coba aku tanyain aja deh, dia jadi datang atau nggak," batin Kanaya.Lantas ia nyalakan lagi ponselnya dan kembali membuka pesan dari Diana.Namun, baru saja ia mengetik sedikit pesan, bahkan belum sempat dikirim, seseorang datang memangilnya. Saat Kanaya mendongak, ternyata Diana yang datang."Maaf ya kamu menunggu lama. Tadi setelah sidang, aku masih mengantar Rumi pulang," ucap Diana sembari menatap bekas gelas di hadapan Kanaya.Sebenarnya ia pun tak menyangka gadis itu akan datang
Terakhir Diperbarui: 2026-09-25
Chapter: Pesan Dari Diana"Mana papamu?"Satu pertanyaan dingin dan datar meluncur dari bibir Rumi. Alih-alih menanyakan kabar Kanaya, justru hal itulah yang ia tanyakan.Di depannya, Kanaya menatap miris. Dalam pikirannya muncul satu pertanyaan yang begitu mengusik.Sebenci itukah Rumi terhadap dirinya? Sampai-sampai pertemuan mereka saat ini layaknya dua orang asing yang tak ada ikatan apa pun."Papa nggak akan datang, Ma."Rumi mengernyitkan kening. Agak heran dengan jawaban Kanaya, karena yang dia tahu Abi tak pernah setuju dengan perceraian tersebut. Jadi, mana mungkin pria itu tidak datang."Aku yang menerima surat panggilannya, dan aku nggak menyampaikan itu ke Papa. Aku melakukan ini karena tahu Mama sangat mengharapkan perceraian. Aku cuma berniat bantuin Mama," lanjut Kanaya.Rumi sedikit tersentak dengan jawaban barusan. Tak disangka Kanaya akan berbuat sejauh itu untuknya. Namun, Rumi berusaha keras menyembunyikan gestur asli wajahnya. Ia tetap memasang tampang datar agar Kanaya berhenti berharap.
Terakhir Diperbarui: 2026-09-25
Chapter: Bertemu RumiSudah dua hari berlalu, tetapi surat panggilan sidang untuk ayahnya masih berada di tangan Kanaya. Sedikit pun gadis itu belum mengungkitnya. Bahkan terhadap Davin, ia juga masih bungkam. Entahlah. Kanaya masih betah menyimpannya sendiri.Malam ini, Kanaya yang sedang dilanda bimbang, memutuskan untuk mengirim pesan pada Davin yang kala itu sudah masuk ke kamarnya sendiri.'Kak, udah tidur belum?'Sampai beberapa saat, tak ada balasan darinya. Kanaya sempat mengira mungkin Davin sudah tidur. Namun ternyata, lelaki itu justru datang dan mengetuk pintu kamarnya.Kanaya langsung bangkit dan bergegas membuka pintu, menemui lelaki yang merangkap kakak tiri sekaligus kekasihnya itu."Kamu tadi katanya ngantuk. Kok belum tidur? Kenapa, hmm?" tanya Davin ketika keduanya sudah saling berhadapan di ambang pintu."Nggak tahu, Kak. Pas dibawa rebahan, ngantuknya malah ilang," jawab Kanaya setengah berbohong. Sebenernya, dari awal masuk ke kamar sekitar setengah jam lalu, sedikit pun tak ada rasa
Terakhir Diperbarui: 2026-09-24
Chapter: Surat PanggilanKeesokan harinya, seperti biasa Abi ke rumah makan sejak pagi dan akan pulang paling awal menjelang petang. Sementara Davin, dia ada kelas sampai sore. Hanya Kanaya yang siang itu sudah pulang dan berdiam diri di rumah, tanpa teman.Kanaya pun mengurung diri di kamar, mengisi waktu luang yang membosankan dengan membaca komik online. Meski itu bukan hobinya, tetapi daripada diam dan tak melakukan apa-apa, lebih suntuk lagi.Setelah hampir setengah jam berbaring tengkurap sambil menatap layar ponsel, tiba-tiba Kanaya dikejutkan dengan suara bel rumahnya."Siapa yang datang siang-siang gini?" gumam Kanaya sambil bangkit dari posisinya. Lantas, turun dari ranjang dan berjalan ke arah jendela.Ya, alih-alih langsung membukakan pintu, Kanaya justru mengintipnya terlebih dahulu dari dalam kamar.Di bawah sana, tepat di depan pintu gerbang rumahnya, dua pria dengan jas dan setelan formal tampak berdiri menunggu.Kanaya mengernyitkan kening. Dua sosok itu sangat asing. Ia saka sekali tidak men
Terakhir Diperbarui: 2026-09-24
Chapter: Terpaksa MengalahLewat petang Davin dan Kanaya baru tiba di rumah. Namun, masih aman. Abi pulang setelah satu jam mereka datang. Keduanya sudah membersihkan diri dan sudah menyiapkan makan malam. Jadi, tak ada yang mencurigakan.Kepergian mereka seharian penuh, semua kenangan yang terjadi di pantai pinggiran kota itu, hanya mereka berdua yang tahu. Abi yang sibuk dengan hidupnya, sedikit pun tak mengerti bahwa kini anak gadisnya telah mengenal cinta. Cinta dari seorang lelaki yang ia hadirkan sendiri, yang setiap hari tinggal di bawah atap yang sama."Buruan mandi, Pa. Nanti kita makan malam bareng. Aku udah masak sup ayam jamur, Pa," sambut Kanaya saat melihat ayahnya datang malam itu.Andai perhatiannya tidak terbagi dengan anak dan wanita di luar sana, seharusnya Abi peka dengan sikap Kanaya yang berbeda. Anak gadis yang biasanya tak pernah menyambut jika tidak ada kepentingan, malah terkadang memasang tampang masam, hari itu menyambut dengan senyum hangat. Bahkan, wajahnya tampak berseri-seri.Bod
Terakhir Diperbarui: 2026-09-24
Chapter: Debaran AnehSetelah cukup lama melihat-lihat toko kue yang akan menjadi hadiah ulang tahun, Chandra mengajak Senja berbelanja. Awalnya, hanya kebutuhan Askara yang mereka beli. Namun lambat laun, Chandra juga membeli beberapa barang yang menjadi kebutuhan Senja. Mulai dari baju, gamis, kerudung, tas, sampai alat kosmetik. Senja sudah berulang kali menolak. Akan tetapi, Chandra tetap saja membeli barang-barang tersebut. Dengan berbagai alasan yang tak bisa dibantah oleh Senja. Karena niatnya berbelanja, yang paling utama memang membeli keperluan Senja. Hanya saja dia sengaja tak jujur dan hanya mengatasnamakan Askara. Daripada Senja menolak keras dan ngotot minta pulang, pikirnya. "Pak Chandra, ini sudah sangat banyak. Saya tidak mau belanja lagi," protes Senja. Terus terang ia sangat tidak nyaman dibelikan begitu banyak barang. Apalagi harganya tidak ada yang murah. "Sebentar lagi, Nja. Sekalian belanja kebutuhan rumah, hitung-hitung buat stok.""Tapi, persediaan di rumah masih banyak.""Ngg
Terakhir Diperbarui: 2026-09-07
Chapter: Hadiah Dari ChandraSetelah hampir satu jam berkendara, akhirnya Chandra menghentikan mobilnya, di depan ruko tutup yang terletak di pinggir jalan raya. Senja mengernyitkan kening saat mobil itu belok ke sana dan berhenti di halamannya. Ia bingung dan tak mengerti. Tempat apa itu dan apa tujuan Chandra mengajaknya ke sana. "Ayo turun, Nja!" ajak Chandra. "Di sini? Kita ... mau ke sini?"Chandra mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Biar kutunjukkan sesuatu di dalam sana.""Sesuatu apa?""Kamu lihat sendiri aja, Nja."Meski sudah berkali-kali Chandra mengulas senyum manis, tetapi Senja masih saja ragu. Dalam beberapa saat, ia masih diam dan menatap Chandra dengan penuh selidik. Namun, bukannya menemukan jawaban, ia justru melihat lelaki itu terkekeh-kekeh, seolah ada sesuatu yang lucu. "Kenapa Pak Chandra malah tertawa?" Senja bertanya dengan sedikit sinis. Akan tetapi, Chandra juga tidak tersinggung. Ia malah terus menatap Senja dengan tawa dan raut wajah yang sangat sumringah. "Kamu lucu kalau lagi b
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: Keluar Bersama ChandraMata Dion memicing beberapa saat setelah Marissa memberikan jawaban barusan. Tersirat keraguan yang sangat nyata dari sorot matanya.Marissa yang menyadari itu, langsung tersenyum semanis mungkin dan bicara panjang lebar guna meyakinkan sang ayah."Aku tahu, Pa, selama ini kesalahanku sangat fatal. Itu sebabnya, aku ingin menebusnya. Berbekal ilmu dan koneksi yang sekarang aku punya, aku berniat merintis bisnis. Aku akan berusaha sekeras yang aku bisa. Meski mungkin nggak akan bisa sebesar Altera, tapi aku akan mencoba sebaik mungkin, Pa. Setidaknya, aku akan membuat keluarga kita bangkit lagi, nggak jatuh seperti sekarang ini.""Bisnis apa yang akan kamu rintis dengan temanmu itu?" tanya Dion. Tatap matanya masih penuh selidik. Belum ada keyakinan penuh atas ucapan anaknya."Kami akan membuka toko fashion, Pa. Menjual baju, tas, sepatu, dan aksesori kecil lainnya. Temanku sudah ada pandangan tempat yang strategis. Selain itu, dia juga ada kenalan yang bisa menjadi supplier untuk toko
Terakhir Diperbarui: 2026-08-28
Chapter: Keegoisan Marissa"Oh, jadi seperti itu niatmu. Puluhan tahun menikah, ternyata aku tidak pernah benar-benar mengenalmu, Sintia." Dion melangkah tegas, menghampiri Sintia yang masih terbaring di ranjangnya. Aura dingin dan tatapan datar begitu kuat terpancar, membuat Sintia gugup dan takut untuk sekadar beradu pandang. "Papa ...." Marissa memanggil lirih. Ia pun turut menunduk dan menghindari tatapan sang ayah. Ah, barusan ia turut mendukung kegilaan ibunya. Bagaimana jika nanti Dion juga memarahinya dan tidak memberikan uangnya? "Jika ingin mengikuti ibumu, ikuti saja. Pergi dan jangan pernah pulang ke rumah! Sudah cukup muak Papa kamu buat kecewa, Marissa!" ucap Dion. Meski suaranya pelan, tetapi penuh penekanan, syarat akan kemarahan yang nyata. "Pa, aku nggak bermaksud gitu. Tadi ... aku cuma asal ngomong aja. Aku ... juga nggak nyangka kalau Mama senekat itu. Tapi, lihat kondisi Mama yang masih kayak gini, aku juga nggak berani ngomong aneh-aneh," jawab Marissa membela diri. Ia tak mau
Terakhir Diperbarui: 2026-08-26
Chapter: Rencana yang Tak Berjalan Mulus"Kenapa Mama bisa sampai kayak gini, Bi? Apa yang terjadi tadi?"Sesampainya di rumah sakit, Marissa langsung melontarkan pertanyaan itu pada pelayan. Tadi ia memang tak sempat pulang. Di tengah perjalanan, pelayan kembali menghubungi dan memberi tahu bahwa Sintia sudah dibawa ke rumah sakit oleh Dion. Itu sebabnya Marissa pun langsung meluncur ke rumah sakit."Tadi Nyonya jatuh dari tangga, Non. Saya tidak tahu pasti kejadiannya bagaimana. Saya masih di dapur saat mendengar teriakan Nyonya. Pas saya datang, Nyonya sudah ada di bawah tangga, kepalanya berdarah-darah. Saya panik, Non. Karena pas kejadian itu, Tuan baru saja keluar. Makanya saya menelepon Non Marissa. Tapi untungnya, tidak lama kemudian Tuan kembali dan langsung membawa Nyonya ke sini."Marissa menarik napas berat sembari memejam sesaat. Kesulitan macam apa lagi ini? Belum kelar pertikaian orang tuanya karena masalah kemarin, sekarang ibunya sudah celaka dan masuk rumah sakit. Apa sekarang takdir sesenang ini bercanda d
Terakhir Diperbarui: 2026-07-10
Chapter: Marissa Lagi"Bi, mulai sekarang kalau ada tamu lihat dulu ya siapa yang datang. Kiranya orang asing, nggak usah dibukakan pintu." Senja langsung mengambil langkah tegas. Sesaat setelah Chandra pergi, ia bergegas memepringati pelayan yang menemaninya di rumah itu. Ia tak mau kejadian tadi terulang lagi. Cukup satu kali Bima mendatanginya, jangan sampai ada dua atau tiga kali. Sama halnya terhadap Rivan, ia pun sungguh benci pada lelaki itu. "Baik, saya mengerti. Tuan dan Nyonya juga sering berpesan agar saya tidak sembarangan menerima tamu. Takut jika ada yang berniat buruk pada Mbak Senja dan Mas Askara," jawab pelayan tersebut dengan patuh. Sungguh beruntung Senja, Arum menempatkan pelayan yang benar-benar menjaganya. Bukan sekadar memasang citra ketika ada sang nyonya, melainkan memang menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. "Terima kasih, Bi." Sambil tersenyum sopan, Senja pun melenggang pergi dan kembali ke kamar. Meski masih was-was, tetapi ia terus mencoba meyakinkan diri bahw
Terakhir Diperbarui: 2026-07-08