Chapter: Menguak Identitas DavinKeesokan paginya, Kanaya kembali kuliah dan kali ini lebih semangat dibanding kemarin. Pasalnya, tak ada lagi drama memasak dan makan pagi seorang diri, karena Rumi kembali mengambil perannya sebagai seorang ibu.Wanita itu memasak sarapan kesukaan Kanaya, lantas mengajaknya makan bersama. Abi pun turut serta. Meski sepanjang waktu makan hanya Kanaya dan Rumi yang saling berbincang, tetapi sudah cukup untuk menjadi awal hari yang menyenangkan. Terlebih, Abi juga sigap mengantar Kanaya ke kampus sembari dirinya berangkat kerja.Tak seperti kemarin yang hampir terlambat, hari ini Kanaya tiba di kampus jauh lebih awal. Bahkan, lebih awal dibanding Mireya. Namun, sudah banyak mahasiswa lain yang tampak lalu-lalang di fakultas itu. Hanya saja Kanaya terlalu malas untuk berbasa-basi dengan mereka, karena kebanyakan memang belum saling kenal. Ada pun sebagian kecilnya, baru ia kenal kemarin setelah berkumpul dalam kegiatan yang sama.Sembari menunggu Mireya, Kanaya lebih memilih naik menuju
Terakhir Diperbarui: 2026-09-13
Chapter: Cerai!Malam ini, suasana di rumah Abi jauh berbeda dari biasanya. Yang semula penuh kesunyian dan tak ada momen kebersamaan, hari itu semua anggota keluarga kompak menyantap makan malam bersama, termasuk Davin yang sebelumnya selalu terasing.Namun, semua terjadi bukan tanpa alasan. Semata-mata karena Rumi yang memasak makan malam dengan porsi yang memang cukup untuk empat orang. Tersebab itu, kini semua berkumpul dan menyantap makanan lezat tersebut."Aku tadi beresin baju di kamar, nggak tahu kalau Mama masak. Jadi nggak datang bantu," ucap Kanaya sambil mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.Meski dalam hati masih tak nyaman akibat obrolan mereka tadi siang, tetapi Kanaya mencoba mengabaikan sejenak perasaannya. Ia tak ingin suasana makin canggung jika hal tersebut diungkit lagi. Biarlah walau hanya sesaat dan ada orang asing yang ikut menyempil, yang penting kebersamaan malam itu bisa berjalan lebih hangat. Sudah cukup dalam kerinduan Kanaya pada keharmonisan yang akhir-akhir ini seras
Terakhir Diperbarui: 2026-09-13
Chapter: Fakta Gelang Mireya"Siapa sebenarnya Davin Reswanda?"Satu pertanyaan yang menuntut penjelasan, langsung masuk dalam pendengaran Abi sesaat setelah ia menjawab telepon dari Mireya. Ya, Mireya, sahabat dekat Kanaya."Dia keponakan jauhku. Terpaksa aku menyuruhnya tinggal di sini karena ibunya sakit keras dan dibawa berobat ke luar negeri. Aku berhutang budi banyak pada keluarganya. Mereka yang membantuku saat usaha hampir kolaps karena uangnya dihabiskan Rumi. Aku sudah menjelaskan ini dari kemarin-kemarin, kenapa sekarang kamu tanyakan lagi?"Dari seberang sana, Mireya mende-sah kasar. Terdengar jelas bahwa gadis itu kurang percaya dengan apa yang dituturkan Abi."Ada apa, Sayang? Kenapa kamu seperti kesal begitu? Apa lagi yang mengganggumu, hmm?" tanya Abi sesaat kemudian. Dengan sabar ia membujuk gadis itu agar suasana hatinya tidak buruk."Aku nggak percaya dia hanya keponakan jauh, karena tadi pas di kampus aku ngelihat sendiri Naya sangat kesal padanya. Aku kenal Naya dengan baik. Kalau nggak ada s
Terakhir Diperbarui: 2026-09-12
Chapter: Ternyata....Wajah Kanaya memerah seketika, luar biasa malu karena aksinya tersebut diketahui oleh Davin. Sungguh sial, bak jatuh harga dirinya di hadapan lelaki yang ia benci itu. Namun ironisnya, detak jantung justru bertalu tak menentu, tanpa ia tahu apa gerangan sebabnya."Lo nggak usah ge-er deh, gue cuma mau lewat dan nggak sengaja lihat lo. Tuh, kalau nggak percaya!" Dengan ketus Kanaya menunjuk meja makan yang masih berserakan. "Gue baru kelar makan," lanjutnya.Ia bersikap sinis bukan semata-mata untuk mengelak dari tuduhan Davin, melainkan juga untuk menenangkan hati yang dengan tidak tahu malunya malah berdebar-debar.Sambil tersenyum, Davin pun mengikuti arah pandangan Kanaya. Mencoba tak memperpanjang masalah dan percaya saja dengan alasan yang keluar dari bibir gadis itu."Kalau gitu aku juga mau makan," ucapnya dengan santai, seolah tak merasa bahwa barusan sudah membuat batin Kanaya kacau."Terserah!"Kanaya kembali melayangkan jawaban ketus. Ditatapnya Davin dengan sinis, lantas d
Terakhir Diperbarui: 2026-09-12
Chapter: Davin BerulahKanaya tak sadar berapa lama waktu yang ia habiskan untuk menangis. Satu yang ia tahu, pikiran yang semula kalut dalam sendu terseret kembali ke alam nyata saat ia mendengar derap langkah cepat yang saling berkejaran.Kanaya tersentak dan mengangkat wajah, lantas bergegas bangkit sembari menghapus air mata dengan lengan bajunya."Duduk kamu!"Kanaya mengernyit ketika mendengar bentakan suara Abi. Kemudian rasa penasaran membawanya melangkah pelan dan berhenti di balik dinding pembatas. Ia mengintip adegan yang terjadi di ruang tengah sana. Sang ayah berkacak pinggang, menatap nyalang pada Davin yang kala itu duduk menunduk di sofa. Rambut dan pakaiannya tampak kusut, bahkan beberapa kancing kemejanya terlepas. Entah apa yang terjadi."Apa yang ada di pikiranmu, hah? Bisa-bisanya menghajar mahasiswa baru sampai mereka masuk rumah sakit! Kamu pikir ini hebat, hah?""Aku menguliahkan kamu bukan untuk menjadi preman! Kamu kuliah untuk masa depan, Davin!""Cukup sekali ini kamu berulah. Ji
Terakhir Diperbarui: 2026-09-11
Chapter: Tidak Bisa MembawamuDavin Reswanda! Dialah lelaki yang ditunjuk-tunjuk Mireya. Cowok cakep yang katanya anggota BEM, yang katanya punya motor keren, ternyata adalah lelaki yang tinggal di rumahnya, lelaki yang kehadirannya membawa prahara besar dalam keluarga."Tuh kan, Nay, lo juga langsung terpana. Lo pasti terpesona kan sama kegantengan dia?""Nggak heran sih, pesona dia itu emang luar biasa. Cewek mana coba yang nggak klepek-klepek. Udah, Nay, nggak usah malu. Akui aja kalau lo sekarang ikutan ngefans sama dia. Iya, kan?""Lo mau tahu nggak namanya siapa? Davin Reswanda. Bagus, kan? Cocok banget tahu sama tampangnya yang keren dan ganteng maksimal itu."Mireya terus berisik di sampingnya. Namun, tidak sedikit pun Kanaya memberikan tanggapan. Ia hanya diam, menatap sosok lelaki yang sedang berjalan santai di depan sana. Kanaya tak mengerti, dunia atau garis hidupnya yang sempit. Dari sekian banyak mahasiswa yang ada di fakultas tersebut, mengapa harus Davin yang menarik perhatian Mireya. Bukankah masi
Terakhir Diperbarui: 2026-09-11
Chapter: Debaran AnehSetelah cukup lama melihat-lihat toko kue yang akan menjadi hadiah ulang tahun, Chandra mengajak Senja berbelanja. Awalnya, hanya kebutuhan Askara yang mereka beli. Namun lambat laun, Chandra juga membeli beberapa barang yang menjadi kebutuhan Senja. Mulai dari baju, gamis, kerudung, tas, sampai alat kosmetik. Senja sudah berulang kali menolak. Akan tetapi, Chandra tetap saja membeli barang-barang tersebut. Dengan berbagai alasan yang tak bisa dibantah oleh Senja. Karena niatnya berbelanja, yang paling utama memang membeli keperluan Senja. Hanya saja dia sengaja tak jujur dan hanya mengatasnamakan Askara. Daripada Senja menolak keras dan ngotot minta pulang, pikirnya. "Pak Chandra, ini sudah sangat banyak. Saya tidak mau belanja lagi," protes Senja. Terus terang ia sangat tidak nyaman dibelikan begitu banyak barang. Apalagi harganya tidak ada yang murah. "Sebentar lagi, Nja. Sekalian belanja kebutuhan rumah, hitung-hitung buat stok.""Tapi, persediaan di rumah masih banyak.""Ngg
Terakhir Diperbarui: 2026-09-07
Chapter: Hadiah Dari ChandraSetelah hampir satu jam berkendara, akhirnya Chandra menghentikan mobilnya, di depan ruko tutup yang terletak di pinggir jalan raya. Senja mengernyitkan kening saat mobil itu belok ke sana dan berhenti di halamannya. Ia bingung dan tak mengerti. Tempat apa itu dan apa tujuan Chandra mengajaknya ke sana. "Ayo turun, Nja!" ajak Chandra. "Di sini? Kita ... mau ke sini?"Chandra mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Biar kutunjukkan sesuatu di dalam sana.""Sesuatu apa?""Kamu lihat sendiri aja, Nja."Meski sudah berkali-kali Chandra mengulas senyum manis, tetapi Senja masih saja ragu. Dalam beberapa saat, ia masih diam dan menatap Chandra dengan penuh selidik. Namun, bukannya menemukan jawaban, ia justru melihat lelaki itu terkekeh-kekeh, seolah ada sesuatu yang lucu. "Kenapa Pak Chandra malah tertawa?" Senja bertanya dengan sedikit sinis. Akan tetapi, Chandra juga tidak tersinggung. Ia malah terus menatap Senja dengan tawa dan raut wajah yang sangat sumringah. "Kamu lucu kalau lagi b
Terakhir Diperbarui: 2026-09-01
Chapter: Keluar Bersama ChandraMata Dion memicing beberapa saat setelah Marissa memberikan jawaban barusan. Tersirat keraguan yang sangat nyata dari sorot matanya.Marissa yang menyadari itu, langsung tersenyum semanis mungkin dan bicara panjang lebar guna meyakinkan sang ayah."Aku tahu, Pa, selama ini kesalahanku sangat fatal. Itu sebabnya, aku ingin menebusnya. Berbekal ilmu dan koneksi yang sekarang aku punya, aku berniat merintis bisnis. Aku akan berusaha sekeras yang aku bisa. Meski mungkin nggak akan bisa sebesar Altera, tapi aku akan mencoba sebaik mungkin, Pa. Setidaknya, aku akan membuat keluarga kita bangkit lagi, nggak jatuh seperti sekarang ini.""Bisnis apa yang akan kamu rintis dengan temanmu itu?" tanya Dion. Tatap matanya masih penuh selidik. Belum ada keyakinan penuh atas ucapan anaknya."Kami akan membuka toko fashion, Pa. Menjual baju, tas, sepatu, dan aksesori kecil lainnya. Temanku sudah ada pandangan tempat yang strategis. Selain itu, dia juga ada kenalan yang bisa menjadi supplier untuk toko
Terakhir Diperbarui: 2026-08-28
Chapter: Keegoisan Marissa"Oh, jadi seperti itu niatmu. Puluhan tahun menikah, ternyata aku tidak pernah benar-benar mengenalmu, Sintia." Dion melangkah tegas, menghampiri Sintia yang masih terbaring di ranjangnya. Aura dingin dan tatapan datar begitu kuat terpancar, membuat Sintia gugup dan takut untuk sekadar beradu pandang. "Papa ...." Marissa memanggil lirih. Ia pun turut menunduk dan menghindari tatapan sang ayah. Ah, barusan ia turut mendukung kegilaan ibunya. Bagaimana jika nanti Dion juga memarahinya dan tidak memberikan uangnya? "Jika ingin mengikuti ibumu, ikuti saja. Pergi dan jangan pernah pulang ke rumah! Sudah cukup muak Papa kamu buat kecewa, Marissa!" ucap Dion. Meski suaranya pelan, tetapi penuh penekanan, syarat akan kemarahan yang nyata. "Pa, aku nggak bermaksud gitu. Tadi ... aku cuma asal ngomong aja. Aku ... juga nggak nyangka kalau Mama senekat itu. Tapi, lihat kondisi Mama yang masih kayak gini, aku juga nggak berani ngomong aneh-aneh," jawab Marissa membela diri. Ia tak mau
Terakhir Diperbarui: 2026-08-26
Chapter: Rencana yang Tak Berjalan Mulus"Kenapa Mama bisa sampai kayak gini, Bi? Apa yang terjadi tadi?"Sesampainya di rumah sakit, Marissa langsung melontarkan pertanyaan itu pada pelayan. Tadi ia memang tak sempat pulang. Di tengah perjalanan, pelayan kembali menghubungi dan memberi tahu bahwa Sintia sudah dibawa ke rumah sakit oleh Dion. Itu sebabnya Marissa pun langsung meluncur ke rumah sakit."Tadi Nyonya jatuh dari tangga, Non. Saya tidak tahu pasti kejadiannya bagaimana. Saya masih di dapur saat mendengar teriakan Nyonya. Pas saya datang, Nyonya sudah ada di bawah tangga, kepalanya berdarah-darah. Saya panik, Non. Karena pas kejadian itu, Tuan baru saja keluar. Makanya saya menelepon Non Marissa. Tapi untungnya, tidak lama kemudian Tuan kembali dan langsung membawa Nyonya ke sini."Marissa menarik napas berat sembari memejam sesaat. Kesulitan macam apa lagi ini? Belum kelar pertikaian orang tuanya karena masalah kemarin, sekarang ibunya sudah celaka dan masuk rumah sakit. Apa sekarang takdir sesenang ini bercanda d
Terakhir Diperbarui: 2026-07-10
Chapter: Marissa Lagi"Bi, mulai sekarang kalau ada tamu lihat dulu ya siapa yang datang. Kiranya orang asing, nggak usah dibukakan pintu." Senja langsung mengambil langkah tegas. Sesaat setelah Chandra pergi, ia bergegas memepringati pelayan yang menemaninya di rumah itu. Ia tak mau kejadian tadi terulang lagi. Cukup satu kali Bima mendatanginya, jangan sampai ada dua atau tiga kali. Sama halnya terhadap Rivan, ia pun sungguh benci pada lelaki itu. "Baik, saya mengerti. Tuan dan Nyonya juga sering berpesan agar saya tidak sembarangan menerima tamu. Takut jika ada yang berniat buruk pada Mbak Senja dan Mas Askara," jawab pelayan tersebut dengan patuh. Sungguh beruntung Senja, Arum menempatkan pelayan yang benar-benar menjaganya. Bukan sekadar memasang citra ketika ada sang nyonya, melainkan memang menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. "Terima kasih, Bi." Sambil tersenyum sopan, Senja pun melenggang pergi dan kembali ke kamar. Meski masih was-was, tetapi ia terus mencoba meyakinkan diri bahw
Terakhir Diperbarui: 2026-07-08