MasukKarin berdiri mematung di depan sebuah butik mewah di kawasan Jakarta Selatan. Di tangannya, kartu kredit hitam milik Reno terasa sangat berat. Seumur hidup, ia tidak pernah membayangkan akan berbelanja menggunakan uang dari pria yang pernah ia hancurkan hatinya.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu, Nona?" seorang pelayan butik menyambut dengan ramah namun tatapannya tetap menilai pakaian sederhana Karin. "Saya mencari gaun untuk jamuan makan malam bisnis. Sesuatu yang... sopan," jawab Karin pelan. Setelah mencoba beberapa gaun, pilihan jatuh pada sebuah gaun muslimah berwarna dusty rose dengan aksen brokat premium di bagian lengan. Gaun itu pas di tubuh mungilnya, memberikan kesan elegan namun tetap memancarkan aura polos yang kuat. Karin menatap dirinya di cermin; ia tampak seperti boneka porselen yang cantik namun rapuh. “Kenapa aku harus berdandan secantik ini hanya untuk pria brengsek itu?” batinnya kesal. Namun, ia tahu, malam ini ia bukan hanya asisten, ia adalah representasi dari "kekalahan" keluarga Anindita di depan kolega Reno. Tepat jam tujuh malam, sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti di depan apartemen kecil Karin. Reno tidak turun, hanya kaca jendela belakang yang turun perlahan, menampakkan wajahnya yang tertutup kacamata hitam meski hari sudah gelap. Karin masuk ke dalam mobil dengan susah payah karena gaunnya yang sedikit panjang. Begitu ia duduk di samping Reno, suasana di dalam mobil seketika terasa mencekam. Wangi parfum Reno yang tajam dan maskulin memenuhi rongga paru-parunya. Reno menoleh. Matanya menyusuri sosok Karin dari atas ke bawah. Ada jeda beberapa detik di mana Reno terdiam, matanya terpaku pada wajah Karin yang dipoles make-up tipis dan hijab yang tertata rapi. "Lumayan," ucap Reno singkat, mencoba menetralkan suaranya yang sempat tercekat. "Setidaknya kamu tidak memalukanku di depan klien penting." "Terima kasih atas 'pujiannya', Pak Reno," balas Karin sarkas. Mobil melaju membelah kemacetan Jakarta menuju sebuah hotel bintang lima. Sepanjang jalan, Reno sibuk dengan tabletnya, sementara Karin hanya menatap keluar jendela, mencoba menahan air mata yang ingin jatuh. Ia merasa seperti tawanan yang sedang dibawa ke pasar lelang. Sesampainya di ballroom hotel, Reno turun dan secara mengejutkan mengulurkan tangannya pada Karin. Karin menatap tangan besar itu dengan ragu. "Pegang tanganku, Karin. Kita harus terlihat seperti tim yang solid di depan media," bisik Reno tepat di telinga Karin, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Karin terpaksa menyambut uluran tangan itu. Telapak tangan Reno terasa hangat dan kuat, kontras dengan tangan Karin yang dingin dan mungil. Saat mereka masuk ke ruangan, semua mata tertuju pada mereka. Bisik-bisik mulai terdengar tentang siapa wanita berhijab pink yang berada di samping sang "Singa Bisnis" Reno Dirgantara. Acara berlangsung membosankan bagi Karin, sampai seorang pria tampan berusia tiga puluhan menghampiri mereka. "Reno! Lama tidak jumpa," sapa pria itu. Matanya beralih ke Karin dan langsung berbinar. "Dan siapa bidadari cantik di sampingmu ini? Jangan bilang ini tunanganmu yang kamu sembunyikan selama ini?" Reno mempererat pegangannya pada pinggang Karin sebuah gerakan yang sangat posesif hingga Karin sedikit tersentak. "Dia Karin. Asisten pribadiku," jawab Reno dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat dingin. "Asisten pribadi? Wah, Reno, seleramu meningkat drastis," pria itu mengulurkan tangan pada Karin. "Hai, saya Adit. Teman Reno yang paling tampan. Senang bertemu denganmu, Karin." Karin tersenyum manis, senyum tulus pertamanya malam itu. "Senang bertemu dengan Anda juga, Pak Adit." Melihat Karin tersenyum pada pria lain membuat rahang Reno mengeras. Ia tidak suka melihat binar di mata Karin yang bukan ditujukan untuknya. Tanpa aba-aba, Reno menarik Karin menjauh dari Adit dengan dalih ada klien lain yang harus ditemui. "Kamu terlalu ramah pada setiap pria, Karin. Ingat posisimu," desis Reno saat mereka sudah sedikit menjauh. "Aku hanya bersikap sopan, Reno! Apa itu juga salah?" balas Karin dengan berani. Reno menyudutkan Karin ke arah pilar besar yang agak sepi dari kerumunan. Ia menumpukan satu tangannya di pilar, mengurung tubuh mungil Karin. Napas mereka menderu, saling beradu di udara. Karin bisa merasakan deru napas Reno yang hangat menerpa keningnya. Jarak ini terlalu berbahaya. Ia bisa melihat dengan jelas pantulan dirinya yang tampak kecil dan tak berdaya di bola mata hitam pria itu. Ada gejolak emosi yang tertahan di sana antara kemarahan, dendam, dan sesuatu yang lebih dalam yang Reno sembunyikan rapat-rapat. "Lepaskan, Reno. Orang-orang melihat kita," bisik Karin, suaranya nyaris hilang ditelan kebisingan musik jazz di latar belakang. "Biarkan mereka melihat," balas Reno pendek. Suaranya serak. "Biarkan mereka tahu bahwa kamu adalah milikku selama enam bulan ke depan. Tidak ada yang boleh mengganggumu tanpa izinku, termasuk Adit." Reno perlahan menarik diri, namun tangannya masih sempat merapikan ujung hijab Karin yang sedikit miring dengan gerakan yang sangat lembut, hampir seperti belaian. Perlakuan kontradiktif ini membuat kepala Karin pening. Bagaimana bisa pria yang baru saja menghinanya berubah menjadi begitu perhatian dalam hitungan detik? "Di depanku, kamu tidak perlu bersikap sopan pada pria mana pun. Kamu hanya perlu fokus padaku. Mengerti?" suara Reno rendah dan mengintimidasi. Karin mendongak, menatap mata hitam Reno yang berkilat penuh amarah dan... sesuatu yang lain yang tidak bisa ia jelaskan. "Kamu posesif sekali untuk seseorang yang mengaku sangat membenciku." Tantangan Karin membuat Reno terdiam sejenak. Tangannya perlahan naik, menyentuh pipi Karin yang lembut dengan punggung jarinya. "Aku tidak posesif, Karin. Aku hanya sedang menjaga asetku. Dan aku tidak suka barang milikku disentuh atau dipuji orang lain." Karin merasakan jantungnya berdegup kencang secara tidak beraturan. Ia benci betapa lemahnya ia di bawah tatapan Reno.Tepat saat itu, sebuah pengumuman dari panggung utama memecah suasana intens di antara mereka. "Dan malam ini, kami mengundang CEO Dirgantara Group, Bapak Reno Dirgantara, untuk memberikan sambutan sekaligus pengumuman penting terkait akuisisi terbaru..." Reno melepaskan kurungannya, merapikan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Tetap di sini. Jangan berani-berani bicara lagi dengan Adit atau pria mana pun selama aku di atas sana." Karin hanya bisa terpaku menatap punggung Reno yang melangkah gagah menuju panggung. Di bawah lampu sorot, Reno tampak begitu bersinar dan tak terjangkau. Karin tersadar, perjuangannya selama enam bulan ke depan akan jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Bukan hanya karena pekerjaan, tapi karena hatinya yang mulai goyah oleh pria yang seharusnya ia benci. Tanpa Karin sadari, di sudut ruangan, Siska sekretaris Reno menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian,menggenggam gelas sampanyenya hingga buku-buku jarinya memutih.seolah sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Karin malam itu juga. Setelah Reno turun dari panggung,ia mengajak karin duduk di meja utama, "Reno, aku ingin ke toilet sebentar," pamit Karin, ia butuh ruang untuk bernapas. Reno hanya mengangguk singkat sambil menerima jabatan tangan dari rekan bisnis lainnya. Karin melangkah cepat menuju area restroom yang sepi. Di sana, ia membasuh wajahnya yang terasa panas. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. “Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Reno? Menyiksaku atau memilikiku?” Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Siska masuk dengan langkah yang dibuat-buat anggun, suaranya menggema di ruangan yang sunyi itu. "Gaun yang bagus, Karin. Tapi sayang, bunga mawar yang cantik tetap akan terlihat layu jika dipindahkan ke tanah yang tandus. Kamu tidak pantas berada di sini, di samping Reno." Karin memutar tubuhnya, menatap Siska dengan tenang meski hatinya berdegup kencang. "Mbak Siska, jika Anda punya masalah profesional dengan saya, silakan bicarakan di kantor. Tapi di sini, saya adalah asisten Pak Reno." "Asisten?" Siska tertawa sinis. "Aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu hanya pion dalam permainan balas dendam Reno. Jangan pernah berpikir dia benar-benar menginginkanmu. Setelah perusahaan ayahmu hancur, dia akan membuangmu seperti sampah, persis seperti yang kamu lakukan padanya dulu." Kalimat Siska menghujam jantung Karin. Itu adalah ketakutan terbesarnya yang kini diucapkan dengan lantang oleh orang lain. Karin memilih untuk diam dan berjalan keluar, namun di depan pintu, ia berpapasan kembali dengan Reno yang ternyata sudah menunggunya. "Lama sekali," gerutu Reno. Ia melihat wajah Karin yang memucat. "Siska mengatakan sesuatu padamu?" "Tidak ada," bohong Karin. "Bisa kita pulang sekarang? Kepalaku mendadak sangat pusing." Reno menatapnya tajam, mencoba mencari kejujuran di mata Karin. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Karin yang mungil, sebuah tindakan yang langsung membungkam Siska yang baru saja keluar dari toilet. Malam itu, di bawah temaram lampu Jakarta, Karin menyadari satu hal: Reno Dirgantara adalah racun yang sangat manis.Kehidupan di desa Zermatt yang tenang seolah-olah menjadi obat penawar bagi jiwa Karin yang telah lama kerontang. Namun, pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Langit Swiss yang biasanya biru cerah kini tertutup mendung tebal, menciptakan suasana melankolis di dalam chalet kayu mereka. Karin terbangun bukan karena suara alarm, melainkan karena suara rintik hujan yang menghantam atap kayu dengan ritme yang monoton. Ia menoleh ke samping, dan seperti biasa, Reno sudah tidak ada di tempat tidur. Karin bangkit, mengenakan jubah mandi sutranya yang hangat, lalu melangkah menuju ruang kerja kecil di sudut chalet. Di sana, ia melihat Reno sedang duduk di depan laptopnya dengan wajah yang sangat serius. Cahaya dari layar monitor memantul di kacamata baca yang jarang Reno gunakan, membuat pria itu tampak lebih dewasa dan tertekan. "Reno? Ada masalah di Jakarta?" tanya Karin pelan sambil meletakkan tangannya di bahu Reno. Reno terkejut, ia segera menu
Udara yang merasuk ke dalam paru-paru Karin pagi itu terasa sangat berbeda. Bukan lagi aroma polusi dan kecemasan yang biasa ia hirup di Jakarta, melainkan aroma pinus yang segar bercampur dengan dinginnya salju yang mulai mencair di kaki Pegunungan Alpen. Mereka telah berada di Swiss selama tiga hari, menetap di sebuah chalet kayu tradisional yang berdiri angkuh namun hangat di pinggiran desa Zermatt. Di sini, nama besar Dirgantara Group hanyalah deretan huruf tak bermakna bagi penduduk lokal yang lebih peduli pada cuaca dan hasil ternak mereka.Karin berdiri di balkon lantai dua, mengenakan sweter wol tebal pemberian Reno. Matanya menatap puncak Matterhorn yang tertutup salju abadi, menjulang tinggi menembus awan. Ia masih sering merasa ini semua adalah mimpi. Bagaimana mungkin dalam hitungan minggu, hidupnya yang tadinya berada di ambang maut kini berpindah ke surga kecil ini?"Masih belum percaya kalau ini nyata?" suara berat Reno terdengar dari belakang.
Gedung Dirgantara Group berdiri angkuh di tengah hutan beton Jakarta, puncaknya seolah menusuk langit kelabu yang menggantung rendah pagi ini. Di dalam menara kaca itu, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada hari-hari sebelumnya. Kabar mengenai rencana pengunduran diri Reno Dirgantara sebagai CEO telah bocor ke telinga para pemegang saham sejak semalam, menciptakan gelombang panik yang membuat nilai saham perusahaan fluktuatif di lantai bursa. Namun, bagi Reno, kegaduhan di dunia luar itu tak lebih dari sekadar kebisingan latar belakang yang tidak lagi memiliki arti bagi jiwanya.Reno berdiri diam di depan cermin besar di ruang ganti pribadinya yang mewah. Ia merapikan dasi sutra berwarna biru gelap untuk yang terakhir kali sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Di belakangnya, Siska berdiri dengan postur tegap, memegang setumpuk dokumen akhir yang perlu ditandatangani. Wajah Siska tampak datar seperti biasanya, namun ada kilatan kekhawatiran yang tulus di matanya."Tuan, dewa
Pagi kedua di penthouse mewah Jakarta tidak dilewati Reno Dirgantara dengan ketergesaan yang biasanya menjadi ciri khasnya. Jika selama sepuluh tahun terakhir ia adalah sosok yang sudah mengenakan setelan jas lengkap dan memelototi monitor saham bahkan sebelum matahari benar-benar menyentuh cakrawala, kini ia lebih memilih untuk menikmati momen yang jauh lebih berharga. Reno berdiri di dapur bersihnya, mendengarkan desis mesin kopi dan aroma robusta yang memenuhi ruangan, sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar utama yang masih tertutup rapat.Reno menyadari sebuah kebenaran baru dalam hidupnya: bahwa kebahagiaan sejati ternyata bukan terletak pada angka-angka triliunan di bursa efek atau kemenangan telak atas rival bisnisnya. Kebahagiaan itu kini sesederhana mendengar nafas teratur Karin di balik pintu itu nafas seorang wanita yang akhirnya bisa tidur tanpa harus menggenggam pisau atau bersiap melompat dari jendela karena ketakutan.Namun, kedamaian di dalam p
Pagi pertama di Jakarta setelah badai besar itu benar-benar berakhir terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi suara deru helikopter yang memekakkan telinga, tidak ada lagi bau amis mesiu yang menyesakkan paru-paru, dan yang paling penting, tidak ada lagi rasa takut yang menghimpit dada setiap kali pintu terbuka. Reno Dirgantara sengaja memilih penthouse pribadinya yang baru sebagai tempat mereka menetap sementara, sebuah bangunan dengan sistem keamanan tingkat tinggi yang dikelilingi oleh kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke arah jantung kota Jakarta.Reno terbangun lebih awal, saat semburat cahaya fajar masih malu-malu menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis. Namun, ia tidak langsung beranjak dari tempat tidur untuk memeriksa bursa saham seperti yang biasa ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Ia hanya berbaring miring, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap wajah Karin yang masih terlelap dengan sangat tenang di sampingnya.Karin tampak
Malam di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah kota ini sedang menahan napas menyaksikan akhir dari sebuah dinasti yang penuh dengan intrik. Meskipun Ibu Rosalinda dan Gunawan sudah mendekam di sel tahanan Kejaksaan, Reno Dirgantara tidak merasakan kemenangan yang utuh. Di kepalanya masih terngiang laporan Siska bahwa Hendrawan Wijaya menghilang dari radar setelah aset-asetnya dibekukan. Pria itu seperti ular yang masuk ke dalam lubang saat badai datang, namun Reno tahu ular itu sedang menyiapkan bisa terakhirnya sebelum mati.Reno berdiri di balkon apartemen pribadinya yang baru, menatap kerlap-kerlip lampu kota. Karin mendekat, menyelimuti pundak Reno dengan kain hangat. "Reno, istirahatlah. Kamu sudah tidak tidur selama tiga hari. Semuanya sudah berakhir, kan?"Reno berbalik, menggenggam tangan Karin dan mengecupnya pelan. "Hampir, Sayang. Hanya tinggal satu duri lagi yang harus aku cabut. Selama Hendrawan masih bebas, aku tidak akan pernah bisa







