Home / Romansa / Mencintai Musuh Ayahku / BAB 3: Jebakan dan Air Mata

Share

BAB 3: Jebakan dan Air Mata

Author: Neng Wendah
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-23 09:40:26

Pagi itu, mentari baru saja menyelinap di balik gedung-gedung beton Jakarta, namun Karin sudah berada di meja kerjanya yang baru sebuah meja kecil tepat di depan pintu ruangan Reno. Ia sengaja datang lebih awal untuk memastikan semua jadwal Reno tertata rapi.

"Masih pagi sudah cari muka," sebuah suara ketus memecah keheningan.

Karin mendongak. Siska, sekretaris senior Reno, berdiri di sana dengan melipat tangan di dada. Matanya menatap Karin dari atas ke bawah, menilai gamis softgreen sederhana yang dikenakan Karin hari ini.

"Selamat pagi, Mbak Siska. Saya hanya ingin mempersiapkan bahan rapat untuk jam sembilan nanti," jawab Karin dengan nada sesopan mungkin.

Siska mendengus, lalu meletakkan setumpuk dokumen tebal di meja Karin. "Ini. Masukkan semua data ini ke sistem pusat sebelum jam sepuluh. Kalau ada satu angka saja yang salah, Pak Reno tidak akan segan-segan memecatmu. Jangan kira karena kamu cantik, kamu bisa bersantai di sini."

Karin menelan ludah melihat tumpukan kertas itu. "Tapi Mbak, Pak Reno meminta saya menemaninya ke pertemuan eksternal jam sepuluh nanti."

"Tugas ini lebih penting! Jangan membantah kalau masih mau menyelamatkan perusahaan ayahmu," ancam Siska sebelum berlalu dengan langkah angkuh.

Karin menghela napas panjang. Ia segera berkutat dengan angka-angka rumit di layar komputer. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, sementara hatinya terus berzikir agar tidak melakukan kesalahan. Ia tidak tahu bahwa di sudut ruangan, Siska tersenyum licik sambil memegang sebuah draf laporan yang asli. Dokumen yang diberikan pada Karin adalah data lama yang sudah tidak berlaku.

Tepat jam sepuluh, Reno keluar dari ruangannya dengan jas gelap yang sangat rapi. Ia berhenti tepat di depan meja Karin.

"Ayo berangkat," perintahnya tanpa menoleh.

"Maaf, Pak Reno. Saya sedang menyelesaikan input data yang diberikan Mbak Siska. Katanya ini sangat mendesak," jawab Karin jujur.

Reno mengernyitkan dahi. Ia menatap tumpukan kertas di meja Karin, lalu beralih menatap Siska yang kebetulan sedang lewat.

"Siska, apa itu data untuk proyek Cendana?" tanya Reno.

"Iya, Pak. Tapi sepertinya Nona Karin kesulitan mengerjakannya karena terlalu lambat," jawab Siska dengan wajah berpura-pura prihatin.

Reno kembali menatap Karin, matanya yang tajam seolah menusuk jantung Karin. "Aku mempekerjakanmu sebagai PA-ku, bukan untuk menjadi beban di kantorku. Jika tugas sekecil ini saja kamu butuh waktu lama, bagaimana kamu bisa mengurus jadwalku?"

"Tapi Pak, ini jumlahnya ribuan data dan baru diberikan satu jam yang lalu"

"Aku tidak butuh alasan!" bentak Reno, membuat beberapa karyawan lain menoleh. "Selesaikan itu sekarang. Kamu tidak perlu ikut ke pertemuan eksternal. Dan jangan harap bisa makan siang sebelum semuanya selesai."

Reno pergi begitu saja, meninggalkan Karin yang terpaku dengan mata berkaca-kaca. Hinaan di depan umum itu jauh lebih menyakitkan daripada tumpukan pekerjaan di depannya.

Tiga jam berlalu. Perut Karin mulai terasa perih karena ia melewatkan sarapan tadi pagi. Namun, ia bersikeras menyelesaikan pekerjaannya. Saat ia hampir selesai, ia menemukan sebuah kejanggalan pada dokumen tersebut. Tanggal yang tertera adalah tahun lalu.

Darah Karin berdesir. Ia segera memeriksa arsip digital perusahaan dan benar saja, data itu adalah data sampah yang sudah tidak digunakan.

“Siska sengaja menjebakku,” gumam Karin dengan tangan gemetar.

Ia segera berdiri dan menuju ruangan Reno, berharap pria itu sudah kembali. Namun, di dalam ruangan itu, ia justru melihat Siska sedang tertawa bersama Reno sambil menyajikan kopi.

"Untung saya segera memperbaiki data yang salah dari Nona Karin tadi, Pak. Kalau tidak, mungkin kita akan malu di depan investor," ucap Siska dengan nada manja.

Karin tidak bisa menahan diri lagi. Ia mengetuk pintu dengan keras dan masuk tanpa izin.

"Pak Reno, saya ingin bicara," suara Karin bergetar karena menahan amarah.

Reno mendongak, wajahnya datar. "Siska, keluar dulu."

Setelah Siska keluar dengan lirikan kemenangan, Karin meletakkan tumpukan kertas itu di meja Reno. "Ini data tahun lalu, Pak. Mbak Siska sengaja memberikan data sampah ini agar saya terlihat tidak kompeten di depan Anda."

Reno menyandarkan punggungnya di kursi, menatap Karin dengan tatapan yang sulit dibaca. "Lalu? Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang? Seorang lulusan Master Bisnis seharusnya tahu perbedaan data lama dan baru dalam lima menit pertama."

Karin tertegun. "Jadi... Anda tahu ini data lama?"

Reno berdiri, berjalan mendekati Karin. "Aku ingin tahu sejauh mana kamu mau berjuang. Dan ternyata, kamu lebih suka datang kepadaku untuk mengadu daripada membuktikan kemampuanmu dengan hasil nyata."

Air mata yang sejak tadi ditahan Karin akhirnya jatuh juga. "Anda keterlaluan, Reno. Anda menghina saya di depan karyawan lain, membiarkan saya bekerja seperti budak untuk sesuatu yang tidak berguna, dan sekarang Anda menyalahkan saya?"

"Dulu kamu lebih kejam dariku, Karin!" suara Reno meninggi, kilatan luka masa lalu muncul di matanya. "Kamu mempermalukanku di depan satu sekolah hanya karena aku memberimu sepucuk surat! Sekarang, rasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berdaya."

"Aku sudah minta maaf dalam hati setiap hari sejak aku sadar betapa jahatnya aku dulu!" teriak Karin di sela isaknya. "Tapi bukan berarti kamu berhak menginjak-injak kehormatanku sekarang!"

Karin berbalik, hendak lari keluar, namun pergelangan tangannya ditangkap oleh Reno. Tarikan itu begitu kuat hingga tubuh mungil Karin menabrak dada bidang Reno. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Mereka beradu pandang dalam jarak yang sangat dekat. Karin bisa merasakan detak jantung Reno yang cepat, sementara Reno terpaku menatap wajah Karin yang basah oleh air mata.

Reno perlahan melepaskan cengkeramannya. Ia membuang muka, seolah menyesali tindakan impulsifnya tadi.

"Pergi makan siang. Lalu kembali ke meja mu. Jangan sampai aku melihatmu menangis lagi di kantorku," ujar Reno dengan suara yang sedikit melunak, meski tetap berusaha terdengar dingin.

Karin menghapus air matanya dengan kasar. Tanpa sepatah kata pun, ia keluar dari ruangan itu. Di dalam hatinya, ia berjanji tidak akan membiarkan Siska atau Reno menjatuhkannya lagi. Ia akan membuktikan bahwa Karin yang sekarang bukanlah gadis manja yang bisa mereka permainkan.

Langkah Karin terhenti di depan dispenser air di sudut kantor. Ia mencoba mengatur napasnya yang tersengal karena sisa-sisa tangisnya tadi. Tangannya yang masih gemetar mengambil sebuah gelas kertas, namun sebelum ia sempat mengisi air, sebuah tangan kekar mengambil gelas itu darinya.

Karin tersentak dan menoleh. Reno berdiri di sana, tanpa jas, hanya dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya tidak lagi terlihat marah, melainkan datar datar yang sulit diartikan.

"Minum ini," ucap Reno, menyodorkan gelas yang sudah diisi air hangat.

Karin menerimanya tanpa suara. Ia meminumnya perlahan, merasakan hangatnya air itu membasahi tenggorokannya yang kering. Reno tetap berdiri di sana, menatap dinding kaca yang menampilkan kesibukan kota, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.

"Aku memesan makan siang untukmu. Sudah ada di mejamu," ujar Reno tiba-tiba.

"Aku tidak lapar," tolak Karin lembut.

Reno berbalik, menatapnya dengan pandangan yang kembali mengintimidasi. "Itu perintah, bukan tawaran. Aku tidak mau asistenku pingsan karena maag dan membuat pekerjaanku terhambat. Makan, atau aku akan memaksa menyuapimu di depan semua orang."

Karin membelalak. Pria ini benar-benar tidak bisa dibantah. Ia akhirnya kembali ke mejanya dan menemukan sebuah kotak makan dari restoran organik langganan ayahnya dulu. Bagaimana Reno bisa tahu?

Sambil menyuap makanannya, Karin teringat kata-kata Reno tentang "minta maaf dalam hati". Memang benar, sejak ia melihat ayahnya mulai sakit-sakitan dan roda hidupnya berputar ke bawah, Karin sering merenungi kesombongannya di masa lalu. Ia merasa ini semua adalah karma yang harus ia tanggung.

Sore harinya, saat kantor mulai sepi, Siska mendatangi meja Karin lagi. Kali ini wajahnya merah padam. "Kamu pikir dengan menangis di depan Reno, kamu bisa menang? Kamu licik sekali, Karin!"

Karin menutup laptopnya dengan tenang. "Mbak Siska, saya di sini untuk bekerja demi Papa saya. Jika Mbak terus mencoba menjebak saya, saya tidak akan segan untuk melaporkan bukti CCTV ke bagian HRD. Saya yakin Pak Reno juga tidak suka karyawannya tidak profesional."

Siska terdiam, lidahnya kelu. Ia tidak menyangka Karin yang terlihat lemah lembut itu bisa memberikan ancaman yang begitu tenang. Tanpa sepatah kata, Siska pergi dengan menghentakkan kakinya.

Di balik pintu ruangannya yang sedikit terbuka, Reno mendengar semuanya. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di wajahnya. Karin yang berani dan cerdas inilah yang sebenarnya selalu ia kagumi diam-diam sejak dulu meski rasa kagum itu tertutup oleh luka yang menganga.

"Kamu memang belum berubah, Karin. Tetap keras kepala," gumam Reno sambil kembali fokus ke layar monitornya. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Reno tidak merasakan kemarahan yang membara saat memikirkan nama Karin.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 125: Sarang Sang Naga (TAMAT)

    Satu tahun telah berlalu sejak debu pertempuran di Samudra Pasifik mengendap dan menjadi bagian dari sejarah kelam yang terkubur dalam-dalam. Di sebuah kawasan eksklusif di perbukitan Sentul, di mana kabut pagi seringkali memeluk lereng hijau dengan lembut, berdiri sebuah rumah yang menjadi simbol kemenangan cinta atas teknologi. Rumah dua lantai itu dirancang dengan konsep modern minimalis yang sangat personal, sebuah wujud nyata dari impian yang pernah Reno dan Karin diskusikan di masa-masa sulit. Fasad bangunan didominasi oleh perpaduan kaca temper yang kokoh dan aksen dinding bertekstur warna soft pink pastel yang sangat elegan. Warna merah muda itu tidak tampak mencolok, melainkan memberikan kesan hangat dan menyambut bagi siapa pun yang melangkah masuk ke gerbangnya. Di halaman depan, sebuah taman kecil dengan bunga-bunga mawar merah muda mekar dengan sempurna, menyebarkan aroma harum yang bercampur dengan udara pegunungan yang murni. Reno Dirgant

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 124: Cahaya di Ujung Penantian

    Matahari pagi di tengah Samudra Pasifik tampak berbeda hari ini. Cahayanya tidak lagi terasa mengancam atau membakar, melainkan terasa hangat dan memberikan harapan baru saat menyinari dek kapal pesiar "The Great Naga" yang sedang melaju stabil menuju utara. Di dalam suite medis yang kini sudah jauh lebih tenang, suasana haru biru menyelimuti setiap sudut ruangan yang didominasi peralatan medis mutakhir. Reno Dirgantara, dengan perban yang masih melingkari dada dan pelipisnya akibat pertempuran di "The Ark", duduk setia di tepi tempat tidur Reyhan. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan adiknya, seolah ingin memastikan secara fisik bahwa semua ini bukanlah mimpi indah yang akan sirna saat ia berkedip. "Mas Reno..." suara Reyhan terdengar jauh lebih jernih dan berenergi sekarang. Matanya yang jernih tidak lagi menampakkan kekosongan digital atau ketakutan mencekam yang selama dua puluh tahun ini menyelimuti jiwanya. "Aku merasa... seperti baru saja dibangu

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 123: Detak Terakhir Aegis

    Ruangan pusat kendali "The Ark" terasa seperti sebuah peti mati kaca di dasar samudra. Suara dengung mesin prosesor raksasa menyatu dengan suara hantaman ombak di luar dinding kristal, menciptakan atmosfer yang sangat mencekam. Reno Dirgantara berdiri dengan napas yang memburu, matanya tidak berkedip menatap angka 99% yang menyala merah di layar monitor utama. Di depannya, Bramanto berdiri dengan tenang, seolah-olah ia sudah memenangkan seluruh peperangan ini. "Kau pikir kau bisa menghentikan kemajuan teknologi dengan sebuah senapan, Reno?" tanya Bramanto dengan nada merendahkan. "Ayahmu membangun Aegis untuk melindungi dunia, tapi aku akan menggunakannya untuk mengatur dunia. Perbedaan yang sangat tipis, bukan?" "Ayahku membangunnya dengan hati, Bramanto. Kau membangunnya dengan darah adikku!" raung Reno. Ia menarik pelatuknya, namun sebuah perisai energi elektromagnetik muncul di depan Bramanto, membelokkan peluru Reno hingga menghantam dinding baja d

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 122: Badai di Titik Nemo

    Kapal pesiar "The Great Naga" kini berada di koordinat yang paling ditakuti oleh para pelaut dunia: Point Nemo. Tempat ini dikenal sebagai 'kuburan satelit', titik di Samudra Pasifik yang paling jauh dari daratan mana pun di bumi. Di sini, kesunyian laut terasa menekan, sebuah hamparan air tak berujung yang menyimpan misteri di kedalamannya yang ribuan meter. Malam itu, langit di atas Point Nemo tampak begitu bersih namun kelam, tanpa ada cahaya lampu kota sedikit pun yang membiaskan ufuk, menyisakan kerlap-kerlip bintang yang terasa sangat jauh dan dingin.Reno Dirgantara berdiri di ruang kendali taktis "The Great Naga", sebuah ruangan yang didominasi oleh layar-layar digital berwarna biru dan hijau. Matanya merah karena kurang tidur, namun fokusnya tidak pernah goyah sedikit pun. Di sampingnya, Bayu dan Arga sedang memantau sistem sensor jarak jauh yang bekerja ekstra keras menembus badai laut yang mulai terbentuk."Sudah berapa lama kita kehilangan sinyal ping d

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 121: Arus di Laut Terbuka

    Gelombang Samudra Hindia menghantam lambung kapal pesiar "The Great Naga" dengan ritme yang konstan dan berat, menciptakan suara gemuruh air yang menenangkan sekaligus mengintimidasi. Kapal pesiar setinggi lima lantai itu membelah kegelapan malam dengan kecepatan penuh, meninggalkan kerlip lampu pelabuhan Jakarta jauh di belakang. Di anjungan kapal yang dipenuhi oleh layar-layar navigasi canggih, Reno Dirgantara berdiri tegak, menatap lurus ke arah cakrawala yang hitam pekat. Angin laut yang dingin menerpa wajahnya, namun matanya tetap tajam, memantau setiap titik radar yang muncul di layar monitor utama."Tuan Reno, kita sudah berada di koordinat netral, sepuluh mil laut dari perairan internasional," lapor Bayu yang berdiri di samping kendali kemudi otomatis. "Sistem kamuflase elektronik kita sudah aktif. Di radar sipil maupun militer, kapal ini hanya akan terlihat sebagai gumpalan awan atau gangguan sinyal kecil."Reno mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dar

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 120: Rencana Sang Naga

    Keheningan yang mencekam menyelimuti bungker bawah tanah kediaman Dirgantara. Di atas sana, suara ledakan dan desingan peluru mungkin telah reda, namun di dalam ruangan baja ini, ketegangan justru baru saja dimulai. Bau debu semen dan sisa mesiu yang terbawa masuk melalui sistem ventilasi darurat masih tercium tajam. Reno Dirgantara duduk di sebuah kursi besi, menundukkan kepala dengan tangan yang saling bertaut. Kemeja putihnya kini sudah berubah warna menjadi kelabu akibat debu reruntuhan, dan bercak darah kering di pelipisnya memberikan kesan seorang prajurit yang baru saja pulang dari medan perang yang paling brutal.Karin duduk di sampingnya, dengan lembut menyeka luka di wajah Reno menggunakan kain basah. Setiap sentuhan Karin adalah obat bagi kemarahan Reno yang meluap-luap. Di sudut ruangan, Reyhan sudah tertidur lelap akibat pengaruh obat penenang dosis ringan yang diberikan Dokter Hendra agar sarafnya tidak mengalami kejutan setelah serangan tadi."Reno,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status