Beranda / Romansa / Mencintai Musuh Ayahku / BAB 4: Sisi Lain Sang Pemangsa

Share

BAB 4: Sisi Lain Sang Pemangsa

Penulis: Neng Wendah
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-23 10:35:50

Malam semakin larut, namun lampu di lantai teratas gedung Dirgantara Group masih menyala terang, seolah menantang kegelapan Jakarta. Karin masih sibuk merapikan jadwal perjalanan dinas Reno ke Singapura untuk minggu depan. Jemarinya yang mungil menari di atas keyboard, namun matanya mulai berair karena kelelahan. Kepalanya berdenyut, bukan hanya karena beban kerja yang menumpuk, tapi karena pikirannya terus melayang ke ruang ICU tempat ayahnya berjuang antara hidup dan mati.

Setiap kali ia melihat angka-angka di layar monitor, yang terbayang justru grafik detak jantung ayahnya yang tidak stabil. Rasa takut kehilangan satu-satunya orang tua yang ia miliki jauh lebih menyesakkan daripada tumpukan dokumen di hadapannya.

Tiba-tiba, pintu ruangan CEO terbuka dengan suara debuman pelan. Reno keluar dengan jas yang tersampir sembarangan di lengannya. Kemeja putihnya sudah tidak serapi pagi tadi; dua kancing teratas terbuka, menunjukkan gurat kelelahan yang sama. Ia berhenti tepat di depan meja Karin, menatap wajah pucat asistennya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Pulang," perintah Reno singkat. Suaranya berat, memecah kesunyian kantor yang hanya diisi suara AC.

Karin mendongak, matanya yang lelah mencoba fokus pada pria di depannya. "Sedikit lagi, Pak. Saya harus memastikan hotel di Singapura sudah terkonfirmasi agar Anda tidak kesulitan saat sampai di sana."

Tanpa aba-aba, Reno melangkah maju dan menutup laptop Karin dengan paksa. Suara plak dari laptop yang tertutup membuat Karin tersentak.

"Aku tidak mau dituduh melakukan eksploitasi manusia oleh dinas tenaga kerja karena membiarkan asistenku mati kelelahan di meja kantor. Ikut aku," tegas Reno.

"Ke mana? Saya bisa pulang naik taksi online, Pak," tolak Karin halus. Ia tidak ingin berhutang budi lebih banyak lagi.

"Jangan membantah. Kamu lupa aturan nomor satu di kantor ini?" Reno menatapnya tajam, membuat Karin terbungkam. "Ikut saja."

Reno melangkah lebar menuju lift dengan kaki panjangnya, memaksa Karin setengah berlari untuk mengejarnya sambil menenteng tas mungilnya. Di dalam lift yang berdinding cermin, keheningan kembali menyelimuti. Karin menunduk, menatap ujung sepatunya yang sedikit kusam, menyadari betapa kontrasnya ia dengan Reno yang tampak begitu berkuasa bahkan saat sedang lelah. Ia meremas tali tasnya, merasa canggung berada di ruang sempit bersama pria yang memiliki begitu banyak kendali atas hidupnya sekarang.

Begitu sampai di lobi, sebuah Rolls-Royce hitam sudah menunggu di lobi utama. Namun, Reno tidak membiarkan sopir pribadinya mengambil alih. Ia mengambil kunci mobil dari tangan Pak Maman, sopirnya yang sudah tua.

"Kamu pulang saja naik taksi, Pak Maman. Biar saya yang menyetir sendiri malam ini," ujar Reno.

Karin semakin bingung dan was-was. Ia masuk ke dalam kursi penumpang depan dengan perasaan tidak menentu. Sepanjang perjalanan, Karin hanya diam, tidak berani bertanya. Namun, betapa terkejutnya ia saat menyadari arah jalan yang diambil Reno. Ini bukan jalan menuju apartemen kecilnya di pinggiran kota. Ini jalan menuju kawasan rumah sakit.

"Reno... kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang," tanya Karin, suaranya mulai bergetar karena firasat aneh.

"Bukankah jam kunjung ICU untuk pasien kritis berakhir tiga puluh menit lagi?" jawab Reno datar tanpa menoleh. Matanya fokus pada jalanan yang mulai lengang, sementara jemarinya mengetuk kemudi dengan irama yang tenang.

Air mata Karin hampir jatuh seketika itu juga. Bagaimana Reno bisa tahu jadwal kunjungannya? Apakah selama ini Reno memantau setiap detail kecil hidupnya, bahkan jadwal rumah sakit Papanya? Di balik sikap dingin dan dendam yang selalu ia kobarkan, apakah pria ini masih memiliki sedikit sisa kemanusiaan?

Sesampainya di parkiran Rumah Sakit Medika, Reno mematikan mesin mobil namun tidak turun. "Aku tunggu di sini. Kamu punya waktu tiga puluh menit untuk masuk. Jangan telat satu detik pun, atau aku akan meninggalkanmu."

"Kamu... kamu tidak ingin ikut masuk?" tanya Karin ragu.

Reno mendengus sinis, senyum meremehkan muncul di wajah tampannya. "Untuk apa? Melihat pria yang dulu hampir menghancurkan bisnis ayahku hanya demi keserakahannya? Pergilah, Karin. Sebelum aku berubah pikiran dan menyeretmu pulang sekarang juga."

Karin tidak membuang waktu. Ia berlari melewati lorong rumah sakit yang berbau karbol menuju ruang ICU. Di sana, ia melihat ayahnya melalui kaca transparan. Pria yang dulu begitu gagah kini tampak ringkih dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Karin duduk di kursi plastik yang dingin, menangkupkan tangan, dan berdoa dengan sangat khusyuk hingga bahunya terguncang karena isak tangis yang tertahan.

"Pa... Karin sudah mulai bekerja. Karin akan melakukan apa saja agar Papa sembuh. Papa harus bangun untuk melihat Karin, ya?" bisiknya lirih, jarinya menyentuh kaca dingin seolah ingin menyentuh tangan ayahnya.

Tiba-tiba, seorang perawat senior menghampiri Karin dengan senyum ramah. "Nona Karin Anindita? Kebetulan sekali Anda di sini. Ini ada dokumen yang perlu Anda tanda tangani untuk administrasi."

Perawat itu menyerahkan sebuah kuitansi resmi. Mata Karin membelalak hingga hampir keluar dari kelopaknya saat melihat angka di sana. Seluruh biaya deposit ICU, tindakan medis darurat, hingga biaya obat-obatan untuk satu bulan ke depan sudah dibayar lunas. Nilainya mencapai ratusan juta rupiah.

"Maaf Sus, sepertinya ada kesalahan. Saya belum membayar seseratus rupiah pun hari ini," ujar Karin dengan suara gemetar.

"Tidak ada kesalahan, Nona. Seorang pria yang datang sekitar dua jam lalu sudah menyelesaikannya. Beliau tidak mau menyebutkan nama, hanya mengatakan bahwa ini adalah bagian dari 'investasi' untuk asistennya agar bisa bekerja lebih fokus. Beliau juga berpesan agar Papa Anda dipindahkan ke kamar VIP segera setelah kondisinya stabil."

Karin terduduk lemas di kursi tunggu. Dunianya seolah berputar. Reno. Pria itu tidak hanya membawanya ke sini, tapi juga diam-diam menanggung beban yang paling menghimpit hidupnya saat ini.

Ia segera kembali ke parkiran dengan perasaan campur aduk antara syukur, bingung, dan rasa bersalah yang teramat sangat. Ia menemukan Reno sedang bersandar di badan mobil mewah itu sambil menghisap rokok elektrik. Asapnya membubung tipis di bawah lampu merkuri parkiran. Begitu melihat Karin, Reno langsung mematikan alat itu dan memasukkannya ke saku.

"Sudah puas dramanya?" tanya Reno dingin, meski matanya sempat menangkap jejak air mata di pipi Karin.

Karin berdiri tepat di depan Reno, mengabaikan jarak yang hanya terpaut beberapa senti. "Kenapa, Reno? Kenapa kamu membayar semuanya? Itu tidak ada di dalam kontrak kita. Aku... aku tidak tahu bagaimana cara menggantinya."

Reno menatap mata Karin dengan intensitas yang membuat Karin merasa telanjang. Ia melangkah maju, memaksa Karin mundur hingga punggung mungilnya terbentur pintu mobil. Reno menumpukan kedua tangannya di mobil, mengurung Karin di tengahnya.

"Jangan salah paham, Karin. Aku melakukannya aku tidak mau melihat asistenku bekerja dengan mata sembab dan otak yang lemot karena memikirkan tagihan," ucap Reno, suaranya rendah dan menggetarkan dada Karin. "Anggap saja itu hutang tambahan. Artinya, kamu terikat denganku lebih lama lagi. Kamu tidak akan bisa lari dariku, bahkan jika kamu ingin."

"Tapi itu terlalu banyak, Reno... Kamu bisa menggunakan uang itu untuk hal lain."

"Uang adalah hal terakhir yang aku khawatirkan di dunia ini," sela Reno sombong. "Yang aku khawatirkan adalah jika kamu tidak berguna karena terlalu sibuk bersedih. Sekarang masuk. Udara malam tidak baik untuk paru-parumu yang kecil itu."

Di dalam perjalanan pulang, suasana menjadi jauh lebih tenang. Reno memutar radio dengan volume kecil. Sebuah lagu balada lama yang sering mereka dengar di kantin SMA dulu mendadak mengalun. Kenangan saat Reno masih menjadi cowok pemalu yang selalu membawakan air mineral untuk Karin muncul begitu saja. Untuk pertama kalinya, Karin merasa Reno bukan lagi "pemangsa", melainkan pria yang sedang terluka namun tidak tahu cara menyembuhkannya.

Karin menoleh pelan, menatap profil samping wajah Reno yang tegas. "Terima kasih, Reno. Benar-benar terima kasih."

Reno terdiam. Rahangnya mengeras sesaat, seolah kata-kata tulus dari Karin adalah sesuatu yang menyakitkan untuk didengar. Ia tidak menjawab, namun jemarinya yang mencengkeram kemudi tampak sedikit lebih rileks.

Namun, ketenangan itu hancur saat ponsel Reno yang terhubung ke dashboard mobil berdering. Nama "Mama" muncul dengan ukuran besar. Reno tampak menegang seketika. Ia menekan tombol jawab di kemudi.

"Iya, Ma?" ujar Reno, suaranya kembali menjadi sangat formal dan dingin.

"Reno, jangan lupa besok malam. Mama sudah mengatur makan malam dengan keluarga Wijaya. Putri mereka, Sheila, baru saja pulang dari London. Dia sangat cantik dan terpelajar. Mama rasa dia pasangan yang cocok untukmu," suara wanita di seberang sana terdengar sangat antusias.

Karin merasakan dadanya sesak secara tiba-tiba. Perjodohan. Kata itu menghantamnya lebih keras dari yang ia duga.

"Reno tidak sedang bersama wanita lain, kan? Ingat, Reno, fokus pada masa depan keluarga kita," lanjut mamanya.

"Tidak, Ma. Reno sedang sendiri. Besok Reno akan datang," jawab Reno sambil melirik Karin sekilas melalui sudut matanya.

Klik. Sambungan terputus.

Suasana di dalam mobil mendadak menjadi sepuluh kali lipat lebih dingin. Karin segera membuang muka, menatap lampu-lampu jalanan yang kabur karena matanya kembali berkaca-kaca. Ada rasa nyeri yang aneh dan tidak masuk akal di hatinya. Mengapa ia harus merasa sakit hati? Bukankah ia memang membenci Reno?

"Jangan berpikir yang tidak-tidak," ucap Reno tiba-tiba, memecah kesunyian. "Perjodohan itu hanya urusan bisnis keluarga. Kamu tetap harus masuk jam tujuh pagi besok karena ada banyak berkas yang harus disiapkan sebelum aku pergi kencan."

Kalimat terakhir Reno terasa seperti belati yang sengaja ditancapkan di luka Karin. Karin hanya bisa mengepalkan tangannya di pangkuan, mencoba menelan pahitnya kenyataan bahwa bagi Reno, dia mungkin hanya sebuah proyek balas dendam yang bisa dibayar dengan uang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 45: Bayang-Bayang dari Masa Lalu

    Kehidupan di desa Zermatt yang tenang seolah-olah menjadi obat penawar bagi jiwa Karin yang telah lama kerontang. Namun, pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Langit Swiss yang biasanya biru cerah kini tertutup mendung tebal, menciptakan suasana melankolis di dalam chalet kayu mereka. Karin terbangun bukan karena suara alarm, melainkan karena suara rintik hujan yang menghantam atap kayu dengan ritme yang monoton. Ia menoleh ke samping, dan seperti biasa, Reno sudah tidak ada di tempat tidur. Karin bangkit, mengenakan jubah mandi sutranya yang hangat, lalu melangkah menuju ruang kerja kecil di sudut chalet. Di sana, ia melihat Reno sedang duduk di depan laptopnya dengan wajah yang sangat serius. Cahaya dari layar monitor memantul di kacamata baca yang jarang Reno gunakan, membuat pria itu tampak lebih dewasa dan tertekan. "Reno? Ada masalah di Jakarta?" tanya Karin pelan sambil meletakkan tangannya di bahu Reno. Reno terkejut, ia segera menu

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 44: Melodi di Kaki Pegunungan Alpen

    Udara yang merasuk ke dalam paru-paru Karin pagi itu terasa sangat berbeda. Bukan lagi aroma polusi dan kecemasan yang biasa ia hirup di Jakarta, melainkan aroma pinus yang segar bercampur dengan dinginnya salju yang mulai mencair di kaki Pegunungan Alpen. Mereka telah berada di Swiss selama tiga hari, menetap di sebuah chalet kayu tradisional yang berdiri angkuh namun hangat di pinggiran desa Zermatt. Di sini, nama besar Dirgantara Group hanyalah deretan huruf tak bermakna bagi penduduk lokal yang lebih peduli pada cuaca dan hasil ternak mereka.Karin berdiri di balkon lantai dua, mengenakan sweter wol tebal pemberian Reno. Matanya menatap puncak Matterhorn yang tertutup salju abadi, menjulang tinggi menembus awan. Ia masih sering merasa ini semua adalah mimpi. Bagaimana mungkin dalam hitungan minggu, hidupnya yang tadinya berada di ambang maut kini berpindah ke surga kecil ini?"Masih belum percaya kalau ini nyata?" suara berat Reno terdengar dari belakang.

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 43: Takhta yang Ditinggalkan

    Gedung Dirgantara Group berdiri angkuh di tengah hutan beton Jakarta, puncaknya seolah menusuk langit kelabu yang menggantung rendah pagi ini. Di dalam menara kaca itu, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada hari-hari sebelumnya. Kabar mengenai rencana pengunduran diri Reno Dirgantara sebagai CEO telah bocor ke telinga para pemegang saham sejak semalam, menciptakan gelombang panik yang membuat nilai saham perusahaan fluktuatif di lantai bursa. Namun, bagi Reno, kegaduhan di dunia luar itu tak lebih dari sekadar kebisingan latar belakang yang tidak lagi memiliki arti bagi jiwanya.Reno berdiri diam di depan cermin besar di ruang ganti pribadinya yang mewah. Ia merapikan dasi sutra berwarna biru gelap untuk yang terakhir kali sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Di belakangnya, Siska berdiri dengan postur tegap, memegang setumpuk dokumen akhir yang perlu ditandatangani. Wajah Siska tampak datar seperti biasanya, namun ada kilatan kekhawatiran yang tulus di matanya."Tuan, dewa

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 42: Janji di Balik Cahaya Senja

    Pagi kedua di penthouse mewah Jakarta tidak dilewati Reno Dirgantara dengan ketergesaan yang biasanya menjadi ciri khasnya. Jika selama sepuluh tahun terakhir ia adalah sosok yang sudah mengenakan setelan jas lengkap dan memelototi monitor saham bahkan sebelum matahari benar-benar menyentuh cakrawala, kini ia lebih memilih untuk menikmati momen yang jauh lebih berharga. Reno berdiri di dapur bersihnya, mendengarkan desis mesin kopi dan aroma robusta yang memenuhi ruangan, sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar utama yang masih tertutup rapat.Reno menyadari sebuah kebenaran baru dalam hidupnya: bahwa kebahagiaan sejati ternyata bukan terletak pada angka-angka triliunan di bursa efek atau kemenangan telak atas rival bisnisnya. Kebahagiaan itu kini sesederhana mendengar nafas teratur Karin di balik pintu itu nafas seorang wanita yang akhirnya bisa tidur tanpa harus menggenggam pisau atau bersiap melompat dari jendela karena ketakutan.Namun, kedamaian di dalam p

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 41: Cahaya di Balik Jendela

    Pagi pertama di Jakarta setelah badai besar itu benar-benar berakhir terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi suara deru helikopter yang memekakkan telinga, tidak ada lagi bau amis mesiu yang menyesakkan paru-paru, dan yang paling penting, tidak ada lagi rasa takut yang menghimpit dada setiap kali pintu terbuka. Reno Dirgantara sengaja memilih penthouse pribadinya yang baru sebagai tempat mereka menetap sementara, sebuah bangunan dengan sistem keamanan tingkat tinggi yang dikelilingi oleh kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke arah jantung kota Jakarta.Reno terbangun lebih awal, saat semburat cahaya fajar masih malu-malu menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis. Namun, ia tidak langsung beranjak dari tempat tidur untuk memeriksa bursa saham seperti yang biasa ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Ia hanya berbaring miring, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap wajah Karin yang masih terlelap dengan sangat tenang di sampingnya.Karin tampak

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 40: Akhir dari Sebuah Dendam

    Malam di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah kota ini sedang menahan napas menyaksikan akhir dari sebuah dinasti yang penuh dengan intrik. Meskipun Ibu Rosalinda dan Gunawan sudah mendekam di sel tahanan Kejaksaan, Reno Dirgantara tidak merasakan kemenangan yang utuh. Di kepalanya masih terngiang laporan Siska bahwa Hendrawan Wijaya menghilang dari radar setelah aset-asetnya dibekukan. Pria itu seperti ular yang masuk ke dalam lubang saat badai datang, namun Reno tahu ular itu sedang menyiapkan bisa terakhirnya sebelum mati.Reno berdiri di balkon apartemen pribadinya yang baru, menatap kerlap-kerlip lampu kota. Karin mendekat, menyelimuti pundak Reno dengan kain hangat. "Reno, istirahatlah. Kamu sudah tidak tidur selama tiga hari. Semuanya sudah berakhir, kan?"Reno berbalik, menggenggam tangan Karin dan mengecupnya pelan. "Hampir, Sayang. Hanya tinggal satu duri lagi yang harus aku cabut. Selama Hendrawan masih bebas, aku tidak akan pernah bisa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status