Beranda / Romansa / Mencintai Musuh Ayahku / BAB 5: Cemburu yang Tak Berhak

Share

BAB 5: Cemburu yang Tak Berhak

Penulis: Neng Wendah
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-23 10:51:18

Pagi itu, Jakarta diguyur hujan rintik yang membuat suasana hati Karin semakin mendung. Sesuai perintah Reno semalam, ia sudah duduk di meja kerjanya tepat jam tujuh pagi. Namun, konsentrasinya hancur berkeping-keping. Bayangan tentang Reno yang akan menemui wanita bernama Sheila itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

“Kenapa aku harus peduli? Bukankah bagus kalau dia menikah? Dengan begitu, dia mungkin akan melepaskanku lebih cepat,” batin Karin sambil menatap layar komputer yang sebenarnya tidak ia baca.

Namun, hatinya berkata lain. Ada rasa sesak yang tidak bisa ia jelaskan. Rasa sesak yang muncul setiap kali ia membayangkan Reno menatap wanita lain dengan tatapan intens seperti yang ia lakukan pada Karin semalam di rumah sakit.

Pintu ruangan CEO terbuka. Reno keluar dengan penampilan yang jauh lebih rapi dari biasanya. Ia mengenakan setelan jas navy buatan penjahit ternama Italia, rambutnya tertata sempurna, dan aroma parfumnya yang kini tercium lebih segar dan mahal memenuhi ruangan.

"Karin, siapkan dokumen kerja sama dengan Wijaya Group. Bawa ke meja saya dalam sepuluh menit," ujar Reno tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat bersemangat.

Karin berdiri dengan kaku. "Baik, Pak. Apakah ada hal lain? Mengingat Anda ada... acara makan malam nanti?"

Reno berhenti melangkah, lalu memutar tubuhnya perlahan. Ia menyandarkan pinggulnya di meja Karin, jarak mereka kembali mengikis. "Oh, kamu ingat? Bagus. Siapkan juga reservasi bunga mawar merah terbaik untuk dikirim ke kediaman Sheila. Pastikan bunganya segar. Sheila sangat menyukai hal-hal yang sempurna."

Setiap kata yang keluar dari mulut Reno terasa seperti sembilu yang mengiris hati Karin. "Baik, Pak. Mawar merah. Akan saya laksanakan."

"Satu lagi," Reno memajukan wajahnya, menatap mata Karin yang mencoba menghindar. "Malam ini kamu tidak perlu menungguku. Tapi, pastikan ponselmu aktif. Jika kencanku membosankan, aku mungkin akan meneleponmu untuk membawakan dokumen tambahan ke restoran."

Karin mengepalkan tangannya di bawah meja. "Apa itu perlu, Pak? Bukankah itu akan mengganggu waktu pribadi Anda dengan calon pasangan Anda?"

Reno menyeringai tipis, sebuah seringai yang memprovokasi. "Sejak kapan asisten pribadiku jadi peduli pada waktu pribadiku? Lakukan saja apa yang kuperintahkan, Karin."

Sepanjang hari itu, kantor terasa seperti neraka bagi Karin. Siska, sang sekretaris senior, tidak henti-hentinya menyindirnya.

"Wah, kudengar Pak Reno akan bertemu dengan Sheila Wijaya malam ini. Mereka sangat serasi, kan? Sama-sama dari kalangan atas, bukan seperti seseorang yang hanya mengandalkan belas kasihan dan masa lalu," sindir Siska sambil meletakkan kopi di meja Reno.

Karin memilih diam. Ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga jam menunjukkan pukul tujuh malam. Reno sudah pergi sejak satu jam yang lalu, meninggalkan aroma parfumnya yang masih tertinggal di udara.

Karin mengemasi tasnya, hendak pulang. Namun, hujan di luar berubah menjadi badai. Petir menyambar, dan suara guntur menggelegar hebat. Karin berdiri di lobi gedung, menatap rintik hujan dengan perasaan hampa. Tiba-tiba, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari Reno.

Reno: Datang ke Restoran Sky Lounge sekarang. Bawa draf kontrak proyek Cendana yang ada di laci meja kerjaku. Sekarang.

Karin menghela napas. Kencannya pasti sedang berlangsung, pikirnya miris. Namun, sebagai asisten yang "berhutang budi", ia tidak punya pilihan. Ia kembali ke atas, mengambil berkas itu, dan memesan taksi menuju restoran mewah tersebut.

Sesampainya di sana, pelayan mengantarkan Karin ke sebuah meja di sudut yang sangat privat dengan pemandangan lampu kota yang indah. Di sana, Reno duduk berhadapan dengan seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna hitam, rambutnya disanggul modern, dan ia tertawa sangat anggun. Itu pasti Sheila.

Karin mendekat dengan jantung yang berdegup kencang. "Permisi, Pak Reno. Ini dokumen yang Anda minta."

Reno menoleh. Matanya menatap Karin dari atas ke bawah. Karin saat itu hanya mengenakan gamis kerja yang sudah agak kusut dan wajah yang tanpa riasan karena kelelahan. Kontras sekali dengan Sheila yang bersinar.

"Oh, jadi ini asisten yang sering kamu ceritakan, Reno?" tanya Sheila dengan suara yang manis, namun matanya menatap Karin dengan tatapan meremehkan. "Dia... sangat unik ya penampilannya. Sangat religius."

Reno tidak membela Karin. Ia justru mengambil dokumen itu dengan kasar. "Terima kasih, Karin. Kamu bisa duduk di meja sebelah sana dan menungguku selesai. Aku mungkin butuh kamu untuk mencatat beberapa poin penting dari pembicaraan kami."

Karin tertegun. "Menunggu di sini, Pak?"

"Iya. Makanlah sesuatu, aku yang bayar. Tapi jangan jauh-jauh," perintah Reno.

Karin terpaksa duduk di meja sebelah, hanya berjarak dua meter dari mereka. Ia harus menyaksikan bagaimana Reno menuangkan minuman untuk Sheila, bagaimana Reno tersenyum mendengar cerita Sheila, dan bagaimana sesekali Reno menyentuh tangan Sheila di atas meja.

Air mata Karin sudah berada di pelupuk mata. Ia merasa seperti sedang dihukum mati secara perlahan. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba mengalihkan perhatian, namun ia justru melihat sebuah notifikasi berita bisnis: “Rencana Merger Dirgantara Group dan Wijaya Group, Sinyal Pernikahan Bisnis Menguat.”

Tiba-tiba, Sheila berdiri. "Reno, aku ke toilet sebentar ya."

Setelah Sheila pergi, suasana menjadi sunyi. Reno menoleh ke arah Karin yang masih menunduk.

"Kenapa diam saja? Makanannya tidak enak?" tanya Reno, suaranya tidak sedingin biasanya.

Karin mendongak, matanya merah menahan tangis. "Kenapa Anda melakukan ini, Reno? Kenapa Anda menyeret saya ke sini hanya untuk melihat Anda bersama wanita lain? Apa menghina saya di kantor saja belum cukup?"

Reno meletakkan gelasnya, matanya menajam. "Aku hanya ingin kamu sadar posisi kamu, Karin. Agar kamu tidak lupa bahwa dunia kita sudah berbeda."

"Saya sadar! Saya sangat sadar!" suara Karin meninggi, membuat beberapa pelayan menoleh. "Saya asisten Anda, saya bawahan Anda, saya orang yang berhutang pada Anda! Anda tidak perlu memamerkan calon istri Anda untuk membuat saya mengerti betapa rendahnya saya di mata Anda sekarang!"

Karin berdiri, meletakkan tasnya di kursi. "Saya permisi, Pak. Saya rasa tugas saya malam ini sudah selesai."

Karin berlari keluar restoran menuju balkon terbuka. Hujan masih turun, namun ia tidak peduli. Ia berdiri di bawah guyuran air, membiarkan gamis pink-nya basah kuyup. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia benci Reno, tapi ia lebih benci dirinya sendiri karena telah jatuh cinta pada pria yang sedang berusaha menghancurkannya.

Tiba-tiba, sebuah tangan menarik bahunya dan memutar tubuhnya. Reno berdiri di sana, tanpa payung, membiarkan dirinya sendiri ikut basah kuyup.

"Lepaskan aku!" teriak Karin sambil memukul dada Reno.

"Karin, berhenti!" Reno menangkap kedua tangan Karin dan menguncinya di depan dada.

"Kenapa kamu begini, Reno? Kenapa kamu jahat sekali?" isak Karin.

Reno menatap Karin dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang penuh dengan kerinduan dan luka yang meledak. Tanpa peringatan, Reno menarik Karin ke dalam pelukannya, mendekap tubuh mungil yang menggigil itu dengan sangat erat.

"Karena aku juga menderita, Karin!" bisik Reno tepat di telinga Karin, suaranya serak karena emosi. "Aku mencoba membencimu, aku mencoba mencintai wanita lain, tapi setiap kali aku menutup mata, hanya wajahmu yang ada di sana! Aku ingin menghancurkanmu agar aku bisa merasa menang, tapi setiap kali kamu menangis, justru hatiku yang hancur!"

Karin terdiam dalam pelukan Reno. Suara detak jantung Reno yang menggila di dadanya menjadi bukti bahwa pria ini tidak sedang berbohong. Di bawah guyuran hujan badai Jakarta, dua jiwa yang terluka itu akhirnya saling mengakui perasaan yang selama ini mereka maki.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 45: Bayang-Bayang dari Masa Lalu

    Kehidupan di desa Zermatt yang tenang seolah-olah menjadi obat penawar bagi jiwa Karin yang telah lama kerontang. Namun, pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Langit Swiss yang biasanya biru cerah kini tertutup mendung tebal, menciptakan suasana melankolis di dalam chalet kayu mereka. Karin terbangun bukan karena suara alarm, melainkan karena suara rintik hujan yang menghantam atap kayu dengan ritme yang monoton. Ia menoleh ke samping, dan seperti biasa, Reno sudah tidak ada di tempat tidur. Karin bangkit, mengenakan jubah mandi sutranya yang hangat, lalu melangkah menuju ruang kerja kecil di sudut chalet. Di sana, ia melihat Reno sedang duduk di depan laptopnya dengan wajah yang sangat serius. Cahaya dari layar monitor memantul di kacamata baca yang jarang Reno gunakan, membuat pria itu tampak lebih dewasa dan tertekan. "Reno? Ada masalah di Jakarta?" tanya Karin pelan sambil meletakkan tangannya di bahu Reno. Reno terkejut, ia segera menu

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 44: Melodi di Kaki Pegunungan Alpen

    Udara yang merasuk ke dalam paru-paru Karin pagi itu terasa sangat berbeda. Bukan lagi aroma polusi dan kecemasan yang biasa ia hirup di Jakarta, melainkan aroma pinus yang segar bercampur dengan dinginnya salju yang mulai mencair di kaki Pegunungan Alpen. Mereka telah berada di Swiss selama tiga hari, menetap di sebuah chalet kayu tradisional yang berdiri angkuh namun hangat di pinggiran desa Zermatt. Di sini, nama besar Dirgantara Group hanyalah deretan huruf tak bermakna bagi penduduk lokal yang lebih peduli pada cuaca dan hasil ternak mereka.Karin berdiri di balkon lantai dua, mengenakan sweter wol tebal pemberian Reno. Matanya menatap puncak Matterhorn yang tertutup salju abadi, menjulang tinggi menembus awan. Ia masih sering merasa ini semua adalah mimpi. Bagaimana mungkin dalam hitungan minggu, hidupnya yang tadinya berada di ambang maut kini berpindah ke surga kecil ini?"Masih belum percaya kalau ini nyata?" suara berat Reno terdengar dari belakang.

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 43: Takhta yang Ditinggalkan

    Gedung Dirgantara Group berdiri angkuh di tengah hutan beton Jakarta, puncaknya seolah menusuk langit kelabu yang menggantung rendah pagi ini. Di dalam menara kaca itu, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada hari-hari sebelumnya. Kabar mengenai rencana pengunduran diri Reno Dirgantara sebagai CEO telah bocor ke telinga para pemegang saham sejak semalam, menciptakan gelombang panik yang membuat nilai saham perusahaan fluktuatif di lantai bursa. Namun, bagi Reno, kegaduhan di dunia luar itu tak lebih dari sekadar kebisingan latar belakang yang tidak lagi memiliki arti bagi jiwanya.Reno berdiri diam di depan cermin besar di ruang ganti pribadinya yang mewah. Ia merapikan dasi sutra berwarna biru gelap untuk yang terakhir kali sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Di belakangnya, Siska berdiri dengan postur tegap, memegang setumpuk dokumen akhir yang perlu ditandatangani. Wajah Siska tampak datar seperti biasanya, namun ada kilatan kekhawatiran yang tulus di matanya."Tuan, dewa

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 42: Janji di Balik Cahaya Senja

    Pagi kedua di penthouse mewah Jakarta tidak dilewati Reno Dirgantara dengan ketergesaan yang biasanya menjadi ciri khasnya. Jika selama sepuluh tahun terakhir ia adalah sosok yang sudah mengenakan setelan jas lengkap dan memelototi monitor saham bahkan sebelum matahari benar-benar menyentuh cakrawala, kini ia lebih memilih untuk menikmati momen yang jauh lebih berharga. Reno berdiri di dapur bersihnya, mendengarkan desis mesin kopi dan aroma robusta yang memenuhi ruangan, sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar utama yang masih tertutup rapat.Reno menyadari sebuah kebenaran baru dalam hidupnya: bahwa kebahagiaan sejati ternyata bukan terletak pada angka-angka triliunan di bursa efek atau kemenangan telak atas rival bisnisnya. Kebahagiaan itu kini sesederhana mendengar nafas teratur Karin di balik pintu itu nafas seorang wanita yang akhirnya bisa tidur tanpa harus menggenggam pisau atau bersiap melompat dari jendela karena ketakutan.Namun, kedamaian di dalam p

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 41: Cahaya di Balik Jendela

    Pagi pertama di Jakarta setelah badai besar itu benar-benar berakhir terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi suara deru helikopter yang memekakkan telinga, tidak ada lagi bau amis mesiu yang menyesakkan paru-paru, dan yang paling penting, tidak ada lagi rasa takut yang menghimpit dada setiap kali pintu terbuka. Reno Dirgantara sengaja memilih penthouse pribadinya yang baru sebagai tempat mereka menetap sementara, sebuah bangunan dengan sistem keamanan tingkat tinggi yang dikelilingi oleh kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke arah jantung kota Jakarta.Reno terbangun lebih awal, saat semburat cahaya fajar masih malu-malu menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis. Namun, ia tidak langsung beranjak dari tempat tidur untuk memeriksa bursa saham seperti yang biasa ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Ia hanya berbaring miring, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap wajah Karin yang masih terlelap dengan sangat tenang di sampingnya.Karin tampak

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 40: Akhir dari Sebuah Dendam

    Malam di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah kota ini sedang menahan napas menyaksikan akhir dari sebuah dinasti yang penuh dengan intrik. Meskipun Ibu Rosalinda dan Gunawan sudah mendekam di sel tahanan Kejaksaan, Reno Dirgantara tidak merasakan kemenangan yang utuh. Di kepalanya masih terngiang laporan Siska bahwa Hendrawan Wijaya menghilang dari radar setelah aset-asetnya dibekukan. Pria itu seperti ular yang masuk ke dalam lubang saat badai datang, namun Reno tahu ular itu sedang menyiapkan bisa terakhirnya sebelum mati.Reno berdiri di balkon apartemen pribadinya yang baru, menatap kerlap-kerlip lampu kota. Karin mendekat, menyelimuti pundak Reno dengan kain hangat. "Reno, istirahatlah. Kamu sudah tidak tidur selama tiga hari. Semuanya sudah berakhir, kan?"Reno berbalik, menggenggam tangan Karin dan mengecupnya pelan. "Hampir, Sayang. Hanya tinggal satu duri lagi yang harus aku cabut. Selama Hendrawan masih bebas, aku tidak akan pernah bisa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status