Beranda / Romansa / Mencintai Musuh Ayahku / BAB 8 : Jejak yang Terlupakan

Share

BAB 8 : Jejak yang Terlupakan

Penulis: Neng Wendah
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-25 13:22:04

Mobil SUV mewah milik Reno melaju tenang, membelah sisa-sisa kemacetan Jakarta yang masih tampak semrawut di beberapa titik akibat genangan air sisa badai semalam. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, suasana terasa jauh lebih rileks dibandingkan hari-hari sebelumnya. Karin duduk di samping Reno, mengenakan setelan tunik modern berwarna biru langit yang baru saja dibelikan oleh asisten Reno atas perintah sang CEO. Pakaian itu sangat pas, memberikan kesan segar, elegan, sekaligus bersahaja pada sosok Karin yang mungil.

Sepanjang jalan, Karin hanya terdiam menatap keluar jendela, memperhatikan gedung-gedung tinggi yang perlahan berganti menjadi pepohonan hijau yang rimbun. Pikirannya masih berkecamuk hebat tentang Paman Hendra. Rasa sesak itu masih ada rasa tidak percaya bahwa seseorang yang ia panggil "Paman" sejak kecil, yang selalu membawakannya cokelat setiap kali berkunjung, tega menusuk ayahnya dari belakang demi segepok uang.

"Jangan terus memutar kaset rusak itu di kepalamu," suara berat Reno memecah lamunan Karin. Pria itu tetap fokus pada jalanan, namun ia bisa merasakan kegelisahan yang memancar dari wanita di sampingnya. "Wajahmu terlihat sangat kusam kalau sedang melamun seperti itu. Itu tidak baik untuk citra asisten pribadiku."

Karin menoleh, sedikit mendelik meski hatinya merasa sedikit terhibur. "Kamu tidak akan pernah tahu rasanya dikhianati oleh orang yang sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga sendiri, Reno. Itu jauh lebih sakit daripada dihancurkan oleh musuh terang-terangan."

Reno terdiam sejenak, cengkeramannya pada kemudi yang dilapisi kulit itu sedikit mengerat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tahu, Karin. Percayalah, aku sangat tahu rasanya. Itulah sebabnya aku membangun dinding beton yang sangat tinggi di sekelilingku agar tidak ada lagi yang bisa masuk dan melukai. Tapi hari ini... aku ingin membawamu ke satu-satunya tempat di mana dinding itu tidak berlaku."

Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam menuju pinggiran Jakarta yang lebih asri, mobil itu berbelok ke sebuah area hijau yang tenang. Mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua bergaya kolonial yang terawat dengan sangat baik. Di gerbang kayunya yang kokoh, tertulis sebuah nama dengan cat putih yang rapi: Panti Asuhan Kasih Bunda.

Karin turun dari mobil dengan dahi berkerut bingung. Ia merapikan hijab birunya yang tertiup angin sepoi-sepoi. "Panti asuhan? Kenapa kamu membawaku ke sini di saat banyak masalah kantor yang harus kita selesaikan?"

Reno tidak menjawab. Ia justru berjalan mendahului Karin, melangkah masuk ke dalam halaman luas yang dipenuhi pohon mangga dan ayunan anak-anak. Tiba-tiba, suara tawa riang pecah. Gerombolan anak-anak kecil, dari yang masih balita hingga usia sekolah dasar, berlari menghambur menghampiri Reno.

"Kak Reno! Kak Reno datang!" teriak mereka bersahutan, berebut untuk menyalami tangan pria itu.

Karin terpaku di tempatnya berdiri. Pemandangan di depannya terasa sangat surealis. Reno sang CEO yang dikenal sebagai 'Singa Bisnis' yang dingin dan tanpa ampun kini sedang berlutut di atas tanah rumput, membiarkan anak-anak itu memeluk lehernya dan bergelayutan di lengannya. Senyumnya lebar, tawa lepasnya terdengar begitu tulus tanpa beban, sangat jauh berbeda dengan senyum sinis atau seringai meremehkan yang biasa ia berikan di kantor Dirgantara Group.

Seorang wanita tua dengan wajah yang memancarkan keteduhan keluar dari pintu utama bangunan. Ia mengenakan gamis sederhana dan kerudung instan. "Reno, kamu datang di saat yang tepat. Anak-anak baru saja menanyakanmu pagi tadi sebelum mereka mulai belajar."

Reno berdiri dan menyalami wanita itu dengan sangat takzim, membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat. "Maaf baru sempat mampir lagi, Ibu Sari. Pekerjaan sedikit gila belakangan ini. Oh, perkenalkan... ini Karin, orang yang aku ceritakan."

Ibu Sari menatap Karin dengan binar mata yang sangat hangat, seolah ia sedang melihat sosok yang sudah lama ia kenal. "Ah, jadi ini Nak Karin? Akhirnya Reno membawamu ke sini secara nyata. Kamu tahu, Nak, Reno ini sering sekali menceritakan tentangmu sejak bertahun-tahun lalu, bahkan saat dia masih harus berjuang dari nol."

Wajah Karin seketika memanas hingga ke telinga. Reno menceritakannya? Sejak bertahun-tahun lalu? Ia melirik Reno yang kini berpura-pura sangat sibuk membongkar kotak-kotak mainan dan peralatan sekolah dari bagasi mobil untuk menutupi rasa canggungnya.

"Jangan dengarkan Ibu Sari, Karin. Dia memang suka melebih-lebihkan cerita agar suasananya jadi dramatis," gumam Reno cepat tanpa berani menatap mata Karin.

Karin tersenyum kecil, sebuah perasaan hangat yang asing mulai menjalar dan memenuhi dadanya. "Ternyata Singa Bisnis ini punya sisi yang sangat lembut dan manis kalau sedang tidak memakai jas mahalnya, ya?" goda Karin pelan.

Selama beberapa jam berikutnya, Karin ikut larut dalam keceriaan anak-anak panti. Ia membacakan cerita dongeng di bawah pohon rindang, sementara Reno terlihat sibuk membantu beberapa pengurus panti memperbaiki fasilitas bermain yang rusak dan mengecek instalasi air. Di tempat ini, Karin melihat sosok Reno yang asli Reno yang murah hati tanpa perlu sorotan kamera media, Reno yang peduli pada nasib anak-anak yatim piatu karena ia pun tahu rasanya kehilangan.

Saat Karin sedang beristirahat di teras bersama Ibu Sari, wanita tua itu memegang tangan Karin. "Reno itu anak yang baik, Nak Karin. Luka di masa lalunya sangat besar, dan dia menggunakan kemarahan untuk menutupi rasa takutnya. Tapi sejak ada kamu di sampingnya, meski hanya sebagai asisten, auranya berubah. Dia tampak lebih hidup."

Karin tertegun mendengar penuturan itu. Namun, kedamaian yang baru saja ia rasakan seketika hancur berkeping-keping saat sebuah mobil sport mewah berwarna merah menyala berhenti mendadak di belakang mobil Reno, menimbulkan debu yang beterbangan. Seorang wanita turun dengan langkah yang dihentak-hentakkan, kacamata hitam mahalnya dilepas dengan gerakan dramatis yang penuh amarah. Itu Sheila Wijaya.

Sheila berjalan masuk ke area panti dengan wajah yang menampakkan rasa jijik yang luar biasa, seolah-olah debu dan udara di tempat itu bisa menodai kulit dan pakaian bermereknya. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Reno dan Karin yang sedang duduk di bangku taman.

"Reno! Jadi di sini kamu bersembunyi?" suara Sheila melengking, memecah ketenangan panti. "Mama mencarimu ke mana-mana sampai stres! Kamu mematikan ponsel seharian dan malah asyik bermain rumah-rumahan di tempat kumuh ini dengan... wanita kampung ini?"

Reno berdiri seketika, rahangnya mengeras dan tatapannya kembali menjadi sedingin es. "Apa yang kamu lakukan di sini, Sheila? Dan bagaimana bisa kamu membuntutiku sampai ke tempat ini?"

"Aku membuntutimu sejak kamu keluar dari apartemenmu pagi tadi, Reno! Aku tidak terima kamu mempermalukanku dengan meninggalkanku begitu saja di restoran semalam hanya demi membela asisten murahan ini!" Sheila menunjuk wajah Karin dengan jarinya yang dihiasi kuku merah tajam yang panjang.

Karin berdiri, mencoba sekuat tenaga untuk tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang karena rasa malu di depan anak-anak. "Nona Sheila, ini adalah tempat tinggal anak-anak. Tolong jaga ucapan dan sikap Anda. Jangan berteriak di sini."

"Jangan berani-berani mengajariku sopan santun, kamu wanita penggoda!" teriak Sheila semakin menjadi-jadi. "Reno, sadarlah! Dia ini wanita licik! Dia hanya mengincar hartamu untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut itu! Dia menggunakan wajah polosnya untuk menjeratmu!"

Anak-anak yang ketakutan mulai berlarian dan bersembunyi di balik kaki Ibu Sari. Reno melangkah maju dengan aura dominan yang sangat mengintimidasi, membuat Sheila terpaksa mundur beberapa langkah.

"Cukup, Sheila. Satu kata lagi keluar dari mulutmu, aku tidak akan segan," suara Reno sangat rendah, namun penuh dengan ancaman yang mematikan. "Kamu sudah menghina tempat yang sangat aku hormati, menghina asisten pribadiku, dan yang paling parah, kamu sudah membuat anak-anak ini ketakutan. Keluar dari sini sekarang juga."

"Tapi Reno, kita akan segera bertunangan! Mamaku dan Mamamu sudah membicarakan tanggal pernikahan bisnis kita!"

"Aku tidak pernah memberikan persetujuan apa pun terkait pernikahan konyol itu!" potong Reno tegas, suaranya menggelegar di halaman panti. "Pergi sekarang, Sheila. Sebelum aku benar-benar membatalkan seluruh kerja sama dengan Wijaya Group dan memastikan keluargamu menyesal telah menginjakkan kaki di properti pribadiku."

Wajah Sheila memucat pasi. Ia tahu betul bahwa Reno Dirgantara tidak pernah menggertak sambal. Dengan penuh kemarahan dan rasa malu yang luar biasa, ia berbalik, masuk ke mobilnya, dan menginjak gas hingga menimbulkan suara derit ban yang memekakkan telinga.

Suasana kembali sunyi, namun ada kecanggungan yang tersisa. Karin menatap Reno dengan tatapan penuh rasa bersalah yang mendalam. "Maafkan aku, Reno. Kehadiranku benar-benar hanya menjadi beban dan perusak hubungan keluargamu dengan kolega penting."

Reno berbalik, menatap Karin dengan pandangan yang sangat dalam dan lembut, sebuah tatapan yang belum pernah ia berikan pada wanita lain. Ia berjalan mendekat dan tanpa ragu meraih tangan Karin di depan Ibu Sari dan anak-anak yang masih mengintip.

"Kamu bukan beban, Karin. Kamu adalah bagian dari hidupku yang sempat hilang, dan sekarang aku sedang berusaha menjaganya agar tidak hilang lagi. Soal Sheila... dia bukan siapa-siapa bagiku. Hanya masa lalu yang dipaksakan oleh ambisi orang tua."

Ibu Sari tersenyum penuh arti dari kejauhan, seolah ia bisa melihat benih cinta yang mulai tumbuh subur di antara keduanya. Namun bagi Karin, ia menyadari bahwa ini baru permulaan dari badai yang sesungguhnya. Sheila dan Ibu Reno pasti akan meluncurkan serangan yang lebih besar. Tapi entah kenapa, saat tangannya digenggam begitu erat oleh Reno, Karin merasa memiliki kekuatan untuk menghadapi dunia.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 45: Bayang-Bayang dari Masa Lalu

    Kehidupan di desa Zermatt yang tenang seolah-olah menjadi obat penawar bagi jiwa Karin yang telah lama kerontang. Namun, pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Langit Swiss yang biasanya biru cerah kini tertutup mendung tebal, menciptakan suasana melankolis di dalam chalet kayu mereka. Karin terbangun bukan karena suara alarm, melainkan karena suara rintik hujan yang menghantam atap kayu dengan ritme yang monoton. Ia menoleh ke samping, dan seperti biasa, Reno sudah tidak ada di tempat tidur. Karin bangkit, mengenakan jubah mandi sutranya yang hangat, lalu melangkah menuju ruang kerja kecil di sudut chalet. Di sana, ia melihat Reno sedang duduk di depan laptopnya dengan wajah yang sangat serius. Cahaya dari layar monitor memantul di kacamata baca yang jarang Reno gunakan, membuat pria itu tampak lebih dewasa dan tertekan. "Reno? Ada masalah di Jakarta?" tanya Karin pelan sambil meletakkan tangannya di bahu Reno. Reno terkejut, ia segera menu

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 44: Melodi di Kaki Pegunungan Alpen

    Udara yang merasuk ke dalam paru-paru Karin pagi itu terasa sangat berbeda. Bukan lagi aroma polusi dan kecemasan yang biasa ia hirup di Jakarta, melainkan aroma pinus yang segar bercampur dengan dinginnya salju yang mulai mencair di kaki Pegunungan Alpen. Mereka telah berada di Swiss selama tiga hari, menetap di sebuah chalet kayu tradisional yang berdiri angkuh namun hangat di pinggiran desa Zermatt. Di sini, nama besar Dirgantara Group hanyalah deretan huruf tak bermakna bagi penduduk lokal yang lebih peduli pada cuaca dan hasil ternak mereka.Karin berdiri di balkon lantai dua, mengenakan sweter wol tebal pemberian Reno. Matanya menatap puncak Matterhorn yang tertutup salju abadi, menjulang tinggi menembus awan. Ia masih sering merasa ini semua adalah mimpi. Bagaimana mungkin dalam hitungan minggu, hidupnya yang tadinya berada di ambang maut kini berpindah ke surga kecil ini?"Masih belum percaya kalau ini nyata?" suara berat Reno terdengar dari belakang.

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 43: Takhta yang Ditinggalkan

    Gedung Dirgantara Group berdiri angkuh di tengah hutan beton Jakarta, puncaknya seolah menusuk langit kelabu yang menggantung rendah pagi ini. Di dalam menara kaca itu, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada hari-hari sebelumnya. Kabar mengenai rencana pengunduran diri Reno Dirgantara sebagai CEO telah bocor ke telinga para pemegang saham sejak semalam, menciptakan gelombang panik yang membuat nilai saham perusahaan fluktuatif di lantai bursa. Namun, bagi Reno, kegaduhan di dunia luar itu tak lebih dari sekadar kebisingan latar belakang yang tidak lagi memiliki arti bagi jiwanya.Reno berdiri diam di depan cermin besar di ruang ganti pribadinya yang mewah. Ia merapikan dasi sutra berwarna biru gelap untuk yang terakhir kali sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Di belakangnya, Siska berdiri dengan postur tegap, memegang setumpuk dokumen akhir yang perlu ditandatangani. Wajah Siska tampak datar seperti biasanya, namun ada kilatan kekhawatiran yang tulus di matanya."Tuan, dewa

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 42: Janji di Balik Cahaya Senja

    Pagi kedua di penthouse mewah Jakarta tidak dilewati Reno Dirgantara dengan ketergesaan yang biasanya menjadi ciri khasnya. Jika selama sepuluh tahun terakhir ia adalah sosok yang sudah mengenakan setelan jas lengkap dan memelototi monitor saham bahkan sebelum matahari benar-benar menyentuh cakrawala, kini ia lebih memilih untuk menikmati momen yang jauh lebih berharga. Reno berdiri di dapur bersihnya, mendengarkan desis mesin kopi dan aroma robusta yang memenuhi ruangan, sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar utama yang masih tertutup rapat.Reno menyadari sebuah kebenaran baru dalam hidupnya: bahwa kebahagiaan sejati ternyata bukan terletak pada angka-angka triliunan di bursa efek atau kemenangan telak atas rival bisnisnya. Kebahagiaan itu kini sesederhana mendengar nafas teratur Karin di balik pintu itu nafas seorang wanita yang akhirnya bisa tidur tanpa harus menggenggam pisau atau bersiap melompat dari jendela karena ketakutan.Namun, kedamaian di dalam p

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 41: Cahaya di Balik Jendela

    Pagi pertama di Jakarta setelah badai besar itu benar-benar berakhir terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi suara deru helikopter yang memekakkan telinga, tidak ada lagi bau amis mesiu yang menyesakkan paru-paru, dan yang paling penting, tidak ada lagi rasa takut yang menghimpit dada setiap kali pintu terbuka. Reno Dirgantara sengaja memilih penthouse pribadinya yang baru sebagai tempat mereka menetap sementara, sebuah bangunan dengan sistem keamanan tingkat tinggi yang dikelilingi oleh kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke arah jantung kota Jakarta.Reno terbangun lebih awal, saat semburat cahaya fajar masih malu-malu menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis. Namun, ia tidak langsung beranjak dari tempat tidur untuk memeriksa bursa saham seperti yang biasa ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Ia hanya berbaring miring, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap wajah Karin yang masih terlelap dengan sangat tenang di sampingnya.Karin tampak

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 40: Akhir dari Sebuah Dendam

    Malam di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah kota ini sedang menahan napas menyaksikan akhir dari sebuah dinasti yang penuh dengan intrik. Meskipun Ibu Rosalinda dan Gunawan sudah mendekam di sel tahanan Kejaksaan, Reno Dirgantara tidak merasakan kemenangan yang utuh. Di kepalanya masih terngiang laporan Siska bahwa Hendrawan Wijaya menghilang dari radar setelah aset-asetnya dibekukan. Pria itu seperti ular yang masuk ke dalam lubang saat badai datang, namun Reno tahu ular itu sedang menyiapkan bisa terakhirnya sebelum mati.Reno berdiri di balkon apartemen pribadinya yang baru, menatap kerlap-kerlip lampu kota. Karin mendekat, menyelimuti pundak Reno dengan kain hangat. "Reno, istirahatlah. Kamu sudah tidak tidur selama tiga hari. Semuanya sudah berakhir, kan?"Reno berbalik, menggenggam tangan Karin dan mengecupnya pelan. "Hampir, Sayang. Hanya tinggal satu duri lagi yang harus aku cabut. Selama Hendrawan masih bebas, aku tidak akan pernah bisa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status