Home / Romansa / Mencintai Musuh Ayahku / BAB 7: Rahasia di Balik Kehancuran

Share

BAB 7: Rahasia di Balik Kehancuran

Author: Neng Wendah
last update Last Updated: 2026-01-25 12:20:41

Cahaya matahari pagi malu-malu melalui celah tirai sutra raksasa di kamar utama Reno, menyentuh lembut kelopak mata Karin yang masih terpejam erat. Karin mengerang pelan, merasakan denyut di pelipisnya yang perlahan memudar, berganti dengan rasa hangat yang sangat nyaman dari selimut bulu angsa yang membungkus tubuh mungilnya. Aroma kayu cendana yang menenangkan aroma yang sangat maskulin dan mahal seketika menyerbu indra penciumannya, mengingatkannya secara paksa pada satu nama yang kini mendominasi hidupnya: Reno Dirgantara.

Karin tersentak bangun, jantungnya mendadak berpacu liar. Ingatan tentang kejadian semalam berputar cepat seperti klise film di kepalanya. Hujan badai yang mencekam, pelukan hangat di balkon yang basah, hingga ia yang berakhir tertidur lelap di ranjang milik pria yang paling ia hindari selama sepuluh tahun ini. Ia segera memeriksa pakaiannya dengan panik; syukurlah, masih jubah mandi yang sama, hanya saja hijabnya sudah tertata sedikit lebih rapi di atas nakas. Ia menghela napas lega yang panjang, namun rasa canggung tetap menyelimuti batinnya saat menyadari ia sedang berada di pusat wilayah privat sang singa bisnis.

Dengan langkah ragu dan jari kaki yang kedinginan menyentuh lantai marmer, Karin membuka pintu kamar dan keluar. Di ruang tengah yang luas itu, ia tidak menemukan Reno di sofa tempat yang katanya akan ia gunakan untuk tidur. Namun, suara denting halus spatula dan aroma gurih kaldu ayam yang menggugah selera menuntun langkahnya menuju area dapur modern yang serba metalik. Di sana, Reno berdiri membelakangi Karin. Pria itu hanya mengenakan kaos putih polos yang sedikit ketat di bagian bahu dan celana pendek rumahan, sedang sibuk mengaduk sesuatu di atas kompor. Sosoknya tampak begitu kontras dengan citranya di kantor; tidak ada kesan angkuh, tidak ada setelan jas yang kaku, hanya ada seorang pria biasa yang tampak mahir menyiapkan sarapan.

"Sudah bangun? Aku baru saja akan menuangkan buburnya," suara berat Reno memecah keheningan tanpa perlu menoleh ke belakang, seolah ia memiliki sensor alami terhadap kehadiran Karin.

Karin terpaku di ambang pintu dapur, merapatkan jubah mandinya yang kebesaran. "Iya... Maaf, aku bangun kesiangan. Kenapa kamu tidak membangunkanku? Aku harus segera ke kantor untuk menyiapkan berkas rapat nanti."

Reno mematikan kompor dengan tenang, lalu berbalik sambil membawa semangkuk bubur ayam hangat yang uapnya masih mengepul wangi. Matanya menatap Karin dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang kini lebih lunak, meski tetap menyimpan misteri. "Dokter pribadi yang kupanggil semalam bilang asisten yang demam tinggi tidak diizinkan masuk kantor kecuali ingin pingsan di depan klien. Duduklah, makan ini selagi hangat. Jangan membuatku harus memaksa suapimu."

Karin duduk di kursi bar dengan gerakan canggung yang kentara. Ia menatap mangkuk di depannya dengan perasaan campur aduk. "Kamu... kamu yang membuat ini semua sendiri?"

Reno terkekeh kecil, sebuah suara yang terdengar begitu rendah namun merdu. "Jangan terlalu berharap tinggi, aku hanya memesannya lewat layanan pesan antar restoran bintang lima dan memindahkannya ke mangkuk ini agar suhunya tetap terjaga," bohong Reno dengan wajah datar, meski beberapa bercak kaldu di kaos putihnya dan sisa irisan daun seledri di talenan membuktikan bahwa ia setidaknya berusaha meracik sendiri bubur itu agar sesuai dengan selera Karin yang ia ingat dulu. "Makanlah, lalu minum obatmu. Aku tidak butuh asisten yang sakit-sakitan."

Keheningan yang damai menyelimuti mereka selama beberapa menit. Sambil menyuap bubur perlahan, Karin memberanikan diri menatap Reno yang kini duduk di hadapannya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Pikirannya kembali pada masalah yang menghancurkan hidup keluarganya.

"Reno, soal perusahaan Papa..." Karin memulai dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku tahu kamu sangat membenci kami karena luka masa lalu. Tapi tolong jawab dengan jujur, apakah benar kamu yang menyabotase seluruh data pengadaan barang di Anindita Group bulan lalu? Karena itu adalah awal dari kebangkrutan kami."

Reno meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan bunyi klunting yang tegas. Matanya berubah menjadi sangat serius, menatap Karin dengan intensitas yang mengintimidasi. "Dengarkan aku baik-baik, Karin. Aku memang ingin mengakuisisi perusahaan ayahmu sebagai bagian dari strategi bisnis dan mungkin sedikit dendam pribadi. Aku ingin kalian tahu rasanya berada di posisi bawah. Tapi sabotase data dengan cara kotor? Itu bukan gayaku. Aku lebih suka menghancurkan lawan di depan meja perundingan dengan argumen yang kuat, bukan dengan cara tikus yang menjijikkan seperti itu."

Karin tertegun, sendok di tangannya hampir terlepas. "Lalu, kalau bukan kamu... siapa yang bisa melakukan hal sekeji itu? Hanya segelintir orang yang punya akses ke data tersebut."

Reno menghela napas panjang, ia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ruang kerja mininya yang tak jauh dari sana. Ia mengambil sebuah map biru tua yang tampak sangat penting dan menyodorkannya pada Karin. "Selama kamu tertidur lelap semalam, aku tidak tidur. Aku meminta tim IT pribadiku untuk melacak jejak digital pengiriman data tersebut. Seseorang dari dalam perusahaan Anindita Group sengaja mengirimkan data palsu dan merusak sistem internal kalian agar aku memiliki alasan legal untuk membatalkan kontrak."

Karin membuka map itu dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya membelalak saat membaca deretan bukti digital dan alamat IP yang terlacak. Di sana tertera sebuah nama yang sangat ia kenal, orang yang selalu ia panggil 'Paman' sejak kecil. "Paman Hendra? Tidak mungkin... Dia adalah tangan kanan Papa. Dia sudah dianggap keluarga sendiri selama belasan tahun!"

"Uang tidak pernah mengenal kata keluarga atau kesetiaan, Karin," ujar Reno dengan nada dingin yang menusuk. "Hendra bekerja sama dengan pihak kompetitor untuk menjatuhkan ayahmu dari dalam, dan mereka menggunakan namaku sebagai tamengnya. Mereka tahu aku punya sejarah buruk dengan kalian, jadi mereka pikir aku tidak akan pernah curiga atau peduli jika disodori alasan untuk mempercepat kehancuran Anindita Group."

Karin merasakan dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya. Rasa sesak di dadanya jauh lebih sakit daripada demam yang ia rasakan. Ternyata selama ini ia membenci orang yang salah untuk urusan sabotase tersebut, meskipun Reno tetaplah pria yang menekannya dengan kontrak kerja asisten yang tidak adil.

"Kenapa kamu memberitahuku sekarang?" tanya Karin lirih, air mata mulai menggenang di matanya yang indah. "Bukankah lebih menguntungkan bagimu jika aku terus menganggapmu sebagai penjahat tunggal? Dengan begitu, kamu bisa terus mengendalikan hidupku."

Reno berjalan mendekat hingga tubuh tegapnya menutupi cahaya lampu dapur, memberikan bayangan dominan di depan Karin. Ia mengangkat dagu Karin dengan ujung jarinya yang hangat, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam bola matanya yang hitam pekat.

"Karena aku lelah menjadi satu-satunya sosok yang kamu benci dengan begitu hebatnya, Karin. Aku ingin kamu mulai melihatku apa adanya, bukan sebagai monster yang ada dalam bayangan ketakutanmu. Aku memang pria yang keras dan penuh ambisi, tapi aku tidak pernah sudi menang dengan cara curang."

Jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa senti. Karin bisa mencium aroma kopi hitam dan sabun mandi yang segar dari kulit Reno. Ada ketegangan familiar yang kembali muncul sebuah daya tarik magnetis yang membuat Karin mendadak lupa bagaimana caranya bernapas secara normal.

"Sekarang pilihan ada di tanganmu," lanjut Reno, suaranya melembut menjadi bisikan serak yang menghanyutkan. "Kamu bisa memilih untuk pulang dan menghadapi pengkhianatan Hendra itu sendirian, atau tetap di sini bersamaku. Aku akan membantumu menendang pria brengsek itu keluar dari hidupmu dan memulihkan nama baik ayahmu dalam waktu singkat."

Karin menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu tawaran Reno bukan sekadar bantuan bisnis biasa, tapi sebuah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam labirin kehidupan pria itu. "Apa syaratnya kali ini, Reno? Apakah kontrak kerjaku sebagai asisten pribadimu akan ditambah menjadi satu tahun? Atau ada hal lain yang harus kukorbankan?"

Reno terkekeh pelan, sebuah tawa ringan yang terdengar sangat merdu dan tulus, membuat jantung Karin mencelos. "Tidak ada kontrak tambahan, tidak ada hutang baru. Cukup berikan aku satu kesempatan murni untuk membuktikan bahwa remaja kutu buku yang sepuluh tahun lalu kamu tolak itu masih ada di dalam sini... dia hanya sedang menunggu wanita yang tepat untuk kembali pulang."

Karin terpaku, lidahnya kelu. Kata-kata Reno terasa jauh lebih hangat dan menyembuhkan daripada bubur ayam yang ia makan tadi. Namun, sebelum ia sempat memberikan jawaban, ponsel Karin yang tergeletak di atas meja marmer bergetar hebat dengan suara nyaring yang merusak suasana. Nama "Siska" muncul di layar dengan huruf kapital.

Karin mengangkatnya dengan ragu, dan suara teriakan melengking Siska langsung terdengar memenuhi ruangan bahkan tanpa perlu mengaktifkan mode pengeras suara.

"Karin Anindita! Di mana kamu?! Pak Reno tidak ada di kantor pagi ini dan kamu juga menghilang begitu saja! Jangan bilang kamu benar-benar melakukan tindakan murahan dengan menggoda Pak Reno sampai tidak pulang ke rumah semalam! Cepat kembali ke kantor detik ini juga atau aku pastikan namamu tercemar di seluruh divisi perusahaan!"

Karin menatap Reno dengan tatapan panik dan malu yang luar biasa. Reno hanya menatap ponsel itu dengan ekspresi jijik, lalu dengan gerakan cepat ia mengambil ponsel tersebut dari tangan Karin dan langsung mematikan dayanya tanpa bicara sepatah kata pun.

"Jangan pernah pedulikan wanita itu. Hari ini aku nyatakan kamu libur total. Dan soal Hendra... timku sudah mulai bergerak, biarkan aku yang mengurus seluruh detail teknisnya. Sekarang, masuklah kembali ke kamar dan ganti pakaianmu. Aku sudah meminta asisten pribadiku yang lain untuk membelikan beberapa setelan baju baru yang sopan untukmu. Setelah ini, kita akan pergi ke suatu tempat yang bisa membuat pikiranmu tenang."

Karin hanya bisa mengangguk pasrah, menyadari sepenuhnya bahwa hidupnya kini benar-benar telah berputar seratus delapan puluh derajat. Dari seorang wanita yang penuh beban dan kesedihan, kini ia merasa memiliki pelindung yang paling tidak terduga dan paling kuat di dunia ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 45: Bayang-Bayang dari Masa Lalu

    Kehidupan di desa Zermatt yang tenang seolah-olah menjadi obat penawar bagi jiwa Karin yang telah lama kerontang. Namun, pagi itu, ada sesuatu yang berbeda. Langit Swiss yang biasanya biru cerah kini tertutup mendung tebal, menciptakan suasana melankolis di dalam chalet kayu mereka. Karin terbangun bukan karena suara alarm, melainkan karena suara rintik hujan yang menghantam atap kayu dengan ritme yang monoton. Ia menoleh ke samping, dan seperti biasa, Reno sudah tidak ada di tempat tidur. Karin bangkit, mengenakan jubah mandi sutranya yang hangat, lalu melangkah menuju ruang kerja kecil di sudut chalet. Di sana, ia melihat Reno sedang duduk di depan laptopnya dengan wajah yang sangat serius. Cahaya dari layar monitor memantul di kacamata baca yang jarang Reno gunakan, membuat pria itu tampak lebih dewasa dan tertekan. "Reno? Ada masalah di Jakarta?" tanya Karin pelan sambil meletakkan tangannya di bahu Reno. Reno terkejut, ia segera menu

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 44: Melodi di Kaki Pegunungan Alpen

    Udara yang merasuk ke dalam paru-paru Karin pagi itu terasa sangat berbeda. Bukan lagi aroma polusi dan kecemasan yang biasa ia hirup di Jakarta, melainkan aroma pinus yang segar bercampur dengan dinginnya salju yang mulai mencair di kaki Pegunungan Alpen. Mereka telah berada di Swiss selama tiga hari, menetap di sebuah chalet kayu tradisional yang berdiri angkuh namun hangat di pinggiran desa Zermatt. Di sini, nama besar Dirgantara Group hanyalah deretan huruf tak bermakna bagi penduduk lokal yang lebih peduli pada cuaca dan hasil ternak mereka.Karin berdiri di balkon lantai dua, mengenakan sweter wol tebal pemberian Reno. Matanya menatap puncak Matterhorn yang tertutup salju abadi, menjulang tinggi menembus awan. Ia masih sering merasa ini semua adalah mimpi. Bagaimana mungkin dalam hitungan minggu, hidupnya yang tadinya berada di ambang maut kini berpindah ke surga kecil ini?"Masih belum percaya kalau ini nyata?" suara berat Reno terdengar dari belakang.

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 43: Takhta yang Ditinggalkan

    Gedung Dirgantara Group berdiri angkuh di tengah hutan beton Jakarta, puncaknya seolah menusuk langit kelabu yang menggantung rendah pagi ini. Di dalam menara kaca itu, suasana terasa jauh lebih mencekam daripada hari-hari sebelumnya. Kabar mengenai rencana pengunduran diri Reno Dirgantara sebagai CEO telah bocor ke telinga para pemegang saham sejak semalam, menciptakan gelombang panik yang membuat nilai saham perusahaan fluktuatif di lantai bursa. Namun, bagi Reno, kegaduhan di dunia luar itu tak lebih dari sekadar kebisingan latar belakang yang tidak lagi memiliki arti bagi jiwanya.Reno berdiri diam di depan cermin besar di ruang ganti pribadinya yang mewah. Ia merapikan dasi sutra berwarna biru gelap untuk yang terakhir kali sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Di belakangnya, Siska berdiri dengan postur tegap, memegang setumpuk dokumen akhir yang perlu ditandatangani. Wajah Siska tampak datar seperti biasanya, namun ada kilatan kekhawatiran yang tulus di matanya."Tuan, dewa

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 42: Janji di Balik Cahaya Senja

    Pagi kedua di penthouse mewah Jakarta tidak dilewati Reno Dirgantara dengan ketergesaan yang biasanya menjadi ciri khasnya. Jika selama sepuluh tahun terakhir ia adalah sosok yang sudah mengenakan setelan jas lengkap dan memelototi monitor saham bahkan sebelum matahari benar-benar menyentuh cakrawala, kini ia lebih memilih untuk menikmati momen yang jauh lebih berharga. Reno berdiri di dapur bersihnya, mendengarkan desis mesin kopi dan aroma robusta yang memenuhi ruangan, sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar utama yang masih tertutup rapat.Reno menyadari sebuah kebenaran baru dalam hidupnya: bahwa kebahagiaan sejati ternyata bukan terletak pada angka-angka triliunan di bursa efek atau kemenangan telak atas rival bisnisnya. Kebahagiaan itu kini sesederhana mendengar nafas teratur Karin di balik pintu itu nafas seorang wanita yang akhirnya bisa tidur tanpa harus menggenggam pisau atau bersiap melompat dari jendela karena ketakutan.Namun, kedamaian di dalam p

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 41: Cahaya di Balik Jendela

    Pagi pertama di Jakarta setelah badai besar itu benar-benar berakhir terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi suara deru helikopter yang memekakkan telinga, tidak ada lagi bau amis mesiu yang menyesakkan paru-paru, dan yang paling penting, tidak ada lagi rasa takut yang menghimpit dada setiap kali pintu terbuka. Reno Dirgantara sengaja memilih penthouse pribadinya yang baru sebagai tempat mereka menetap sementara, sebuah bangunan dengan sistem keamanan tingkat tinggi yang dikelilingi oleh kaca-kaca besar yang menghadap langsung ke arah jantung kota Jakarta.Reno terbangun lebih awal, saat semburat cahaya fajar masih malu-malu menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis. Namun, ia tidak langsung beranjak dari tempat tidur untuk memeriksa bursa saham seperti yang biasa ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir. Ia hanya berbaring miring, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap wajah Karin yang masih terlelap dengan sangat tenang di sampingnya.Karin tampak

  • Mencintai Musuh Ayahku    BAB 40: Akhir dari Sebuah Dendam

    Malam di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah kota ini sedang menahan napas menyaksikan akhir dari sebuah dinasti yang penuh dengan intrik. Meskipun Ibu Rosalinda dan Gunawan sudah mendekam di sel tahanan Kejaksaan, Reno Dirgantara tidak merasakan kemenangan yang utuh. Di kepalanya masih terngiang laporan Siska bahwa Hendrawan Wijaya menghilang dari radar setelah aset-asetnya dibekukan. Pria itu seperti ular yang masuk ke dalam lubang saat badai datang, namun Reno tahu ular itu sedang menyiapkan bisa terakhirnya sebelum mati.Reno berdiri di balkon apartemen pribadinya yang baru, menatap kerlap-kerlip lampu kota. Karin mendekat, menyelimuti pundak Reno dengan kain hangat. "Reno, istirahatlah. Kamu sudah tidak tidur selama tiga hari. Semuanya sudah berakhir, kan?"Reno berbalik, menggenggam tangan Karin dan mengecupnya pelan. "Hampir, Sayang. Hanya tinggal satu duri lagi yang harus aku cabut. Selama Hendrawan masih bebas, aku tidak akan pernah bisa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status