FAZER LOGINPak Ardi melihat situasi yang makin panas di dalam keluarganya. Yang terlihat seolah Marco sedang dikeroyok dengan banyak permintaan, bujukan, oleh kakaknya dan mamanya. Namun Pak Ardi tahu, Marco itu keras kepala dan pantang menyerah. Tidak akan ada yang menang jika bertengkar dengan Marco, yang ada malah emosi berkepanjangan.“Baiklah, sekarang kita pulang ke rumah papa, bayi itu dibawa!”Anita menggeleng, “Tidak Pa. Secara hukum Calvin adalah anak kami, dan sekarang kami akan membawanya ke rumah kami di Serang.”“Apa kamu bisa ambil bayi itu dari tangan Marco, tanpa kena tonjok?”Anita menatap Marco yang masih menggendong bayi. Zakki berbisik pada istrinya, “Kita ikuti saja rencana papa.”“Itu berarti kita bisa kehilangan Calvin.” isak Anita.“Kita ke rumah papa saja, mungkin papa punya penyelesaian terbaik.”Marco mau masuk ke mobilnya tanpa melepas dekapan tangannya dari bayi, tapi Pak Ardi melarang Marco menaruh Calvin di jok mobil.“Marco, berikan Calvin pada mama, jadi kamu bi
Bu Marianne sedang membujuk Marco, “Tolong biarkan Calvin menjadi anak kakakmu. Calvin tetap menjadi cucu Pak Ardi Wiratama. Calvin akan dirawat dengan sangat baik. Calvin akan menjadi pewaris. Kamu dan Maryam akan punya anak lagi. Kamu bisa memantau perkembangan Calvin, sembari mengasuh anak-anakmu yang kelak akan lahir. Kamu juga bisa bertemu Calvin kapan saja. Tapi jangan katakan pada istrimu kalau Calvin adalah anaknya.”“Jadi anakku sendiri, akan memanggil aku dengan sebutan Om Marco? Ironis sekali.”Bu Marianne mengusap lengan putranya. “Ini penyelesaian yang paling logis dan damai untuk keluarga kita. Pada dasarnya juga tidak ada yang dirugikan.”Marco tertawa pahit. “Bahkan tidak ada yang buka mulut untuk meminta maaf padaku karena sudah mencuri bayiku. Tidak ada yang merasa bersalah, sudah menipu istriku?” “Kakakmu sudah mengakuinya. Jangan kamu buat Zakki seperti kriminal. Tidak ada yang dirugikan. Anakmu masih ada, jadi jangan kamu sebut anakmu dicuri!”Marco berdiri, men
Pak Ardi masih menggendong Calvin, walaupun Anita berkali-kali meminta bayi itu diberikan padanya. Pak Ardi bicara, “Sehari saja Calvin mampir ke rumah kakeknya, masak tidak bisa?”Marco yang menjawab, “Karena Kang Zakki dan Teh Anita tidak mau bayi itu ketemu dengan ibu kandungnya.”Pak Ardi menatap Marco, “Memangnya kamu tahu siapa ibu kandung Calvin?”“Tahu.” jawab Marco, “menantu yang tinggal di rumah Papa, itulah ibu kandung Calvin.”“Maryam ibu kandung Calvin?” Pak Ardi menatap tajam pada Marco, lalu pada Zakki.Anita menukas, “Anaknya Maryam itu meninggal saat lahir! Calvin itu anak Zakki!”“Anaknya Zakki? Brojolnya dari siapa?” tanya Marco, “sudah berkali-kali Papa menanyakan hal itu, tapi kalian tidak bisa menjawabnya, kan? Makanya aku saja yang jawab, ibu kandungnya Calvin adalah Maryam! Kalau kalian merasa benar, ayo kita tes DNA, Calvin dengan Maryam! Jika ternyata tidak cocok, ya sudah, berarti aku yang gila! Silakan kalian ambil aset-asetku, rumah, mobil, motor, jika aku
Maisaroh muncul lagi ke ruang makan, menggendong anaknya pakai kain jarik. Satu tangan menenteng travel bag.“Saya mau pamit, Tuan, Nyonya.”Pak Ardi yang masih menggendong baby Calvin, menatap wanita itu. “Ini anakmu?”“Iya Tuan, umurnya sudah mau sembilan bulan, di mah sudah dikasi makan bubur.”Pak Ardi memberikan segepok uang pada Maisaroh. “Ini untukmu. Terima kasih ya, kamu sudah merawat cucu saya dengan baik.”Maisaroh tersenyum sumringah saat menerima uang itu. “Terima kasih banyak, Tuan. Saya juga senang mengasuh Calvin, dia anak yang sehat dan cakep.” Maisaroh menoleh ke arah Marco yang berdiri di pojok ruang makan. Dia ingat pria muda itu pernah membayari belanjaannya di sebuah minimarket, ketika dirinya sudah tidak punya uang dan tak ada sisa sembako di rumah.“Dia itu putra Tuan?”Pak Ardi menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Maisaroh. “Iya, dia anak saya. Kenapa memangnya?”“Calvin mirip dengan putra Tuan yang di sana.”Penjaga vila muncul, “Saroh, di depan ada taksi, kata
Marco bicara di hadapan Pak Ardi, “Aku tegaskan Pa, bayi yang dikubur di makam keluarga, bukan anakku, bukan anak Maryam, bukan bayi keturunan Wiratama!”“Lantas bayi siapa itu?” Pak Ardi masih bingung.“Bayi orang lain! Sekarang coba Papa tanyakan pada Kang Zakki, karena dia yang bilang kalau bayinya Maryam meninggal saat lahir. Lantas kenapa bayi yang dikubur itu malah bayi orang lain?”“Kenapa Zakki?”Zakki angkat bahu, “Kenapa apanya, Pa? Itu kan, hasil tes palsu! Bisa-bisanya si Marco aja ....”Marco bicara lagi, sebelum Zakki dan Anita membuat ulah lain untuk mengalihkan pikiran Pak Ardi. “Begini Pa, Kang Zakki mesti mengubur seorang bayi, supaya kentara bahwa bayinya Maryam itu sudah meninggal, dan sudah dikubur. Padahal bayi yang dikubur itu bayi orang lain, karena bayinya Maryam sebenarnya masih hidup!”Anita langsung menyambar peluang bicara, sebelum Pak Ardi buka suara. Anita bicara dengan nada yang lembut, seolah membujuk seseorang yang lagi depresi, “Marco, kakak tahu kam
Pak Ardi dan Bu Marianne serentak bergerak menghampiri anak-anaknya, ketika melihat Zakki berteriak kesakitan karena lengannya dipelintir oleh Marco.“Lepaskan Marco! Dia kakakmu!” teriak papanya.Marco melepas pegangannya pada lengan Zakki, dengan cara mendorong. Tentu saja dorongan yang bertenaga, membuat tubuh Zakki jatuh terjengkang ke lantai. Anita menjerit, memegangi tubuh suaminya, lantas dia memarahi Marco.“Kamu itu adik macam apa, Marco? Kang Zakki itu kakak sulungmu, yang selalu melindungi kamu waktu kamu masih kecil! Kang Zakki yang selalu mengalah padamu, bahkan memberikan bengkel dan showroom Black Falcon yang sudah berkembang pesat, untuk tempatmu bekerja. Supaya kamu tidak kelihatan seperti orang yang gagal! Lantas seperti ini cara kamu membalas kebaikan kakakmu? Dengan semena-mena kamu menganiaya kakakmu!”“Kang Zakki yang lebih dulu mau memukul aku. Barusan itu aku hanya membela diri!”Anita masih emosi, “Membela diri itu cukup dengan memghindar saja! Tapi kamu senga
Siang itu Maryam ingin memberi kejutan pada Marco, dengan cara datang ke bengkel tanpa janjian terlebih dahulu. Maryam membawa dimsum ayam buatannya. Biasanya Marco sangat suka makan dimsum ayam itu. Ketika Maryam turun dari taksi di depan bengkel itu, dia melihat seorang wanita muda yang sedang bi
Wanita muda itu berjalan menghampiri Marco, “Maaf, saya yang bikin foto Windy sama Mas. Waktu itu Windy bilang dia butuh difoto bareng cowok ....”“Buat apa?” tanya Marco.“Katanya ada cowok rese yang mengejar-ngejar dia. Windy enggak suka, makanya dia pengin nolak dengan mengaku sudah punya pacar.
Marco sedang berbicara dengan seorang dokter senior di sebuah rumah sakit swasta.Dokter itu berucap, “Paham ya, jika nanti hasil autopsi ini sudah ke luar, hasil itu tidak akan bisa menjadi barang bukti untuk proses hukum.”Marco menjawab, “Iya Dokter. Saya kira saya juga butuh tes DNA terhadap je
Kuncen menceritakan pada Marco tentang permintaan Zakki untuk penggalian makam bayi, kemudian jenazah bayi dikubur lagi dengan dibungkus kain kafan yang tampak masih baru. Kuncen merasa yakin bahwa sosok yang dikubur pertama kali, bukanlah bayi manusia.“Kalau bukan bayi manusia, lantas apa? Kucing







