FAZER LOGINHari itu, saat istirahat kerja, Marco datang ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA, yang menurut dokter sudah dikirim dari rumah sakit besar. Mulanya Marco biasa saja ketika menerima sebuah amplop dari asisten dokter. Kemudian Marco kembali ke mobilnya di halaman parkir.“Bagaimana kalau ....” Marco menggeleng, tidak mau lanjut memikirkan hal buruk. Namun tangannya sedikit gemetar ketika membuka amplop putih panjang yang berisi lembar hasil tes DNA dari bayi yang ada di pemakaman keluarganya. Dia membaca beberapa keterangan yang bahasanya sangat ilmiah, kemudian tiba pada bagian akhir yang tampaknya merupakan kesimpulan dari seluruh tes tersebut.Kesimpulan itu ditulis dalam Bahasa Inggris: “Mr. Marco R. Wiratama is not biological father ....” Marco tidak lanjut membaca, jari jemarinya meremas kertas itu.Ponselnya berdering, dari nomor Maryam.“Ada apa?” tanya Marco.“Bang, aku sudah sampai di bengkel, tapi Abang enggak ada. Aku cari di rumah makan seberang bengkel, enggak ada
Menunggu adalah hal yang paling menjengkelkan. Marco sedang menunggu keluarnya hasil tes DNA dari jenazah bayi. Seminggu telah lewat, Marco telah menelepon pihak rumah sakit, namun jawabannya adalah hasil tes belum ada.Marco berpikir, apapun hasilnya, kondisi bayi tetap menjadi tanda tanya besar. Kenapa hasil autopsi menunjukkan kalau bayi itu sempat bernapas secara normal, namun kemudian mengalami kesulitan bernapas akibat tenggelam di air yang berlumpur? Sebenarnya yang bisa menjawab semua pertanyaan itu adalah Zakki, karena dia yang membawa jenazah bayi untuk dimakamkan. Namun Marco tidak yakin jika Zakki mau menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. Saat ini, satu-satunya cara untuk mencari tahu, adalah dengan melakukan tes medis, yaitu autopsi dan tes DNA. Hasil tes medis tentang jenazah bayi itu akan menjadi dokumen yang punya kekuatan hukum andai nanti perlu membuktikan sesuatu.Hari Minggu Marco libur kerja, dia mengajak Maryam jalan-jalan.“Ke mana, Bang?”“Ke lokasi wisata
Maryam mengaku agak pusing, dan ingin istirahat sebentar. Marco menunjukkan sebuah dipan kecil dengan kasur busa di atasnya. Dipan itu ditaruh di pojok ruangan, terhalang rak yang cukup lebar, sehingga tak terlihat oleh orang yang masuk ke ruangan itu. Maryam berbaring di atas dipan, dan Marco kembali ke kursinya.Kemunculan Windy di bengkel, menerbitkan kembali rasa cemburu dan curiga di hati Maryam. Barusan memang Windy sudah pergi, dan Marco baru muncul setelah Windy pergi. Namun Maryam ingin tahu, ingin membuktikan, jika mereka ada hubungan, maka akan ada yang menelepon. Maryam berbaring sembari mendengarkan suara Marco. Beberapa kali memang terdengar Marco menjawab telepon, ataupun menelepon, tapi percakapannya hanya seputar urusan bengkel.Maryam berpikir, tidak semestinya dia terus saja curiga dan cemburu pada suaminya. Kemudian dia melihat Marco menengoknya.“Kamu enggak tidur?”“Enggak bisa tidur.”“Di sini memang berisik sama suara motor. Eh, kamu mau makan sate? Aku pesan y
Siang itu Maryam ingin memberi kejutan pada Marco, dengan cara datang ke bengkel tanpa janjian terlebih dahulu. Maryam membawa dimsum ayam buatannya. Biasanya Marco sangat suka makan dimsum ayam itu. Ketika Maryam turun dari taksi di depan bengkel itu, dia melihat seorang wanita muda yang sedang bicara dengan supervisor.“Saya tadi sudah janjian dengan Bang Marco, lewat telepon. Katanya dia ada di kantornya. Saya sudah datang, tolong dong, kasi tahu ke bos kalian. Barusan saya sudah coba hubungi nomornya, tapi lagi enggak aktif.”“Bang Marco lagi enggak ada di sini, Kak.”“Tapi sekitar dua jam lalu saya teleponan dengan dia, katanya dia lagi ada di bengkel ini. Kita sudah janjian ketemu di sini, ada yang mau saya omongkan sama dia, penting banget.”“Iya, memang tadi pagi Bang Marco datang ke bengkel sini, tapi kemudian pergi lagi.”“Ke mana?”“Tidak tahu Kak, mungkin ke bengkel Black Falcon yang lain. Bos kan, memang suka keliling ke bengkel-bengkelnya. Atau mungkin ke showroom, kare
Marco membaca hasil autopsi, dan menemukan kata “Asfiksia” sebagai penyebab kematian bayi. Marco lantas mengambil ponsel, mencari arti kata tersebut di google.“Kondisi gawat darurat akibat tubuh kekurangan oksigen. Asfiksia bisa disebabkan oleh tersedak, tercekik, tenggelam, penyakit asma, overdosis obat tertentu. Asfiksia pada bayi baru lahir terjadi karena bayi tidak bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, ditandai dengan bayi yang tidak menangis ....”Marco termenung, sedang menimbang-nimbang, apakah dia perlu memperlihatkan hasil autopsi itu kepada Maryam? Masalahnya, Marco masih penasaran, apakah bayi yang dilahirkan Maryam, menangis waktu lahir? Atau tidak? Maryam pasti masih bisa mendengar suara di sekitarnya, walau dia menjalani operasi caesar. Jika Maryam tidak mendengar suara tangis bayi, berarti benar bayi itu tiada karena asfiksia.“Terus, kenapa bayi lain bisa menangis, sedangkan bayiku tidak?” pikir Marco lagi, dia melihat salah satu penyebab asfiksia
Wanita muda itu berjalan menghampiri Marco, “Maaf, saya yang bikin foto Windy sama Mas. Waktu itu Windy bilang dia butuh difoto bareng cowok ....”“Buat apa?” tanya Marco.“Katanya ada cowok rese yang mengejar-ngejar dia. Windy enggak suka, makanya dia pengin nolak dengan mengaku sudah punya pacar.”“Mestinya dia jangan bawa-bawa saya!” Marco geleng kepala, “Windy tahu saya sudah punya istri. Kalau dia iseng-iseng mengunggah foto bersama saya, itu seperti mau bikin masalah dalam rumah tangga saya.”“Iya Mas, eh Bos, nanti saya omongkan sama si Windy, rumahnya dekat dengan saya.”“Lain kali, kalau ada yang minta kamu bikin foto pria dan wanita, pikir ulang! Siapa tahu foto yang kamu bikin bisa membuat rumah tangga orang rusak!”“Iya Bos, maaf.”Pemilik rumah makan juga menegur pegawainya itu. “Lain kali kalau sedang kerja, jangan nyambi bikin foto!”Pelayan itu menunduk. “Maaf Pak, tapi kalau ada customer yang pengin berfoto di rumah makan ini, dan minta difotoin sama pegawai di sini,
Maryam tidak sanggup berkata-kata tatkala atasan Marco menyampaikan berita bahwa Marco hilang di pedalaman wilayah timur, ada kemungkinan karena diculik oleh kelompok separatis.“Masalah seperti ini harus diberitahukan kepada keluarga Marco, maksud saya, kedua orang tua Marco, jika mereka masih ada
Lelaki itu biasa dipanggil Don, atau Kakak Don. Mulanya dia bekerja sebagai pelayan toko bahan makanan, di pasar tradisional. Dia melihat majikannya kerap dipalak, para pedagang lain juga dimintai uang keamanan, oleh segelintir orang yang berlagak sok jago. Waktu berlalu, Don punya beberapa rekan,
Pukul tujuh pagi, seorang petugas dari bandara mendatangi hotel tempat pilot menginap semalam.Petugas bandara itu bicara, “Sekarang ini sudah waktunya berangkat, Mister Anthony. Beberapa penumpang bilang, mereka harus segera tiba di bandara besar, karena harus berobat. Rumah sakit di sini merujuk
Suara alarm telah membuat para tamu yang menginap di hotel kecil itu bergegas ke luar kamar, karena khawatir ada kebakaran. Ada duapuluh orang tamu yang sedang menginap, semua seolah berlomba lari ke luar hotel. Setelah beberapa meter menjauh dari bangunan hotel, mereka berbalik badan, menatap bang







