LOGINSudah hampir jam makan siang. Pak Franky tiba-tiba masuk ke ruangan kerjaku.
Aku begitu canggung menghadapinya karena baru kali ini dia menghampiriku sehingga beberapa staf kantor di sekitarku langsung berbisik-bisik. "Ada apa ya, Pak?" Aku berdiri dari posisi dudukku. Dengan cepat tangannya menekan bahuku pelan agar aku duduk kembali. "Duduklah. Jangan merasa tegang. Aku ke sini hanya ingin mengucapkan selamat atas kehamilan keduamu." Ucapan itu terdengar biasa, tetapi entah kenapa aku menangkap sesuatu yang berbeda di matanya. Ada kilatan kecewa yang muncul sesaat lalu menghilang begitu saja. Aku tertegun. Dari mana dia tau aku hamil? Aku memang beberapa hari terakhir sering mual dan bolak-balik ke toilet. Mungkin kabar itu sudah menyebar tanpa kusadari. "Terima kasih, Pak." "Apa kamu bahagia?” tanyanya tiba-tiba matanya menatapku dalam. Aku mengernyit. "Tentu saja.” Untuk sesaat wajahnya terlihat menegang. Lalu dia mengangguk pelan. "Ya... tentu." Jawaban itu terdengar biasa, tetapi sorot matanya tidak. "Jangan paksa dirimu bekerja terlalu keras. Aku akan menyetujui surat izinmu kapan pun diperlukan." "Tatapannya terlalu lama bertahan di wajahku hingga membuatku tidak nyaman. Aku teringat pesan yang dia kirim ke nomorku semalam. "Kamu nggak jawab panggilanku, ada apa denganmu Karin? Jangan membuatku khawatir. Banyak dokumen laporan belum sampai ke mejaku.” begitu pesannya semalam. Aku menjawab: “Ini sudah malam pak, jangan bilang Bapak sedang mengkhawatirkan dokumen yang belum sampai di meja bapak. Besok hari libur. Urusan dokumen Senin aja ya pak.” Kemudian kuhapus pesan dan ku switch off ponselku. Aku menunduk, berpura-pura merapikan dokumen. Meski usianya lebih tua lima tahun dari Aldo, pembawaannya membuat perbedaan usia itu nyaris tak terlihat. Ia selalu tampil rapi, tenang, tampan dan berwibawa. Mungkin itulah alasan banyak perempuan di kantor diam-diam mengaguminya. "Aku dengar kamu tetap lembur minggu lalu." "Oh, hanya menyelesaikan laporan, Pak." "Kamu sedang hamil. Prioritasmu harus berubah." Aku tersenyum tipis. Kalimat itu terdengar seperti nasihat seorang atasan. Namun entah kenapa nada suaranya membuatku merasa seperti sedang dipedulikan secara pribadi. Dan itu membuatku semakin tidak nyaman. Dari balik kaca ruangan, aku melihat beberapa teman kerja melirik ke arah kami. Rani dan Kiki yang biasanya enggan untuk fotokopi dokumen, tiba-tiba sibuk bolak-balik didepan mesin fotocopy yang ada di depan ruanganku. Seketika perasaanku makin gelisah. Aku tidak suka menjadi bahan pembicaraan. Terlebih lagi aku sudah menikah. "Biar kuantar kamu pulang. Kamu terlihat sangat lelah." Tanpa menunggu jawaban, Pak Franky mulai mengumpulkan beberapa berkas di mejaku. Aku langsung bangkit. "Tidak perlu, Pak." "Kamu pucat." "Saya baik-baik saja pak" Namun saat berdiri, pandanganku tiba-tiba berkunang-kunang. Rasa mual menyerang begitu cepat hingga aku kembali terduduk. Franky terlihat panik. "Karin!" Aku memejamkan mata beberapa detik. "Maaf, Pak. Mungkin hanya masuk angin." "Apakah aroma parfumku mengganggumu?" tanyanya sambil menjauh sedikit. Aku menggeleng. Tapi yang membuatku gugup justru bukan aroma parfumnya. Melainkan perhatian berlebihan yang ia tunjukkan. Perhatian yang mulai membuat orang-orang salah paham. Saat aku kembali membuka mata, kulihat beberapa staff lain ikut nimbrung di dekat mesin fotokopi. Mereka pura-pura sibuk, tetapi jelas memperhatikan ruangan ini. Biasanya mereka lebih senang menyuruh Galih office boy di kantor ini. Aku bisa membayangkan gosip yang akan beredar setelah ini. Istri orang yang sedang hamil. Atasannya datang sendiri. Berbicara cukup lama. Lalu menawarkan mengantar pulang. Aku tidak ingin namaku menjadi bahan obrolan kantor. "Atau kamu mau kuantar ke rumah sakit?" tanya Pak Franky lagi. Nada suaranya lebih lembut dari sebelumnya. Untuk sesaat aku teringat Aldo. Suamiku mungkin tidak sesering itu mengungkapkan perhatian dengan kata-kata. Tapi aku tahu dia selalu mengkhawatirkanku. Dan hanya itu yang penting. "Nggak usah, Pak. Saya baik-baik saja. Saya masih bisa bekerja." Aku segera menarik kembali berkas-berkas yang sudah dirapikannya. Seolah ingin menciptakan batas yang jelas di antara kami. Untuk beberapa detik, wajah Franky tampak berubah. Ada kekecewaan yang samar. Namun ia segera menyembunyikannya di balik senyum tipis. "Oke. Tapi lain kali jangan sungkan. Katakan apa pun yang kamu butuhkan." Aku hanya mengangguk. Ketika ia berbalik menuju pintu, aku menghela napas lega. Namun sebelum keluar, langkahnya berhenti. Ia menoleh. "Jaga kesehatanmu, Karin." Suaranya terdengar jauh lebih pelan. Tatapannya tertahan cukup lama hingga membuatku kembali merasa tidak nyaman. Lalu ia pergi tanpa menunggu jawabanku. Begitu pintu tertutup, bisik-bisik di luar ruangan langsung terdengar semakin jelas. Aku memijat pelipis. Entah kenapa, firasat buruk tiba-tiba muncul dalam benakku. Rani dan Kiki tetiba menyerbu masuk ke ruang kerjaku, dengan mimik muka takjub mereka celingukan kiri kanan seperti ingin membicarakan sesuatu yg rahasia padaku. "Wow.. Karin, kalian ngobrolin apaan sih? Kok pak Franky deket-deket banget ke kamu kayak orang lagi bisik-bisik." Tanya Rani menyelidik. "Eh, dari pagi kulihat boss kayak uring-uringan gitu tampangnya. Dia kenapa, sih? Kamu tau sesuatu Rin?" Kiki nggak mau kalah kepo. "Jangan bilang aku tau semua urusan boss ya... Aku bukan sekretaris pribadinya. Lagi pula boss kesini cuma mau tanya laporan kalian belum sampai ke mejanya." Balasku menyudahi keingintahuan mereka. "Serius..?" Rani mundur beberapa langkah menyadari update laporan Minggu ini belum terselesaikan. "Hu'um." aku mengangguk. Mujarabnya, Rani langsung kembali dengan teratur ke meja kerjanya. "Laporanku udah kau terima kemarin kan? Jadi apa masih ada rahasia di antara kita?" Kiki tersenyum dengan tatapan menggoda. "Nggak ada yang khusus, dia cuma ucapin selamat ke aku, plus tanyain dokumen dan laporan-laporan yang belum kupegang, dan harus kelar Minggu ini." Jawabku sambil tersenyum dan sedikit berdusta. Memang baru tadi pagi kuberitahu Kiki dan Rani kalau aku sedang hamil anak kedua. Dan ternyata sudah sampai ke telinga Boss. Aku baru saja bernapas lega setelah Rani dan Kiki kembali ke meja masing-masing ketika terdengar ketukan pelan di pintu ruanganku. "Mas?" Aku langsung berdiri. Aldo muncul sambil membawa tas kain kecil yang sangat kukenal. "Aku lewat sini. Sekalian nganter bekal buat kamu. Tadi pagi buru-buru, jadi lupa masukin ke tasmu." Dadaku menghangat. Di tengah kesibukannya mencari pekerjaan, dia masih sempat memikirkan makan siangku. "Mas, makasih ya...." Belum sempat aku mengambil tas itu, suara langkah kaki kembali terdengar dari arah pintu. "Oh, ternyata suamimu sudah datang." Franky berdiri di ambang pintu. Di tangannya ada sebuah map berwarna biru. "Aku hampir lupa. Berkas ini harus kamu pelajari sebelum rapat hari Senin. Tapi tidak usah dikerjakan hari ini. Bawa pulang saja kalau sempat." Aku segera menerima map itu. "Baik, Pak. Terima kasih." Franky lalu menoleh kepada Aldo. "Selamat ya, saya dengar Karin sedang mengandung anak kedua." Aldo mengulurkan tangan sambil tersenyum sopan. Keduanya memang sudah saling mengenal. "Terima kasih, Pak." Keduanya berjabat tangan beberapa detik. Entah hanya perasaanku atau memang benar, senyum Pak Franky tampak sedikit tertahan saat melepaskan jabatan tangan itu. "Jaga Karin baik-baik. Dia terlalu sering memaksakan diri bekerja." Kalimat itu membuatku mendadak canggung. Aku buru-buru menyela. "Pak, saya baik-baik saja." Franky hanya mengangguk pelan, lalu pamit meninggalkan ruangan. Begitu beliau menghilang di balik pintu, aku menoleh kepada Aldo. "Ayo makan bareng dulu, Mas." "Gak usah. Aku masih ada urusan." Jawabannya singkat. Aku terdiam. Biasanya dia selalu menyempatkan diri duduk beberapa menit bersamaku. Kini dia hanya mengusap pelan kepalaku, lalu berbalik melangkah pergi. Seketika mataku menangkap ada satu botol kecil vitamin untuk ibu hamil di atas meja kerjaku dekat map biru yang tadi diberikan Franky untukku. Kapan pak Franky meletakkannya? Apakah bersamaan dengan dia memberikan map biru itu? Dan apakah Aldo melihatnya? Aku berdiri mematung menatap punggungnya. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa berbeda. Mungkin Aldo masih menyimpan kecurigaannya? Tetapi firasatku mengatakan... sejak pertemuan singkat itu, sesuatu mulai berubah.“Sekarang aku minta dengan hormat untuk Mas Aldo, Ibu, dan Sherly... untuk tidak lagi mencampuri urusan pribadiku.”Aldo terdiam.Anisa pun tidak mengatakan sepatah katapun.Sebenarnya aku ingin menjelaskan, namun apa pun yang kukatakan, tidak akan mengubah masa lalu.Dan aku tidak lagi membutuhkan pengakuan mereka untuk menentukan hidupku.Aku sudah terlalu lama merasa harus menjelaskan kepada orang lain mengapa aku pergi dari Aldo.Harus menjelaskan bahwa aku tidak berselingkuh.Padahal sekarang aku sadar...Aku tidak perlu memberikan konfirmasi kepada siapa pun tentang siapa yang akan kupilih untuk menjalani hidupku.Karena yang akan menjalaninya adalah aku.Bukan mereka.Aku menarik napas panjang.Kemudian menatap Aldo dengan tenang.Aku melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.“Ku mohon kalian pergi dari rumah Ibuku.”Aku berhenti sejenak.“Kalau kalian ingin bertemu dengan anak-anak, besok bisa kembali lagi. Kebetulan mereka sedang liburan dengan nenek dan bibinya.”Aldo mena
"Aku tidak pernah berselingkuh.”Suaraku bergetar, tetapi kali ini aku tidak peduli.“Aku tidak pernah meninggalkan Mas Aldo demi Pak Franky.”Mas Aldo menatapku tanpa berkedip.Aku melanjutkan dengan suara yang lebih tenang.“Aku pergi karena pernikahan kita sudah terlalu lama membuatku merasa tidak dihargai. Aku lelah terus-menerus dicurigai, disalahkan, dan dipaksa bertahan dalam keadaan yang perlahan membuatku kehilangan diriku sendiri.”Air mataku kembali jatuh.“Tapi aku tidak pernah mengkhianati Mas Aldo.”“Bohong…”Sherly menggeleng cepat.Aku menatapnya.“Kalau kamu masih ingin menuduhku, silakan. Tapi kali ini aku tidak akan diam.”Sherly terdiam.Aku mengalihkan pandangan kepada Mas Aldo.“Dan Mas…”Aku menarik napas dalam-dalam.“Aku tidak mau kembali.”Wajahnya seketika berubah.“Aku sudah terlalu lama berusaha menyelamatkan pernikahan kita. Sekarang, aku hanya ingin menyelamatkan diriku sendiri.”Mas Aldo tampak kehilangan kata-kata.Aku kemudian menatap Anisa.“Bu, kala
Aku tidak tahu mengapa hanya dengan melihat kedatangan Pak Franky, dadaku yang sejak tadi terasa sesak tiba-tiba sedikit lebih lega.Aku tidak lagi merasa sendirian.Sepertinya beliau menyadari sesuatu sedang terjadi hanya dengan melihat dua mobil terparkir di halaman rumah ibuku.Mobil Mas Aldo.Dan satu lagi mobil milik Sherly.Pak Irwan berjalan beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya langsung menyapu ruang tamu, kemudian berhenti pada Aldo yang masih berdiri dengan pipi memerah bekas tamparan.Pak Franky sendiri tidak mengatakan apa-apa.Aku melihat sorot matanya berubah tipis.“Kamu tidak apa-apa, Karin?”Suara Pak Franky terdengar tenang.Aku menggeleng, tetapi mataku justru mulai panas.Aku tidak ingin menangis di hadapannya.Namun semua yang sejak tadi kutahan seolah runtuh begitu mendengar suaranya.Anisa mendengus.“Bagus sekali. Orang yang kita bicarakan akhirnya datang juga.”Aku menoleh.Pak Franky tetap diam.“Ini laki-laki yang selama ini membuat rumah tangga anak s
"Aku ingin kita kembali.”Dadaku terasa sesak.Namun kali ini bukan karena rindu.Lebih karena aku tidak menyangka dia masih bisa mengatakan kalimat itu setelah semuanya yang terjadi.Aku sedang sendirian di rumah ketika suara ketukan terdengar dari depan.Ibu sedang pergi bersama Dinda, Alka, dan Kenzie. Mereka sengaja mengajak anak-anak berlibur beberapa hari agar rumah tidak terlalu sepi.Aku mengira mereka sudah pulang.Namun begitu pintu kubuka, langkahku langsung terhenti.Mas Aldo.Dia berdiri di depan rumah dengan wajah yang sulit kubaca."Aku akan memperbaiki kesalahanku padamu."Aku menggeleng pelan.“Sudah tidak bisa, Mas.”“Kenapa tidak?”“Kita sudah bercerai.”“Kita bisa menikah lagi.”Aku menatapnya.“Mas sudah menjatuhkan talak tiga kepadaku.”Wajahnya berubah.“Aku tahu.”Mas Aldo masuk dan duduk di ruang tamu.Aku memilih duduk berseberangan dengannya.Ada jarak yang cukup jauh di antara kami.Dulu, jarak seperti itu mungkin tidak berarti apa-apa.Sekarang, justru ter
“Saya bukan Boss kamu lagi.”Wajahnya mendekat.Aku seketika membeku.Jarak kami yang tiba-tiba menjadi dekat membuat jantungku berdegup lebih cepat. Senyum tipis di sudut bibirnya justru membuatku semakin sulit berkata-kata.“Panggil saya sesukamu, tapi jangan Bapak,” bisiknya. “Saya masih seusia mantan suamimu.”Aku menelan ludah.Entah kenapa, hanya mengganti satu panggilan sederhana terasa begitu sulit.Selama bertahun-tahun, aku terbiasa memanggilnya Pak Franky. Ada jarak yang selalu kujaga di antara kami.Namun sekarang…Beliau justru sedang memintaku menghilangkan jarak itu.Aku hanya mengangguk kecil.Pak Franky tersenyum.“Kalau mau, panggil saya Sayang.”Aku langsung menatapnya.“Cinta.”Beliau terkekeh melihat ekspresiku.Wajahku pasti sudah memerah.“Bapak ini…”Alisnya terangkat.“Katanya jangan panggil Bapak.”Aku langsung terdiam.Beliau tertawa pelan.“Kalau begitu, panggil saya Mas. Seperti kebanyakan panggilan laki-laki di sini.”Aku menarik napas.“Iya, Pak…”Aku be
“Sekarang kamu bisa minta apa saja dariku, Karin.”Suara Mas Aldo terdengar dari seberang telepon.“Kamu mau rumah baru? Mobil mewah? Tas mahal? Atau apa pun yang kamu inginkan, aku sudah bisa memenuhi semuanya.”Aku terdiam.Beberapa tahun lalu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatku bahagia.Dulu aku pernah berharap Mas Aldo mendapatkan pekerjaan yang baik. Bukan demi rumah mewah atau barang mahal, tetapi karena aku ingin melihatnya bangkit. Aku ingin suamiku memiliki kehidupan yang membuatnya bangga.Namun sekarang, ketika semua yang dulu dia impikan sudah bisa dimilikinya, hatiku justru terasa biasa saja.“Simpan saja untuk kebutuhan anak-anak kita nanti, Mas.”Aku menjawab pelan.“Aku tidak butuh semua itu darimu.”“Karin…”“Aku harus pergi. Kenzie sedang mencariku.”Aku segera mengakhiri telepon sebelum percakapan itu semakin panjang.Ponselku masih berada di tangan ketika aku menghampiri Kenzie kecilku.Untuk apa Mas Aldo memamerkan keberhasilannya sekarang?Aku tidak perna







