Compartilhar

Bab 88 - Rindu Pulang.

last update Data de publicação: 2026-08-05 12:30:50

Aku tidak bertanya ketika Mas Aldo mengatakan ingin mengambil motornya di rumah Sherly.

“Motorku masih di sana,” katanya singkat sambil mengambil kunci.

Aku hanya mengangguk.

Tidak ada lagi pertanyaan, tidak ada lagi permintaan agar beliau segera pulang. Entah sejak kapan aku berhenti mencari penjelasan. Mungkin sejak menyadari bahwa penjelasan yang dipaksakan hanya akan melahirkan kebohongan baru.

Beliau pergi setelah dzuhur.

Aku mengantar Alka ke sekolah, menjemputnya saat siang, lalu mengaja
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    Bab 117 - Untuk pak Irwan yang selalu ada.

    Dan malam itu, tanpa kusadari, sesuatu di dalam diriku mulai berubah.Bukan rasa cintaku kepada Aldo yang tiba-tiba hilang.Aku memang sudah sendiri sejak waktu yang lama. Sejak aku memutuskan membantu suamiku untuk menutupi kebutuhan hidup. Mengapa baru sekarang aku menyadarinya. Ketika ada seseorang yang tepat datang mendampinginya dan membawanya kepada sebuah kesuksesan. Akhirnya aku tak berarti apa-apa dimatanya. Tak terasa airmataku menetes.“Kak, ada Pak Irwan.”Aku segera menghapus air mataku.“Pak Irwan?”Dinda mengangguk.“Beliau datang menjenguk.”Aku sedikit terkejut.Aku tidak menyangka Pak Irwan akan datang langsung ke rumah sakit secepat ini.Aku merapikan posisi dudukku ketika beliau masuk ke ruang rawat bersama Ibu.“Bagaimana keadaan Ibu sekarang?” tanya Pak Irwan.“Sudah lebih baik, Pak.”“Syukurlah.”Pak Irwan menarik kursi dan duduk di dekat tempat tidurku. Kami berbincang sebentar tentang kecelakaan yang kualami dan kondisi kesehatanku."Kemungkinan pak Franky ak

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    Bab 116 - Kecelakaan

    Dinda..!"Jariku mencengkeram baju bagian pinggangnya. Motor oleng.Dalam hitungan detik, keseimbangan kami hilang.Dinda terjatuh ke sisi sawah, sementara tubuhku terlempar ke arah jalan.Kepalaku membentur sesuatu.Masih kudengar suara Dinda memanggil-manggil namaku."Kak Karin..bangun kak.."Setelah itu, semuanya terasa gelap.Aku tidak pernah membayangkan sebuah perjalanan bisa membuat keluargaku panik setengah mati.Semuanya terjadi begitu cepat.Aku hanya mengingat suara rem yang berdecit, tubuhku yang terlempar, lalu rasa nyeri hebat di bagian perut.Setelah itu semuanya gelap.Ketika membuka mata, hal pertama yang kulakukan adalah memegang perutku.“Bayiku...”Suaraku bahkan nyaris tidak terdengar.Dinda yang duduk di samping tempat tidur langsung berdiri.“Kak!”Aku menatapnya dengan pandangan kabur.“Bayiku gimana?”Dinda menggenggam tanganku erat.“Dokter masih memeriksa, Kak. Jangan banyak bergerak dulu.”Aku bisa melihat matanya sembap.Ibu berdiri tidak jauh dari tempat

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    Bab 115 - Surat dari Pengadilan.

    “Sidang pertama akan dilaksanakan pada hari Senin...”Suara Dinda dari ruang tamu membuat jantungku berdegup.Aku yang sedang melipat pakaian Alka segera meletakkannya, lalu keluar dari kamar.“Siapa, Din?”“Kak...”Suara kami nyaris bersamaan.Dinda menatapku dengan wajah serba salah. Tangannya masih memegang sebuah amplop.“Maaf, Kak. Aku lancang membukanya. Surat ini dari Pengadilan Agama.”Aku langsung mengambil surat itu dari tangannya.Begitu melihat kop surat di bagian atas, langkahku terhenti.Pengadilan Agama.Tanganku mulai terasa dingin.“Mas Aldo?”Dinda hanya mengangguk kaku.Saat itu Ibu keluar dari dapur. Namun, begitu melihatku dan surat di tanganku, langkahnya ikut terhenti. Tangannya masih menggenggam ujung celemek.Aku tidak mengatakan apa-apa.Aku kembali menatap surat itu, lalu duduk di sofa.Mataku jatuh pada nama yang tercetak jelas di sana.Pemohon: Aldo Satria.Termohon: Karin Adelia.Dadaku terasa sesak.Jadi, selama lebih dari tiga bulan tidak ada kabar dari

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    Bab 114 - Pesan yang meninggalkan luka

    Ibu menarikku ke dalam pelukannya.“Kalau nanti Mas Aldo benar-benar memilih pergi, kamu tidak harus langsung tahu harus melakukan apa.”Aku menangis di bahunya.“Kalau nanti kamu belum siap memikirkan laki-laki lain, tidak apa-apa.”Tanganku mencengkeram ujung pakaian Ibu.“Kalau kamu masih mencintai suamimu, tidak apa-apa.”Ibu mengusap rambutku.“Dan kalau suatu hari nanti hatimu berubah, itu juga bukan sesuatu yang harus kamu putuskan hari ini.”Aku terisak.“Jadi sekarang aku harus bagaimana, Bu?”Ibu mencium keningku.“Pulanglah dulu kepada dirimu sendiri.”Aku terdiam.“Jangan memilih siapa pun karena sedang terluka,” lanjut Ibu lembut. “Jangan bertahan karena takut sendirian. Dan jangan menerima seseorang hanya karena dia datang ketika orang lain pergi.”Aku memejamkan mata.Untuk pertama kalinya hari itu, dadaku terasa sedikit lebih ringan.Karena mungkin Ibu benar.Aku tidak harus menjawab semuanya hari ini.Malam itu, setelah Ibu dan Dinda meninggalkan kamar, aku masih dudu

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    Bab 113 - Patah hati Chintya

    Tiba-tiba terdengar suara kursi bergeser di belakangku.Aku menoleh.Mas Arga berdiri beberapa langkah dari meja kerjaku.Entah sejak kapan dia berada di sana.Tatapannya tertuju kepadaku.Aku buru-buru berdiri dan menjauh sedikit dari meja.“Bu Chintya, saya harus.. ”“Silakan.”Namun sebelum telepon benar-benar berakhir, suara Chintya terdengar sekali lagi.“Dan satu hal, Karin.”“Iya?”“Jangan merasa dirimu terlalu suci hanya karena kamu tidak pernah mengaku menyukai Pak Franky.”Aku terdiam.“Aku sudah patah hati cukup lama.”Suaranya nyaris berbisik.“Jadi sekarang aku tidak punya alasan lagi untuk melindungi perasaanmu.”Telepon terputus.Aku menatap layar ponsel.Lama.Aku bahkan tidak tahu harus merasa marah, sedih, atau bingung.Mas Arga masih berdiri di sana.“Karin…”Aku mengangkat wajah.“Mas?”“Tadi… orang kantormu?”Aku mengangguk pelan.“Dia bicara apa?”Aku tidak langsung menjawab.Aku tidak ingin menyeret Mas Arga ke dalam persoalan kantor yang bahkan belum sepenuhnya

  • Mencintaimu Untuk Kedua Kalinya    Bab 112 - Pengakuan Chintya.

    Aku segera mengumpulkan berkas-berkas yang diberikan Mas Arga kepadaku.Beberapa di antaranya berisi laporan lama, proposal yang harus diperiksa, dan beberapa dokumen yang masih harus kupelajari. Pekerjaan yang selama ini kutinggalkan sejenak karena cuti, kini kembali memenuhi meja di depanku.Aneh.Rasanya seperti kembali ke kehidupan yang pernah kukenal, tetapi dengan perasaan yang berbeda.“Yang ini nanti kita pakai untuk bahan pengajuan,” kata Mas Arga sambil menunjuk sebuah berkas.Aku mengangguk.“Kalau yang ini?”“Itu laporan kegiatan bulan lalu. Nanti kamu pelajari dulu. Kalau ada yang tidak dimengerti, tanya saya.”“Baik, Mas.”“Jangan terlalu tegang.”Aku tersenyum kecil.“Saya masih menyesuaikan diri.”“Wajar. Besok juga sudah terbiasa.”Mas Arga kemudian mengenalkanku kepada beberapa staf koperasi.Mereka menyambutku dengan ramah. Tidak ada tatapan aneh. Tidak ada bisik-bisik. Tidak ada pertanyaan tentang mengapa aku tiba-tiba bekerja di tempat ini.Sederhana.Dan justru k

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status