LOGINShaynala bersama William dan Arsen segera dilarikan ke rumah sakit. Kalea dan Ginna yang pergi mendampingi. Sementara Hamish dan Stephen yang datang belakangan tak kemana-mana. Masih di sana menunggui komplotan itu terbangun. Tak peduli meski di sana sudah ada pihak kepolisian yang sedang mengurus kasus tersebut. Baik Hamish ataupun Stephen tak ada yang bicara. Keduanya terlalu syok mendapati anak-anak mereka menjadi korban tindak kriminal. Hidup yang selama ini tenang tiba-tiba saja diguncang dengan kejadian itu. “Tuan.” Jordi mendekat. “Apa yang kamu temukan?” tanya Hamish tanpa menoleh. Matanya masih awas memperhatikan para polisi yang sedang mengeluarkan komplotan itu dari dalam van. Salah satu dari mereka sudah sadar dan rupanya ada terluka di bagian rahang. Tinggal dua yang masih dalam pengaruh obat bius. “Ayahnya Arsen. Ternyata istri barunya itu … Natalia Gwenita Kirana.” Hamish mengerutkan dahi. “Terus?” “Tuan, pantas saja saya tak pernah ketemu pas Nyonya Kalea memin
Jordi berlari. Menyusul Hamish yang sedang berada di tengah lapangan golf bersama kolega-koleganya. Tak peduli meski ia mendapat tatapan mencela dari beberapa orang karena menyela di tengah-tengah obrolan penting.“Ada apa?” Hamish mengerutkan dahi. Perasaannya langsung tak enak hanya dengan melihat ekspresi wajah asisten pribadinya itu.Ia sudah sangat mengenal Jordi. Kabar yang dibawa pastilah berita buruk.“Maaf, Pak. Saya menyela sebentar. Ada hal urgent.” Jordi segera mendekat dan membisiki Hamish.“APAAA?” Hamish berteriak sangat lantang membuat orang-orang di sekelilingnya terlonjak kaget.“Saya sudah melacak ponsel Nala. Lokasi sudah ditemukan,” ucap Jordi lagi.“Siapkan mobil! Lapor polisi. Hubungi Stephen!” Hamish langsung memberikan stick golfnya pada seorang caddy.Ia hendak pergi begitu saja, lalu berputar lagi untuk menyampaikan permintaan maaf. Ia terangkan secara singkat keadaan putrinya pada para kolega.Setelahnya, ia berlari-lari menuju golf cart dengan jantung yang
Shaynala gemetaran dan meletakkan kepala pria itu ke lantai van agar tak menimbulkan suara gedebuk keras.Ia semprot lagi sapu tangan itu, lalu berjongkok, mengendap mendekati bangku sopir. Jantungnya serasa hendak meledak saking berdebarnya. Takut jika si pengemudi van yang sedang asyik bertelepon ria dengan kekasihnya itu menengok atau pun melirik spion tengah.Andai sopir itu melakukannya, maka barang tentu dalam sedetik aksinya akan diketahui.Shaynala mulai mengangkat tubuhnya persis di belakang bangku pengemudi. Tangannya bergetar saat pelan-pelan tanpa suara mulai mengangkat.Gadis itu tengah berkuda-kuda sambil menghitung momentum. Ia tak boleh meleset. Tangannya harus tepat membekap ke bagian hidung dan mulut.“Arrhh! Siaaal!” Shaynala menggeram dalam hati. Ia langsung merunduk. Kepala si sopir tak bisa diam. Pria itu tengah tertawa senang mendengar ocehan lawan bicaranya.Shaynala kembali mengumpat kala melihat dua orang di luar sana yang sedang memeriksa sekitar sudah mulai
“Aaargghhh!” Arsen berteriak, tetapi teriakannya dengan cepat teredam oleh bekapan tangan pria bermasker. Dan tak sampai beberapa detik, kepala Arsen terkulai begitu saja.“Hah! Arsen? Hey! Siapa kamu? Lepasin dia!” William yang berjalan di depan Arsen yang pertama tersadar. Ia menoleh dan terkejut bukan main.Shaynala yang sedang terburu-buru ikut menoleh dan langsung berteriak. Namun, tak disangka, teriakan mereka malah membuat dua orang lain di dalam mobil berlompatan. Dua orang pria yang tak kalah tinggi besar, sama-sama bermasker, dan mereka langsung membekuk William juga.Shaynala sempat melawan, tetapi karena konsentrasinya terpecah gara-gara melihat William yang juga ikut terkulai seperti Arsen, dengan mudah gadis itu pun diseret ke dalam mobil van tersebut.“Lepasss!” Shaynala mencoba berontak, tetapi salah seorang dari mereka membekapnya dengan sebuah kain kecil yang rupanya terselip di telapak tangan.Shaynala merasa pusing dan dalam sekejap semuanya menjadi gelap. Meski be
“Arsen.” Kalea memanggil Arsen. Anak itu telah kembali dari ruang olahraga. Menjadi yang pertama, baru setelahnya William dan Shaynala menyusul.“Tadi, mama tirimu menelepon. Maaf tante lancang mengangkatnya karena tante kira bisa membuat mama tirimu tenang.”Arsen tertegun. Dia menatap ponsel yang disodorkan oleh Kalea.“Tak apa, Tante. Tak diangkat pun sebenarnya tak apa-apa. Tak akan ada bedanya. Kalau suasana hatinya buruk, dia tetap akan mengadu pada papaku. Mau aku berbuat baik atau buruk. Kecuali kalau dia sedang senang. Dia tak akan peduli. Dia hanya peduli padaku kalau sedang menjalankan perintah dari papaku untuk mengurusku. Adikku bahkan tak pernah diurusnya. Sehari-hari hanya sama pangasuh.” Arsen terlihat tak begitu peduli. Remaja jangkung dengan kaus penuh keringat itu kemudian asyik minum dan makan. Dia kelaparan setelah ditempa latihan fisik oleh Hamish.“Apa mama tirimu sebegitu mengerikannya?” tanya William seraya melepas kausnya yang tak kalah basah oleh keringat. S
“APAAAAA?” William langsung melompat dari duduknya.“Nala? Serius? Kamu mau bawa si biang kerok itu ke rumahmu? Kamu mau ngajarin dia tinju?”“Bukan aku yang ajarin. Tapi Papi,” jawab Shaynala.Wiliiam memegangi kepalanya dengan dua tangan. Tak sudi, tak rela, musuh bebuyutannya ujug-ujug masuk ke circle kehidupannya.“Anggap aja kita lagi berbuat amal, Will.”“Tapi … arrrghhh!”Dan tak hanya William yang syok, Kalea pun memberi respon serupa saat Hamish memberitahu perihal Arsen.“Aku tahu rasanya. Aku pernah jadi korban kekerasan ayahku. Dan kamu pasti yang lebih paham, Lea,” ucap Hamish lembut.Kalea terdiam dan tanpa sadar memeluk perutnya. Ada luka abadi yang ditinggalkan ayahnya di sana.“Kita memang tak seharusnya ikut campur. Tapi dia datang pada anak kita. Meminta tolong,” sambung Hamish.“Tapi bagaimana kalau misal dia sudah menguasai bela diri dia malah memanfaatkannya untuk kejahatan?” tanya Kalea. Jujur saja, dia meragukan Arsen.“Itu di luar wewenang kita, Sayang. Tapi s
Kalea mau tak mau datang mendekat. Kepalanya menunduk dengan jari jemari saling bertaut.“Angkat wajahmu!” perintah Hamish.Kalea mendongak, tetapi tak berani menatap mata pria itu. Apalagi dalam jarak sedekat itu.“Apa kamu selalu seperti itu jika sedang marah?” tanya Hamish.“Seperti apa?” tanya
Kalea mengikuti perintah Hamish. Ia kerjakan seluruh pakerjaannya di hari itu dan segera bersiap-siap menunggu jam satu.Gadis itu memakai dress biru selutut pemberian Hamish. Rambutnya disisir rapi, sengaja diurai dengan jepitan manis tersemat. Wajahnya ia pulas dengan bedak tipis juga liptint che
“Apa?” Sarah yang sedang menggendong Eldan menatap Hamish dan Elias bergantian. Anak dan cucu lelakinya itu mendekatinya dengan wajah-wajah serius.“Ma, Mama yakin mau tinggal di sini?” tanya Elias.“Kalo tak yakin buat apa bicara?” jawab Sarah.“Terus rumah Mama bagaimana? Kosong?” lanjut Elias.“
“Papa?” Stephen terkejut melihat ayahnya yang sudah seperti ikan kehabisan air. Wajahnya merah padam, basah penuh keringat bercampur air mata dengan napas yang megap-megap.Sungguh memprihatinkan kondisi pria berambut tipis hampir botak dengan mata segaris itu.“Aiyaaaaa papanya Steve! Ginna yang m







