Masuk“APAAAAA?” William langsung melompat dari duduknya.“Nala? Serius? Kamu mau bawa si biang kerok itu ke rumahmu? Kamu mau ngajarin dia tinju?”“Bukan aku yang ajarin. Tapi Papi,” jawab Shaynala.Wiliiam memegangi kepalanya dengan dua tangan. Tak sudi, tak rela, musuh bebuyutannya ujug-ujug masuk ke circle kehidupannya.“Anggap aja kita lagi berbuat amal, Will.”“Tapi … arrrghhh!”Dan tak hanya William yang syok, Kalea pun memberi respon serupa saat Hamish memberitahu perihal Arsen.“Aku tahu rasanya. Aku pernah jadi korban kekerasan ayahku. Dan kamu pasti yang lebih paham, Lea,” ucap Hamish lembut.Kalea terdiam dan tanpa sadar memeluk perutnya. Ada luka abadi yang ditinggalkan ayahnya di sana.“Kita memang tak seharusnya ikut campur. Tapi dia datang pada anak kita. Meminta tolong,” sambung Hamish.“Tapi bagaimana kalau misal dia sudah menguasai bela diri dia malah memanfaatkannya untuk kejahatan?” tanya Kalea. Jujur saja, dia meragukan Arsen.“Itu di luar wewenang kita, Sayang. Tapi s
Sudah dua hari ini Arsen selalu diam. Menyendiri.Jika biasanya ia selalu cari perhatian pada shaynala atau juga selalu heboh dengan Kawan-kawan barunya, kali ini remaja itu seperti Tengah membuat dirinya sendiri tak terlihat.Hari-hari hanya dihabiskan seperti orang linglung. Kepalanya pun tak pernah lepas dari topi.Beberapa teman sudah berusaha mendekati, tetapi Arsen selalu menghindar. Seakan-akan tak ingin diganggu siapa pun.Hingga kemudian di suatu sore di klub tinju, di saat Shaynala sedang membalut tangannya dengan handwrap untuk melindungi buku-buku jarinya, Arsen datang dengan dua sarung tinju tersampir di lehernya.“Nala!” panggilnya.Shaynala mendongak dengan dahi mengernyit.“Apa?”“Kamu tahu kan, aku sudah pindah klub. Aku pindah kesini.”Shaynala menatap Arsen, lalu mengedarkan pandangan ke seisi ruangan latihan yang masih sepi. Hanya ada dirinya dan Arsen di sana.“Aku juniormu di sini.”Shaynala menatap Arsen sejenak, lalu melanjutkan memasang hadwrap di tangannya. T
Hamish terkejut bukan main ketika Kalea menceritakan perihal pertemuannya dengan Gwen. Tak pernah terbersit sedikit pun dalam pikirannya jikalau wanita dari masa lalunya itu akan datang bergentayangan kembali di sekitarnya.“Kamu serius itu Gwen? Salah lihat mungkin,” ujar Hamish. Menatap istrinya yang repot-repot datang ke kantor sepulang mengantar sekolah demi untuk membahas hal tersebut.“Mana mungkin aku salah lihat! Aku gak akan pernah lupa dengan perempuan bernama Gwen!” Kalea sangat ngotot.“Kamu harus selidiki ini. Aku takut dia kembali karena sengaja. Kamu yang paling tahu, seberapa nekat dia di masa lalu, bukan? Aku takut dia datang ingin mengganggu lagi kehidupan kita. Aku tak mau dia mengusik anak-anak.”“Itu tak akan terjadi,” sahut Hamish yakin.“Tapi siapa yang tahu? Apa jangan-jangan dia punya anak di sekolah itu?” jantung Kalea mencelos. Belum selesai persoalan Arsen yang kini satu sekolah dengan putrinya, kini sudah ada lagi masalah baru.Hamish mendekat, lalu mengus
“Bagaimana, Bro?” tanya Malvin. Penasaran. Ia melangkah buru-buru. Menjejeri William yang sejak tadi berjalan celingukan di depan gerbang sekolah.William sedang mencari Shaynala. Pagi ini, keduanya sudah tak pergi sekolah bersama lagi. Dia diantar Stephen sekalian berangkat ke rumah sakit.“Apanya?” balas William.“Nala, lah!”William langsung berbalik dan menyeringai pada Malvin.“Beri aku tips lagi, Vin. Idemu yang kemarin sukses. Nala terus saja menatapku.” William terkekeh kegeeran sendiri.“Benarkah?” tanya Malvin senang.“Ya! Ayo, sekarang katakan padaku. Aku harus apa lagi?”Malvin berseru girang penuh semangat. Demi tiket nonton sepak bola final Piala Asia di Jepang akhir tahun nanti ia akan membantu William sepenuh hati.Malvin sudah hendak memberi petuah. Tetapi mulutnya kembali mengatup karena persis di depan matanya, sebuah mobil sedan sedan hitam berhenti. Dan dari sana turun seorang Arsen.“Nanti saja di kelas,” ucap William seraya menatap Arsen yang membanting pintu mo
William tak henti menggeram. Marah. Baru tahu kalau Arsen pindah ke sekolahnya. Dan ia sangat benci melihat Arsen yang terus cari-cari perhatian pada Shaynala.Ia kesal bukan main ketika melihat Shaynala lewat depan kelasnya membawa setumpuk buku dengan Arsen di sisi gadis itu, membantu.“Kamu punya saingan sekarang, Bro!” Malvin, Kawan sekelas William yang sama-sama satu klub sains membisiki.“Saingan apa maksudnya?”Malvin tertawa seraya membetulkan kacamata tebalnya.“Seisi sekolah juga tahu kalau kamu dekat sama Nala. Seisi sekolah juga tahu kalau kamu suka sama dia.”William langsung menatap Malvin.“Emang sejelas itu?” tanyanya dengan napas tertahan.“Astagaa! Masak kamu gak sadar? Percuma kamu juara OSN mulu! Otak mana otak! Gak dipake!” Malvin geleng-geleng sambil menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri.“Kamu harus secepatnya jadian sama Nala sebelum direbut si Arsen-Arsen itu! Perempuan itu biasanya lama-lama luluh sama cowok-cowok yang pantang mundur. Dan kulihat-lihat, si Arsen
“Ada apa?” Hamish bertanya dengan raut bingung. Ia kira ketika menjemput Kalea di bandara, istrinya itu akan bersikap manis, tersenyum cerah, dan memberinya ciuman bertubi-tubi.Nyatanya, Kalea datang dengan muka ditekuk tujuh. Berjalan cepat dengan tubuh hampir tersental-sental.“Kamu kenapa, Lea? Mami Sayang? Kamu gak peluk aku dulu?” Hamish merentangkan kedua tangan.Kalea menghela napas. Baru tersadar sepenuhnya setelah sebelumnya isi kepalanya hanya tentang sekolah Shaynala dan William. Ia begitu memikirkan nasib keduanya setelah tahu ada Arsen yang tiba-tiba pindah kesana. Sunggung menjengkelkan! Berani sekali anak itu mengusik ketentraman sekolah anaknya.“Kamu tahu, gak? Si anak jahat itu sekarang pindah ke sekolah Nala dan Willy, Pi.” Kalea malah langsung membahas hal itu. Sudah tak tahan lagi ingin segera mendiskusikan hal tersebut dengan Hamish.“Apa? Serius?”Kalea mengangguk cemas dan nyerocos tanpa bisa direm. Menjelaskan detail pertemuannya dengan ibu dari Arsen.“Oke.
Hamish berhenti sejenak di depan gerbang. Turun dari mobil untuk sekadar melihat tukang kebunnya yang sedang membereskan taman depan tersebut.“Menurutmu, ini ada yang sengaja siram pake cairan kimia?” tanya Hamish pada tukang kebunnya. Pria itu berkacak pinggang menatap tumpukan aneka tanaman yang
Kalea dan Hamish tersenyum lebar sambil memamerkan cincin pernikahan mereka di depan kamera fotografer. Beberapa jepretan foto sudah diambil untuk mengabadikan momen sakral tersebut.“Selamat, Bro! Aaah! Senang sekali. Rasanya seperti mimpi bisa melihatmu menikah, Bro!” Stephen yang setia menjadi s
Kalea tercenung, sendirian di kursi teras kedai kopinya. Malam sudah mulai larut dan ia masih di sana.Perutnya yang semula lapar perlahan terlupakan. Ia masih memikirkan penawaran Elias.“Sepertinya, hubunganmu dan Hamish tak sesederhana antara pelayan dan tuannya. Benar begitu? Dan saya merasa ka
“Anda yakin, Tuan?”Sebuah pertanyaan yang sudah dilontarkan Jordi pada Hamish untuk yang kelima kalinya.Hamish melirik tajam kaki tangannya itu, lelah dengan pertanyaan yang sama.“Tapi Nona Gwen sudah begitu lama dengan Anda. Dia bahkan yang paling Anda ingat, Tuan. Satu-satunya yang Anda ingat







