Masuk"Berhenti menatapku!"Aurelia akhirnya menyerah, mengibaskan tangannya di depan wajah dengan panik. Belum ada satu menit Caleb mengunci pandangan matanya, rasa gelisah luar biasa sudah menyergap dadanya. Matanya bergerak liar ke kiri, ke kanan, ke atas, membuang pandangan ke mana saja asal tidak bertabrakan dengan manik mata biru suaminya.Caleb mengangguk pelan tanpa mengikis jarak. "Baiklah."Aurelia seketika melotot, menatap wajah datar pria di atasnya dengan nada kesal yang membuncah. "Kenapa kau bisa sepatuh itu?!"Caleb menaikkan sebelah alisnya, merespons dengan intonasi rendah yang sangat tenang. "Jika memang itu membuatmu senang, kenapa tidak? Bukankah sikap patuh ini yang kau inginkan dariku?"Aurelia terdiam kaku untuk beberapa saat. Ia menghela napas panjang, meratapi sikap kaku suaminya yang terlampau formal."Kau jadi sama sekali tidak menarik lagi jika begini, Caleb," ujar Aurelia akhirnya seraya bangkit dari paha tegap suaminya. "Kau bergerak dan menjawab persis sepert
"Bisa kau jelaskan apa yang baru saja kau lakukan, Aureli?"Suara Caleb bergetar rendah, mendayu begitu erat hingga meremangkan bulu kuduk Aurelia. Pria itu menghentikan bacaannya seketika, menundukkan kepala demi mengunci tatapan tepat pada iris mata istrinya.Aurelia merutuki kecerobohannya dalam hati. Beberapa saat lalu usai menyantap habis bekal makan siang, ia merogoh tas tangannya untuk mengeluarkan sebuah novel bergaris tebal. Ia menyerahkan buku itu pada Caleb. Caleb menerima benda tersebut dengan kening berkerut kaku, menampakkan raut bingung yang amat kentara.Tanpa meminta izin, Aurelia langsung merebahkan kepalanya santai di atas paha tegap suaminya. Ia menyunggingkan senyum manis, menikmati kepanikan halus yang membayang di paras tampan sang suami.Caleb mengudara buku itu di antara mereka. "Apa yang kau ingin aku lakukan dengan novel ini, Aureli?"Aurelia mendongak, menyahut dengan nada manja yang sengaja ia buat-buat. "Aku sangat penasaran dengan jalan cerita dan akhir
"Duduklah di sini."Caleb mengibaskan tikar piknik berbahan kain tebal di atas rumput hijau taman kota. Pria itu menyapu bersih sisa ranting dan daun kering sebelum menepuk permukaan tikar, mempersilakan istrinya duduk.Aurelia menyunggingkan senyum manis yang merekah sempurna. "Terima kasih, Caleb."Wanita itu mendaratkan tubuhnya dengan anggun, menata gaun mewahnya seraya menatap cemas raut kaku suaminya. Jantungnya berdetak cepat. Ia bertekad memanfaatkan momen piknik ini demi meluluhkan kembali sikap dingin Caleb.Sementara itu, Caleb mendudukkan tubuh tegapnya di samping Aurelia dengan gaya sok cuek. Pria itu membuang pandangan ke arah telaga, berpura-pura bersikap dingin dan tidak tersentuh. Padahal di dalam hatinya, dadanya bergemuruh bahagia melihat tingkah manis dan perhatian ekstra yang dilimpahkan istrinya sepanjang hari. Ia sengaja menahan diri agar bisa menikmati lebih banyak manja dan usaha Aurelia untuk merebut hatinya.Namun kekhawatiran halus tetap menyelusup di benak
Aurelia melangkah percaya diri membelah lobi gedung Hamilton Corp. Para karyawan membungkuk hormat menyapa sang nyonya besar. Langkah kakinya bergegas memasuki lift khusus eksekutif, membawa keranjang bekal yang ia siapkan sendiri dari rumah. Ia bermaksud mewujudkan salah satu poin dalam daftar kencan mereka, piknik kecil dan makan siang bersama di taman kota.Niat manis itu seketika menguap begitu pintu ruang kerja suaminya terbuka. Hidung Aurelia kembang kempis menghirup aroma parfum menyengat yang memenuhi ruangan. Pandangannya menangkap sosok Mora, sedang membungkuk menempel begitu dekat di samping meja kerja Caleb untuk berdiskusi. Caleb bahkan tidak menyadari ketukan pintunya sampai Aurelia berdeham keras.Caleb menoleh cepat. Raut terkejut sempat terpatri di wajah tegasnya untuk sepersekian detik sebelum berganti dengan binar tenang."Oh, kau datang, Aureli?" gumam Caleb seraya membetulkan letak jasnya. "Duduklah dulu. Aku menyelesaikan berkas pekerjaan ini sebentar lagi."
"Kau pikir kau siapa, Julian?! Kau tidak bisa mendatangkan wanita lain lalu mencampakkanku begitu saja!"Jerit histeris Serena penuh keramahan. Wanita itu melemparkan vas bunga porselen hingga hancur berkeping-keping di atas lantai marmer.Julian berdiri tegap di tengah ruangan, membetulkan letak dasinya dengan raut wajah jijik tak terhingga. "Tutup mulutmu, Serena! Aku sudah muak mendengar rengekan konyolmu!"Keduanya mendadak membisu kaku saat menyadari sosok tegap Caleb melangkah masuk membelah pintu utama. Langkah kaki Caleb bergaung dingin. Serena seketika menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menyatukan pandangan dengan sang kakak."Ada apa sebenarnya di sini?" tuntut Caleb dengan intonasi rendah menakutkan, menatap tajam ke arah dua insan di depannya.Serena meremas jemarinya yang gemetar hebat, memaksakan suara parau meluncur dari bibirnya. "Julian ingin bercerai... karena aku memergokinya berselingkuh!"Rahang Caleb mengetat keras hingga garis ototnya tercetak j
"Apa aku perlu bicara langsung padanya?" cetus Barbara dengan nada prihatin, menatap ke arah Aurelia usai mendengar rentetan kejadian mengerikan yang menimpa rumah tangga sahabatnya itu.Aurelia menggelengkan kepala dengan raut wajah kaku. "Tidak perlu," pangkas Aurelia cepat.Aurelia memutar pena di atas meja kerjanya. "Setelah acara makan siang kemarin, Caleb kembali mengurung diri di ruang kerjanya dan tidak keluar lagi. Pagi ini aku bahkan belum melihat batang hidungnya sama sekali di rumah."Aurelia menghembuskan napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kulit. Ia sadar betul bahwa kondisi pernikahan yang baru ia benahi ini sedang berada dalam titik masa kritis yang sangat membahayakan. Namun ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan hubungan suci itu kandas begitu saja di tengah jalan."Caleb pria yang sangat rasional," tambah Aurelia seraya menatap lurus mata Barbara. "Dia hanya akan mempercayai apa yang dilihat oleh matanya sendiri."
Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi
“Aku sudah selesai.” Aurelia berdiri sebelum benar-benar menghabiskan makanannya. Nasi di piringnya masih tersisa. Ia tidak sanggup berlama-lama di meja itu, tidak dengan Caleb duduk di seberang, tidak dengan cara pria itu menyebut namanya seolah memiliki makna lain. Clarissa menatap heran. “Ka
Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.







