Bibi yang membantu mengurus rumahnya mengetuk pintu. Nevan mempersilahkannya masuk. Wanita paruh baya itu membawa obat dan air minum dalam satu nampan.“Kata Ibu sudah waktunya Bapak minum obat,” ucap bibi menyimpan nampan itu di nakas.“Ibu hubungin Bibi?” tanya Nevan.“Betul. Barusan sekali.”Nevan menyambar ponselnya yang sudah ia lempar ke bawah kakinya karena kesal Ivy tidak kunjung membalas pesan-pesannya. Pria itu mendesah, pesannya belum dibalas, tapi mengapa Ivy malah menghubungi si Bibi.“Kalau gitu Bibi permisi.” Bibi keluar dari kamar Nevan membawa nampannya setelah Nevan mengangguk dengan wajah cemberut.Ia melongok jam di dinding, sudah mau jam tiga sore. Tangan Nevan terulur untuk meraih air minum dan obatnya, agar nanti Ivy akan marah jika ia tidak meminum obatnya. Lagi pula, berbaring di tempat tidur seperti ini membuatnya merasa bosan. Apalagi Ivy tidak ada. Ia harus segera sembuh. Belum sempat Nevan menggenggam gelas air minum, ia mendapatkan notifikasi pesan. Buru-
“Nevan?”Kerumunan orang-orang itu menatap Ivy iba. Sementara Ivy merasa hidupnya terasa runtuh seketika. Air matanya terurai, kerongkongannya terasa tercekat. Kakinya terasa berat hanya untuk menggapai pintu mobil Nevan.Sore itu hujan semakin deras, sama derasnya dengan tangis Ivy. Perempuan berkemeja putih sudah yang basah kuyup itu mengetuk-ngetuk kaca mobil berharap Nevan masih dalam keadaan sadar dan segera membukakan pintunya. Orang-orang yang menyaksikan seolah tidak memiliki empati, hanya meluangkan waktu untuk menonton “adegan” dramatis di tengah hujan.Ivy memanggil-manggil nama Nevan. Berulang kali, hingga rasanya suaranya akan habis. Di sela kepanikannya ia menelepon ambulan.“Nevan? Kamu di dalem? Buka pintunya sayang. Ini aku.” Isak tangis Ivy akhirnya membuah kan hasil. Pintu mobil mendadak bisa di buka. Ia yakin ini bukan suatu keajaiban seperti di dongeng-dongeng, Nevan pasti baik-baik saja sehingga ia masih bisa membuka kan pintu mobil untuknya.Ivy segera masuk. Wa
“Selamat pagi Bu Ivy.”“Selamat pagi.”Sial, pagi pagi begini Ivy sudah harus bertemu dengan Manda. Apakah ini kualat dari Nevan karena ia tidak menuruti perintah suaminya untuk tidak bekerja? Kedua wanita itu di dalam lift yang sama. Hening, tidak ada yang mulai bicara lagi. Lagi pula mereka tidak begitu akrab untuk sekedar basa-basi. Pun dengan Ivy yang berdoa agar Manda tetap diam dan jangan mengajaknya bicara.Lift terbuka, Ivy keluar lebih dulu. Tapi baru satu langkah ia keluar dari lift ia kembali berbalik, berkata,”Nevan hari ini gak masuk.”Manda tidak bereaksi, tapi setelahnya ia membalas,”Pak Nevan punya nomor saya. Kenapa lewat kamu?”Ivy mengangkat bahunya. “Menurut kamu saya tau jawabannya?”Mereka saling tatap beberapa saat. Seolah saling mengintimidasi satu sama lain. Ivy kembali berbalik, meninggalkan Manda yang dalam bersamaan pintu liftnya tertutup.**Baru pukul sepuluh pagi, ponsel Ivy sudah mendapatkan panggilan teror dari Nevan. Ivy sengaja tidak mengangkat telep
“Menurut lo gue harus gimana sekarang?” Unmesh menoleh. Laju mobilnya praktis melambat ketika Manda menanyakan pertanyaan itu. Tangannya yang terbebas menopang pelipisnya dengan telunjuk, bersandar pada jendela mobil.“Lo mau tau kenapa selama ini gue gak ngasih tau kalau Nevan ada hubungan sama Ivy?”Tidak ada jababan tapi mata Ivy tidak berpaling dari Unmesh, hanya dengan begitu pria itu paham. Dan melanjutkan perkataannya, “mereka udah nikah.” Ia menoleh hanya ingin melihat reaksi Manda akan seperti apa. Tapi sepertinya dugaanya salah, Manda seolah sudah tahu dan hanya tersenyum simetris.“Gue juga gak sebodoh itu. Gue yakin Nevan sama Ivy punya hubungan. Tapi gue masih belum nemu jawaban kenapa mereka rahasiain hubungan mereka?”Mobil mengkilap Unmesh berbelok, jalanan sore ini tidak terlalu padat. Mungkin karena sebentar lagi akan hujan sehingga orang-orang berantisipasi untuk tetep tinggal di rumah daripada harus bergelut dengan dinginnya udara saat hujan.“Mereka gak pernah sal
Wajah Nevan berseri-seri, ia tidak ragu menggenggam tangan Ivy setelah mereka turun dari mobil dan menyerahkan kunci mobilnya kepada satpam. Namun, Ivy bukan orang yang seperti Nevan, mudah terbiasa dengan suatu perubahan. Ia akan memikirkan banyak kemungkinan dalam kepalanya. Lain kali Ivy harus belajar kepada Nevan soal jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain selama kita nyaman menjalaninya.Nanti malam, mungkin.“Pagi-pagi udah senyum-senyum gitu, abis ngapain lo.” Unmesh menyamakan langkah Nevan dan Ivy, seolah paham Ivy memberi ruang untuk dua pria yang sudah sahabatan bertahun-tahun itu. Perempuan itu melambatkan langkahnya agar berada di belakang Nevan dan Unmesh. Tapi Nevan tidak membiarkannya, tangannya menelusup ke pinggang Ivy supaya istrinya itu tetap berada di sampingnya.“Kalo gue cemberut, berarti kerja lo gak becus,” seloroh Nevan. Unmesh tertawa.“Gila, gue shok waktu lo tiba-tiba marah sama gue. Gue nyadar si kerja gue agak kurang di proyek ini. Tapi denger lo
“Ivy!”“Apa?”Nevan menyusul istrinya dengan amarah yang sudah memuncak. Tapi melihat wajah Ivy yang lelah dan matanya yang sudah sembab amarahnya langsung redam berganti dengan rasa kasihan. Nevan menghela napas panjang. Ia mengelus puncak kepala Ivy.“Kamu bersih-bersih dulu, terus kita makan, setelah itu kita lanjutin ngobrol lagi,” kata Nevan.Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Ivy masuk ke dalam kamar dan langsung membersihkan diri. Sembari menunggu Ivy selesai mandi, Nevan merebahkan tubuhnya di sofa. Menyugar rambutnya frustrasi.Pukul satu malam Ivy keluar dari kamar membawa selimut dan satu bantal. Nevan yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk mendadak menghentikan aktivitasnya itu. Mereka tidak jadi makan, sebab Ivy mengatakan jika dirinya sudah makan. Pun Nevan yang sudah tidak bisa lama-lama perang dingin dengan istrinya.Ivy duduk di sofa single, mengabaikan Nevan seolah pria itu tidak ada di sana. Rambutnya bahkan belum dia keringkan. Nevan jadi heran, kenapa Iv