LOGIN"Sumpah ya kalo dalam sehari ini gagal kawin kedua kalinya, enggak pake kawin-kawinan aja. Jadi perawan tua juga enggak masalah. Hidupku udah game over." °°°~°°° Bagaimana rasanya saat pernikahanmu batal di hari H? Kenyataan jika calon suami mu tiba-tiba hilang ditelan bumi tanpa jejak. Ririn Haryani, wanita yang mengaku sebagai independen women harus mengalami hal itu. Disaat darurat, datang seorang pahlawan kesiangan dengan sejuta kekonyolan yang membuat dia ragu akan kata 'nikah'. Bagaimana kisah pernikahan Ririn? Batalkah atau pahlawan kesiangannya benar-benar serius untuk menikahinya?
View More"Aaaahh!"
Teriakan keras seorang wanita membuat seluruh istana diselimuti kegugupan serta panik luar biasa.
Satu jam berlalu semenjak kontraksi Ratu Elena. Namun, buah hatinya belum juga menghadap dunia. Rambutnya dipenuhi keringat akibat kesakitan yang luar biasa. Ratu Elena meremas seprei di kedua tangannya, juga dengan sebuah kain tebal yang digigitnya sebagai pelampiasan dari rasa sakit yang amat luar biasa. Hembusan-hembusan nafas ia keluarkan dengan kasar, lalu menghirup udara lagi dengan pelan, begitu seterusnya selama satu jam.
Tiba-tiba di tengah kegentingan para tabib pintu besar terbuka. Seorang pria gagah memasuki kamar persalinan bersama seorang nenek tua yang bungkuk. Para tabib sontak berdiri lalu menunduk untuk memberi salam.
"Ratuku ...." Sang Raja menghampiri Ratu Elena yang melemah. Membelai surai hitam yang basah dengan keringat. Kesedihan nampak begitu jelas di matanya.
"Rajaku Theodor ... ini sangat menyakitkan," lirih Elena. Ia menjerit lagi ketika merasakan kontraksi yang begitu hebat. Air matanya kembali mengalir seiring dengan rasa sakit yang semakin menjadi.
Raja Theodor mundur selangkah ketika para tabib menangani istrinya. Dia menghampiri nenek tua yang bungkuk.
"Hunak," panggil raja Theodor, "apakah ramalanmu akan lahir hari ini?"
Hunak, si nenek tua bungkuk mengamati Ratu Elena dalam diam. Kemudian, dia berjalan pelan dengan bantuan tongkatnya menuju jendela besar di ruangan itu.
"Yang mulia. Lihatlah langit hitam itu," kata Hunak.
Raja Theodor pun melihat langit. Namun, bukan langit hitam seperti kata Hunak, melainkan langit biru yang indah. "Aku tidak melihat langit hitam di tengah-tengah langit cerah itu---"
"Arah barat," potong Hunak.
Sang Raja pun mengarahkan matanya ke arah barat, dan ... benar. Perlahan-lahan awan hitam menutup langit indah di kerjaan Axton yang makmur itu. Sinar matahari menjadi redup hingga membuat seluruh kerajaan dilanda kegelapan yang menakutkan. Seiring dengan itu, kesakitan Ratu Elena juga semakin dashyat. Dia berada dalam jurang kematian.
"Kekuatan paling besar akan segera tiba. Tunggu dan saksikanlah, Raja Theodor," ujar Hunak pelan.
Laki-laki berjubah emas itu menghampiri istrinya dengan cemas. Digenggam dan diciumnya tangan istrinya. Tidak peduli lagi dengan tangan yang serasa remuk akibat genggaman Elena. Jika saja ia bisa memindahkan rasa sakit wanita anggun itu ke dalam tubuhnya, ia akan sangat bersedia. Namun, sayangnya kekuatannya tidak berguna untuk situasi seperti ini.
"Aaaahh! Sakit ... sakiiit! Cepat keluar! Ini menyakitkan ..." jerit Elena. Sakit yang dirasakannya membuat orang-orang di dalam ruangan itu meringis seakan ikut merasakan apa yang dia rasakan.
Tubuh Elena gemetar. Dia menggigit bibirnya hingga berdarah. Hunak tahu, bahwa Elena sudah tidak mampu untuk melanjutkan persalinan. Namun, ia masih menunggu sedikit waktu lagi. Langit sudah sepenuhnya menghitam, dan seiring dengan itu jeritan kembali terdengar.
"Oek ... oek ... oek ...."
Tangisan makhluk kecil yang lemah itu mengakhiri teriakan Elena. Semua orang begitu terkejut dan terharu. Raja Theodor yang menyaksikan peristiwa menegangkan itu ikut dibuat terharu bahkan meneteskan air mata. Dia memeluk Elena dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Sedangkan Elena, dia tersenyum dalam deraian air mata bahagia.
"Yang Mulia, dia laki-laki yang tampan dan kuat," kata seorang tabib perempuan, lalu menyerahkan sang bayi yang telah berselimut kain berwarna kuning kepada Elena.
Elena tetap menggendong bayinya, padahal tenaganya begitu lemah. Dia membelai wajah putih kemerahan itu dengan tangan dingin yang gemetar.
"Kau adalah pemberian Tuhan untuk ayahmu dan kami semua. Kau adalah kesakitan dan kebahagiaanku. Laki-laki kuat, berani, dan percaya diri adalah anakku, Zein Brylee!" ucap Elena.
Bukan hanya orang-orang dalam istana yang bersorak, tapi juga seluruh rakyat Axton. Mereka bertepuk tangan ketika mendengar nama pangeran mereka. Kekuatan yang dimiliki ratu sangat unik. Dia dapat membuat suaranya didengar oleh siapapun yang ia kehendaki, walau sejauh apa pun orang itu.
Raja Theodor mengambil alih Zein. Mendekap bayi itu dengan penuh cinta.
"Ratu Elena?" Seorang tabib berusia setengah abad segera memeriksa kondisi Elena. Dia tak lagi menemukan adanya kehangatan dalam tubuh wanita dua anak itu ketika memeriksa pergelangan tangannya.
Mata lelah yang sembab itu sudah menutup. Tersenyum kecil sebelum akhirnya meninggalkan dunia dengan rasa sakit yang teramat. Suasana bahagia dengan cepat tergeser, kesedihan menyelimuti hati setiap orang.
Raja Theodor dengan rasa tidak percayanya mengguncang keras tubuh istrinya. Berteriak histeris ketika tak lagi merasakan pergerakan di tubuh kurus itu.
"Istriku ... Ratuku! Kau tidak boleh meninggalkan aku dan anak-anakmu seperti ini!"
•••
Amerika Serikat, Washington, 25 Desember 2020.
Seorang gadis berdiri di depan cermin lebar. Dia berdecak kagum melihat wajahnya yang indah tanpa cacat sedikitpun. wajah kecil, hidung kecil dengan batang tinggi, bibir berbentuk hati, serta mata bulat yang besar. Gadis ini berdarah Amerika China, tapi wajahnya lebih dominan ke ibunya yang berasal dari negeri bambu, China.
"Aku paling suka mataku. Bukankah ini paling indah?" gumamnya.
Ia sedikit merapikan rambut hitam bergelombang miliknya. Konsernya akan dimulai 25 menit lagi. Dia sangat gugup walau ini adalah konser yang ketiga kalinya.
"Zenia Mecca!"
Zenia berbalik dan menemukan seorang gadis seusianya tengah berdiri di pintu.
"Melisa?" Zenia menghampiri gadis berbalut hoodie sepanjang lutut itu.
"Wah! Kau sempurna malam ini!" puji Melisa.
Zenia tersenyum kikuk. Dia selalu salah tingkah ketika dipuji walaupun itu sudah menjadi asupannya setiap waktu
"Aku senang kau menghadiri konserku malam ini," kata Zenia senang.
"Tentu saja aku hadir. Hampir seluruh mahasiswa di kampus kita adalah penggemarmu," ujar Melisa.
Zenia semakin malu dan salah tingkah. Pipinya kian memerah seiring dengan pujian-pujian Melisa yang membabi buta.
Zenia adalah penyanyi berbakat yang sedang naik daun. Usianya yang masih 18 tahun menjadikannya penyanyi termuda yang meraih banyak prestasi di kancah permusikan. Selain itu, Zenia juga memiliki IQ di atas rata-rata yang membuatnya kuliah lebih awal dibanding teman-teman sebayanya.
Setelah perbincangan berakhir, Melisa kemudian pergi ke kursi penonton dan menyisakan Zenia bersama tata riasnya di dalam ruangan.
Sorak-sorakan penonton menggema ketika Zenia berjalan ke atas panggung. Lampu sorot serta dukungan angin semilir membuat rambut indah gadis itu melambai-lambai. Pemandangan itu sukses membuat mata semua orang tak dapat terlepas dari dirinya.
"Zenia! Zenia! Zenia!" Ribuan penonton menyoraki namanya. Itu membuatnya semakin bersemangat.
Alunan musik mulai terputar. Kata-kata indah penuh makna ditumpahkan Zenia lewat lirik lagunya.
Sungguh, Zenia seperti seorang dewi malam ini.
•••"Aku terkejut kau ada di sini. Apa kau mulai menyukai keramaian dan keributan?" kata seorang perempuan di samping Zein.
Zein, laki-laki itu tersenyum remeh. Dia tidak akan pernah menyukai suasana seperti ini.
"Aku tidak tertarik dengan situasi seperti ini. Lirik dan nada lagu itu sangat membosankan, kecuali ..." Zein menjeda kalimatnya. Dia memperhatikan Zenia yang sedang melambai-lambai kepada penggemarnya. "Gadis itu ... aku tertarik padanya," lanjut Zein.
Naomi sedikit terkejut. Dia ikut memperhatikan Zenia yang tampak anggun dengan gaun biru selutut. Ya, gadis kecil itu memang sangat menarik.
"Astaga, aku terharu." Naomi sedikit tertawa.
Zein melihat Naomi sebentar, lalu pandangannya kembali lagi kepada gadis cantik yang sedang bernyanyi di atas panggung.
"Jadi ... Zenia Mecca akan menjadia awal kekuatan terbesarmu?" tanya Naomi.
Zein mengangguk pelan. "Akan kupastikan dia mengandung anakku. Secepatnya. Nantikan saja."
Zein sama sekali tidak peduli akan sekitar ketika mengatakan itu. Mungkin pria dewasa ini lupa kalau mereka berada di tengah-tengah ribuan penggemar. Beruntung saja, suara-suara penggemar yang mengikuti alunan musik membuat suaranya seakan tertelan.
Liat hujan di pagi hari dengan kasur tidur yang asing itu agak gimana, ya? Aneh aja begitu tapi tetap syahdu sih. Apalagi harus terbiasa dengan orang lain yang tidur di sebelah kamu, tangannya aktif banget sentuh sana sini. Geli? Iya. Apalagi risih? Iya banget. Tapi mau gimana lagi, ini yang ngelakuin suami sendiri. "Udah bangun 'kan?" Tanya Ilham yang terdengar serak sekali di telinga kiriku, dan jangan lupakan tangan aktifnya yang sudah melingkar erat pada pinggangku. Eits, jangan lupa jemarinya yang aktif mengusap perutku ini. Ilham mengecup sisi kepalaku, dan menyadarkan kepalanya pada kepala ranjang besar miliknya. "Aku kemarin pengen banget jajan ke pasar," kataku yang masih menatap hujan di pagi hari, bukannya reda malah tambah deras. Behhh, syahdu banget ditambah bikin badan ini malas bergerak. Tidur cantik di atas kasur aja rasanya. "Mau pergi sekarang?" "Hujan," "Pake mobil, aku keluarin mobilnya," katanya yang menatapku lekat. Aku menggeleng pelan dan membalas t
Acara unduh mantun di rumah Ilham dilaksanakan dua Minggu setelah pernikahan mendadak kami. Tentu saja, surat-surat pernikahan kami yang diurus secara express oleh Ilham juga hampir selesai. Jadi, kita secara sah dan resmi menjadi suami istri. Cieelahhh... sold out juga sih aku. Hmmm.... Unduh mantu di rumah Ilham dilakukan secara siap, padahal pernikahan kami dilakukan secara mendadak banget. Beberapa jam sebelum ijab kabul. Tapi, tak kusangka keluarga Ilham menyiapkan acara unduh mantu untukku dengan baik. "Kamu mau jajan apa?" tanya Oma yang duduk di ambang pintu kamar yang digunakan untuk menyimpan jajanan seserahan unduh mantu dari orangtuaku dan juga beberapa kerabat keluarga Ilham yang datang. "Apa aja sih, Oma," jawabku yang duduk di sebelah Oma setelah menemani Mamah Anna, mertuaku menemui para tamu yang datang. "Oma ambilkan buat kamu makan di dalam kamar," katanya yang memasukkan beberapa jajanan me dalam kardus berwarna cokelat. "Kalo lapar, minta budhe-budhe
Apa katanya? Penyemburan jampi-jampi bermodal Al Fatihah doang bisa buat aku sadar? Sadar apaan? Dari bau jigong dia, pake dikumur-kumur dulu baru disemburin ke wajahku. Iya, langsung ke wajahku. Ehh, inget kejadian itu, pengen banget aku pijek-pijek Ilham. Alhasil, aku ngondok ke dia selama dua hari. Aku childish? Enggak, mana ada yang enggak ngondok disembur air kumuran mulut, bau banget lagi. Kalau sampe besok ada berita koran keluar judulnya 'Nikah sehari, istri memutilasi suami karena semburan jigong' itu adalah aku. Iya, itu aku sangking keselnya sama Ilham. Aku dengan senyum sendiri dikata kesurupan. Mana ada kesurupan modelan aku begini? Enggak level banget dong. Dan setelah seminggu saling ngodok. Bukan, tapi cuman aku doang yang ngondok, enggak mau ngomong sama Ilham. Dia malah enggak ngerasa banget kalo istrinya lagi ngambek, entah kurang peka atau enggak mau tau aja. "Aygong," Aku diam saja mendengar panggilannya, menatap Ilham yang duduk diam di atas kas
Badanku rasanya sakit semua setelah acara unboxing Ilham, rasa kantuk kalah telak dengan demo perutku yang berteriak minta diisi. "Aduh," keluhku akan rasa pegal pada pinggangku. "Ham," "Hmm, lima menit lagi," rancaunya yang malah makin lelap dengan posisi tengkurap, mengekspos punggung liatnya hasil dari olahraga. Kesal. Aku memukul punggungnya itu, "Enggak mau sarapan," Hening. Yang ada malah suara ngoroknya yang makin menjadi. "Ya udah. Aku keluar sendirian," aslinya pengen gitu dia bangun terus ngebujuk manja aku yang lagi merajuk. Tapi, zonk. Ilham makin nyenyak tidurnya. Mendengus kesal, aku memilih meninggalkannya dan mengisi perutku yang emang sejak kemarin pagi belum keisi dengan benar. Salahkan aja si Riko. Emang dia dalangnya yang ngebuat aku kayak orang mau sekarat aja kemarin. Saat berada di dapur, sudah ada Budhe Ja yang sedang menghangatkan rawon sisa kemarin dan nasi yang sudah matang di dalam magic com. "Pengantin baru itu bangunnya enggak sepagi i


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.