LOGINPagi di depan gerbang sekolah selalu terasa lebih ramai daripada yang Aluna bayangkan. Bukan karena suara anak-anak saja, tapi karena orang dewasa yang berkumpul dengan wajah-wajah berbeda. Ada yang penuh semangat, ada yang lelah, ada yang tampak sudah hafal ritmenya. Seragam putih-merah bergerak seperti arus kecil yang tidak pernah berhenti, tas-tas tergantung di punggung mungil, sepatu hitam beradu dengan aspal. Raka, Rama, dan Rajen berdiri di samping Aluna. Rama mencoba terlihat santai, meski pundaknya sedikit tegang. Raka terus menoleh ke kiri dan kanan, mengamati anak-anak lain. Rajen menggenggam ujung baju Aluna sebentar, lalu melepaskannya sendiri. Sebuah keberanian kecil yang Aluna catat tanpa komentar. “Masuk ya,” katanya lembut. Mereka mengangguk. Tidak serempak. Tidak dramatis. Lalu berlari kecil ke dalam halaman sekolah, bergabung dengan kerumunan yang perlahan menelan mereka. Aluna tidak langsung pergi.
Pagi itu, Tama sudah pergi sebelum matahari benar-benar naik.Rumah masih setengah tidur ketika ia menutup kancing terakhir kemejanya. Setrika sudah dingin, lipatan rapi. Jas tergantung di lengannya, beratnya terasa familiar.Ia meneguk kopi cepat, hampir tanpa rasa, hanya untuk memastikan matanya terbuka dan pikirannya bergerak.Ia berjalan pelan melewati lorong. Berhenti di depan pintu kamar anak-anak.Raka, Rama, dan Rajen masih tertidur. Wajah mereka tenang, pipi sedikit memerah, napas kecil teratur. Tama berdiri di ambang pintu lebih lama dari yang ia rencanakan. Matanya menyusuri tiga tubuh kecil itu, satu per satu, seolah ingin menghafal detail yang terlalu sering ia lewatkan.Ia menutup pintu perlahan. Bunyi klik kunci terasa terlalu keras di telinganya sendiri.Di luar, udara pagi dingin. Jalanan masih lengang. Mobil melaju tanpa hambatan. Tama menatap ke depan, pikirannya sudah mulai beralih. Agenda hari ini, rapat berturut-turut, keputusan yang tid
Malam itu, rumah tertidur lebih cepat dari biasanya.Raka, Rama, dan Rajen tidak banyak protes saat lampu dimatikan. Tidak ada permintaan cerita tambahan. Tidak ada tawar-menawar lima menit lagi. Tubuh kecil mereka menyerah lebih cepat, seolah lelah hari itu bukan hanya di otot, tapi juga di sesuatu yang belum mereka pahami.Aluna berdiri lebih lama di depan pintu kamar anak-anak. Ia mendengarkan napas yang sudah teratur, memastikan tidak ada mimpi buruk yang datang diam-diam. Tangannya menyentuh gagang pintu dengan ragu sebelum akhirnya menutupnya pelan.Di ruang tengah, hanya satu lampu yang menyala. Redup. Cukup untuk membentuk bayangan, tidak cukup untuk mengusir sunyi.Tama duduk di sofa, punggungnya sedikit membungkuk, kedua telapak tangannya bertaut di depan. Ia tidak membuka ponsel. Tidak juga menyalakan televisi. Kepalanya penuh, tapi ia tahu, malam ini, tidak ada tempat untuk melarikan diri.Aluna duduk di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak jug
Akhir pekan datang dengan cara yang tidak istimewa.Tidak ada rencana besar. Tidak ada janji yang jauh-jauh hari disusun. Pagi itu hanya dimulai dengan Tama yang menutup ponselnya sebentar dan berkata, “Kita ke mall saja, yuk.”Kalimatnya terdengar ringan. Hampir santai.Aluna menoleh dari dapur, sendok masih di tangannya. Ia ragu—bukan karena tidak ingin, tapi karena tubuhnya masih terbiasa dengan ritme rumah yang sunyi di siang hari. Namun ia melihat ke arah anak-anak. Triplets langsung bereaksi, mata mereka berbinar seolah pintu dunia baru baru saja dibuka.“Mall?”“Yang ada mainannya?”“Yang banyak lampu?”Aluna tersenyum kecil. Ia tahu, belakangan ini mereka jarang pergi bersama. Terlalu banyak hari yang lewat begitu saja, masing-masing sibuk dengan versinya sendiri. Mungkin ini memang perlu.“Boleh,” katanya akhirnya. “Tapi pegangan tangan, ya.”Mall menyambut mereka dengan cahaya.Lampu-lampu putih menggantung tinggi. Etalase toko meman
Pagi itu sudah terasa berbeda bahkan sebelum matahari benar-benar naik. Aluna menyadari saat suara rumah tidak langsung meledak seperti biasa. Tidak ada teriakan berebut kamar mandi. Tidak ada kaki kecil berlari tanpa arah. Suara-suara itu tetap ada tapi tidak terdengar bising. Raka memanggil adiknya, Rama tertawa terlalu keras, dan Rajen mengeluh soal sepatunya. Tapi semuanya terdengar lebih teratur, lebih hati-hati. Seperti anak-anak yang tahu hari ini bukan hari biasa. Seragam mereka sudah rapi sejak malam. Kemeja putih yang masih kaku, celana yang belum sepenuhnya mengikuti bentuk tubuh kecil mereka. Tas-tas yang tergantung di punggung, tampak terlalu besar untuk bahu yang masih sempit. Sepatu hitam mengkilap, solnya bersih, belum banyak mengenal jalan. Aluna berdiri di depan mereka satu per satu. Tangannya bergerak otomatis. Mengecek ke
Malam datang lebih cepat dari yang Aluna sadari.Setelah mandi dan makan malam, triplets kembali menjadi diri mereka yang biasa. Mereka bercanda kecil, saling menyela, lalu mengantuk hampir bersamaan. Rutinitas malam berjalan seperti biasa tanpa hambatan yang berarti. Seolah kejadian sore itu tidak pernah ada.Aluna membantu mereka naik ke tempat tidur. Ia membacakan cerita singkat, dongeng malam yang menjadi rutinitas. Suaranya pelan dan sedikit serak. Tapi tidak membuat triplets protes, bahkan mereka masih mendengarkan dengan tenang. Tidak berselang lama, mata mereka setengah terpejam dengan tangan kecil mereka yang masih menggenggam erat ujung selimut.“Besok boleh main lagi?” tanya Rama memastikan, suaranya hampir tertelan kantuk.“Kita lihat besok, ya,” jawab Aluna lembut.Ia mematikan lampu kamar anak-anak, menutup pintu perlahan, lalu berdiri sebentar di lorong. Rumah terasa tenang, tapi kepalanya masih ramai. Ia mendengar suara Tama di ruang kerja. Pria i







