Selamat Malam 🤍 Terima kasih yang sudah baca, jangan lupa komentar kalian ya 🫶
Mata sipit Kazuya sedikit melebar.“Felicia?”“Ya, nama pemilik kontrakan ini. Ibu yang tadi, Kaz.”Netra Kazuya bergerak ke atas, berusaha mengingat wajah sang pemilik kontrakan. Lalu kembali menatap sang istri.“Benarkah? Aku malah gak tahu. Kalau menurutmu memang seperti itu, ya mungkin saja.” Kazuya kembali memeluk Clay, seolah tak pernah puas.Bibirnya mulai menelusuri lembut ceruk leher sang istri. Wangi parfum vanila yang selalu membuatnya candu. Aroma yang selalu mampu menenangkan hatinya di tengah keterpurukan.Clay terdiam, tubuhnya sempat menegang karena keintiman yang mendadak itu. Namun perlahan melembut, seiring sentuhan Kazuya yang merambat pelan, memancing sesuatu dalam dirinya.Kelopak mata Clay perlahan tertutup, menyerahkan dirinya dalam dekapan pria yang begitu rapuh namun begitu mendominasi.“Ssshhh…Ka-kazuya..” desah Clay di ambang batas kesadaran. Setengah ingin menahan, setengah lagi pasrah dalam gelombang hasrat yang diciptakan Kazuya.Clay tak menolak, namun
“Maaf, apa benar di sini masih ada kontrakan kosong?” Suara Kazuya memecah keheningan.Wanita paruh baya itu tak langsung menjawab, namun tatapannya tak beralih sedikitpun dari pria yang berdiri di depannya.Garis dahi Kazuya mengerut dalam, melihat sikap wanita yang terlihat aneh menurutnya.“Bu..” panggil Kazuya seraya melambaikan tangannya di depan wajah sang pemilik kontrakan, hingga kesadarannya kembali.Wanita itu mengangguk pelan, sebelum akhirnya bersuara.“Masih ada satu kamar kosong, apa kalian mau menyewa?” ucap wanita itu dengan suara terdengar serak.“Kalau boleh, kami mau menyewanya Bu,” jawab Clay santun.Tatapan pemilik kontrakan pun beralih pada Clay. Mata tuanya mengamati Clay dari wajah hingga ujung kaki, menelisik dalam. Sejenak Clay merasa tidak nyaman dengan tatapan itu. Tangannya mengeratkan dalam genggaman Kazuya. “Baiklah, ikut saya! Kamarnya ada di lantai atas,” jawab wanita itu seraya memutar tubuhnya, melangkah ke arah tempat penyimpanan kunci di samping
Empat jam terasa begitu panjang bagi Kazuya. Punggungnya pegal, matanya berat, sementara pikirannya terus bergulat dengan banyak hal. Clay juga terlihat letih, meski berusaha menyembunyikannya dari Kazuya. Begitu bus berhenti di terminal kota tujuan, keduanya bergegas turun. Udara malam menyergap, hawa dingin menusuk tulang. Suasana terminal terlihat masih ramai. Di tengah hiruk pikuk itu, Kazuya menuntun sang istri menuju tempat yang lebih sepi seraya memikirkan langkah selanjutnya.Clay merogoh ponsel dari tas kecilnya, mencari kontak Marisa. Niatnya hanya ingin meminta bantuan Marisa untuk mencarikan kontrakan murah.Namun hingga beberapa kali menelepon, tak ada jawaban. Selama beberapa bulan terakhir, semenjak kepergian Clay yang sangat tiba-tiba, kontak dengan Marisa pun ikut terputus. Saat itu, Clay tak ingin orang lain tahu akan kondisi dan keberadaannya.Nada sambung di ponsel Clay kembali terputus, Marisa tak kunjung mengangkat telepon. Nafas Clay mulai memburu, kegelisahan
Martin akhirnya melangkah ke arah pintu, memutar knop pintu untuk mencari tahu orang yang berada di balik pintu.“Tuan Martin, maafkan saya mengganggu waktu anda. Den Kazuya dan nona Clay, mereka sudah pergi,” ucap Hasan dengan wajah gusar dan nafas tersengal.Martin terdiam. Wajahnya tak berubah, tetap datar dan dingin. Tak ada keterkejutan, tak ada kepanikan, seolah kabar itu bukan hal yang berarti.“Aku sudah tahu,” jawab Martin singkat. Suaranya tenang terkontrol, seakan benar-benar sudah merelakan.Hasan menatapnya heran. “Tuan, apa anda tidak berniat menyusul mereka? Masalahnya mereka pergi dengan berjalan kaki, tidak menggunakan mobil,” tanyanya hati-hati.Martin menggeleng samar, “tidak perlu, biarkan mereka menentukan jalan hidupnya sendiri.”Dengan tenang, Martin menutup kembali pintu kamar. Berdiri membelakangi pintu, tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya kosong, namun hatinya bergemuruh hebat. Martin merasa ada bagian dari dirinya yang ikut
Suara Martin terdengar datar, tapi sorot matanya tajam penuh tanda tanya.“Kami hanya..” Clay berusaha berbicara, menjelaskan namun lidahnya mendadak kelu.Kazuya yang berdiri di sisinya, menoleh singkat padanya sebelum akhirnya kembali menatap Martin.“Kami baru saja akan pergi,” jawab Kazuya melanjutkan ucapan sang istri.Martin hanya menatap dingin, seolah ucapan Kazuya tak berarti untuknya. Dia tak menanggapi, tanpa sepatah katapun Martin bergegas melangkah masuk.Langkah kakinya tegas, bergema di lantai marmer tua, meninggalkan Kazuya dan Clay yang masih terdiam di tempat.Kazuya menahan gejolak amarah dan rasa kecewa yang terus mendesak dalam dada. Sikap Martin yang begitu acuh, menunjukkan jika dirinya tak dianggap lagi di keluarga ini. Dadanya terasa sesak, meski Kazuya sudah terbiasa dengan sikap Martin yang seperti ini, namun kali ini cukup menorehkan luka mendalam di hatinya. Akan tetapi, bagaimana dengan Clay? Bukankah Clay anak kandung Martin? Rasanya itu tak adil untu
“Jika seperti itu, maka aku sudah putuskan tak akan kembali ke rumah anda. Aku akan hidup bersama Kazuya,” tegas Clay lalu mengalihkan tatapannya pada pria di sisinya. Mengisyaratkan Kazuya agar segera membawanya pergi. Angin sore berhembus membawa aroma bunga tabur yang masih segar. Martin berdiri kaku, seperti seseorang yang baru saja kehilangan untuk kedua kalinya. Tanah kuburan ibunya masih basah, dan kini di depan mata putrinya pun menjauh darinya. Hening semakin terasa mencekam ketika kedua anaknya menjauh, hingga tak terlihat lagi di pandangannya. Saat Martin masih tenggelam dalam pikirannya, sebuah tangan menyentuh lembut lengannya. Sentuhan itu begitu tenang, namun mampu membuatnya tersentak keluar dari lamunan. “Saya turut berduka cita, tuan Martin.” Suara wanita itu terdengar halus, namun bergetar seolah ikut larut dalam kesedihan. Martin menatap wajah wanita itu lekat. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ada sesuatu dalam diri wanita itu yang menyalakan bara lama di dal