Beranda / Fantasi / Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi / Bab 4 – Harga dari Jalan Sesat

Share

Bab 4 – Harga dari Jalan Sesat

Penulis: S.E
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 14:38:24

Aku segera merasakan akibatnya.

Teknik yang kupelajari di gua itu tidak memberi hadiah tanpa menuntut bayaran. Setiap kali aku mencoba memutar nyala Qi yang kasar itu, dada kiriku terasa seperti diremas. Napasku tersendat. Kadang penglihatanku mengabur, seolah dunia ditarik menjauh dariku.

Namun aku tetap berlatih.

Aku belajar menahan rasa sakit, memotong latihan saat tubuh hampir runtuh, lalu memulainya lagi saat nyala itu kembali tenang. Tidak ada ukuran benar atau salah. Hanya ada satu batas: hidup atau mati.

Pada hari kesepuluh, aku muntah darah.

Aku terjatuh di tanah basah, lututku lemas. Darah merah gelap menodai daun-daun kering. Untuk sesaat, aku berpikir inilah akhirnya—jalan yang kupilih memang terlalu sempit untuk orang sepertiku.

Tapi aku bangkit.

Aku membasuh wajah di sungai kecil dan menatap pantulanku. Wajahku pucat, mata cekung, tapi di balik itu ada sesuatu yang berbeda. Tatapanku tidak lagi kosong. Ada kehendak yang mengeras.

Malam itu, aku mencium bau darah.

Bukan darahku.

Aku bersembunyi di balik semak dan melihat dua mayat tergeletak di tanah. Pakaian mereka robek oleh senjata tajam. Tidak lama kemudian, tiga pria muncul dari arah berlawanan. Mereka mengenakan pakaian kultivator tingkat rendah—Qi mereka lemah, tapi nyata.

“Cepat,” kata salah satu dari mereka. “Patroli sekte akan lewat.”

Jantungku berdegup keras. Sekte.

Aku menahan napas. Jika mereka menemukanku, aku akan mati. Aku bukan murid. Bukan pengelana. Hanya orang biasa dengan teknik terlarang.

Namun salah satu dari mereka berhenti.

“Di sana,” katanya sambil menatap ke arahku. “Ada seseorang.”

Aku tahu aku tidak bisa lari.

Aku menggenggam kapak tua ayah. Nyala Qi kasar itu bergetar, seolah menantang. Aku melangkah keluar dari persembunyian.

“Orang biasa?” salah satu kultivator mencibir. “Berani berkeliaran di wilayah sekte?”

Aku tidak menjawab.

Serangan datang cepat. Sebilah pedang menyambar. Aku menghindar setengah langkah terlambat. Bilah itu menggores bahuku. Rasa panas menyebar.

Aku membalas.

Kapakku tidak indah. Tidak cepat. Tapi saat kutuangkan nyala Qi itu ke lenganku, tebasanku menjadi berat. Terlalu berat.

Benturan terdengar.

Kultivator itu terlempar mundur, tubuhnya menghantam pohon. Matanya melebar—bukan karena luka, tapi karena tidak mengerti.

Aku tidak memberinya waktu.

Dua lainnya menyerang bersamaan. Aku merasakan nyala Qi itu mengamuk, menggerogoti tubuhku dari dalam. Rasa sakit memuncak, tapi kakiku tetap bergerak.

Saat semuanya berakhir, aku terjatuh berlutut.

Tiga tubuh tergeletak di tanah.

Tanganku gemetar. Bukan karena takut—melainkan karena aku sadar pada satu hal.

Aku telah membunuh kultivator.

Langit pasti akan mengingatnya.

Aku menyeret tubuhku menjauh dari tempat itu, masuk lebih dalam ke hutan. Darah menetes di belakangku, menandai jalanku.

Aku tahu mulai sekarang, aku tidak lagi hanya melawan takdir.

Aku telah melangkah ke jalan yang akan membuatku diburu.

Dan aku tidak menyesal.

Aku belum sempat menenangkan napas setelah darah mengering di tanganku, ketika perasaan diawasi mulai menghantui setiap langkah.

Hutan yang tadinya hanya sunyi kini terasa menyempit, seolah keberadaanku perlahan ditimbang oleh sesuatu yang lebih tinggi. Aku akan belajar bahwa membunuh bukanlah akhir dari akibat, melainkan awal dari bayangan yang mengikuti tanpa suara.

Dan ketika tekanan itu datang tanpa bentuk, aku harus memilih antara bersembunyi seperti orang yang terus melarikan diri, atau bertahan cukup lama untuk memahami bahwa jalan ini tidak hanya menuntut kekuatan—ia menuntut keberanian untuk hidup di bawah tatapan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 29 — Langkah yang Terlalu Jauh

    Tugas itu datang seperti biasa.Tidak ada perintah tertulis. Tidak ada panggilan. Hanya satu ruang kosong dalam alur hari yang secara alami menungguku untuk diisi.Aku berangkat tanpa menunda.Langkah kakiku ringan. Napasku stabil. Bahkan sebelum pikiranku selesai menyusun urutan kerja, tubuhku sudah bergerak lebih dulu, memilih arah, menentukan jarak, dan menyesuaikan ritme.Aku menyadari hal itu namun tidak menghentikannya.Tugasnya sederhana.Menjaga. Memindahkan. Mengantar.Tidak ada kesalahan. Tidak ada hambatan. Segalanya berjalan terlalu mulus, seolah dunia sudah menyiapkan jalur yang tepat agar aku tidak perlu menyesuaikan diri.Biasanya, pada titik tertentu aku akan merasakan tekanan samar tanda bahwa sistem menuntut lebih dari yang seharusnya.Hari ini tidak.Tubuhku mengikuti fungsi tanpa sisa.Saat tugas selesai, aku berdiri sejenak di tempatku berada.Tidak a

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 28 — Yang Diam Lebih Lama

    Tidak ada perintah baru setelah aku memilih jalur itu.Hari-hari berlalu tanpa perubahan mencolok. Tugasku tetap datang dengan cara yang sama tidak dipanggil, tidak diperintah, hanya muncul sebagai kebutuhan yang menungguku mengisinya. Dari luar, semuanya tampak normal.Namun justru ketepatan dunia itulah yang membuatku gelisah.Pintu yang seharusnya tertutup terbuka sebelum aku menyentuhnya. Jalur yang biasanya membutuhkan izin kini bisa kulewati tanpa penjelasan. Bahkan risiko yang seharusnya muncul dalam tugas berbahaya itu terasa bergeser tidak menghilang, hanya dipindahkan ke jarak yang aman.Tidak ada yang membantu secara langsung.Tapi tidak ada pula yang membiarkanku tersandung.Aku pernah merasakan pola seperti ini sebelumnya.Tenang. Terukur. Seolah seseorang telah menimbang langkahku lebih dulu, lalu memilih untuk tidak ikut campur secara terang-terangan.Nama itu muncul singkat di pikiranku.

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 27 — Pilihan yang Tidak Ditawarkan

    Tidak ada yang menyebutnya sebagai pilihan.Dua pesan datang di hari yang sama, dengan nada yang sama, tanpa penekanan apa pun. Keduanya tidak ditujukan langsung kepadaku. Namaku tidak tertulis. Tidak ada panggilan resmi. Namun aku tahu, keduanya disiapkan untukku.Pesan pertama singkat.Tugas rutin di wilayah dalam. Risiko kecil. Waktu panjang. Tidak ada tenggat jelas.Pesan kedua bahkan lebih singkat.Satu tugas. Satu titik. Satu kali masuk.Risikonya tidak dijelaskan.Aku tidak perlu bertanya untuk tahu perbedaannya.Jika aku mengambil yang pertama, aku akan tetap hidup dengan lebih tenang. Tubuhku tidak akan dipaksa melampaui batas dalam waktu dekat. Namun itu berarti keberadaanku akan semakin sering dibutuhkan. Jalur yang kupijak akan menjadi jalur tetap.Jika aku mengambil yang kedua, aku mungkin terluka. Mungkin lebih dari itu. Namun setelah selesai, keterlibatanku akan berkurang. Setidaknya

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 26 — Nama yang Hampir Terucap

    Hari itu berjalan seperti tugas-tugas sebelumnya.Aku menyelesaikan satu pekerjaan kecil di wilayah yang jarang kudatangi. Tidak ada perintah langsung. Tidak ada penjelasan. Seperti biasa, aku hanya mengisi ruang kosong yang sudah menungguku sejak awal hari.Saat pekerjaanku selesai, aku berbalik untuk pergi.Seseorang berbicara.Bukan perintah. Bukan panggilan jelas. Hanya suara singkat dari belakang, ragu, seolah sedang memastikan sesuatu yang belum sepenuhnya ia yakini.Ucapannya terhenti di tengah.Aku tidak menoleh.Aku tahu, jika aku berhenti sekarang, jarak di antara kami akan berubah. Bukan secara fisik, tapi secara makna. Maka aku tetap melangkah, menjaga ritme yang sama, seolah tidak ada apa pun yang hampir terjadi.Namun aku mendengar cukup jelas bagian yang tidak jadi diucapkan.Itu hampir menjadi nama.Bukan julukan. Bukan sebutan fungsi.Nama.Langkahku tida

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 25 — Harga yang Tidak Disebutkan

    Tidak ada yang berubah pada hari-hari setelah retakan itu muncul. Tugas tetap datang dengan ritme yang sama. Tidak lebih sering, tidak pula berkurang. Orang-orang di sekitarku tetap bergerak seperti biasa, seolah tidak ada satu pun pergeseran yang patut dicatat. Dari luar, hidupku terlihat stabil. Justru kestabilan itulah yang membuatku sadar bahwa sesuatu sedang berlangsung tanpa suara. Pada tugas-tugas kecil, aku mulai merasakan perbedaan yang sulit dijelaskan. Gerakan yang dulu terasa ringan kini membutuhkan perhatian lebih. Qi kasarku tetap patuh, namun setiap kali kugerakkan, ada beban tipis yang tertinggal di tubuh. Bukan nyeri yang jelas. Bukan luka. Lebih seperti kelelahan yang tidak sepenuhnya pergi. Aku mencoba mengabaikannya. Aku tetap menjalankan tugas dengan cara yang sama

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 24 — Retakan Pertama

    Perubahan itu tidak datang dari luar.Ia tidak muncul sebagai perintah baru, ancaman, atau tatapan yang berbeda. Dunia tetap bergerak dengan ritme yang sama, dan tugasku tetap datang tanpa variasi berarti.Namun pada suatu tugas rutin, aku menyadari sesuatu yang halus.Saat perintah itu sampai, aku tidak langsung bergerak.Hanya sepersekian napas.Terlalu singkat untuk disebut ragu.Terlalu kecil untuk dianggap penolakan.Namun jeda itu nyata.Qi kasarku tidak langsung mengikuti kehendak seperti biasanya. Ia bergerak sedikit terlambat, seolah menunggu konfirmasi yang sebelumnya tidak pernah dibutuhkan.Aku tetap menjalankan tugas.Gerakanku tidak meleset.Hasilnya tetap rapi.Tidak ada satu pun detail yang bisa disalahkan.Dari luar, tidak ada perbedaan.Tidak ada yang menoleh.Tidak ada yang mencatat.Tidak ada yang bertanya.Perbedaan itu hanya ada d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status