LOGIN"Jelaskan padaku apa maksud perkataan kakek." Rasa ingin tahu membuat Kathrine mendatangi kakeknya. Pernyataan Kakek Hikmawan terkait Nexa Group memiliki hubungan dengan penyebab perceraian mendiang orang tuanya telah mengusik ketenangan Kathrine. Dia penasaran apa yang sebenarnya sudah terjadi di masa lalu. "Semua ini adalah permainan satu orang, Kath. Apa yang terjadi pada Henry hanyalah imbasnya. Sebenarnya yang mereka incar adalah kamu," tutur Kakek Hikmawan masih membuat Kathrine bertanya-tanya. Kathrine terus mendengarkan penuturan kakeknya dengan serius. "Dulu, ayahmu, ibu dan Candra, ayahnya Grace, adalah teman seangkatan di kampus. Bisa dikatakan mereka terlibat cinta segitiga. Candra menyukai ibumu. Tapi ibumu lebih memilih menikah dengan ayahmu. Candra kecewa dan balik memusuhi ayahmu. Hubungan pertemanan mereka rusak. Candra pikir ibumu lebih memilih ayahmu karena keluarga kita kaya dan punya perusahaan. Itu sebabnya Candra mendirikan Nexa Group untuk memenuhi egon
"Sekarang om bisa lihat sendiri bagaimana kemampuan saya. Kita bisa memanfaatkan opini publik untuk menjatuhkan perusahaan besar seperti Fierce Company sekalipun. Sekarang reputasi Henry sudah tercoreng dengan berita yang beredar. Setelah semua ini apakah om masih merasa ragu untuk menerima saya di Nexa Group?" ujar Ethan dengan senyum licik. Dia sedang membuktikan dirinya pada Candra, ayahnya Grace. Grace benar-benar membawa Ethan menemui ayahnya dan membujuk agar Ethan bisa bekerja di perusahaan keluarganya. "Menurutmu masalah kecil seperti ini tidak akan bisa diselesaikan oleh Henry? Kau sepertinya tidak memahami dengan benar lawanmu siapa," kata Candra masih meremehkan Ethan. Candra adalah orang yang licik. Dia tahu betul sesederhana opini publik tidak akan bisa menghancurkan Fierce Company. "Sepertinya kau hanya besar omongan saja, anak muda," imbuh Candra menyindir. "Ayah jangan begitu. Ethan itu pria yang bisa diandalkan kok. Ya memang kemampuannya belum se lihai ayah.
Kathrine pulang ke rumah Henry dengan pikiran kalut. Bukan tentang ancaman kakeknya kalau dia berani bercerai dari Henry, Kathrine lebih memikirkan tentang pesan penolakan perjodohan yang katanya dikirimkan olehnya kepada Henry dua tahun lalu. Kathrine tidak merasa pernah melakukannya. Dia ingin mencari kebenaran di balik kebingungannya. "Henry, bisakah kita mengobrol?" ujar Kathrine membuka pembicaraan pada malam hari setelah mereka cukup santai. Dia membawa dua cangkir kopi dan duduk bersama di sofa depan televisi. "Mau mengobrol apa?" tanya Henry. "Tentang hubungan kita dan ketentuan kakek," jawab Kathrine. Sebenarnya dia ingin mengulik lebih banyak informasi terkait perjodohan mereka dulu. Tapi Kathrine tidak langsung pada intinya agar Henry tidak curiga. "Ya mau tidak mau kita harus menunggu dulu sampai tiga bulan kalau mau mengurus perceraian. Apa kau tidak bisa menunggu selama itu?" kata Henry. "Bukan begitu. Aku hanya merasa aneh kenapa kakek menyetujui kita bercerai
"Aku tidak merasa mengirimkan pesan penolakan apa pun saat itu. Justru Henry yang menolak perjodohan denganku," ujar Kathrine dengan kening berkerut. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. "Kakek sempat menemui Henry dan menyatakan kekecewaan kakek saat dulu kau mengatakan dia menolak perjodohan denganmu. Tapi Henry memperlihatkan pesan penolakan perjodohan yang kau kirimkan padanya lewat email. Dia mengatakan bahwa kau yang menolaknya dengan kata-kata merendahkan dan menganggap Henry tidak pantas. Tapi kau berbohong pada kakek dengan mengatakan sebaliknya," jelas kakek. Kathrine semakin merasa heran. "Sungguh aku tidak pernah berbohong soal itu kepada kakek. Saat itu aku memang mengejar cinta Ethan. Tapi aku tidak pernah merendahkan Henry. Aku saja tidak tahu kalau pria yang akan dijodohkan denganku adalah cucu dari pemilik Fierce Company. Ketika dia mengatakan tidak bisa menerima perjodohan kami, aku tidak memperpanjang dan tidak berkomunikasi lagi dengannya," bantah Kathrine. "Kakek
"Perkenalkan, Kakek. Saya istrinya Henry," ucap Kathrine menjabat tangan Hikmawan sembari memberi kode agar Kakek Hikmawan tidak membuka identitasnya. "Tadi kau bilang Kathrine cucumu?" tanya Kakek Wijaya menyambung ucapan Kakek Hikmawan sebelumnya. "Oh itu, kau tidak tahu betapa rindunya aku pada cucuku. Akhir-akhir ini aku seperti sering salah lihat. Setiap kali melihat perempuan seusia cucuku, aku sering mengira itu adalah dia. Ya maklum usia sudah semakin tua tapi malah ditinggalkan oleh cucu sendiri," jawab Kakek Hikmawan sembari melemparkan sindiran pada Kathrine. Dia cukup kooperatif mengikuti permintaan Kathrine meskipun banyak hal yang tidak dia mengerti. Kathrine adalah cucu perempuan satu-satunya Kakek Hikmawan. Pertemuan itu tidak sengaja mempertemukan mereka kembali setelah sekian lama. Dua tahun yang lalu Kathrine meninggalkan rumah dan memilih menikah dengan Ethan. Kakek Hikmawan sebenarnya tidak setuju karena ingin menjodohkan Kathrine dengan cucu temannya. Tap
"Jadi kalian menikah hanya untuk berpura-pura di depan kakek?" Perkataan itu terdengar seperti dakwaan yang menciutkan nyali. Rahasia Henry dan Kathrine tentang pernikahan mereka didengar oleh kakek. Mereka berpikir kakek akan menunggu mereka di cafe. Namun ternyata kakek mampir lebih dulu ke rumah mereka dan mendengar percakapan yang tidak seharusnya didengar. "Kakek bukannya menunggu di cafe untuk makan siang?" ujar Hanry gugup tapi masih berusaha mengalihkan obrolan. Dia khawatir kakeknya akan merasa marah dan kecewa karena sudah dibohongi. Terlebih lagi, Henry takut kesehatan kakeknya memburuk karena emosi. "Kenapa? Kalau kakek tidak mampir ke sini kakek tetap tidak akan tahu kebohongan kalian, begitu?" sindir kakek. Kathrine tidak berani menyela. Dia hanya duduk dengan tenang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia khawatir akan semakin melakukan kesalahan jika berkomentar. Bagaimana pun, Henry yang lebih tahu cara menghadapi kakeknya. "Sekarang jawab dengan







