ANMELDEN“Kenapa kau tidak bisa mengenali bosmu? Kalau kita tahu pria itu adalah bos di perusahaanmu, kita bisa menjaga sikap di hadapannya,” protes Grace menyalahkan Ethan.
“Dia adalah CEO baru di Fierce Company. Beberapa bulan yang lalu, kakeknya sakit dan dia mengambil alih posisi CEO. Aku belum pernah bertemu dengannya karena dia jarang datang ke kantor dan hanya meninjau dari jauh. Aku dengar dia punya perusahaan sendiri dan akan menggabungkan dua perusahaan itu nanti. Kalau aku tahu dia adalah bosku yang baru, aku juga tidak akan membuat masalah dengannya sampai kehilangan pekerjaan,” kata Ethan. Dia juga menyesal karena perbuatannya.
“Lalu bagaimana selanjutnya?” tanya Grace.
“Aku juga tidak tahu. Aku sudah sampai di posisi manager dengan susah payah. Tapi sekarang harus kehilangannya,” jawab Ethan.
“Aku tidak menyangka bahwa ayah dari bayi Kathrine adalah bosmu. Kathrine sangat marah pada kita karena kita menipunya dan mengusirnya dari rumah. Sekarang, Kathrine sudah menikah dengan pria itu. Aku yakin, Kathrine yang meminta suaminya untuk memecatmu. Dia ingin membalas kita,” ujar Grace memprovokasi dan menyalahkan Kathrine.
“Lalu apa solusimu?” tanya Ethan. Dia malas mendengar ocehan Grace jika tidak ada solusi untuk karirnya.
“Kita tunggu Kathrine keluar. Kita datangi dia dan minta dia untuk membujuk suaminya agar mengembalikan posisimu lagi di Fierce Company. Kau kehilangan pekerjaan karena ulah Kathrine. Dia harus bertanggung jawab dan membuatmu bekerja kembali,” kata Grace memberi saran. Tanpa pikir panjang, Ethan setuju dengan saran Grace. Mereka menunggu Kathrine keluar dari pesta.
Setelah keributan yang terjadi di pesta, Henry mengajak Kathrine pulang lebih awal. Mereka berpamitan pada Leonardo dan keluar dari aula pesta. Henry menggandeng Kathrine ke mobil.
“Lebih baik kita segera pulang. Suasana pesta tidak baik untuk ibu hamil. Kamu bisa beristirahat dengan nyaman di rumah,” kata Henry. Kathrine mengangguk setuju.
“Terima kasih karena kamu sudah membelaku di depan Ethan dan Grace,” ucap Kathrine mengingat sikap Henry.
“Itu adalah kewajibanku untuk melindungi istri dan anakku.” Jawaban Henry membuat Kathrine terharu. Dia tidak pernah mendapatkan perlindungan seperti itu selama menjadi istri Ethan.
“Aku juga baru tahu bahwa kamu adalah CEO Fierce Company. Tapi bagaimana kau bisa tahu Ethan sementara dia tampak tidak tahu identitasmu?” tanya Kathrine penasaran.
“Aku menjadi CEO di Fierce Company karena menggantikan kakek yang sakit. Aku jarang berkunjung ke sana sehingga tidak banyak karyawan yang mengenalku. Aku pernah melihat suamimu saat kita bertemu di rumah sakit. Aku meminta seseorang mencari tahu tentang dia dan ternyata dia adalah manajer pemasaran di perusahaan kakek. Awalnya aku tidak mau membawa masalah pribadi pada pekerjaan meskipun dia adalah mantan suami yang sudah menyakitimu. Tapi malam ini, dia berani menghinamu di hadapanku. Aku tidak bisa membiarkan itu. Menurutmu, apakah aku mengambil keputusan yang salah karena memecatnya?” tanya Henry meminta pendapat Kathrine.
“Aku tidak bisa berkomentar. Kau adalah CEO perusahaan besar. Kau tahu yang salah dan yang benar. Aku tidak meragukan keputusanmu,” jawab Kathrine dan memberikan sebuah senyuman. Henry membalas senyum yang sama. Dia merasa ada seseorang yang mendukung tindakannya.
“Ayo kita pulang,” ujar Henry mengajak Kathrine masuk ke mobil.
“Tunggu. Tasku ketinggalan di aula pesta,” ucap Kathrine yang menyadari tasnya tidak ada.
“Kau tunggu di sini. Aku yang akan mengambilkan tasmu ke sana,” ujar Henry. Dia tidak ingin Kathrine kelelahan. Henry meninggalkan Kathrine sendirian di samping mobil.
Sebelum Henry kembali, Ethan dan Grace mendatangi Kathrine. Kathrine merasa heran. Untuk apa mereka menemuinya lagi. Tanpa basa basi, mereka menyalahkan Kathrine karena Ethan dipecat.
“Kau sombong karena sudah menjadi istri bos besar sekarang. Kau mengandalkan koneksi dan menyuruh suamimu untuk memecat Ethan. Kau harus membuat Ethan kembali bekerja di Fierce Company,” ujar Grace dengan angkuh.
“Apa yang dikatan Grace benar. Kau harus mengembalikan posisiku sebagai manajer di Fierce Company,” kata Ethan memberikan tuntutan yang sama. Kathrine menghadapi mereka dengan tenang.
“Di pesta kau mengatakan bahwa aku hanya perempuan rumahan yang tidak punya kemampuan apapun. Kenapa sekarang kau memintaku mengembalikan posisi Ethan di perusahaan? Aku tidak punya kemampuan untuk melakukan hal itu,” balas Kathrine menggunakan hinaan Grace sebagai senjata. Grace kesal mendengarnya.
“Meskipun kau tidak punya kemampuan, tapi kau adalah istri pemilik perusahaan itu. Kau bisa membujuk suamimu untuk mengembalikan posisi Ethan,” kata Grace tetap berusaha melawan.
“Jadi sekarang kau mengakui bahwa nasibku sangat beruntung? Aku bercerai dengan suami tidak berguna dan menikah lagi dengan bos besar. Kalian mengusirku ke jalanan. Tapi aku justru naik lebih tinggi dan menginjak kebanggan kalian. Apa kalian sudah merasa malu?” Ucapan Kathrine membuat Grace semakin geram. Amarahnya tidak bisa ditahan.
“Kau benar-benar tidak berguna!” umpat Grace sambil mendorong Kathrine.
Kathrine kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan benturan keras. Kathrine merasakan sakit pada perutnya. Dia semakin syok saat melihat darah di kakinya. Henry yang baru kembali dari aula pesta langsung berlari saat melihat kejadian itu.
“Kathrine!” teriaknya khawatir.
“Apa yang kalian lakukan pada istriku?” bentak Henry membuat Ethan dan Grace langsung kabur karena takut. Henry mengabaikan mereka dan lebih peduli pada kondisi Kathrine.
“Aw…sakit sekali. Tolong aku, Henry!” rintih Kathrine.
Henry panik melihat Kathrine mengeluarkan banyak darah. Dia menggendong tubuh Kathrine ke mobil dan membawa ke rumah sakit dengan cepat. Henry tidak bisa tenang selama Kathrine ditangani dokter. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak meninggalkan Kathrine sendirian.
Setelah cukup lama, akhirnya dokter keluar dari ruangan. Henry menemui dokter dan menanyakan kondisi Kathrine.
“Bagaimana kondisi istri saya?” tanya Henry dengan cemas.
“Dia sudah berhasil selamat. Tapi dia masih butuh banyak istirahat,” jawab dokter.
“Lalu bagaimana dengan bayinya?” tambah Henry.
“Maaf. Bayi itu tidak bisa kami selamatkan. Istrimu mengalami keguguran.”
“Apa? Keguguran?”
"Sekarang om bisa lihat sendiri bagaimana kemampuan saya. Kita bisa memanfaatkan opini publik untuk menjatuhkan perusahaan besar seperti Fierce Company sekalipun. Sekarang reputasi Henry sudah tercoreng dengan berita yang beredar. Setelah semua ini apakah om masih merasa ragu untuk menerima saya di Nexa Group?" ujar Ethan dengan senyum licik. Dia sedang membuktikan dirinya pada Candra, ayahnya Grace. Grace benar-benar membawa Ethan menemui ayahnya dan membujuk agar Ethan bisa bekerja di perusahaan keluarganya. "Menurutmu masalah kecil seperti ini tidak akan bisa diselesaikan oleh Henry? Kau sepertinya tidak memahami dengan benar lawanmu siapa," kata Candra masih meremehkan Ethan. Candra adalah orang yang licik. Dia tahu betul sesederhana opini publik tidak akan bisa menghancurkan Fierce Company. "Sepertinya kau hanya besar omongan saja, anak muda," imbuh Candra menyindir. "Ayah jangan begitu. Ethan itu pria yang bisa diandalkan kok. Ya memang kemampuannya belum se lihai ayah.
Kathrine pulang ke rumah Henry dengan pikiran kalut. Bukan tentang ancaman kakeknya kalau dia berani bercerai dari Henry, Kathrine lebih memikirkan tentang pesan penolakan perjodohan yang katanya dikirimkan olehnya kepada Henry dua tahun lalu. Kathrine tidak merasa pernah melakukannya. Dia ingin mencari kebenaran di balik kebingungannya. "Henry, bisakah kita mengobrol?" ujar Kathrine membuka pembicaraan pada malam hari setelah mereka cukup santai. Dia membawa dua cangkir kopi dan duduk bersama di sofa depan televisi. "Mau mengobrol apa?" tanya Henry. "Tentang hubungan kita dan ketentuan kakek," jawab Kathrine. Sebenarnya dia ingin mengulik lebih banyak informasi terkait perjodohan mereka dulu. Tapi Kathrine tidak langsung pada intinya agar Henry tidak curiga. "Ya mau tidak mau kita harus menunggu dulu sampai tiga bulan kalau mau mengurus perceraian. Apa kau tidak bisa menunggu selama itu?" kata Henry. "Bukan begitu. Aku hanya merasa aneh kenapa kakek menyetujui kita bercerai
"Aku tidak merasa mengirimkan pesan penolakan apa pun saat itu. Justru Henry yang menolak perjodohan denganku," ujar Kathrine dengan kening berkerut. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. "Kakek sempat menemui Henry dan menyatakan kekecewaan kakek saat dulu kau mengatakan dia menolak perjodohan denganmu. Tapi Henry memperlihatkan pesan penolakan perjodohan yang kau kirimkan padanya lewat email. Dia mengatakan bahwa kau yang menolaknya dengan kata-kata merendahkan dan menganggap Henry tidak pantas. Tapi kau berbohong pada kakek dengan mengatakan sebaliknya," jelas kakek. Kathrine semakin merasa heran. "Sungguh aku tidak pernah berbohong soal itu kepada kakek. Saat itu aku memang mengejar cinta Ethan. Tapi aku tidak pernah merendahkan Henry. Aku saja tidak tahu kalau pria yang akan dijodohkan denganku adalah cucu dari pemilik Fierce Company. Ketika dia mengatakan tidak bisa menerima perjodohan kami, aku tidak memperpanjang dan tidak berkomunikasi lagi dengannya," bantah Kathrine. "Kakek
"Perkenalkan, Kakek. Saya istrinya Henry," ucap Kathrine menjabat tangan Hikmawan sembari memberi kode agar Kakek Hikmawan tidak membuka identitasnya. "Tadi kau bilang Kathrine cucumu?" tanya Kakek Wijaya menyambung ucapan Kakek Hikmawan sebelumnya. "Oh itu, kau tidak tahu betapa rindunya aku pada cucuku. Akhir-akhir ini aku seperti sering salah lihat. Setiap kali melihat perempuan seusia cucuku, aku sering mengira itu adalah dia. Ya maklum usia sudah semakin tua tapi malah ditinggalkan oleh cucu sendiri," jawab Kakek Hikmawan sembari melemparkan sindiran pada Kathrine. Dia cukup kooperatif mengikuti permintaan Kathrine meskipun banyak hal yang tidak dia mengerti. Kathrine adalah cucu perempuan satu-satunya Kakek Hikmawan. Pertemuan itu tidak sengaja mempertemukan mereka kembali setelah sekian lama. Dua tahun yang lalu Kathrine meninggalkan rumah dan memilih menikah dengan Ethan. Kakek Hikmawan sebenarnya tidak setuju karena ingin menjodohkan Kathrine dengan cucu temannya. Tap
"Jadi kalian menikah hanya untuk berpura-pura di depan kakek?" Perkataan itu terdengar seperti dakwaan yang menciutkan nyali. Rahasia Henry dan Kathrine tentang pernikahan mereka didengar oleh kakek. Mereka berpikir kakek akan menunggu mereka di cafe. Namun ternyata kakek mampir lebih dulu ke rumah mereka dan mendengar percakapan yang tidak seharusnya didengar. "Kakek bukannya menunggu di cafe untuk makan siang?" ujar Hanry gugup tapi masih berusaha mengalihkan obrolan. Dia khawatir kakeknya akan merasa marah dan kecewa karena sudah dibohongi. Terlebih lagi, Henry takut kesehatan kakeknya memburuk karena emosi. "Kenapa? Kalau kakek tidak mampir ke sini kakek tetap tidak akan tahu kebohongan kalian, begitu?" sindir kakek. Kathrine tidak berani menyela. Dia hanya duduk dengan tenang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia khawatir akan semakin melakukan kesalahan jika berkomentar. Bagaimana pun, Henry yang lebih tahu cara menghadapi kakeknya. "Sekarang jawab dengan
"Henry sialan!" umpat Ethan sembari menggebrak meja. Pria itu tampak frustasi dengan kemeja lusuh dan dasi yang menggantung berantakan. Sudah lelah dia mendatangi beberapa perusahaan dengan membawa lamaran pekerjaan. Tapi tidak ada satu pun dari perusahaan itu yang bersedia menerimanya. "Mustahil tidak ada perusahaan yang mau menerimamu dengan pengalaman kerjamu sebelumnya di Fierce Company," komentar Grace. Perempuan itu ikut mengoceh atas kondisi yang dihadapi Ethan. "Semua ini gara-gara Henry. Dia tidak hanya memecatku dari perusahaannya, tapi perusahaan yang aku datangi mengatakan bahwa Henry sudah memberi perintah agar tidak ada dari mereka yang menerimaku. Dia memblack listku. Mereka mengatakan siapa pun yang menerima aku bekerja di perusahaannya sama saja menantang Fierce Company. Sialan juga pria itu," ujar Ethan. Dia menyimpan amarah kepada Henry. Dia tidak terima atas kesulitan yang Henry berikan padanya. "Aku dengar Kathrine mengalami keguguran karena perbuatan







