LOGIN“Kamu yakin kalau Mayor Bintang mau nge-date di sini sama calon istrinya?” tanya Aurel saat ia dan Anya sudah berdiri di depan Restoran Kenangan.
“Yakin aku,” jawab Anya. “Berapa persen?” tanya Aurel lagi. “Seribu persen.” “Tapi udah mau pukul delapan, belum ada tanda-tanda mereka datang ke sini? Jangan-jangan mereka mendadak ganti tempat. Kalau bener mereka ganti tempat, sampai lebaran monyet juga kita tunggu di sini nggak bakalan nongol tuh Mayor.” Aurel mulai tidak yakin. “Sabar dulu kenapa? Baru juga pukul delapan. Kita tunggu sebentar lagi ya? Aku yakin kok, Mayor Bintang bakalan datang.” Anya begitu yakin dengan feeling-nya. Dan benar saja, tak lama kata-kata itu keluar dari mulut Anya, sebuah mobil dinas TNI tampak memasuki halaman parkir restoran. Sontak saja hal itu membuat gadis berkulit putih dan berambut sedada itu panik. “Rel-Rel-Rel, itu dia. Itu dia datang,” ucap Anya kegirangan. Tanpa sadar ia bahkan sampai memukuli lengan Aurel, hingga sabatnya itu merintih kesakitan. “Iya-iya, tapi jangan kamu pukul aku juga.” “Sorry, Rel.” Anya tampak menyesal. Mereka kemudian kembali fokus melihat kepada Mayor Bintang. Tampak pria dewasa itu keluar dari dalam mobilnya dan langsung menyalakan ponsel. “Halo? Kamu sudah sampai? Saya sudah di depan restoran.” Bintang menelepon calon istrinya. “Apa? Agak terlambat? Ada pasien emergency? Oh, gitu. Baiklah, saya tunggu kamu di sini ya? Baik.” Bintang mengakhiri panggilannya dan langsung masuk ke dalam restoran. Sedang Anya dan Aurel, keduanya masih betah mengintai dari balik persembunyian mereka. Namun meski bersembunyi, jarak mereka dan Mayor Bintang tadi cukup dekat, sehingga mereka bisa mendengar jelas apa yang sang Mayor bicarakan di telepon. “Kayaknya tuh perempuan nggak bakalan datang deh, Nya.” Aurel mulai dengan analisanya. “Menurutku juga gitu sih, Rel.” Anya setuju. “Jadi kalau misalnya dia beneran nggak datang, terus Mayor Bintang gimana dong?” tanya Aurel. Anya diam sejenak. Matanya tampak berkelintaran seperti orang yang sedang berpikir keras. Selang beberapa saat kemudian, ia pun kembali bersuara. “Kita masuk, yuk Rel,” ajak Anya. “Hah? Masuk? Mau ngapain, Nya?” tanya Aurel sedikit panik. “Yah ... biar kita bisa lebih dekat sama Mayor Bintang. Aku mau ngeliat mereka dari jarak yang lebih intens.” Anya begitu penasaran dengan hubungan Bintang dan wanita yang berprofesi sebagai dokter itu. “Astaga, Nya. Mau ngapain lagi sih? Kamu mau nambah sakit hati?” Aurel tidak setuju. Baginya, Anya tahu jika malam ini Bintang dan calon istrinya makan malam berdua saja, sudah cukup bikin hati seperti teriris sembilu. Untuk apa dilanjutkan dengan melihat kemesraan keduanya? “Nggak Rel, aku tetap mau lihat mereka. Kalau kamu nggak mau ikut, nggak apa-apa. Kamu boleh pulang duluan.” Anya pun kemudian berlalu ke arah restoran dan meninggalkan Aurel begitu saja. “Sialan, dia malah ngusir aku,” desis Aurel kesal. “Anya, tunggu ...!” teriaknya menyusul sang teman sejawat yang sudah sampai di depan pintu restoran. *** Di dalam restoran. “Heh, apa duduk kita nggak terlalu dekat dengan Mayor Bintang? Jujur, aku takut kalau dia bakalan ngeliat kita. Ntar dia pikir kita mata-matai dia lagi. Aku nggak mau berurusan sama TNI, Nya, sumpah!” bisik Aurel dari balik buku daftar menu restoran. “Ih, kamu tenang aja, dia nggak bakalan menandai kita kok. Lagian selama ini kalau aku ajak ngomong, dia nggak pernah ngeliat ke aku. Jadi dia nggak bakalan tanda aku,” jelas Anya. “Astaga, kasihan banget kamu, nggak pernah diperhatiin.” Aurel menertawai Anya. “Diem, ah!” Anya memanyunkan bibirnya. Mereka kemudian kembali melihat ke arah Bintang. Pria dengan kemeja hitam lengan panjang dan celana bahan dengan warna senada itu, terus saja melihat ke arah jam tangannya. Sudah hampir pukul sembilan malam, dan tidak ada tanda-tanda jika calon istrinya akan datang. Makanan tampak sudah terhidang dan nyaris dingin karena tak juga disentuh sejak tadi. Jus yang ia minum juga hampir tandas dan hanya tersisa sepertiga gelas saja. Apa perempuan itu tidak bisa datang? Apa mungkin pasiennya tidak bisa ditinggalkan? Kenapa dia tidak memberi kabar Mayor Bintang? Sedang di meja lainnya, Aurel sudah dalam posisi menjatuhkan kepala di atas meja. “Lapar banget, sumpah. Kamu pesan makanan napa, Nya? Tega banget biarin aku kelaparan kayak gini. Kalau aku kena busung lapar gimana?” “Heh, kamu nggak bisa liat harga menu di sini? Spaghetti-nya aja seratus ribu lebih. Mana duitku adanya cuma cepek.” Anya tertawa geli. Menertawai kemiskinan diri sendiri. “Yah tapi mau sampai kapan kita duduk di sini? Kamu nggak lihat para pelayan di sana? Mereka dari tadi ngeliatin kita yang duduk di sini tapi nggak pesan apa-apa. Ntar kita disuruh bayar pajak kursi lagi.” Anya terdiam. Dia lalu kembali melihat kepada Mayor Bintang. Laki-laki yang masih tampak tampan meski sudah kepala tiga itu terlihat sangat menyedihkan saat menunggu seseorang. Seseorang yang tidak pasti keberadaannya, datang atau kah tidak? Sedang dirinya yang ada di sana, hanya duduk seperti gadis bodoh yang tak berguna. Namun, sesaat setelah Anya memperhatikan Bintang yang terus duduk menunggu yang tak pasti, tiba-tiba saja ia terpikirkan sesuatu. “Rel ...,” lirih Anya. “Eum,” sahut Aurel. “Gimana kalau aku samperin Mayor Bintang?” Aurel yang sedang dalam posisi lowbat, seketika bangkit dan langsung duduk dengan posisi tegak. “Apa kamu bilang? Kamu ... kamu mau nyamperin Mayor Bintang?” Anya mengangguk. “Buat apa Anya …?” tanya Aurel mulai panik. “Feeling-ku bilang, calon istrinya nggak bakalan datang. Kamu nggak kasihan apa ngeliat dia duduk bengong kayak cowok bego’ kayak gitu? Mana makanan udah dia pesan sebanyak itu lagi. Aku mau gantiin malam kelabu dia menjadi lebih berwarna,” ucap Anya begitu yakin dan bersemangat. “Nya, it's not good idea. Ntar kamu bilang apa sama Mayor Bintang kalau dia nanya, kenapa kamu bisa ada di restoran ini? Dia bakalan curiga kalau kita mata-matai dia, Nya.” Aurel masih tidak setuju. Ia benar-benar takut jika harus berurusan masalah hukum dengan yang loreng-loreng. Namun sepertinya Anya tidak mau menghiraukan ketakutan Aurel. Ia tetap bangkit dan merapikan gaun selutut yang dikenakannya. “Kamu tenang aja, nggak bakalan ada yang terjadi sama kita.” Anya melangkah maju mendekati meja reservasi milik Bintang. Sementara Aurel, melihat Anya melangkah dengan begitu percaya diri, membuatnya ingin masuk ke bawah kolong meja. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Sebab Anya adalah tipikal perempuan yang jika sudah memutuskan melakukan sesuatu, maka sulit untuk dicegat. Kini Anya tinggal beberapa langkah lagi dengan meja Bintang. Suara heel lima sentimeter yang ia kenakan menciptakan irama yang mengalun teratur di indera pendengaran sang Mayor tampan tersebut. Senyum bahagia pun langsung merekah dibibir Bintang. Sebelum Anya menyapanya, ia sudah lebih dulu berbalik dan melihat kepada gadis bergaun soft blue tersebut. Ia pikir, yang datang adalah Bulan, calon istrinya. Akan tetapi .... “Hai Om, selamat malam,” sapa Anya dengan senyum manis nan menggoda. “Kamu?” tanya Bintang dengan raut wajah tak percaya.Anya terkejut melihat reaksi suaminya. Ia langsung terduduk di tepi ranjang, menatap Bintang dengan polos sekaligus sedikit cemas karena perubahan intonasi pria itu.“I–iya, Om ... kalau aku hamil, gimana?” ulang Anya dengan suara yang mendadak memelan, ragu-ragu. “Mak–maksud aku ... kalau seandainya Tuhan merencanakan kita dapat momongan lebih cepat, Om siap nggak?” Anya menggigit bibir bawahnya. Bintang menghentikan kegiatannya di depan nakas. Ia lalu meletakkan ponselnya, melangkah perlahan mendekati ranjang. Wajah tegasnya yang sempat tegang perlahan melunak, digantikan oleh sorot mata hangat yang memancarkan rasa haru mendalam.Bintang mendudukkan dirinya tepat di samping Anya. Tangan kokohnya terangkat, meraih jemari lentik istrinya yang sedikit dingin, lalu meremasnya lembut.“Anya,” panggil Bintang dengan suara baritonnya yang tenang dan dalam. “Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu ….”“Aku udah telat seminggu, Om.” Mendengar pengakuan Anya, napas Bintang serasa terc
Di pelabuhan, kapal TNI angkatan laut sudah menepi. Deretan prajurit berseragam loreng perlahan mulai melangkah turun melalui tangga kapal. Sorak-sorai riuh dan derap musik militer yang membahana di sepanjang dermaga menyambut mereka. Di tengah riuhnya ribuan manusia yang saling berpelukan menumpahkan rindu, sepasang mata bulat Anya terus menyapu barisan tentara itu dengan napas yang berkejaran.“Om Bintang … dimana dia?” gumam Anya pada diri sendiri. Ia lalu melangkah tertatih membelah kerumunan keluarga prajurit. Namun, lama ia mencari, sosok yang dituju tak kunjung ia temukan. Matanya mulai berair. Panik, takut, mulai menggerogoti pikirannya. Bagaimana jika suaminya ternyata tidak ada di sana? “Om Bintang. Om Bintang dimana sih?” tanya Anya lagi. Ia kembali mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dermaga. Sampai akhirnya, langkahnya terhenti. Tak jauh dari ujung tangga kapal, berdiri seorang pria berpostur tegap dan gagah. Wajah tegasnya tampak sedikit lebih eksotis karena
Pagi menjelang. Suasana di pelabuhan kapal milik TNI Angkatan Laut sudah dipadati oleh sejumlah anggota TNI AD yang akan berangkat Latgabma ke California, Amerika Serikat. Bintang dan Anya sudah sampai sejak tadi. Setelah pamit pada keluarga besar, mereka langsung menuju ke titik kumpul keberangkatan.Semua perlengkapan sudah dimasukkan ke dalam ransel khusus prajurit. Anya juga hadir dengan seragam Persit dengan rambut yang dicepol rapi, membuat ia terlihat sangat keibuan. Anya merapikan letak kerah kemeja Bintang untuk yang kesekian kalinya. Jemarinya sedikit gemetar, namun senyum ketegaran tak pernah lekang dari bibirnya.Di sekeliling mereka, derap langkah sepatu lars, riuh suara klakson kendaraan taktis, dan perintah-perintah tegas yang diserukan para perwira menyatukan atmosfer haru sekaligus membakar semangat di pelabuhan pagi itu.“Di sana nanti, jangan lupa makan yang teratur. Walaupun di negeri orang, perutnya tetap harus diisi nasi kalau ada, ya?” bisik Anya pelan, mencob
“Surprise ….” Semua orang di rumah itu muncul dari balik pintu dengan membawa kue serta berbagai pernak pernik ulang tahun. Mereka tampak seperti sudah menyiapkan kejutan itu jauh-jauh hari. Terlihat dari kue, kado serta aksesoris yang ada. “Ya ampun kalian! Kok nggak bilang-bilang sih kalau mau ngasih kejutan?” tanya Anya dengan ekspresi wajah yang masih sedikit syok. “Kalau dikasih tahu, bukan kejutan namanya, Anya,” sahut Andini gemas. Rahayu lalu maju lebih dekat. “Anya, selamat ulang tahun ya, Sayang. Ini kado dari Mama,” ucapnya sembari menyerahkan sebuah paper bag pada Anya. “Makasih, Ma. Apa ini?” tanya Anya penasaran. “Nanti kamu buka saja sendiri.”Sekarang gantian Anne yang maju. Wanita paruh baya itu melangkah perlahan mendekati putri semata wayangnya. Wajahnya yang biasa menyembunyikan ketegaran kini dipenuhi rona haru yang membuncah.Di tangannya, Anne menggenggam sebuah kotak kayu dengan ukiran klasik yang tampak sudah berusia puluhan tahun.“Selamat ulang tahun,
Anya terperanjat. Matanya membola, mulutnya ternganga. Ia benar-benar tidak menyangka jika Bintang akan melamarnya meski mereka sudah menikah. “Om, kenapa Om lamar aku? Aku kan udah jadi istri Om,” tanya Anya. “Iya, saya tahu. Tapi kita menikah begitu dadakan. Saya belum sempat melamarmu. Belum juga sempat mengungkapkan isi hati saya. Jadi … sebelum saya berangkat lagabma, saya mau tidak lagi berpikir kalau pernikahan kita ini hanya sebatas hitam diatas putih. Tapi saya menikahi kamu, karena saya mencintai kamu.”“Hiks, Om….” Anya langsung mendung mendengar ungkapan isi hati Bintang. Meski ia tahu jika Bintang sudah menaruh hati padanya sejak malam pertama mereka, tapi lamaran pria itu tetap membuatnya tersentuh. “Om ….” lirih Anya, air matanya sudah berlinang karena haru. “Dijawab, Anya. Kaki saya sudah pegal ini,” tutur Bintang berpura-pura. Anya tertawa pelan. Lalu dengan perlahan ia pun mengarahkan tangannya untuk mengambil kotak cincin tersebut. “Iya, Om. Aku mau nikah sama
“Jadi maksud kamu, hilangnya Ayah ada sangkut pautnya dengan orang yang sekarang sedang meneror kamu, begitu?” tanya Anne. Bintang mengangguk pelan. Sorot matanya tidak menunjukkan keraguan sedikitpun saat menatap langsung ke dalam manik mata Anne yang tampak bergetar.“Benar, Bunda. Polanya sangat identik untuk disebut sebuah kebetulan,” jawab Bintang, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ketegasan seorang perwira.Ia menjeda sejenak, membiarkan angin sore berembus di antara mereka sebelum kemudian melanjutkan.“Mereka menggunakan taktik yang sama, menghilangkan orang yang mereka anggap sebagai ancaman. Bedanya, puluhan tahun lalu mereka berhasil melakukannya pada Ayah. Tapi sekarang, tidak akan lagi. Karena situasinya sudah berbeda.”Bintang menegakkan tubuhnya, seperti sedang memperlihatkan aura seorang prajurit yang kokoh lagi berani pada ibu mertuanya. “Apa kamu yakin bisa melawan mereka, Bin? Bunda takut kamu kenapa-kenapa. Kasihan Anya kalau sampai kamu mengal
“Om, Bintang!” pekik Anya agak keras dari balik pintu ruang kerja pria yang ia panggil dengan sebutan ‘Om’ itu. Anya merupakan gadis 20 tahun yang menyandang status sebagai mahasiswa jurusan Keperawatan di sebuah kampus Militer Angkatan Darat. Ia mengangkat secarik kertas yang dibawanya sejak ta
Namanya Rea, lebih lengkapnya Reana Ratisha. Ia muncul di sela-sela percakapan antara Anya dan Aurel. “Nih,” Rea melempar selembar uang seratus ribu yang dilipat simetris ke atas meja. Anya dan Aurel terkejut secara bersamaan. Mereka pun langsung menatap perempuan yang biasa dipanggil dengan se
BAB 4“Ya Om, ini aku. Anya,” jawab Anya santai.“Se—sedang apa kamu di sini?” tanya Bintang.“Om sendiri, lagi apa?”“Saya tanya kamu, kamu jangan tanya saya balik.”Anya mengulum senyum. “Aku lagi nungguin temen, Om. Tapi kayaknya dia nggak jadi datang. Terus nggak sengaja, aku ngeliatin Om Binta
“Nya ....” Aurel kembali memanggil temannya itu.“Heuh?” Anya tampak linglung.“Kita langsung ke ruangan Kapten Bima, yuk? Bentar lagi kita harus masuk kelas lagi,” jelas Aurel.Anya seperti tidak mendengar ucapan Aurel. Terus melihat ke arah Mayor Bintang dengan hati yang patah dan hancur berantak







