Share

Bab 4

Author: LV Edelweiss
last update publish date: 2026-02-25 15:21:19

BAB 4

“Ya Om, ini aku. Anya,” jawab Anya santai.

“Se—sedang apa kamu di sini?” tanya Bintang.

“Om sendiri, lagi apa?”

“Saya tanya kamu, kamu jangan tanya saya balik.”

Anya mengulum senyum. “Aku lagi nungguin temen, Om. Tapi kayaknya dia nggak jadi datang. Terus nggak sengaja, aku ngeliatin Om Bintang duduk bengong sendirian di sini. Jadinya, aku samperin aja deh,” jelasnya, penuh karangan.

Bintang menyapu pandang sejenak ke setiap sudut restoran. Memanggil pelayan dan membayar tagihan pesanannya. Terakhir, mengambil ponsel dan jaket seperti akan meninggalkan tempat tersebut.

Melihat itu, dengan cepat Anya mencengkram lengan Mayor Bintang dan menahannya untuk tidak pergi. “Om, mau ke mana?” tanyanya panik.

“Saya mau pulang. Tolong lepas,” pinta Mayor Bintang.

“Loh, kok pulang sih Om. Itu, makanannya belum dimakan. Mubazir tahu Om. Kan bayarnya mahal.” Anya mencari-cari alasan.

Bintang melirik sekilas ke arah makanan yang masih utuh di atas meja. Kemudian kembali melihat kepada Anya. “Kamu mau? Makan saja.” Ia kembali bergerak ingin pergi.

“Eh Om, ini tuh banyak banget. Aku nggak bisa ngabisin makanan sebanyak ini sendirian.” Lagi-lagi Anya membuat alasan. Yang jelas, Bintang tidak boleh pulang. Titik!

“Ya … kalau kamu tidak bisa menghabiskannya, kamu tinggal bungkus lalu bagi pada yang membutuhkan.”

“Tapi aku juga membutuhkan, Om ....” Anya mulai memasang raut wajah sedih.

Bintang melirik tajam ke arah Anya. “Maksud kamu apa?”

“Aku … aku butuh Om buat nemenin aku makan malam ini. Selama ini, aku selalu makan sendirian di kos, nggak ada yang nemenin aku, Om. Hiks ....!” Anya mulai menangis.

Mendengar itu, pengunjung restoran lainnya jadi melihat ke arah mereka. Para pelayan juga saling berbisik satu sama lain. Hal itu pun membuat Bintang malu dan memijat dahinya karena pening.

“Ya sudah, saya temani kamu makan,” ucap Bintang. Ter-pak-sa.

“Beneran Om?”

“Iya ....”

“Asik ....” Anya melompat kegirangan. Tingkah kekanak-kanakannya yang lucu dan manja benar-benar tidak bisa ia sembunyikan.

Ia lalu menarik kursi dan duduk di depan sang Mayor. Sementara Bintang, masih terus melihat kepada jam tangan dan layar ponselnya.

“Ayo Om, duduk,” pinta Anya.

Tanpa bantahan dan penolakan lagi, Bintang pun kembali duduk. Anya langsung mendekatkan sepiring steak kepada pria itu sembari tersenyum jengah.

“Ayo dimakan, Om,” ucap Anya.

Masih diam. Bintang segera mengambil garpu serta pisau dan mulai memotong daging steak-nya perlahan.

“Hmm ... Ini enak banget, Om.” Anya bergumam girang. Ia makan tanpa malu-malu, seolah sedang tidak bersama dengan pria yang disukainya. 

Padahal biasanya, perempuan sangat menjaga image jika di dekat laki-laki yang ditaksir dan berharap bisa mendapatkan hatinya. Namun Anya berbeda.

“Habis kan saja kalau kamu suka,” ucap Bintang.

“Beneran Om?” tanya Anya.

“Eum.”

Anya pun kembali menyantap steak-nya dengan begitu lahap. Hingga ia tidak menyadari jika ada saus steak-nya yang belepotan di sekitaran bibir mungilnya.

Pemandangan itu pun terlihat oleh Bintang. Laki-laki dengan karakter dingin dan pendiam itu menunjuk bibirnya kepada Anya.

“Apa Om?” tanya Anya.

“Itu, ada noda,” jelas Bintang.

“Di sini?” Anya menyapu bibirnya, tapi noda itu justru lari ke lain arah. “Udah belum, Om?” tanya Anya.

Kesal karena Anya tidak membersihkan noda itu dengan benar, Bintang pun mengambil alih membersihkan bibir Anya secara langsung dengan tisu.

“Di sini. Kamu melewatinya,” ucap Bintang.

Anya membeku saat Bintang menyentuh bibirnya dengan posisi wajah mereka yang begitu dekat. Bahkan menelan ludah saja rasanya, berat ... sekali. 

Lebih-lebih saat sang Mayor mengarahkan retina matanya kepada Anya, membuat pandang mereka bertemu untuk beberapa saat. Dan itu, nyaris membuat seorang Anya pingsan di kursinya.

Sedang Bintang, menyadari kekeliruannya, dengan cepat ia pun menarik mundur tubuhnya dan berdehem sekali. “Maaf, saya harus ke toilet sebentar,” ucapnya seraya terus berlalu ke arah belakang restoran.

Anya tertegun, duduk seperti orang yang baru saja kehilangan roh. Lamunnya buyar saat dering panggilan masuk terdengar dari ponselnya. Anya pun segera melihat kepada layar benda pipih tersebut.

Aurel calling ....

“Astaga, Aurel,” gumam Anya dalam hati. Ia langsung melihat kepada temannya yang duduk tak jauh dari meja Bintang.

Ping! Sebuah pesan menyusul masuk ke ponsel Anya. [Tega banget kamu, aku mau mati kelaparan nih!] tulis Aurel.

[Sorry, aku lupa. Aku antar makanan buat kamu, tapi nanti kamu pulang sendiri ya?] balas Anya.

[Hah? Pulang sendiri?]

[Iya, soalnya aku mau pulang bareng Mayor Bintang] Tulis Anya diikuti emoticon pasta gigi.

[Kampret kamu! Udah bahagia aja, aku kamu campakkan]

[Sahabat harus saling mendukung. Aku antar makanan ke tempatmu ya?] Anya bangkit dan segera mengambil sepiring spaghetti dan sebotol air mineral untuk diberikan kepada Aurel.

“Nah, gini kan asik. Dari tadi kek.” Aurel langsung menyantap makanannya.

“Ya kan Lo tahu, dari tadi gue sama Mayor Bintang. Ya udah, gue balik ke sana lagi ya?”

“Eum ....”

Anya segera kembali ke meja Bintang. Namun, baru saja ia tiba di meja itu dan akan kembali duduk, tiba-tiba saja dua bola matanya menangkap sosok yang ia lihat kemarin di ruang kerja sang Mayor.

Calon istri Bintang.

‘Di—dia? Dia datang ke sini?’ Panik Anya dalam hati.

Anya terperanjat dan sempat membeku ditempatnya. Namun saat perempuan itu mengarahkan pandangan ke arahnya, kaki Anya mundur selangkah. Kemudian dengan cepat, ia pun mengambil ponsel dan jaket Bintang lalu segera berjalan cepat ke arah toilet pria.

Tiba di sana, tampak Bintang baru saja keluar. Mereka pun langsung berpapasan dengan ekspresi wajah masing-masing. Anya tegang, sang Mayor bingung.

“Kamu … ngapain kamu ke toilet laki-laki?” tanya Bintang.

“Om, pulang yuk?”

“Pulang? Kenapa kamu pulang ngajak-ngajak saya?”

“Om, telah terjadi sesuatu sama aku. Aku harus segera pulang. Om anterin aku ya? Please ....” Anya mengatupkan kedua tangannya di depan Mayor Bintang.

“Terjadi sesuatu?” tanya Bintang bingung.

Anya mengangguk cepat.

“Ya sudah, saya ambil barang-barang saya dulu.”

“Eh, nggak perlu Om. Aku udah bawa ke sini.” Anya memberikan jaket dan ponsel kepada Bintang.

Dahi Bintang masih bertaut heran. Namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih banyak dan mengikuti saja apa yang Anya arahkan. Mengambil jaket dan ponsel dari tangan perempuan itu.

“Loh, kok mati? Perasaan tadi baterainya penuh,” tanya Bintang.

“Mungkin soak, Om!” alibi Anya.

“Soak?” tanya Bintang lagi. 

“Eum,” angguk Anya cepat.

“Ya sudah, ayo,” ajak Bintang tanpa banyak bertanya lagi, ia hendak melangkah ke arah dalam restoran.

“Eh, Om! Jalan sini aja. Lebih dekat,” ajak Anya dengan alasan yang dibuat-buat. Alasan sebenarnya adalah, agar sang Mayor tidak bertemu dengan dokter perempuan itu.

Lagi-lagi tanpa bantahan, Bintang terus mengikuti Anya. Entah mungkin karena ia sudah lelah berdebat dengan bocah ingusan itu, atau karena malam yang sudah mulai larut. Sudah pukul sebelas kurang lima.

“Kamu yakin jalan ini bisa tembus ke parkiran mobil?” tanya Bintang yang mulai ragu dengan rute yang diarahkan oleh Anya.

Mendengar itu, Anya pun menghentikan langkah kakinya. Dia lalu berbalik dan melihat ke arah sang tentara. “Om nggak percaya sama aku?” tanyanya dengan raut wajah serius.

“Bukan saya tidak percaya, tapi sepertinya  dari tadi kita hanya muter-muter saja. Saya sudah mengantuk ini. Mau cepat sampai ke mess dan tidur.” Sang Mayor mulai kesal.

Mendengar penjelasan Bintang, Anya pun membuang napas kasar. Tepat di waktu yang bersamaan, seorang pelayan restoran tampak berjalan ke arah mereka. Otak Anya pun langsung bekerja.

Dengan cepat, ia pun segera menghampiri pelayan tersebut dan bertanya, “Mas, kalau mau ke parkiran lewat mana ya?” tanya Anya.

“Lewat dalam restoran saja, Non,” jawab sang pelayan.

Mayor Bintang terdengar membuang napas kesal. Sementara Anya, hanya bisa menggigit bibir bawahnya.

“Kalau jalan lain Mas, ada nggak?”

“Wah, ini dapur buntu, Non. Jalan menuju ke luar gedung ini ya cuma lewat restoran.”

“Serius Mas? Nggak ada jalan lain?”

“Nggak ada Non.”

“Co—”

“Ya sudah, makasih ya Mas,” potong Bintang cepat.

“Sama-sama, Pak.” Pelayan itu pun berlalu meninggalkan Anya dan Mayor Bintang.

“Ikut saya!” Bintang menarik paksa tangan Anya dan langsung berjalan menuju restoran.

Mata Anya membola, bagaimana jika calon istri Bintang masih ada di sana? Habislah dia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 72

    “Eum,” angguk Anya cepat. “Ya sudah, coba kamu jelaskan, pelanggaran apa yang sudah saya lakukan,” tanya Bintang. “Ok! Pertama, Om pulang terlambat tanpa ngabarin aku. Kedua, Om pergi cepat tanpa pamit sama aku. Ketiga, Om udah ngerusak suasana jalan-jalan aku sama Rea. Yang padahal, Om sendiri nggak pernah ngelakuinnya bareng aku. Tiga pelanggaran HAM terberat.” Anya menunjuk tiga jari tangannya.Bintang menarik dan membuang napas kasar. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini, Anya mencari-cari kesalahan agar dirinya terlihat menyebalkan di mata istri sendiri. Seolah selama ini ia tidak pernah memberikan perempuan ini perhatian dan waktu yang menyenangkan.Apa kehidupannya sebegitu membosankannya bagi seorang Anya?“Apa menurut kamu itu semua sebuah kesalahan?” tanya Bintang lagi. “Iya! Menurut aku … Om itu, boring!” Anya memasang raut wajah tak suka. Mendengar jawaban Anya, lidah Bintang pun mulai berkelintaran karena kesal. Secepat dan sejauh itu ia mengemudi demi memastikan is

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 71

    Bersamaan dengan rasa amarah Bintang membuncah, kedua bola matanya menangkap dua sosok yang sedang berjalan di tepi pantai tanpa alas kaki. Baju keduanya sama dengan langkah yang selaras. Tampak sesekali mereka tertawa pelan seperti tengah bercanda.“Apa itu mereka?” tanya Bintang penasaran. Tanpa menunda lagi, ia pun segera berlari ke arah sosok yang diduganya sebagai Anya dan Rea. “Anya ...!” teriaknya.Benar saja, itu adalah Anya. Perempuan itu seketika menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah asal suara yang memanggil namanya. “Hah?! Om Bintang?” serunya tak percaya.“Om Bintang?” tanya Rea. Ia ikut menoleh ke arah yang Anya lihat. Terperanjat, saat melihat tentara satu itu berhasil menyusul mereka ke tempat yang sejauh itu.“Anya ....” Bintang berhenti tepat di depan Anya. Napasnya tampak tersengal dan naik turun tak beraturan.Anya tercengang dengan mulut yang ternganga. Ekspresi wajahnya bingung campur kaget karena melihat suaminya sudah berdiri di hadapannya saat ini.

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 70

    “Ya sudah, saya balik ke kantor dulu.” Satria berlalu meninggalkan Bulan begitu saja. Seolah dokter spesialis bedah itu bukanlah wanita yang ditunggunya sejak tadi, jadi tidak perlu bertemu lama-lama. Bulan hanya bisa pasrah ditinggal begitu saja. Karena pada dasarnya, seperti itulah karakter asli Satria. Kadang acuh, kadang tak perduli sama sekali. Dirinya saja yang terlalu kecintaan pada pria tampan itu. Bahkan sudah diselingkuhi berkali-kali pun, tetap saja masih mau menerima lagi.Dan kalau sedang terluka hebat, obatnya adalah Bintang.***“Selamat beristirahat, semoga cepat sembuh ya?” ucap Anya kepada pasien terakhir yang ia periksa.Ia kemudian berlalu keluar ruangan dan langsung merogoh ponselnya. Masih berharap jika ada pesan dari suaminya-Bintang, walau hanya satu pesan saja. Namun hasilnya nihil.Ia pun mengetik pesan untuk Aurel, mengabari teman dekatnya itu kalau nanti ia akan pulang dengan Rea. Jadi Aurel tidak perlu menunggu apalagi mencarinya. Setelah pesan terkirim,

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 69

    “Maksudku, kamu bikin special moment gitu. Yah, apa kek. Kamu bisa bikinin dia apa gitu.” “Masak maksud kamu?” Anya membuang napas kasar. “Terakhir aku masakin dia, masakanku ke buang semua. Udah ah, nggak usah dibahas lagi. Capek!” Anya berlalu begitu saja ke arah rumah sakit. “Ya elah, dia marah, aku ditinggal gitu aja,” omel Aurel. “Nya, tungguin woy!” teriaknya sembari melangkah menyusul Anya yang sudah hampir sampai di pintu utama. Setibanya di dalam, mereka langsung berpisah. Anya ke bagian ICU, sedang Aurel ke IGD. Kembali menjalani tugas dan tanggungjawab masing-masing. Demi pengalaman dan nilai PKL yang memuaskan, mereka harus bisa melakukan pekerjaan sebagai perawat magang dengan sebaik-baiknya. Mengingat setelah ini mereka akan langsung membuat KTI sebelum kemudian naik sidang, yudisium dan wisuda. “Udah datang kamu?” Rea langsung menyapa Anya dengan raut wajah yang sengaja dibuat seramah mungkin. “Udah,” jawab Anya singkat. Jujur, untuk kali ini dia benar-benar s

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 68

    Pukul tiga dini hari, mobil Bintang baru saja berhenti di depan unit asramanya. Ia langsung turun dan menekan tombol kunci. Kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan kunci duplikat. Saat pintu sudah terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Anya. Perempuan itu tampak tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang tergeletak acak di atas meja. “Astaga, kenapa dia tidur di sini?” gumam Bintang. Perlahan, Bintang pun mengangkat kepala Anya lalu menggendongnya dan membawanya ke kamar. Perempuan itu terus bergeming karena tidur benar-benar pulas. Bahkan saat diletakkan di atas tempat tidur pun, Anya tidak terjaga sedikitpun. “Apa dia menunggu saya lagi?” tanya Sang Mayor seraya menatap lekat kepada Anya. Ia lalu menarik selimut dan menyetel suhu pendingin agar Anya bisa tidur lebih nyaman. Setelah itu, ia duduk di tepi ranjang dan kembali menatap wajah perempuan itu. Perempuan yang baru sebulan ini ia nikahi, tapi sudah sering ia tinggalkan. “Maafkan saya, Anya.

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 67

    Usai puas melampiaskan rasa cemburunya dengan cara yang anti mainstream, Bintang pun kembali melajukan mobilnya dan langsung menuju ke rumah sakit tentara.Tiba di sana, ia turun sementara Anya menunggu di mobil. Tak berselang lama, pria bertubuh tinggi dengan bobot proporsional itu sudah kembali lagi. Dua bungkus nasi uduk pesanan Anya sudah berhasil ia bawa masuk ke dalam mobil.“Makasih ya Om,” ucap Anya dengan pandang ragu-ragu. Bibirnya sebenarnya ingin tersenyum, tapi masih begitu canggung.“Eum ....” Bintang juga melakukan hal yang sama. Jadilah mereka sama-sama seperti orang yang salah tingkah pasca aksi cumbu panas di dalam mobil tadi.Begitu tiba di rumah, Anya bergegas turun tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Keheningan darinya terasa begitu pekat saat ia melangkah masuk ke kamar untuk berganti baju, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi untuk membersihkan diri.Bintang yang juga baru turun dari mobil hanya bisa berdiri dan diam saja melihat Anya berla

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 25

    Sepanjang jalan, Anya hanya diam dengan pandang yang terus tertuju ke arah depan jalan. Berbeda dengan Bintang, laki-laki itu justru tampak seperti orang yang sedang gelisah. Berulang-ulang kali berdehem, tanpa ada sebab. Batuk pun, tidak. Terus mencuri-curi pandang kepada perempuan dengan seragam P

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 23

    Namun, belum sempat sang Mayor mengulangi kata-katanya, Andini sudah lebih dulu datang dengan nampan berisi teh hangat di tangannya. “Ayo diminum dulu, Mbak,” tawar perempuan berambut ikal tersebut. “Wah, makasih banyak, Mbak. Maaf udah ngerepotin.” Anya langsung duduk. “Nggak kok, Mbak. Mal

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 20

    Mobil Bintang sudah tiba di depan sebuah bangunan berlantai dua. Setelah mengantar anak buahnya, ia langsung kembali ke rumah milik orang tuanya itu. Dikarenakan sebentar lagi dia akan menikah, jadi untuk sementara waktu dia harus tinggal di sana dulu. Di depan teras, tampak beberapa orang masih d

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 18

    “Ini, Om, silahkan diminum.” Anya meletakkan segelas teh dingin di atas meja.“Terima kasih.” Bintang langsung mengambil teh tersebut dan menenggaknya hingga tersisa setengah gelas.Anya kembali duduk di depan Bintang dengan jantung yang berdebar tak karuan. Ibunya sudah tahu maksud kedatangannya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status