LOGINBAB 4
“Ya Om, ini aku. Anya,” jawab Anya santai. “Se—sedang apa kamu di sini?” tanya Bintang. “Om sendiri, lagi apa?” “Saya tanya kamu, kamu jangan tanya saya balik.” Anya mengulum senyum. “Aku lagi nungguin temen, Om. Tapi kayaknya dia nggak jadi datang. Terus nggak sengaja, aku ngeliatin Om Bintang duduk bengong sendirian di sini. Jadinya, aku samperin aja deh,” jelasnya, penuh karangan. Bintang menyapu pandang sejenak ke setiap sudut restoran. Memanggil pelayan dan membayar tagihan pesanannya. Terakhir, mengambil ponsel dan jaket seperti akan meninggalkan tempat tersebut. Melihat itu, dengan cepat Anya mencengkram lengan Mayor Bintang dan menahannya untuk tidak pergi. “Om, mau ke mana?” tanyanya panik. “Saya mau pulang. Tolong lepas,” pinta Mayor Bintang. “Loh, kok pulang sih Om. Itu, makanannya belum dimakan. Mubazir tahu Om. Kan bayarnya mahal.” Anya mencari-cari alasan. Bintang melirik sekilas ke arah makanan yang masih utuh di atas meja. Kemudian kembali melihat kepada Anya. “Kamu mau? Makan saja.” Ia kembali bergerak ingin pergi. “Eh Om, ini tuh banyak banget. Aku nggak bisa ngabisin makanan sebanyak ini sendirian.” Lagi-lagi Anya membuat alasan. Yang jelas, Bintang tidak boleh pulang. Titik! “Ya … kalau kamu tidak bisa menghabiskannya, kamu tinggal bungkus lalu bagi pada yang membutuhkan.” “Tapi aku juga membutuhkan, Om ....” Anya mulai memasang raut wajah sedih. Bintang melirik tajam ke arah Anya. “Maksud kamu apa?” “Aku … aku butuh Om buat nemenin aku makan malam ini. Selama ini, aku selalu makan sendirian di kos, nggak ada yang nemenin aku, Om. Hiks ....!” Anya mulai menangis. Mendengar itu, pengunjung restoran lainnya jadi melihat ke arah mereka. Para pelayan juga saling berbisik satu sama lain. Hal itu pun membuat Bintang malu dan memijat dahinya karena pening. “Ya sudah, saya temani kamu makan,” ucap Bintang. Ter-pak-sa. “Beneran Om?” “Iya ....” “Asik ....” Anya melompat kegirangan. Tingkah kekanak-kanakannya yang lucu dan manja benar-benar tidak bisa ia sembunyikan. Ia lalu menarik kursi dan duduk di depan sang Mayor. Sementara Bintang, masih terus melihat kepada jam tangan dan layar ponselnya. “Ayo Om, duduk,” pinta Anya. Tanpa bantahan dan penolakan lagi, Bintang pun kembali duduk. Anya langsung mendekatkan sepiring steak kepada pria itu sembari tersenyum jengah. “Ayo dimakan, Om,” ucap Anya. Masih diam. Bintang segera mengambil garpu serta pisau dan mulai memotong daging steak-nya perlahan. “Hmm ... Ini enak banget, Om.” Anya bergumam girang. Ia makan tanpa malu-malu, seolah sedang tidak bersama dengan pria yang disukainya. Padahal biasanya, perempuan sangat menjaga image jika di dekat laki-laki yang ditaksir dan berharap bisa mendapatkan hatinya. Namun Anya berbeda. “Habis kan saja kalau kamu suka,” ucap Bintang. “Beneran Om?” tanya Anya. “Eum.” Anya pun kembali menyantap steak-nya dengan begitu lahap. Hingga ia tidak menyadari jika ada saus steak-nya yang belepotan di sekitaran bibir mungilnya. Pemandangan itu pun terlihat oleh Bintang. Laki-laki dengan karakter dingin dan pendiam itu menunjuk bibirnya kepada Anya. “Apa Om?” tanya Anya. “Itu, ada noda,” jelas Bintang. “Di sini?” Anya menyapu bibirnya, tapi noda itu justru lari ke lain arah. “Udah belum, Om?” tanya Anya. Kesal karena Anya tidak membersihkan noda itu dengan benar, Bintang pun mengambil alih membersihkan bibir Anya secara langsung dengan tisu. “Di sini. Kamu melewatinya,” ucap Bintang. Anya membeku saat Bintang menyentuh bibirnya dengan posisi wajah mereka yang begitu dekat. Bahkan menelan ludah saja rasanya, berat ... sekali. Lebih-lebih saat sang Mayor mengarahkan retina matanya kepada Anya, membuat pandang mereka bertemu untuk beberapa saat. Dan itu, nyaris membuat seorang Anya pingsan di kursinya. Sedang Bintang, menyadari kekeliruannya, dengan cepat ia pun menarik mundur tubuhnya dan berdehem sekali. “Maaf, saya harus ke toilet sebentar,” ucapnya seraya terus berlalu ke arah belakang restoran. Anya tertegun, duduk seperti orang yang baru saja kehilangan roh. Lamunnya buyar saat dering panggilan masuk terdengar dari ponselnya. Anya pun segera melihat kepada layar benda pipih tersebut. Aurel calling .... “Astaga, Aurel,” gumam Anya dalam hati. Ia langsung melihat kepada temannya yang duduk tak jauh dari meja Bintang. Ping! Sebuah pesan menyusul masuk ke ponsel Anya. [Tega banget kamu, aku mau mati kelaparan nih!] tulis Aurel. [Sorry, aku lupa. Aku antar makanan buat kamu, tapi nanti kamu pulang sendiri ya?] balas Anya. [Hah? Pulang sendiri?] [Iya, soalnya aku mau pulang bareng Mayor Bintang] Tulis Anya diikuti emoticon pasta gigi. [Kampret kamu! Udah bahagia aja, aku kamu campakkan] [Sahabat harus saling mendukung. Aku antar makanan ke tempatmu ya?] Anya bangkit dan segera mengambil sepiring spaghetti dan sebotol air mineral untuk diberikan kepada Aurel. “Nah, gini kan asik. Dari tadi kek.” Aurel langsung menyantap makanannya. “Ya kan Lo tahu, dari tadi gue sama Mayor Bintang. Ya udah, gue balik ke sana lagi ya?” “Eum ....” Anya segera kembali ke meja Bintang. Namun, baru saja ia tiba di meja itu dan akan kembali duduk, tiba-tiba saja dua bola matanya menangkap sosok yang ia lihat kemarin di ruang kerja sang Mayor. Calon istri Bintang. ‘Di—dia? Dia datang ke sini?’ Panik Anya dalam hati. Anya terperanjat dan sempat membeku ditempatnya. Namun saat perempuan itu mengarahkan pandangan ke arahnya, kaki Anya mundur selangkah. Kemudian dengan cepat, ia pun mengambil ponsel dan jaket Bintang lalu segera berjalan cepat ke arah toilet pria. Tiba di sana, tampak Bintang baru saja keluar. Mereka pun langsung berpapasan dengan ekspresi wajah masing-masing. Anya tegang, sang Mayor bingung. “Kamu … ngapain kamu ke toilet laki-laki?” tanya Bintang. “Om, pulang yuk?” “Pulang? Kenapa kamu pulang ngajak-ngajak saya?” “Om, telah terjadi sesuatu sama aku. Aku harus segera pulang. Om anterin aku ya? Please ....” Anya mengatupkan kedua tangannya di depan Mayor Bintang. “Terjadi sesuatu?” tanya Bintang bingung. Anya mengangguk cepat. “Ya sudah, saya ambil barang-barang saya dulu.” “Eh, nggak perlu Om. Aku udah bawa ke sini.” Anya memberikan jaket dan ponsel kepada Bintang. Dahi Bintang masih bertaut heran. Namun ia memilih untuk tidak bertanya lebih banyak dan mengikuti saja apa yang Anya arahkan. Mengambil jaket dan ponsel dari tangan perempuan itu. “Loh, kok mati? Perasaan tadi baterainya penuh,” tanya Bintang. “Mungkin soak, Om!” alibi Anya. “Soak?” tanya Bintang lagi. “Eum,” angguk Anya cepat. “Ya sudah, ayo,” ajak Bintang tanpa banyak bertanya lagi, ia hendak melangkah ke arah dalam restoran. “Eh, Om! Jalan sini aja. Lebih dekat,” ajak Anya dengan alasan yang dibuat-buat. Alasan sebenarnya adalah, agar sang Mayor tidak bertemu dengan dokter perempuan itu. Lagi-lagi tanpa bantahan, Bintang terus mengikuti Anya. Entah mungkin karena ia sudah lelah berdebat dengan bocah ingusan itu, atau karena malam yang sudah mulai larut. Sudah pukul sebelas kurang lima. “Kamu yakin jalan ini bisa tembus ke parkiran mobil?” tanya Bintang yang mulai ragu dengan rute yang diarahkan oleh Anya. Mendengar itu, Anya pun menghentikan langkah kakinya. Dia lalu berbalik dan melihat ke arah sang tentara. “Om nggak percaya sama aku?” tanyanya dengan raut wajah serius. “Bukan saya tidak percaya, tapi sepertinya dari tadi kita hanya muter-muter saja. Saya sudah mengantuk ini. Mau cepat sampai ke mess dan tidur.” Sang Mayor mulai kesal. Mendengar penjelasan Bintang, Anya pun membuang napas kasar. Tepat di waktu yang bersamaan, seorang pelayan restoran tampak berjalan ke arah mereka. Otak Anya pun langsung bekerja. Dengan cepat, ia pun segera menghampiri pelayan tersebut dan bertanya, “Mas, kalau mau ke parkiran lewat mana ya?” tanya Anya. “Lewat dalam restoran saja, Non,” jawab sang pelayan. Mayor Bintang terdengar membuang napas kesal. Sementara Anya, hanya bisa menggigit bibir bawahnya. “Kalau jalan lain Mas, ada nggak?” “Wah, ini dapur buntu, Non. Jalan menuju ke luar gedung ini ya cuma lewat restoran.” “Serius Mas? Nggak ada jalan lain?” “Nggak ada Non.” “Co—” “Ya sudah, makasih ya Mas,” potong Bintang cepat. “Sama-sama, Pak.” Pelayan itu pun berlalu meninggalkan Anya dan Mayor Bintang. “Ikut saya!” Bintang menarik paksa tangan Anya dan langsung berjalan menuju restoran. Mata Anya membola, bagaimana jika calon istri Bintang masih ada di sana? Habislah dia.Anya terpaku sejenak di tempatnya berdiri. Dua bola matanya membesar, dengan dahi yang bertaut parah. Ekspresi wajahnya berubah seketika, dari yang tadi panik setengah mati, menjadi bingung luar biasa. “Kamu tidak apa-apa, Anya?” tanya Bintang dengan mimik wajah cemas. Anya masih mematung di ambang tirai, matanya terus menatap lencana besi dan lapisan tebal berwarna hitam yang kini terekspos di balik seragam PDH hijau Bintang yang sudah koyak. Tidak ada genangan darah yang mengalir deras seperti dugaannya. Tidak ada juga luka menganga yang merobek kulit Sang Mayor. Yang ada hanyalah sebuah rompi anti peluru standar militer (bulletproof vest) yang menempel ketat membungkus tubuh tegap suaminya. Serta sebutir proyektil peluru yang tertanam hancur, terjebak di dalam lapisan Kevlar tebal tepat di bagian dada kiri atas Bintang. Posisi Sang Mayor juga sudah tak lagi berbaring, melainkan terduduk di tepi brankar. Ia dibantu oleh seorang dokter yang tengah memeriksa denyut nadi dan r
Seperti mimpi buruk yang meluluh lantakkan seluruh dunianya, Anya terkejut luar biasa dan langsung berlari cepat ke arah Bintang. Ia bahkan tidak memperdulikan rasa lemas yang sempat melumpuhkan persendian kakinya karena keterkejutan suara tembakan tadi. Tas rajut yang sejak tadi menggantung di pundaknya, kini terlepas begitu saja dan jatuh ke atas tanah. Langkah kakinya yang biasanya sedikit berat karena menggunakan sepatu pantofel hitam khas mahasiswi keperawatan, kini terasa lebih ringan karena dorongan kepanikan di dadanya yang jauh lebih besar. Dunia di sekeliling Anya mendadak bergerak dalam tempo lambat yang menyiksa. Semua orang terlihat berlarian kocar-kacir menyelamatkan diri masing-masing. Beberapa tim medis yang ada di dalam rumah sakit berhamburan keluar guna mencari tahu apa yang terjadi. Pekikan histeris dari para pengunjung rumah sakit, teriakan komando para satpam yang mulai mengepung area parkir, dan deru mesin kendaraan yang mencoba menjauh, semua itu meredup me
Membaca pesan dari nomor asing tersebut membuat kedua kaki Anya seketika terasa lemas. Ia merasa seolah seluruh pasokan tenaga di tubuhnya menguap dalam hitungan detik. Jantung yang beberapa menit lalu berdegup kencang karena letup kebahagiaan, kini berbalik berpacu liar karena rasa takut yang mendadak mencekik dadanya. Kartu akses yang dipegangnya terlepas, jatuh membentur lantai koridor dengan bunyi ketukan halus yang terasa begitu nyaring di telinganya. Anya menatap nanar rentetan kalimat di layar ponselnya. Kalimat ancaman itu tertulis begitu rapi, dingin, dan penuh kepastian. Memori kepalanya langsung mengingatkannya pada rentetan teror telepon misterius di asrama semalam. “Siapa ... siapa sebenarnya orang ini?” batin Anya menjerit ketakutan. Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar hebat. Rasa aman yang baru saja ia rasakan berkat pelukan dan pengakuan cinta Bintang tadi malam, seketika runtuh tersapu oleh rasa panik yang merayap cepat. Tanpa berpikir panjang,
Perjalanan Anya di atas motor ojek online membelah jalanan Ibu Kota yang cukup padat pagi ini. Namun, meski hembusan angin dingin menerpa wajah cantiknya, tak sedikitpun mengurangi binar ceria di kedua matanya.Sepanjang jalan, pikiran Anya hanya dipenuhi oleh bayangan wajah Bintang dan janji manis pria itu untuk menjemputnya sore nanti. Entah mengapa, sejak mendengar kata cinta dari Sang Mayor tadi malam, ingin rasanya ia selalu ada di samping laki-laki itu. Cinta bertepuk sebelah tangan saja Anya kecintaan, apa lagi kalau cintanya berbalas, bertambah parah level bucinnya. Sekitar pukul sembilan kurang sepuluh menit, motor ojek yang ditumpangi Anya tiba di depan area lobi utama rumah sakit. Setelah melakukan pembayaran dan menyerahkan kembali helm, Anya merapikan sedikit seragam putihnya yang agak kusut karena terpaan angin dijalan. Ia menarik dan menghembuskan napas panjang, bersiap mengubah mode dirinya dari seorang istri manja menjadi seorang mahasiswi keperawatan yang sigap
Pagi Senin, seperti biasa. Anya dan Bintang bangun pagi-pagi sekali. Mereka memulai aktivitas dengan tugas masing-masing. Anya menyiapkan sarapan, sementara sang Mayor menyiram tanaman dan menyembur pakaian. Setelah sholat subuh berjamaah—pukul tujuh pagi—mereka sudah bertemu di meja makan. Untuk pagi ini, Anya membuat nasi goreng dan telur mata sapi. Soal rasa sudah jauh lebih enak. Sering belajar, ia kini sudah lebih bersahabat dengan dapur dan bumbu-bumbunya. “Sore nanti saya jemput ya?” ucap Bintang di sela-sela sarapan pagi mereka. “Om nggak keluar kota lagi?”“Tidak. Saya cepat pulang hari ini. Ada sedikit urusan di pinggiran kota, sekalian mulai mempersiapkan semua keperluan untuk Latgabma nanti.”“Tinggal dua pekan ya, Om,” cicit Anya dengan suara yang terdengar pilu. Bintang mengulur tangan menyentuh punggung tangan Anya. “Cuma satu bulan …,” ucap Bintang, mencoba menenangkan kegelisahan istrinya. Anya mengangkat kepala dan menoleh. Sebuah senyuman ketegaran ia tunjukk
Bintang menghentikan gerakannya sekilas, lalu sebuah senyum penuh arti terbit di wajah lelahnya. Tatapan elang pria itu menggelap, mengunci netra bulat Anya yang kini memancarkan binar menggoda yang sangat berani—sangat kontras dengan air mata yang baru saja ia hapus.“Kenapa? Kamu keberatan?” tantang Bintang dengan suara baritonnya yang merendah, sarat akan pikat yang membuat bulu kuduk Anya meremang halus.Anya tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai jawaban, ia justru meraih tangan kekar Bintang, lalu menuntun suaminya itu melangkah menuju kamar mandi yang terletak di samping dapur. Keberanian yang tiba-tiba muncul di dalam diri mahasiswi keperawatan itu sukses membuat Bintang terkekeh rendah, membiarkan dirinya dituntun sepenuhnya.Begitu mereka masuk, Anya langsung menutup pintu dengan rapat. Gemericik air dari shower mulai terdengar, memecah keheningan malam dan menguapkan sisa-sisa ketegangan yang sempat meracuni pikiran mereka seharian ini. Di bawah guyuran air hangat yang
Mobil Bintang sudah tiba di depan sebuah bangunan berlantai dua. Setelah mengantar anak buahnya, ia langsung kembali ke rumah milik orang tuanya itu. Dikarenakan sebentar lagi dia akan menikah, jadi untuk sementara waktu dia harus tinggal di sana dulu. Di depan teras, tampak beberapa orang masih d
“Ini, Om, silahkan diminum.” Anya meletakkan segelas teh dingin di atas meja.“Terima kasih.” Bintang langsung mengambil teh tersebut dan menenggaknya hingga tersisa setengah gelas.Anya kembali duduk di depan Bintang dengan jantung yang berdebar tak karuan. Ibunya sudah tahu maksud kedatangannya.
Kereta baru saja tiba di stasiun daerah asal Anya. Setelah mesinnya berhenti sempurna, para penumpang mulai bersiap-siap. Mengingat ada begitu banyak orang yang menaiki transportasi umum tersebut, maka semua orang harus antri secara tertib. Bintang dan Anya masih tampak duduk tanpa pergerakan. Any
“Om, aku nggak salah denger kan?” tanya Anya yang masih tidak percaya dengan apa yang Bintang ucapkan. “Apa saya perlu mengulanginya lagi?” tanya Bintang balik. Anya menggeleng cepat. “Ya sudah, ayo.” Bintang langsung menarik tangan Anya. Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan di sepan







