Share

Bab 2

Author: LV Edelweiss
last update publish date: 2026-02-25 15:04:26

“Nya ....” Aurel kembali memanggil temannya itu.

“Heuh?” Anya tampak linglung.

“Kita langsung ke ruangan Kapten Bima, yuk? Bentar lagi kita harus masuk kelas lagi,” jelas Aurel.

Anya seperti tidak mendengar ucapan Aurel. Terus melihat ke arah Mayor Bintang dengan hati yang patah dan hancur berantakan.

Meski ia sadar, jika Mayor Bintang tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, tapi kenapa rasa sakit itu rasanya seperti istri yang sedang memergoki suami berselingkuh. Perih sekali.

“Nya ... ayo, ah,” Aurel menarik paksa tangan Anya dan menyeret perempuan yang sedang patah hati itu menjauh dari tempat Bintang bercengkrama.

Tak lama, mereka sudah tiba di depan ruangan Kapten Bima.

Aurel langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Selang beberapa detik saja, suara sahutan pun terdengar.

“Masuk ....”

Aurel membuka pintu perlahan. “Permisi, Pak, saya mau mengantar surat pembinaan.”

“Oh ya, masuk saja,” ucap pria berseragam TNI AD dengan name tag BIMA itu.

Aurel menarik tangan Anya karena dia memang tidak berani untuk masuk sendirian. Jiwa Aurel tidak seperti Anya. Ia sedikit takut jika melihat yang loreng-loreng, teringat macan.

“Permisi ....” Aurel dan Anya melangkah sopan. Ternyata di dalam ruangan itu tidak hanya ada Kapten Bima, melainkan juga ada beberapa tentara lainnya.

“Izin, Pak, saya mau antar surat pembinaan.” Aurel meletakkan secarik kertas ke atas meja Kapten Bima.

“Ya.” Tanpa banyak bertanya lagi, Kapten Bima langsung mengambil pulpen yang Aurel berikan dan menandatangani kertas tersebut.

Namun, saat pria dengan usia sekitar tiga puluh tahunan itu tengah menandatangani berkas pembinaan milik Aurel, tanpa terduga, salah seorang dari tentara yang ada di ruangan itu pun berbicara.

“Sudah dapat undangan dari Mayor Bintang, Ndan?”

“Sudah, saya kan yang pertama dia kasih,” sahut Kapten Bima.

Duarrr!

Bagaikan mendengar petir di siang bolong. Anya begitu terkejut dan nyaris pingsan di tempatnya berdiri.

Mayor Bintang, mau menikah?

Anya memegangi dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak.

Aurel yang juga mendengar percakapan para tentara tersebut, langsung memegang tangan Anya dan mengambil kertas pembinaannya dengan segera.

“Makasih Pak. Saya permisi dulu.” Aurel menarik Anya keluar dari ruangan dengan tergesa. Sedikit membuat Kapten Bima dan para anak buahnya merasa heran.

Sesampainya di luar, Aurel langsung menutup kembali pintu, sedang Anya berdiri seperti mayat hidup.

“Nya ... kamu aman kan?”

“Mayor Bintang Rel, Mayor Bintang mau nikah, huuaaaa ...!” Anya menangis kejer dengan suara yang menggelegar.

“Anya, stop!” Aurel menyekap cepat mulut Anya, sebelum suara temannya itu menggemparkan seisi Kodim tersebut.

“Ikut aku!” Aurel memboyong paksa Anya dan membawanya menjauh dari ruang Kapten Bima.

Mereka berhenti di bawah pohon soga yang sedang bermekaran, tidak seperti hati Anya yang tengah layu.

“Hancur hatiku, Rel. Sakit ... banget.” Anya menekan dadanya. Berita tentang pernikahan Bintang benar-benar menyakiti batinnya.

“Ya salah kamu juga, ngapain naksir sama om-om? Kayak nggak ada cowok lain aja. Tuh, kamu lihat, tentara-tentara muda segitu banyaknya di sini. Lah kamu, malah jatuh cintanya sama duda.” Bukannya memberikan Anya dukungan, Aurel justru membuat temannya itu semakin sedih.

“Kamu nggak paham gimana rasanya jadi aku, Rel. Cinta itu kan nggak bisa ditebak kapan dia datang dan kapan dia pergi. Walau kamu tunjuk ribuan tentara muda juga, kalau aku sukanya cuma sama Mayor Bintang, gimana?” Anya menatap pucuk-pucuk pohon soga yang gugur saat ditiup angin.

Aurel maju dua langkah lebih mendekat. Ia tatap lekat-lekat wajah temannya itu, yang kalau menurutnya cukup cantik untuk sekedar memikat pria-pria berseragam ijo-ijo kayak cendol, kenapa harus sama om-om sih Anya kecantol?

“Nya, dengerin aku. Kamu ini cantik, masih muda lagi. Aku yakin, kamu pasti bisa dapatin yang lebih dari Mayor Bintang. Jangankan yang ijo, yang biru, yang coklat, yang item, kamu bisa dapet, Nya …. So, stop menjatuhkan harga diri kamu buat cowok yang nggak sepadan sama kamu. Lagian Mayor Bintang juga nggak suka kan sama kamu? Mau sampai kapan sih kamu ngerendah gini?” Aurel mulai kehabisan kesabaran dalam menanggulangi kegilaan Anya.

Mendengar kata-kata Aurel, Anya pun membuang napas kasar. Ia lalu menoleh dan melihat kepada teman satu angkatannya itu.

“Ini tuh bukan tentang seragam atau pangkat, Aurel. Ini tuh tentang perasaan. Sekali pun Mayor Bintang bukan TNI berpangkat tinggi, kalau aku udah jatuh cinta, aku bisa apa?”

Sekarang giliran Aurel yang membuang napas kasar. “Balik kelas yuk? Bentar lagi dosen masuk.” Ajaknya, memilih untuk mengalihkan pembicaraan.

Berdebat sama orang yang sedang falling in love memang tidak akan ada habisnya.

***

Sejak Anya mendengar kabar tentang pernikahan Bintang, hari-harinya menjadi mendung selalu. Meski cuaca sedang terik-teriknya, ia tetap merasa seperti hujan deras. Bahkan dengan petir dan kilat yang menyambar-nyambar.

Aurel berbicara saja ia sering tidak nyambung. Fokusnya ambyar karena terus memikirkan tentang mimpinya yang sebentar lagi akan lenyap ditelan kenyataan.

“Kamu nggak antar bahan ke Mayor Bintang?” tanya Aurel di sela-sela jam istirahat kuliah mereka.

“Aku nggak sanggup kalau harus ketemu sama dia, Rel. Hatiku masih terlalu sakit,” jawab Anya tak bersemangat.

Aurel menghela napas dan melihat Anya dengan penuh rasa iba. Kalau dipikir-pikir, kasihan juga Anya. Sedang berbunga-bunganya dalam menyukai Mayor Bintang, sudah harus sakit hati karena akan ditinggal nikah.

“Kamu yang sabar ya? Tenang, jodoh itu sudah di atur sama Yang Di Atas. Sebagai manusia, kita cuma bisa memintanya melalui doa. Kalau kamu emang betul-betul suka sama Mayor Bintang, harusnya kamu relain dia bahagia dengan pilihannya. Atau kamu perbanyak doa aja, bukan pasrah kayak gini. Siapa tahu kan, doa bisa merubah yang nggak mungkin menjadi mungkin, ya kan?”

Anya menoleh kepada Aurel. Sepertinya kata-kata temannya itu berhasil membuat ia kembali bersemangat. Aurel benar, tidak ada yang bisa merubah suatu keadaan, selain doa.

Tanpa sepatah kata pun, Anya pun bangkit dan langsung mengambil bukunya.

Aurel yang melihat temannya kembali bersemangat sempat terkejut dan ikut berdiri. “Mau ke mana, Nya?” tanyanya.

“Mau pembinaan sama Mayor Bintang,” teriak Anya seraya terus berlari menjauhi kelas.

Aurel hanya bisa menggelengkan kepala. Namun ia bahagia melihat Anya tak lagi murung seperti sebelumnya. Semoga saja Anya bisa lebih ikhlas walaupun nanti Mayor Bintang benar-benar menikah dengan wanita lain.

***

Anya mengetuk pintu ruangan secara perlahan dan tak lupa mengucapkan salam. Teringat terakhir kali dia masuk tanpa izin hingga membuat Bintang marah, kali ini harus lebih sopan.

“Masuk,” ucap pemilik suara bariton itu.

Anya membuka pintu pelan. “Permisi Om, aku mau pembinaan,” ucapnya.

“Sayang, aku balik ke rumah sakit dulu ya, soalnya bentar lagi ada pasien yang mau operasi,” ucap seorang perempuan, ia tampak berdiri seraya merangkul lalu mencium pipi Bintang.

Di depan Anya.

“Ya sudah, kamu hati-hati ya?” pesan Bintang.

“Ya, Sayang. Nanti malam kita jadi makan kan di Restoran Kenangan?”

“Oh, iya, hampir saja saya lupa. Maaf. Nanti saya telepon kamu.” Bintang tersenyum tipis.

“Ok, Sayang.” Perempuan itu balas tersenyum manja, lalu setelah itu beralih melihat Anya dengan tatapan menyelidik. “Siapa?” tanyanya pada Bintang.

“Oh, dia mahasiswi binaan saya,” jelas Bintang seraya melirik ke arah Anya yang berdiri seperti anak kucing yang habis diguyur hujan.

“Eum, kok manggilnya ‘Om’, bukan ‘Pak’?”

“Hmm, itu—”

“Salah sebut,” potong Anya cepat. Ia lalu maju dua langkah lebih mendekat ke meja sang Mayor. “Bisa kita mulai, Pak, binaannya?”

“Oh, ya, tentu.” Bintang memijat batang hidungnya.

Perempuan yang disinyalir sebagai calon istri Bintang itu pun kemudian berlalu keluar dari ruangan. Meninggalkan hanya Anya dan Bintang yang masih sama-sama diam dan saling menatap.

Mau makan malam ternyata di Restoran Kenangan? Ok ... Sampai bertemu nanti malam, Om Mayor.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 72

    “Eum,” angguk Anya cepat. “Ya sudah, coba kamu jelaskan, pelanggaran apa yang sudah saya lakukan,” tanya Bintang. “Ok! Pertama, Om pulang terlambat tanpa ngabarin aku. Kedua, Om pergi cepat tanpa pamit sama aku. Ketiga, Om udah ngerusak suasana jalan-jalan aku sama Rea. Yang padahal, Om sendiri nggak pernah ngelakuinnya bareng aku. Tiga pelanggaran HAM terberat.” Anya menunjuk tiga jari tangannya.Bintang menarik dan membuang napas kasar. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini, Anya mencari-cari kesalahan agar dirinya terlihat menyebalkan di mata istri sendiri. Seolah selama ini ia tidak pernah memberikan perempuan ini perhatian dan waktu yang menyenangkan.Apa kehidupannya sebegitu membosankannya bagi seorang Anya?“Apa menurut kamu itu semua sebuah kesalahan?” tanya Bintang lagi. “Iya! Menurut aku … Om itu, boring!” Anya memasang raut wajah tak suka. Mendengar jawaban Anya, lidah Bintang pun mulai berkelintaran karena kesal. Secepat dan sejauh itu ia mengemudi demi memastikan is

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 71

    Bersamaan dengan rasa amarah Bintang membuncah, kedua bola matanya menangkap dua sosok yang sedang berjalan di tepi pantai tanpa alas kaki. Baju keduanya sama dengan langkah yang selaras. Tampak sesekali mereka tertawa pelan seperti tengah bercanda.“Apa itu mereka?” tanya Bintang penasaran. Tanpa menunda lagi, ia pun segera berlari ke arah sosok yang diduganya sebagai Anya dan Rea. “Anya ...!” teriaknya.Benar saja, itu adalah Anya. Perempuan itu seketika menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah asal suara yang memanggil namanya. “Hah?! Om Bintang?” serunya tak percaya.“Om Bintang?” tanya Rea. Ia ikut menoleh ke arah yang Anya lihat. Terperanjat, saat melihat tentara satu itu berhasil menyusul mereka ke tempat yang sejauh itu.“Anya ....” Bintang berhenti tepat di depan Anya. Napasnya tampak tersengal dan naik turun tak beraturan.Anya tercengang dengan mulut yang ternganga. Ekspresi wajahnya bingung campur kaget karena melihat suaminya sudah berdiri di hadapannya saat ini.

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 70

    “Ya sudah, saya balik ke kantor dulu.” Satria berlalu meninggalkan Bulan begitu saja. Seolah dokter spesialis bedah itu bukanlah wanita yang ditunggunya sejak tadi, jadi tidak perlu bertemu lama-lama. Bulan hanya bisa pasrah ditinggal begitu saja. Karena pada dasarnya, seperti itulah karakter asli Satria. Kadang acuh, kadang tak perduli sama sekali. Dirinya saja yang terlalu kecintaan pada pria tampan itu. Bahkan sudah diselingkuhi berkali-kali pun, tetap saja masih mau menerima lagi.Dan kalau sedang terluka hebat, obatnya adalah Bintang.***“Selamat beristirahat, semoga cepat sembuh ya?” ucap Anya kepada pasien terakhir yang ia periksa.Ia kemudian berlalu keluar ruangan dan langsung merogoh ponselnya. Masih berharap jika ada pesan dari suaminya-Bintang, walau hanya satu pesan saja. Namun hasilnya nihil.Ia pun mengetik pesan untuk Aurel, mengabari teman dekatnya itu kalau nanti ia akan pulang dengan Rea. Jadi Aurel tidak perlu menunggu apalagi mencarinya. Setelah pesan terkirim,

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 69

    “Maksudku, kamu bikin special moment gitu. Yah, apa kek. Kamu bisa bikinin dia apa gitu.” “Masak maksud kamu?” Anya membuang napas kasar. “Terakhir aku masakin dia, masakanku ke buang semua. Udah ah, nggak usah dibahas lagi. Capek!” Anya berlalu begitu saja ke arah rumah sakit. “Ya elah, dia marah, aku ditinggal gitu aja,” omel Aurel. “Nya, tungguin woy!” teriaknya sembari melangkah menyusul Anya yang sudah hampir sampai di pintu utama. Setibanya di dalam, mereka langsung berpisah. Anya ke bagian ICU, sedang Aurel ke IGD. Kembali menjalani tugas dan tanggungjawab masing-masing. Demi pengalaman dan nilai PKL yang memuaskan, mereka harus bisa melakukan pekerjaan sebagai perawat magang dengan sebaik-baiknya. Mengingat setelah ini mereka akan langsung membuat KTI sebelum kemudian naik sidang, yudisium dan wisuda. “Udah datang kamu?” Rea langsung menyapa Anya dengan raut wajah yang sengaja dibuat seramah mungkin. “Udah,” jawab Anya singkat. Jujur, untuk kali ini dia benar-benar s

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 68

    Pukul tiga dini hari, mobil Bintang baru saja berhenti di depan unit asramanya. Ia langsung turun dan menekan tombol kunci. Kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan kunci duplikat. Saat pintu sudah terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Anya. Perempuan itu tampak tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang tergeletak acak di atas meja. “Astaga, kenapa dia tidur di sini?” gumam Bintang. Perlahan, Bintang pun mengangkat kepala Anya lalu menggendongnya dan membawanya ke kamar. Perempuan itu terus bergeming karena tidur benar-benar pulas. Bahkan saat diletakkan di atas tempat tidur pun, Anya tidak terjaga sedikitpun. “Apa dia menunggu saya lagi?” tanya Sang Mayor seraya menatap lekat kepada Anya. Ia lalu menarik selimut dan menyetel suhu pendingin agar Anya bisa tidur lebih nyaman. Setelah itu, ia duduk di tepi ranjang dan kembali menatap wajah perempuan itu. Perempuan yang baru sebulan ini ia nikahi, tapi sudah sering ia tinggalkan. “Maafkan saya, Anya.

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 67

    Usai puas melampiaskan rasa cemburunya dengan cara yang anti mainstream, Bintang pun kembali melajukan mobilnya dan langsung menuju ke rumah sakit tentara.Tiba di sana, ia turun sementara Anya menunggu di mobil. Tak berselang lama, pria bertubuh tinggi dengan bobot proporsional itu sudah kembali lagi. Dua bungkus nasi uduk pesanan Anya sudah berhasil ia bawa masuk ke dalam mobil.“Makasih ya Om,” ucap Anya dengan pandang ragu-ragu. Bibirnya sebenarnya ingin tersenyum, tapi masih begitu canggung.“Eum ....” Bintang juga melakukan hal yang sama. Jadilah mereka sama-sama seperti orang yang salah tingkah pasca aksi cumbu panas di dalam mobil tadi.Begitu tiba di rumah, Anya bergegas turun tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi. Keheningan darinya terasa begitu pekat saat ia melangkah masuk ke kamar untuk berganti baju, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi untuk membersihkan diri.Bintang yang juga baru turun dari mobil hanya bisa berdiri dan diam saja melihat Anya berla

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 17

    Kereta baru saja tiba di stasiun daerah asal Anya. Setelah mesinnya berhenti sempurna, para penumpang mulai bersiap-siap. Mengingat ada begitu banyak orang yang menaiki transportasi umum tersebut, maka semua orang harus antri secara tertib. Bintang dan Anya masih tampak duduk tanpa pergerakan. Any

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 16

    Waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh. Mobil Bintang baru saja berhenti di depan sebuah rumah makan kuliner Nusantara, yang menyediakan berbagai macam menu khas Indonesia yang cukup terkenal. Seperti ayam tangkap dari Aceh, sambal matah dari Bali, rendang dari Sumatera Barat dan sebaga

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 14

    “Om, aku nggak salah denger kan?” tanya Anya yang masih tidak percaya dengan apa yang Bintang ucapkan. “Apa saya perlu mengulanginya lagi?” tanya Bintang balik. Anya menggeleng cepat. “Ya sudah, ayo.” Bintang langsung menarik tangan Anya. Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan di sepan

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 13

    “Om ....” Anya berdiri dengan pandang yang tak terputus ke arah Bintang. Menatap laki-laki itu dengan perasaan campur aduk. Antara sayang, iba, kasihan.Tadi, saat Anya sedang berjalan hendak mengantar tugas kepada pembina sementaranya, tanpa sengaja, ia melihat Bintang berjalan ke arah ruang Letje

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status