共有

Bab 5

作者: LV Edelweiss
last update 公開日: 2026-02-25 15:42:52

Sambil ditarik paksa oleh Bintang, Anya terus menyapu pandang ke seluruh bagian restoran. Terpantau sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana, termasuk Aurel. Restoran juga sepertinya akan segera tutup.

‘Syukurlah kalau perempuan itu sudah pulang,’ batin Anya.

Sampai di luar restoran, Bintang pun menghentikan langkah kakinya dan segera melepas pegangan tangannya dari Anya. Ia lalu menoleh dan melihat kepada gadis itu dengan tatapan marah, tangannya bersedekap.

Tak pernah terpikirkan olehnya jika malam ini ia harus berurusan dengan si bocah tengil, yang sangat tidak ia suka dan selalu ia hindari saat di kantor itu. Sungguh sial sekali.

Sementara Anya, tahu jika dirinya diperhatikan, ia pun hanya bisa diam. Berdiri dengan posisi kepala yang menunduk. 

Lama mereka saling diam dengan perasaan masing-masing. Yang jelas, hidup Anya tidak akan selamat setelah malam ini.

“Bisa kamu jelaskan tentang semua ini?” tanya Bintang.

Anya masih diam dan tidak berani untuk melihat ke arah lawan bicaranya.

“Saya bertanya sama kamu, Anya Berlian Permata.”

Mendengar itu, Anya pun mengangkat kepala cepat, “Om hapal nama lengkap aku?” tanyanya kaget.

“Saya suruh kamu menjelaskan, bukan justru mengajukan pertanyaan balik!” bentak Bintang.

Anya kaget, jantungnya serasa mau copot. “Maafin aku, Om.”

Bintang membuang napas kasar. “Ya sudah, sebagai hukumannya, nilai binaan kamu saya kurangi lima.”

Sontak saja wajah Anya berubah pucat. Pasrah, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Mengingat, apa yang ia perbuat kepada Bintang tadi memang sudah sangat keterlaluan.

Bahkan walaupun Bintang akan menghukumnya hormat bendera selama seharian, Anya dengan suka rela akan menjalaninya.

“Saya duluan,” ucap Bintang. Ia lalu meninggalkan Anya begitu saja, terus berjalan menuju ke mobil dinasnya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Sadar ditinggal, Anya pun segera menyusul Mayor Bintang dengan berlari-lari kecil. “Om, tungguin. Masa Om mau tinggalin aku di sini sendirian sih?”

“Kamu pulang sendiri, saya pulang sendiri. Sejak awal kita memang datang sendiri-sendiri ke tempat ini, bukan?” jelas sang Mayor. 

Kata-kata Bintang berhasil menusuk relung hati Anya. Tapi, it's ok lah, Anya sudah terbiasa dikatain oleh Mayor Bintang.

“Tapi jam segini udah susah dapet ojek, Om. Aku pulang naik apa dong?” 

“Naik taksi saja.”

“Nggak punya duit, Om” ucap Anya jujur.

Bintang menghentikan gerakan tangannya yang sudah berada di handle pintu mobil. Menoleh perlahan ke arah Anya yang berdiri dengan bibir yang maju dua sentimeter.

“Heh, kamu pikir saya percaya? Tadi saja, kamu bilang mau bertemu dengan seseorang di sini, di restoran semewah ini, kenapa sekarang untuk ongkos pulang bisa tidak punya duit?”

“Ya ... aku juga ke sini karena di ajak sama temen aku, Om. Katanya dia mau traktir.” 

“Cewek?”

“Cowok, Om.”

“Pacar?”

“Bukan, Om. Kenalan di online.”

“Telepon saja dia, saya buru-buru.” Mayor Bintang membuka pintu mobilnya dan langsung masuk tanpa mau mendengarkan penjelasan Anya lagi. Sungguh, ter-la-lu.

“Om ... Om ... kok aku ditinggal sih? Om ... nebeng dong, Om. Om ... OM BINTANG ...!” Anya terus mengejar mobil Bintang yang sudah bergerak perlahan meninggalkan restoran.

Tak peduli, Bintang segera tancap gas dan meninggalkan Anya seorang diri di depan restoran.

Anya sedih campur kecewa. Ternyata sebenci itu Bintang padanya. Sama sekali tidak mau peduli dengan keadaan dirinya sedikitpun. 

Benar kata orang, laki-laki yang tidak punya hati kepadamu, mana mungkin dia akan mengkhawatirkan keadaanmu.

“Om Bintang tega banget sama aku. Dia ninggalin aku di sini sendirian. Mana Aurel udah pulang lagi. Mau telepon siapa, aku di kota ini cuma sendiri.”

Sedih, Anya pun menangis sembari menutup wajahnya dengan tangan. Perasaannya benar-benar terluka. Bukan hanya karena ditinggal di tengah kota yang mulai sepi ini, melainkan karena sikap Bintang yang sampai hati membiarkan ia sendiri.

“Setidaknya, walaupun dia nggak suka sama aku, apa dia nggak bisa simpati sedikit sama perempuan? Aku kan cewek, bukannya orang-orang sawah.”

Namun, dalam keadaan yang begitu sedih, Anya tidak tahu, jika ternyata Bintang tidak benar-benar pergi meninggalkannya. Mobil pria itu sudah dalam posisi berhenti tak jauh dari tempatnya duduk dan menangisi nasib.

Dari kaca spion kiri mobilnya, Mayor Bintang terus melihat Anya yang belum ada pergerakan sama sekali. Gadis itu masih tampak duduk tanpa ada usaha untuk mencari angkutan.

Di saat Bintang tengah mengamati Anya, tiba-tiba saja ia melihat tiga pemuda mabuk yang berjalan ke arah gadis itu. Tahu mabuk, dari cara mereka jalan yang tampak sempoyongan tak karuan. Salah seorang dari mereka juga terdengar meracau tak jelas.

“Heh, lihat, ada cewek cantik,” ucap salah seorang dari mereka.

“Mana mana mana?” tanya yang lainnya.

“Itu bodoh, di sana!” Ketiga pemuda mabuk itu pun melihat ke arah Anya.

“Lumayan untuk penghangat malam ini.” Mereka lalu tertawa jahat dan segera berjalan dengan langkah gontai ke arah Anya.

Mengetahui para pemabuk itu hendak mengganggu Anya, Bintang pun tidak tinggal diam. Dengan cepat ia pun kembali menggerakkan mobilnya dengan cara mundur. Lalu berhenti tepat di depan Anya dan menurunkan kaca langsung.

“Ayo masuk!” perintahnya.

Anya mengangkat kepala dan melihat kepada laki-laki dewasa itu. Sempat tertegun sesaat karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bintang, mengajaknya pulang?

“Om ngomong sama aku?” tanya Anya di sela-sela sesenggukannya.

“Bukan, sama pohon. Ya sama kamu Anya. Memangnya ada orang lain di sini selain kamu dan saya? Cepat naik.”

Anya pun segera bangkit dari duduknya dan melangkah cepat ke arah mobil. Langsung membuka pintu mobil dan masuk.

Setelah Anya duduk, Bintang pun segera menutup kembali kaca jendela. Selang beberapa detik, para pemabuk tadi lewat dan terlihat seperti kecewa.

“Pakai sabukmu,” perintah Bintang.

Anya menurut dan langsung memakai sabuk pengamannya. Kemudian mengusap wajahnya yang basah karena air mata dengan tangan.

Melihat itu, Bintang pun menarik dua lembar tisu yang ada di atas dashboard dan memberikannya kepada mahasiswa binaanya itu. “Pakai ini.”

Anya diam dan melihat kepada sang Mayor. Lalu mengambil tisu tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dahi sang Mayor tampak mengernyit samar. “Mau saya antar ke mana?” tanyanya dengan intonasi bicara yang sudah kembali normal.

Tak menjawab, Anya justru membuang pandang ke arah luar jendela. Tampaknya ia masih begitu terluka dengan sikap acuh dan tak peduli yang Bintang tunjukkan tadi.

“Jawab, Anya. Kalau kamu diam seperti ini, saya jadi bingung sendiri.”

“Ke kosan. Jalan anggrek nomor 30,” jawab Anya dengan posisi masih buang muka.

“Baik.” Bintang kembali menghadap ke arah kemudinya. Kemudian menginjak gas dan melajukan mobil menuju ke kosan Anya.

Sepanjang jalan, Anya terus diam. Mayor Bintang juga diam. Jadilah mereka sama-sama diam. Dan setelah malam ini, apa yang akan terjadi besok?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 113

    “Jadi maksud kamu, hilangnya Ayah ada sangkut pautnya dengan orang yang sekarang sedang meneror kamu, begitu?” tanya Anne. Bintang mengangguk pelan. Sorot matanya tidak menunjukkan keraguan sedikitpun saat menatap langsung ke dalam manik mata Anne yang tampak bergetar.​“Benar, Bunda. Polanya sangat identik untuk disebut sebuah kebetulan,” jawab Bintang, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ketegasan seorang perwira.​Ia menjeda sejenak, membiarkan angin sore berembus di antara mereka sebelum kemudian melanjutkan.“Mereka menggunakan taktik yang sama, menghilangkan orang yang mereka anggap sebagai ancaman. Bedanya, puluhan tahun lalu mereka berhasil melakukannya pada Ayah. Tapi sekarang, tidak akan lagi. Karena situasinya sudah berbeda.”​Bintang menegakkan tubuhnya, seperti sedang memperlihatkan aura seorang prajurit yang kokoh lagi berani pada ibu mertuanya. “Apa kamu yakin bisa melawan mereka, Bin? Bunda takut kamu kenapa-kenapa. Kasihan Anya kalau sampai kamu mengal

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 112

    “Setelah itu, kemana Bunda dan … ayah pergi?” Bintang semakin penasaran dengan cerita Anne. “Ke stasiun, Bin. Bunda dan … Ayah ke stasiun. Dia membawa Bunda ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan orang-orang yang mengejar kami,” jelas Anne. ““Orang-orang yang mengejar kami”?” tanya Bintang mengulang kata-kata Anne. “Berarti, Ayah tahu, siapa mereka?” Anne bergeming. Tatapannya mendadak kosong, menerawang jauh menembus kepulan kabut masa lalu yang kembali menyesakkan dada. Suasana di kebun bunga belakang mendadak terasa hening, hanya menyisakan desau angin sore yang menerpa wajah mereka berdua. ​Bintang berhenti sejenak untuk bertanya. Ia tidak ingin mendesak Anne. Sebagai seorang prajurit terlatih, ia tahu kapan harus menekan dan kapan harus memberi ruang. Bintang juga membiarkan ibu mertuanya untuk menstabilkan emosi yang sempat naik-turun akibat mengingat kembali memori menyakitkan saat bersama ayah mertuanya dulu. ​Setelah beberapa saat, Anne pun mengembuskan napas pan

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 111

    “Dua puluh satu tahun yang lalu, saat mengetahui kalau Bunda mengandung, Arjuna Abrisam adalah orang yang paling bahagia saat itu. Siang dan malam dia jagain Bunda. Belikan makanan apapun yang Bunda pengen. Ajak Bunda jalan-jalan di sela-sela jam dinasnya. Bunda selalu merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini karena memiliki dia.”Anne tersenyum getir, seolah bayangan masa lalu yang indah itu sedang menari-nari di atas kelopak bunga Aster di depannya. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rindu yang teramat sangat.​Bintang mendengarkan dengan saksama. Setiap kata yang keluar dari bibir ibu mertuanya diserapnya baik-baik, menyusun kepingan-kepingan informasi tentang sosok perwira legendaris yang kini takdirnya bertautan erat dengan dirinya. “Sayangnya, kebahagiaan itu hanya sesaat Bunda rasakan. Tepat saat usia kandungan Bunda sembilan bulan, badai itu pun datang tanpa Bunda duga sama sekali. Tengah malam, Arjuna Abrisam, ayahnya Anya, dia pulang dengan berlumuran darah. Peru

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 110

    Anya langsung bangkit dari posisinya, menatap suaminya dengan mata bulat yang membelalak panik.“Om, mana yang sakit? Perutnya kenapa? Apa efek obatnya, atau lukanya kegesek pas meluk aku tadi?!” cecar Anya beruntun, insting keperawatannya langsung keluar. Wajahnya yang semula sembab kini berubah pucat pasi. “Sini, biar aku cek dulu ya?” ​Bintang masih memegangi perutnya, tapi ringisan di wajah tegasnya perlahan memudar, berganti dengan senyum canggung yang dipaksakan.Detik berikutnya, terdengar suara keruyukan yang cukup jelas dari perutnya.​Kruuukkk .…​Kamar yang semula tegang itu mendadak hening. Anya mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap perut Bintang lalu beralih menatap wajah suaminya yang kini mulai salah tingkah.“Om ...?” panggil Anya, nadanya berubah menyelidik.​Bintang berdeham pelan, mencoba menyelamatkan harga dirinya sebagai seorang Mayor yang baru saja ketahuan merana karena urusan cacing perut. “Itu ... perut saya sepertinya ….?” ucap Bintang menggantung, su

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 109

    Bintang yang menyadari perubahan raut wajah istrinya langsung membawa jemarinya untuk menyelipkan anak rambut Anya ke belakang telinga. Ia bisa merasakan embusan napas berat yang keluar dari celah bibir perempuan itu. “Kenapa? Kamu keberatan kalau harus tinggal di rumah bersama Mama dan Bunda?” tanya Bintang lembut, mencoba mengulik isi hati Anya. ​Anya menggeleng pelan. Ia menundukkan wajahnya, menatap jemari Bintang yang kini bertautan dengan jemarinya di atas kasur. “Nggak gitu, Om. Aku senang kok … bisa bareng Mama sama Bunda. Cuma ....” Anya menggantung kalimatnya sejenak, beralih menatap dada kiri Bintang dengan tatapan cemas. “Om kan baru aja keluar dari rumah sakit. Lukanya bahkan belum sembuh total. Masa udah harus langsung ikut Latihan. Apa nggak bisa didelegasikan ke perwira yang lain, Om?” ​Mendengar kekhawatiran yang tulus itu, Bintang menghela napas panjang. Ia membawa tubuh Anya kembali merapat, menyandarkan dagunya di puncak kepala istrinya. “Latgabma ini age

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 108

    “Aaahh … akhirnya,” seru Bintang bahagia. Ia sudah berbaring di atas ranjang tempat tidurnya. Anya hanya melirik dan tersenyum sembari terus merapikan barang-barang bawaan mereka selama di rumah sakit. “Anya …,” panggil Bintang tiba-tiba. “Hm, iya, Om. Ada apa?” sahut Anya tanpa menoleh. “Saya kangen,” ucap Sang Mayor jujur. Gerakan tangan Anya spontan berhenti dan membeku sejenak. Ia lalu menoleh perlahan dan menatap Bintang dengan senyum jengahnya. Tanpa kata-kata Bintang pun menepuk kasur dua kali, kode agar Anya mendekat dan duduk di sampingnya. Mengerti, Anya pun langsung bangkit dan melangkah mendekati suaminya itu. “Kok kangen sih, Om. Aku kan selalu ada di dekat Om. Nggak pernah ninggalin Om Bintang.” Dengan gerakan tegas tapi tidak kasar, Bintang pun menarik Anya merapat ke tubuhnya hingga wajah mereka nyaris tak berjarak. “Saya kangen belaian istri saya, Anya. Selama di rumah sakit, saya tidak bisa menyentuhmu, peluk kamu … cium kamu,” jawab Bintang juj

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 75

    “Berdiri tegak di sana,” perintah Bintang kepada Anya. “Heuh?” Anya bingung mendengarnya. Bagaimana tidak, baru saja mereka tiba di pantai, tapi Bintang sudah menyuruhnya berdiri dengan sikap siap sempurna. “Mau ngapain sih Om? Mau foto aku?” tebaknya. Bukannya menjawab pertanyaan Anya, Bintang

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 69

    Pukul tiga dini hari, mobil Bintang baru saja berhenti di depan unit asramanya. Ia langsung turun dan menekan tombol kunci. Kemudian berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan kunci duplikat. Saat pintu sudah terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Anya. Perempuan itu tampak tertidur d

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 68

    Usai puas melampiaskan rasa cemburunya dengan cara yang anti mainstream, Bintang pun kembali melajukan mobilnya dan langsung menuju ke rumah sakit tentara. Tiba di sana, ia turun sementara Anya menunggu di mobil. Tak berselang lama, pria bertubuh tinggi dengan bobot proporsional itu sudah kembali

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 67

    Sepanjang jalan, Bintang terlihat diam dengan pandang yang terus tertuju ke arah depan. Entah apa yang sedang pria dewasa itu pikirkan. Apakah dia cemburu melihat Anya bersama Satria? Menyadari perubahan sikap suaminya, Anya pun berinisiatif untuk memulai percakapan. “Makan malam, enaknya apa ya Om

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status