Share

Bab 6

Penulis: LV Edelweiss
last update Tanggal publikasi: 2026-03-11 00:05:59

Bintang duduk di kursi ruang kerja sembari mengaktifkan ponsel miliknya yang padam sejak semalam. Ia bahkan memasang charger karena mengira jika ponsel itu kehabisan daya.

Setelah mengantar Anya pulang ke kosannya, ia memang tidak sempat untuk mengecek ponselnya karena sudah terlalu lelah. Benda pipih itu bahkan ia tinggal di dalam mobil dinasnya semalaman, tanpa ia coba nyalakan terlebih dahulu.

Namun kini, saat layar ponsel itu sudah kembali menyala, ia bisa melihat jika persentase baterai hp itu masih di angka delapan puluhan. Artinya, ponsel itu tidak mati karena kehabisan baterai, tapi sengaja dimatikan.

Dahi Bintang bertaut bingung, ada gurat kemarahan di wajah pria tiga puluh lima tahun tersebut. Untuk kali ini, emosinya benar-benar tak dapat ditahan lagi. Ia tahu, siapa yang sudah menyabotase ponselnya. Siapa lagi kalau bukan si gadis tengil bernama Anya itu.

Baru saja Bintang memikirkan tentang kejadian semalam, pesan dari Bulan-tunangannya, masuk ke ponselnya. 

[Aku semalam datangi restoran, tapi kamunya malah nggak ada. Aku wa kamu nggak balas, ditelepon juga nggak aktif. Maafin aku ya, aku telat datang dan nggak ngabarin kamu, karena tiba-tiba ada pasien unfall. Kamu marah ya sama aku?]

“Sialan!” maki Bintang, tangannya menggebrak meja kuat. Nyaris saja lapisan kaca di atasnya retak karena hentakan kedua tangannya yang begitu kuat.

Belum puas, ia pun mengambil botol air mineral yang masih tersegel di atas meja, lalu melemparnya ke arah pintu. Sialnya, bertepatan dengan botol itu melayang, Anya justru datang dan langsung membuka pintu.

Gedubrak!

Botol air mineral itu mendarat tepat di depan jidat Anya. “Aduh!” Anya terkejut plus jatuh tersungkur ke lantai. Ia memegangi keningnya yang tampak membengkak dan merah.

Melihat itu, Bintang yang sedang dalam tensi tinggi, tiba-tiba saja berdiri dan melihat penuh kekhawatiran kepada mahasiswa binaannya.

Namun bukan Bintang namanya, jika tidak tega pada Anya. Jangankan membantu gadis itu berdiri, sang Mayor bahkan tidak mau menanyakan keadaan Anya. Kejam sekali.

“Aduh, sakit.” Anya merintih perih. Ia lalu berdiri sendiri, tanpa ditawari bantuan sama sekali oleh manusia yang sudah melempar kepalanya dengan botol air mineral, isi full.

“Sakit, Om.”

“Siapa suruh kamu buka pintu tanpa ketuk dulu!” Bintang tetap menyalahkan Anya.

“Aku udah ketuk, Om. Tapi Omnya nggak dengar.”

“Jangan bohong kamu! Saya sudah tidak percaya lagi sama kamu. Sini kamu!” Bintang meminta Anya untuk mendekat melalui gerakan jari telunjuknya.

Anya melangkah maju. “Ya, Om?” 

“Kamu apakan ponsel saya semalam?” tanya Bintang to the point.

Anya diam sejenak. Seperti orang yang sedang mencari jawaban terbaik agar tak salah menjawab. “Aku nggak apa-apain hp Om, kok Om.”

“Masih bisa bohong kamu ya? Kamu jawab jujur, atau nilai pembinaan kamu saya beri nol?” Mayor Bintang mengancam dengan memberikan dua pilihan.

Anya menghela napas sembari menutup mata sejenak. “Iya Om, aku  yang matiin. Maaf ...,” ucap Anya dengan kata ‘maaf’ yang nyaris tak terdengar.

Mayor Bintang memukul kembali mejanya. Ia benar-benar murka dengan tingkah Anya yang menurutnya sudah sangat keterlaluan itu. Bisa-bisanya Anya menyentuh benda pribadinya tanpa izin. Bahkan menyabotasenya sehingga ia dan Bulan menjadi salah paham.

“Keterlaluan kamu, Anya. Kamu pikir kamu siapa, ha? Berani-beraninya kamu menyentuh ponsel saya, tanpa seizin dari saya. Anak buah saya saja tidak pernah menyentuhnya. Keluar dari ruangan saya sekarang!” usir Bintang.

“Tapi, Om. Ak—”

“KELUAR!” bentak sang Mayor lagi.

Anya tersentak dan segera berlalu terbirit keluar dari ruangan Bintang. Dirinya benar-benar sedih, saat dimarahi oleh laki-laki yang diidolakannya. Sudahlah dilempar botol air mineral full isi, dibentak lagi. Retak Anya punya hati.

***

“Kenapa lagi kamu?” Aurel datang dan langsung menanyakan tentang keadaan Anya yang mendadak seperti janda ditinggal mati saat berperang. Perempuan itu tampak murung dengan kepala yang menempel pada meja ruang kelas.

“Aku dimarahi, Rel,” jawab Anya lesu.

“Dimarahi? Sama siapa? Mayor Bintang?” tebak Aurel. Yah, siapa lagi yang bisa bikin Anya berbunga-bunga dan gugur dalam sekejap kalau bukan tentara satu itu?

“Aku ketahuan menyabotase keadaan semalam, Rel. Terus dia marah banget.”

“Tapi dia nggak sampai pukul kamu, kan?" tanya Aurel yang khawatir dengan kondisi teman sejawatnya itu. Lagi pula, siapa tahu, tiba-tiba Bintang kerasukan dan ngamuk lalu nyerang Anya.

Anya mengangkat kepala dan duduk menghadap Aurel. “Enggak, Rel. Dia cuma marah aja. Nggak ada mukul.”

“Serius? Tapi, itu jidat merah, kenapa? Kejedot?”

“Bukan. Ditimpuk botol air mineral.”

“Hah? Kok bisa?” Mulut Aurel ternganga lebar.

“Air mineral yang masih tersegel, Rel,” jelas Anya.

“Astaga, Nya. Kok bisa sih? Jangan bilang kalau ini ulah Mayor Bintang yang—”

“Dia nggak sengaja, Re,” potong Anya. “Aku yang salah. Udah ya, jangan bahas dia lagi. Aku malah makin merasa bersalah, Rel. Ini semua emang salahku. Aku yang salah.”

Aurel terdiam dan mengelus lembut lengan Anya. “Udah ya? Sekarang lebih baik kamu fokus sama kuliah aja. Kamu ingat kan, apa tujuan kamu datang ke kota ini? Untuk kuliah dan banggain Bundamu, kan?”

Anya mengangguk pelan. Perlahan ia mulai sedikit sadar. Aurel benar, seharusnya ia tidak melenceng dari tujuan awal ia datang ke kota itu. Sebab jika diingat-ingat, perjuangan untuk bisa kuliah di kampus Kesdam tidaklah mudah. Ada pengorbanan, air mata dan darah di dalamnya.

Terlebih jika sudah membahas Bunda Anne, ibunya Anya. Gadis cantik itu kerap berlinang air mata jika memikirkan tentang sosok satu-satunya yang ia miliki di dalam hidupnya itu.

“Kamu benar, Rel. Sekarang lebih baik aku kembali fokus sama kuliahku. Aku nggak mau membuat Bunda kecewa,” ucap Anya, yang tampak serius dengan kata-katanya.

“Nah, gitu dong. Bukannya dari kemarin.” Aurel langsung merangkul temannya itu.

Anya nyengir, ia lalu melepaskan pelukan Aurel sebab teringat akan sesuatu. “Eh, by the way, semalam kamu pulang dengan apa?” Anya penasarannya.

“Mau tau?” tanya Aurel balik.

Anya mengangguk cepat.

“Sama Song Joong Ki,” gurau Aurel yang diikuti dengan gelak tawa mereka yang bersamaan.

“Beliin aku minum!” perintah seseorang kepada Anya. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 116

    Pagi menjelang. Suasana di pelabuhan kapal milik TNI Angkatan Laut sudah dipadati oleh sejumlah anggota TNI AD yang akan berangkat Latgabma ke California, Amerika Serikat. Bintang dan Anya sudah sampai sejak tadi. Setelah pamit pada keluarga besar, mereka langsung menuju ke titik kumpul keberangkatan.Semua perlengkapan sudah dimasukkan ke dalam ransel khusus prajurit. Anya juga hadir dengan seragam Persit dengan rambut yang dicepol rapi, membuat ia terlihat sangat keibuan. Anya merapikan letak kerah kemeja Bintang untuk yang kesekian kalinya. Jemarinya sedikit gemetar, namun senyum ketegaran tak pernah lekang dari bibirnya.Di sekeliling mereka, derap langkah sepatu lars, riuh suara klakson kendaraan taktis, dan perintah-perintah tegas yang diserukan para perwira menyatukan atmosfer haru sekaligus membakar semangat di pelabuhan pagi itu.“Di sana nanti, jangan lupa makan yang teratur. Walaupun di negeri orang, perutnya tetap harus diisi nasi kalau ada, ya?” bisik Anya pelan, mencob

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 115

    “Surprise ….” Semua orang di rumah itu muncul dari balik pintu dengan membawa kue serta berbagai pernak pernik ulang tahun. Mereka tampak seperti sudah menyiapkan kejutan itu jauh-jauh hari. Terlihat dari kue, kado serta aksesoris yang ada. “Ya ampun kalian! Kok nggak bilang-bilang sih kalau mau ngasih kejutan?” tanya Anya dengan ekspresi wajah yang masih sedikit syok. “Kalau dikasih tahu, bukan kejutan namanya, Anya,” sahut Andini gemas. Rahayu lalu maju lebih dekat. “Anya, selamat ulang tahun ya, Sayang. Ini kado dari Mama,” ucapnya sembari menyerahkan sebuah paper bag pada Anya. “Makasih, Ma. Apa ini?” tanya Anya penasaran. “Nanti kamu buka saja sendiri.”Sekarang gantian Anne yang maju. Wanita paruh baya itu melangkah perlahan mendekati putri semata wayangnya. Wajahnya yang biasa menyembunyikan ketegaran kini dipenuhi rona haru yang membuncah.​Di tangannya, Anne menggenggam sebuah kotak kayu dengan ukiran klasik yang tampak sudah berusia puluhan tahun.“Selamat ulang tahun,

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 114

    Anya terperanjat. Matanya membola, mulutnya ternganga. Ia benar-benar tidak menyangka jika Bintang akan melamarnya meski mereka sudah menikah. “Om, kenapa Om lamar aku? Aku kan udah jadi istri Om,” tanya Anya. “Iya, saya tahu. Tapi kita menikah begitu dadakan. Saya belum sempat melamarmu. Belum juga sempat mengungkapkan isi hati saya. Jadi … sebelum saya berangkat lagabma, saya mau tidak lagi berpikir kalau pernikahan kita ini hanya sebatas hitam diatas putih. Tapi saya menikahi kamu, karena saya mencintai kamu.”“Hiks, Om….” Anya langsung mendung mendengar ungkapan isi hati Bintang. Meski ia tahu jika Bintang sudah menaruh hati padanya sejak malam pertama mereka, tapi lamaran pria itu tetap membuatnya tersentuh. “Om ….” lirih Anya, air matanya sudah berlinang karena haru. “Dijawab, Anya. Kaki saya sudah pegal ini,” tutur Bintang berpura-pura. Anya tertawa pelan. Lalu dengan perlahan ia pun mengarahkan tangannya untuk mengambil kotak cincin tersebut. “Iya, Om. Aku mau nikah sama

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 113

    “Jadi maksud kamu, hilangnya Ayah ada sangkut pautnya dengan orang yang sekarang sedang meneror kamu, begitu?” tanya Anne. Bintang mengangguk pelan. Sorot matanya tidak menunjukkan keraguan sedikitpun saat menatap langsung ke dalam manik mata Anne yang tampak bergetar.​“Benar, Bunda. Polanya sangat identik untuk disebut sebuah kebetulan,” jawab Bintang, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ketegasan seorang perwira.​Ia menjeda sejenak, membiarkan angin sore berembus di antara mereka sebelum kemudian melanjutkan.“Mereka menggunakan taktik yang sama, menghilangkan orang yang mereka anggap sebagai ancaman. Bedanya, puluhan tahun lalu mereka berhasil melakukannya pada Ayah. Tapi sekarang, tidak akan lagi. Karena situasinya sudah berbeda.”​Bintang menegakkan tubuhnya, seperti sedang memperlihatkan aura seorang prajurit yang kokoh lagi berani pada ibu mertuanya. “Apa kamu yakin bisa melawan mereka, Bin? Bunda takut kamu kenapa-kenapa. Kasihan Anya kalau sampai kamu mengal

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 112

    “Setelah itu, kemana Bunda dan … ayah pergi?” Bintang semakin penasaran dengan cerita Anne. “Ke stasiun, Bin. Bunda dan … Ayah ke stasiun. Dia membawa Bunda ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan orang-orang yang mengejar kami,” jelas Anne. ““Orang-orang yang mengejar kami”?” tanya Bintang mengulang kata-kata Anne. “Berarti, Ayah tahu, siapa mereka?” Anne bergeming. Tatapannya mendadak kosong, menerawang jauh menembus kepulan kabut masa lalu yang kembali menyesakkan dada. Suasana di kebun bunga belakang mendadak terasa hening, hanya menyisakan desau angin sore yang menerpa wajah mereka berdua. ​Bintang berhenti sejenak untuk bertanya. Ia tidak ingin mendesak Anne. Sebagai seorang prajurit terlatih, ia tahu kapan harus menekan dan kapan harus memberi ruang. Bintang juga membiarkan ibu mertuanya untuk menstabilkan emosi yang sempat naik-turun akibat mengingat kembali memori menyakitkan saat bersama ayah mertuanya dulu. ​Setelah beberapa saat, Anne pun mengembuskan napas pan

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 111

    “Dua puluh satu tahun yang lalu, saat mengetahui kalau Bunda mengandung, Arjuna Abrisam adalah orang yang paling bahagia saat itu. Siang dan malam dia jagain Bunda. Belikan makanan apapun yang Bunda pengen. Ajak Bunda jalan-jalan di sela-sela jam dinasnya. Bunda selalu merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini karena memiliki dia.”Anne tersenyum getir, seolah bayangan masa lalu yang indah itu sedang menari-nari di atas kelopak bunga Aster di depannya. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rindu yang teramat sangat.​Bintang mendengarkan dengan saksama. Setiap kata yang keluar dari bibir ibu mertuanya diserapnya baik-baik, menyusun kepingan-kepingan informasi tentang sosok perwira legendaris yang kini takdirnya bertautan erat dengan dirinya. “Sayangnya, kebahagiaan itu hanya sesaat Bunda rasakan. Tepat saat usia kandungan Bunda sembilan bulan, badai itu pun datang tanpa Bunda duga sama sekali. Tengah malam, Arjuna Abrisam, ayahnya Anya, dia pulang dengan berlumuran darah. Peru

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 5

    Sambil ditarik paksa oleh Bintang, Anya terus menyapu pandang ke seluruh bagian restoran. Terpantau sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana, termasuk Aurel. Restoran juga sepertinya akan segera tutup.‘Syukurlah kalau perempuan itu sudah pulang,’ batin Anya.Sampai di luar restoran, Bintang pun me

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 4

    BAB 4“Ya Om, ini aku. Anya,” jawab Anya santai.“Se—sedang apa kamu di sini?” tanya Bintang.“Om sendiri, lagi apa?”“Saya tanya kamu, kamu jangan tanya saya balik.”Anya mengulum senyum. “Aku lagi nungguin temen, Om. Tapi kayaknya dia nggak jadi datang. Terus nggak sengaja, aku ngeliatin Om Binta

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 3

    “Kamu yakin kalau Mayor Bintang mau nge-date di sini sama calon istrinya?” tanya Aurel saat ia dan Anya sudah berdiri di depan Restoran Kenangan.“Yakin aku,” jawab Anya.“Berapa persen?” tanya Aurel lagi.“Seribu persen.”“Tapi udah mau pukul delapan, belum ada tanda-tanda mereka datang ke sini? J

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 2

    “Nya ....” Aurel kembali memanggil temannya itu.“Heuh?” Anya tampak linglung.“Kita langsung ke ruangan Kapten Bima, yuk? Bentar lagi kita harus masuk kelas lagi,” jelas Aurel.Anya seperti tidak mendengar ucapan Aurel. Terus melihat ke arah Mayor Bintang dengan hati yang patah dan hancur berantak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status