LOGINBintang duduk di kursi ruang kerja sembari mengaktifkan ponsel miliknya yang padam sejak semalam. Ia bahkan memasang charger karena mengira jika ponsel itu kehabisan daya.
Setelah mengantar Anya pulang ke kosannya, ia memang tidak sempat untuk mengecek ponselnya karena sudah terlalu lelah. Benda pipih itu bahkan ia tinggal di dalam mobil dinasnya semalaman, tanpa ia coba nyalakan terlebih dahulu. Namun kini, saat layar ponsel itu sudah kembali menyala, ia bisa melihat jika persentase baterai hp itu masih di angka delapan puluhan. Artinya, ponsel itu tidak mati karena kehabisan baterai, tapi sengaja dimatikan. Dahi Bintang bertaut bingung, ada gurat kemarahan di wajah pria tiga puluh lima tahun tersebut. Untuk kali ini, emosinya benar-benar tak dapat ditahan lagi. Ia tahu, siapa yang sudah menyabotase ponselnya. Siapa lagi kalau bukan si gadis tengil bernama Anya itu. Baru saja Bintang memikirkan tentang kejadian semalam, pesan dari Bulan-tunangannya, masuk ke ponselnya. [Aku semalam datangi restoran, tapi kamunya malah nggak ada. Aku wa kamu nggak balas, ditelepon juga nggak aktif. Maafin aku ya, aku telat datang dan nggak ngabarin kamu, karena tiba-tiba ada pasien unfall. Kamu marah ya sama aku?] “Sialan!” maki Bintang, tangannya menggebrak meja kuat. Nyaris saja lapisan kaca di atasnya retak karena hentakan kedua tangannya yang begitu kuat. Belum puas, ia pun mengambil botol air mineral yang masih tersegel di atas meja, lalu melemparnya ke arah pintu. Sialnya, bertepatan dengan botol itu melayang, Anya justru datang dan langsung membuka pintu. Gedubrak! Botol air mineral itu mendarat tepat di depan jidat Anya. “Aduh!” Anya terkejut plus jatuh tersungkur ke lantai. Ia memegangi keningnya yang tampak membengkak dan merah. Melihat itu, Bintang yang sedang dalam tensi tinggi, tiba-tiba saja berdiri dan melihat penuh kekhawatiran kepada mahasiswa binaannya. Namun bukan Bintang namanya, jika tidak tega pada Anya. Jangankan membantu gadis itu berdiri, sang Mayor bahkan tidak mau menanyakan keadaan Anya. Kejam sekali. “Aduh, sakit.” Anya merintih perih. Ia lalu berdiri sendiri, tanpa ditawari bantuan sama sekali oleh manusia yang sudah melempar kepalanya dengan botol air mineral, isi full. “Sakit, Om.” “Siapa suruh kamu buka pintu tanpa ketuk dulu!” Bintang tetap menyalahkan Anya. “Aku udah ketuk, Om. Tapi Omnya nggak dengar.” “Jangan bohong kamu! Saya sudah tidak percaya lagi sama kamu. Sini kamu!” Bintang meminta Anya untuk mendekat melalui gerakan jari telunjuknya. Anya melangkah maju. “Ya, Om?” “Kamu apakan ponsel saya semalam?” tanya Bintang to the point. Anya diam sejenak. Seperti orang yang sedang mencari jawaban terbaik agar tak salah menjawab. “Aku nggak apa-apain hp Om, kok Om.” “Masih bisa bohong kamu ya? Kamu jawab jujur, atau nilai pembinaan kamu saya beri nol?” Mayor Bintang mengancam dengan memberikan dua pilihan. Anya menghela napas sembari menutup mata sejenak. “Iya Om, aku yang matiin. Maaf ...,” ucap Anya dengan kata ‘maaf’ yang nyaris tak terdengar. Mayor Bintang memukul kembali mejanya. Ia benar-benar murka dengan tingkah Anya yang menurutnya sudah sangat keterlaluan itu. Bisa-bisanya Anya menyentuh benda pribadinya tanpa izin. Bahkan menyabotasenya sehingga ia dan Bulan menjadi salah paham. “Keterlaluan kamu, Anya. Kamu pikir kamu siapa, ha? Berani-beraninya kamu menyentuh ponsel saya, tanpa seizin dari saya. Anak buah saya saja tidak pernah menyentuhnya. Keluar dari ruangan saya sekarang!” usir Bintang. “Tapi, Om. Ak—” “KELUAR!” bentak sang Mayor lagi. Anya tersentak dan segera berlalu terbirit keluar dari ruangan Bintang. Dirinya benar-benar sedih, saat dimarahi oleh laki-laki yang diidolakannya. Sudahlah dilempar botol air mineral full isi, dibentak lagi. Retak Anya punya hati. *** “Kenapa lagi kamu?” Aurel datang dan langsung menanyakan tentang keadaan Anya yang mendadak seperti janda ditinggal mati saat berperang. Perempuan itu tampak murung dengan kepala yang menempel pada meja ruang kelas. “Aku dimarahi, Rel,” jawab Anya lesu. “Dimarahi? Sama siapa? Mayor Bintang?” tebak Aurel. Yah, siapa lagi yang bisa bikin Anya berbunga-bunga dan gugur dalam sekejap kalau bukan tentara satu itu? “Aku ketahuan menyabotase keadaan semalam, Rel. Terus dia marah banget.” “Tapi dia nggak sampai pukul kamu, kan?" tanya Aurel yang khawatir dengan kondisi teman sejawatnya itu. Lagi pula, siapa tahu, tiba-tiba Bintang kerasukan dan ngamuk lalu nyerang Anya. Anya mengangkat kepala dan duduk menghadap Aurel. “Enggak, Rel. Dia cuma marah aja. Nggak ada mukul.” “Serius? Tapi, itu jidat merah, kenapa? Kejedot?” “Bukan. Ditimpuk botol air mineral.” “Hah? Kok bisa?” Mulut Aurel ternganga lebar. “Air mineral yang masih tersegel, Rel,” jelas Anya. “Astaga, Nya. Kok bisa sih? Jangan bilang kalau ini ulah Mayor Bintang yang—” “Dia nggak sengaja, Re,” potong Anya. “Aku yang salah. Udah ya, jangan bahas dia lagi. Aku malah makin merasa bersalah, Rel. Ini semua emang salahku. Aku yang salah.” Aurel terdiam dan mengelus lembut lengan Anya. “Udah ya? Sekarang lebih baik kamu fokus sama kuliah aja. Kamu ingat kan, apa tujuan kamu datang ke kota ini? Untuk kuliah dan banggain Bundamu, kan?” Anya mengangguk pelan. Perlahan ia mulai sedikit sadar. Aurel benar, seharusnya ia tidak melenceng dari tujuan awal ia datang ke kota itu. Sebab jika diingat-ingat, perjuangan untuk bisa kuliah di kampus Kesdam tidaklah mudah. Ada pengorbanan, air mata dan darah di dalamnya. Terlebih jika sudah membahas Bunda Anne, ibunya Anya. Gadis cantik itu kerap berlinang air mata jika memikirkan tentang sosok satu-satunya yang ia miliki di dalam hidupnya itu. “Kamu benar, Rel. Sekarang lebih baik aku kembali fokus sama kuliahku. Aku nggak mau membuat Bunda kecewa,” ucap Anya, yang tampak serius dengan kata-katanya. “Nah, gitu dong. Bukannya dari kemarin.” Aurel langsung merangkul temannya itu. Anya nyengir, ia lalu melepaskan pelukan Aurel sebab teringat akan sesuatu. “Eh, by the way, semalam kamu pulang dengan apa?” Anya penasarannya. “Mau tau?” tanya Aurel balik. Anya mengangguk cepat. “Sama Song Joong Ki,” gurau Aurel yang diikuti dengan gelak tawa mereka yang bersamaan. “Beliin aku minum!” perintah seseorang kepada Anya.“Tadi Om Kemana?” tanya Anya saat mereka sudah duduk berhadapan dan siap untuk makan malam. “Aku nungguin Om depan rumah sakit. Eh, Om-nya nggak nongol-nongol.” Anya mulai menyantap makanannya. “Saya ada keperluan di pinggiran kota,” jawab Bintang jujur. “Tugas kantor?” Selidik Anya lebih jauh. “Hmm ….” Bintang tampak berpikir. “Bisa iya, tapi bisa juga tidak,” ucapnya yang lalu menyuap nasinya. Anya melirik sekilas. “Apaan bisa iya bisa tidak. Kayak kuis aja, Om.”Bintang tersenyum pelan. Beberapa saat kemudian, ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara denting sendok beradu dengan piring yang terdengar. Bintang dan Anya terus menikmati makan malam masing-masing. Hingga ponsel Sang Mayor berpendar, tepat di depan Anya. Anya langsung melirik ke arah layar benda pipih itu. Sebuah panggilan muncul tapi tak ada nama penelepon. “Siapa, Om?” “Tidak tahu.” Bintang masih menatap layar ponselnya. Anya menopang dagu dengan satu tangan, matanya menyipit penuh selidik menatap layar ponsel su
Mobil Bintang baru saja tiba di depan asrama. Begitu mesin mati, ia langsung turun dan membuka pintu. Ia mengucapkan salam, tapi tak terdengar suara sahutan.“Anya?” Bintang melangkah masuk seraya memanggil nama istrinya. Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang tampak sepi itu. Keheningan di dalam asrama terasa begitu kontras dengan deru mesin mobil yang baru saja ia matikan.Tak kunjung mendengar suara istrinya, Bintang pun mengulangi panggilannya. Ia melangkah lebih dalam, meletakkan kunci mobil di atas meja kecil dekat pintu, terus memanggil dengan nada suara yang sedikit lebih lembut, khawatir jika sang istri ternyata sedang beristirahat.“Anya? Kamu di dalam?”Langkah kakinya membawa Bintang menuju arah dapur, lalu berbelok ke arah kamar tidur mereka. Pintu kamar sedikit terbuka, membiarkan seberkas cahaya lampu dari dalam koridor masuk dan menerangi ruangan yang temaram itu.Bintang mendorong pintu secara perlahan, bersiap menemukan sosok yang sejak tadi meme
Raung sirene ambulans membelah keheningan jalanan desa. Orang-orang yang semula sibuk dengan aktivitas di sekitar rumah mewah itu, seketika menghentikan kegiatan mereka. Perhatian mereka kini sepenuhnya tersita oleh mobil putih yang melaju cepat tersebut. Sebuah tandu dikeluarkan. Tim medis masuk ke dalam rumah dan langsung mengangkat terduga purnawirawan jenderal TNI Dito Prasetyo. Polisi dan beberapa TNI yang ada di desa itu mulai melakukan investigasi dasar. Mencoba untuk mengumpulkan beberapa barang yang bisa dijadikan sebagai alat bukti sementara. “Pa ... Papa ...!” teriak wanita tua itu. Ia tak kuasa menahan tangis saat melihat suaminya dibawa masuk ke dalam ambulans, yang nantinya akan segera menuju ke rumah sakit Ibu Kota, sebab fasilitas di desa tersebut belum memadai. Bintang mendekat dan langsung merangkul kedua lengan perempuan itu. Ia mencoba untuk menenangkan serta memberi dukungan atas apa yang baru saja terjadi. “Apa yang terjadi?” tanya wanita itu pada Bintang.
“Sampai jumpa nanti sore, Om.” Anya melambaikan tangan pada Bintang. Sesaat kemudian, mobil crossover hitam itu pun sudah melaju meninggal area rumah sakit Kasih Ibu.Anya melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Kedua tangannya masih berada pada tali tas ransel kecilnya, dengan gantungan Lababa segede gaban.“Anya ....” Suara seseorang menghentikan langkah kaki Anya. Ia mundur selangkah, dan menoleh pelan ke arah samping. Tampak seorang pria berseragam polisi yang tengah cengar-cengir ke arahnya.“Mas Satria? Ngapain di belakang tiang gitu kayak cicak?” tanya Anya yang berhasil membuat Satria tergelak.Polisi tampan itu segera keluar dari persembunyiannya dan melangkah mendekati Anya. “Saya sedang sembunyi.”“Sembunyi? Dari siapa?” tanya Anya kepo.“Dari dokter Bulan, emang siapa lagi?” Wajah Satria berubah kurang bergairah saat menyebut nama itu.“Loh, bukannya dokter Bulan pacarnya Mas Satria? Kok mukanya kayak orang anemia gitu?” tanya Anya heran.“Saya sih berharapnya amnesia. Amnes
“Saya terpilih untuk ikut Latgabma, Anya,” ucap Bintang saat ia dan Anya sudah berbaring di atas ranjang tempat tidur. Suaranya tenang, tapi sedikit ada getar di ujungnya. Jujur, sudah sejak tadi ia terus memendam kalimat itu. Bahkan hingga mereka sudah berada di dalam kamar dan terbaring dengan gaya yang berbeda di atas ranjang.Anya menyamping melihat Bintang, sedang sang Mayor terlentang melihat ke langit-langit kamar.Senyum yang semula mengembang di bibir tipis Anya, seketika mengecut dan hilang dengan perlahan. “Lat—Latgab apa,Om?” tanyanya belum mengerti. “Latgabma. Latihan gabungan antar prajurit dari seluruh negara sekutu. Dan kali ini lokasinya di ... Hawaii,” jelas Bintang yang diikuti dengan menoleh ke arah istrinya.“Hah? Ha—hawaii?” tanya Anya kaget.“Eum ....” Bintang hanya berdehem dan mengangguk sekali. Menatap lekat ke arah Anya guna melihat ekspresi wajah istrinya itu.“Jauh banget, Om? Pasti lama?” ucap Anya pilu. Bibirnya mulai membentuk huruf U terbalik.“Iya,
Anne menatap sebuah foto yang ada di tangannya. Tatapannya datar tapi begitu sendu dan pilu. Ia usap dengan induk jarinya gambar wajah seseorang yang ada di foto itu. Senyum getir mengembang di bibirnya.“Aku sangat merindukanmu. Kamu ke mana? Perginya jauh sekali ya, sampai harus selama itu? Sudah mau dua dekade, Sayang. Apa kamu tidak mau melihat putri kita, yang setiap hari selalu bertanya dimana ayahnya berada? Aku rindu sekali, Sayang. Sangat rindu.”Lelah menahan, akhirnya air mata itu luruh juga. Anne menangis dengan pandang yang masih tertuju pada potret foto tersebut. Potret dirinya bersama sosok yang selama ini selalu putrinya tanyakan keberadaan dan rupanya.Ternyata selama ini Anne membohongi Anya. Ia bukan tidak punya foto sosok ayah putrinya, tapi sengaja tidak menunjukkannya kepada Anya. Sebab ada rahasia yang tidak bisa ia sampaikan kepada Anya. Hanya ia dan sang suami yang tahu alasannya.“Aku masih menunggumu ... di sini.” Anne mengusap air matanya dan menyimpan kemb
Motor Rangga sudah berhenti di parkiran kampus. Anya langsung turun dan mengucapkan terima kasih pada temannya itu. Namun Rangga justru membalasnya dengan ucapan selamat atas pernikahan perempuan pemilik lesung pipi manis tersebut.“Jujur, aku kaget waktu denger kamu udah nikah. Nggak ada kabar pac
Bagaikan punggung yang merindukan bulan. Peribahasa ini sepertinya cocok untuk Anya yang berharap jika Bintang akan menyentuhnya malam ini. Namun ternyata, harapan itu hanya berakhir pupus begitu saja. Pasalnya, bukan tergiur melihat keindahan raga Anya, laki-laki dengan perawakan tinggi dan gaga
“Anya ... selamat ya? Aku doain rumah tangga kamu sakinah, mawaddah, warahmah. Langgeng terus sampai maut memisahkan. Cepat di kasih momongan.” Doa Aurel untuk sahabatnya itu.“Amin ya Allah. Thank you, ya Rel? Kamu memang sahabatku yang paling baik. Aku doain kamu cepet nyusul,” bisik Anya di tel
Rasa tak percaya, tapi ini sungguh nyata. Ada begitu banyak cafe kopi di kota ini, kenapa Anya harus bertemu dengan orang ini? Bagaimana mungkin dunia ini hanya selebar daun kelor, pikirnya.Anya diam. Saking nervous-nya, ia bahkan sampai tak sanggup untuk sekedar menyapa laki-laki yang sudah membu







