MasukRaya terdiam sejenak, ia bisa merasakan perubahan suhu di antara mereka. Tatapan menyelidik Ares bukanlah tatapan yang biasa ia terima. Itu adalah tatapan seorang pria yang sedang membangun tembok pertahanan, seolah-olah sedang berhadapan dengan lawan bisnis, bukan istrinya. "Atau... atau kamu sudah mulai lelah dengan Kelana?" tanya Ares akhirnya mengatakan kecurigaannya. "Karena dia anak Tania? Karena semua drama yang terjadi jadi kamu—" "Ares, tolong stop," potong Raya tegas sambil menyentuh lengan Ares. Raya menarik napas panjang, mencoba menahan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Ia tidak menyangka bahwa usulannya akan ditafsirkan sebagai bentuk ketidakpedulian. "Ares, dengarkan aku dulu sampai selesai," ucap Raya, suaranya sedikit bergetar namun tetap lembut. "Aku tidak bermaksud mengabaikan ulang tahun Kelana. Justru sebaliknya." Ares masih diam, hanya menaikkan satu alisnya, menunggu penjelasan yang masuk akal bagi logikanya yang sedang dipenuhi prasangka.
Suara ritsleting koper terdengar di sudut kamar yang luas. Raya sibuk melipat pakaian dengan rapi, menyusunnya di dalam koper besar yang sudah setengah penuh. Shopping bag berisi oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman berjejer rapi di samping koper. "Ares, kaos polo biru yang kamu pakai kemarin sudah dicuci atau belum?" tanya Raya sambil memeriksa lemari. "Sudah," jawab Ares tanpa mengalihkan pandangan dari laptop yang terbuka di pangkuannya. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, mengenakan kacamata baca. Lengan piyamanya digulung sampai siku, menunjukkan betapa ia tengah serius bekerja meski sudah larut malam. "Bagus," gumam Raya sambil mengambil kaos itu dari gantungan dan melipatnya dengan hati-hati. Ia melirik jam di nakas, hampir pukul sepuluh malam. Besok pagi mereka akan terbang kembali ke Jakarta. Kembali ke kehidupan normal mereka. Kembali ke Kelana. Kelana. Raya terhenti sejenak, tangannya masih memegang lipatan kaos. Sebuah pikiran tiba-tiba muncul di benaknya. "Sa
David terdengar menarik napas dalam di ujung sana. "Tuan, pihak medis mengatakan kondisinya... cukup serius. Dr. Miller ingin menyampaikannya langsung pada Anda." Ares mengernyit. "Sambungkan sekarang." "Baik, Tuan. Tunggu sebentar." Terdengar suara klik, lalu suara Dr. Miller yang familiar. "Mr. Mahardika," sapa Dr. Miller berhati-hati l. "Terima kasih sudah bersedia menerima telepon saya." "Langsung saja. Apa yang terjadi dengan Tania?" tanya Ares terdengar lelah. Dr. Miller terdiam sejenak sebelum menjawab. "Setelah kejadian kemarin, kami mengobservasi Tania dengan ketat seperti yang dijanjikan. Awalnya dia terlihat damai. Lebih tenang dari sebelumnya. Kami pikir percakapan dengan Anda membantunya mencapai semacam closure." "Tapi?" dorong Ares, merasakan ada sesuatu yang tidak disampaikan. "Tapi semalam, kondisinya berubah drastis," jelas Dr. Miller nadanya khawatir. "Dia mengalami episode depresi yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Menolak makan, menolak minum, bahkan m
Matahari pagi San Francisco bersinar cerah, menembus jendela kamar hotel dan membangunkan Raya dengan lembut. Ia mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum saat merasakan lengan kekar Ares yang masih melingkar possesif di pinggangnya. "Bangun, Sayang," bisik Ares di telinga Raya, suaranya masih serak khas baru bangun. "Kita punya satu hari penuh untuk menikmati kota ini." Raya berbalik dalam pelukan Ares, menatap wajah suaminya yang tampan bahkan di pagi hari. "Pagi, suamiku yang tampan." Ares tersenyum, mengecup bibir Raya singkat. "Pagi, istriku yang cantik. Ayo mandi. Kita punya banyak tempat yang harus dikunjungi." Dua Jam Kemudian - Union Square Ares dan Raya berjalan beriringan di trotoar yang ramai, tangan mereka saling bertaut erat. Raya mengenakan dress casual berwarna putih dengan cardigan krem, rambut dikuncir ekor kuda tinggi. Ares dengan kemeja biru muda yang digulung sampai siku dan celana chino hitam—tampilan kasual tapi tetap berkelas. Di tangan kanan Raya sudah ada
Ares perlahan menarik tubuhnya, lalu dengan lembut membalikkan Raya agar menghadapnya. Ia mengangkat istrinya dengan mudah, membawanya kembali ke ranjang yang berantakan dengan sprei kusut dan bantal berserakan. Ia membaringkan Raya dengan hati-hati, lalu berbaring di sampingnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang basah keringat. "Tunggu sebentar," bisik Ares sambil mengecup kening Raya, lalu bangkit dari ranjang. Raya menatap punggung suaminya yang berotot saat Ares berjalan ke kamar mandi. Terdengar suara air mengalir, lalu Ares kembali dengan handuk hangat basah di tangannya. Dengan gerakan yang sangat lembut—kontras dengan intensitas beberapa menit yang lalu—Ares membersihkan tubuh Raya. Mengusap keringat di wajah, leher, dada, dan bagian-bagian lain dengan penuh perhatian. "Kamu tidak perlu melakukan ini," ucap Raya pelan, wajahnya memerah melihat betapa perhatiannya Ares. "Aku tahu," jawab Ares sambil terus membersihkan istrinya dengan lembut. "Tapi aku ingin
Ares melepaskan sisa pakaiannya dengan satu gerakan cepat, menampakkan tubuh kokohnya yang berotot di bawah cahaya remang lampu tidur. Ia tidak langsung mengambil kendali. Sebaliknya, Ares merebahkan tubuhnya di atas tumpukan bantal, membiarkan dirinya menjadi fondasi bagi istrinya. Matanya yang gelap dan tajam menatap Raya, menantang dan memuja di saat yang bersamaan. "Kemari, Sayang," bisiknya, suaranya serak tertahan di tenggorokan. Ares meraih tangan Raya, menuntun istrinya untuk merangkak naik dan duduk di atas pangkuannya. Posisi ini membuat Raya berada di atas, menatap suaminya dari posisi yang dominan. Rambut Raya yang berantakan jatuh menutupi bahunya, menambah kesan liar yang jarang ia tunjukkan. Ares menggenggam pinggul Raya, namun ia tidak menggerakkannya. Ia justru memberikan kendali penuh pada tangan kecil istrinya. "Malam ini, aku milikmu sepenuhnya. Lakukan apa pun yang kamu mau padaku," gumam Ares sambil mengecup perut Raya. Raya menarik napas panjang, menatap







