Share

Bab 349

Penulis: QueenShe
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-24 17:16:12

Setelah badai gairah itu mereda, suasana kamar kembali tenang, menyisakan suara detak jam dinding dan napas mereka yang perlahan mulai teratur. Ares menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, lalu merengkuh Raya ke dalam pelukannya. Raya menyandarkan kepalanya di dada bidang Ares yang masih terasa hangat dan sedikit lembap oleh keringat.

Ares mengecup puncak kepala Raya berkali-kali, tangannya mengusap lengan istrinya dengan lembut. "Terima kasih untuk malam ini, Sayang. Kamu lua
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 409

    David terdengar menarik napas dalam di ujung sana. "Tuan, pihak medis mengatakan kondisinya... cukup serius. Dr. Miller ingin menyampaikannya langsung pada Anda." Ares mengernyit. "Sambungkan sekarang." "Baik, Tuan. Tunggu sebentar." Terdengar suara klik, lalu suara Dr. Miller yang familiar. "Mr. Mahardika," sapa Dr. Miller berhati-hati l. "Terima kasih sudah bersedia menerima telepon saya." "Langsung saja. Apa yang terjadi dengan Tania?" tanya Ares terdengar lelah. Dr. Miller terdiam sejenak sebelum menjawab. "Setelah kejadian kemarin, kami mengobservasi Tania dengan ketat seperti yang dijanjikan. Awalnya dia terlihat damai. Lebih tenang dari sebelumnya. Kami pikir percakapan dengan Anda membantunya mencapai semacam closure." "Tapi?" dorong Ares, merasakan ada sesuatu yang tidak disampaikan. "Tapi semalam, kondisinya berubah drastis," jelas Dr. Miller nadanya khawatir. "Dia mengalami episode depresi yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Menolak makan, menolak minum, bahkan m

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 408

    Matahari pagi San Francisco bersinar cerah, menembus jendela kamar hotel dan membangunkan Raya dengan lembut. Ia mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum saat merasakan lengan kekar Ares yang masih melingkar possesif di pinggangnya. "Bangun, Sayang," bisik Ares di telinga Raya, suaranya masih serak khas baru bangun. "Kita punya satu hari penuh untuk menikmati kota ini." Raya berbalik dalam pelukan Ares, menatap wajah suaminya yang tampan bahkan di pagi hari. "Pagi, suamiku yang tampan." Ares tersenyum, mengecup bibir Raya singkat. "Pagi, istriku yang cantik. Ayo mandi. Kita punya banyak tempat yang harus dikunjungi." Dua Jam Kemudian - Union Square Ares dan Raya berjalan beriringan di trotoar yang ramai, tangan mereka saling bertaut erat. Raya mengenakan dress casual berwarna putih dengan cardigan krem, rambut dikuncir ekor kuda tinggi. Ares dengan kemeja biru muda yang digulung sampai siku dan celana chino hitam—tampilan kasual tapi tetap berkelas. Di tangan kanan Raya sudah ada

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 407

    Ares perlahan menarik tubuhnya, lalu dengan lembut membalikkan Raya agar menghadapnya. Ia mengangkat istrinya dengan mudah, membawanya kembali ke ranjang yang berantakan dengan sprei kusut dan bantal berserakan. Ia membaringkan Raya dengan hati-hati, lalu berbaring di sampingnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang basah keringat. "Tunggu sebentar," bisik Ares sambil mengecup kening Raya, lalu bangkit dari ranjang. Raya menatap punggung suaminya yang berotot saat Ares berjalan ke kamar mandi. Terdengar suara air mengalir, lalu Ares kembali dengan handuk hangat basah di tangannya. Dengan gerakan yang sangat lembut—kontras dengan intensitas beberapa menit yang lalu—Ares membersihkan tubuh Raya. Mengusap keringat di wajah, leher, dada, dan bagian-bagian lain dengan penuh perhatian. "Kamu tidak perlu melakukan ini," ucap Raya pelan, wajahnya memerah melihat betapa perhatiannya Ares. "Aku tahu," jawab Ares sambil terus membersihkan istrinya dengan lembut. "Tapi aku ingin

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 406 (21+)

    Ares melepaskan sisa pakaiannya dengan satu gerakan cepat, menampakkan tubuh kokohnya yang berotot di bawah cahaya remang lampu tidur. Ia tidak langsung mengambil kendali. Sebaliknya, Ares merebahkan tubuhnya di atas tumpukan bantal, membiarkan dirinya menjadi fondasi bagi istrinya. ​Matanya yang gelap dan tajam menatap Raya, menantang dan memuja di saat yang bersamaan. "Kemari, Sayang," bisiknya, suaranya serak tertahan di tenggorokan. ​Ares meraih tangan Raya, menuntun istrinya untuk merangkak naik dan duduk di atas pangkuannya. Posisi ini membuat Raya berada di atas, menatap suaminya dari posisi yang dominan. Rambut Raya yang berantakan jatuh menutupi bahunya, menambah kesan liar yang jarang ia tunjukkan. ​Ares menggenggam pinggul Raya, namun ia tidak menggerakkannya. Ia justru memberikan kendali penuh pada tangan kecil istrinya. "Malam ini, aku milikmu sepenuhnya. Lakukan apa pun yang kamu mau padaku," gumam Ares sambil mengecup perut Raya. ​Raya menarik napas panjang, menatap

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 405 (21+)

    Begitu pintu lift terbuka di lantai penthouse, Ares tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan satu gerakan dominan, ia menyusupkan lengannya ke bawah lutut Raya dan mengangkatnya ke dalam gendongan bridal style. Raya memekik kecil, mengalungkan tangannya erat pada leher Ares sementara bibir mereka tetap bertaut, seolah napas yang satu adalah nyawa bagi yang lain. ​Langkah kaki Ares berderap cepat di atas karpet tebal koridor sunyi itu. Begitu sampai di depan pintu Presidential Suite, ia menempelkan kartu akses dengan tidak sabar. ​Pintu terbuka, dan Ares menendangnya hingga tertutup rapat, menguncinya dari dalam. Ia tidak membawa Raya ke tempat tidur, melainkan menghimpit tubuh istrinya ke daun pintu yang dingin. Kontras antara punggungnya yang dingin dan dada Ares yang membara membuat Raya mendesah keras. ​"Ares... pelan-pelan..." bisik Raya parau, namun tangannya justru menarik rambut di tengkuk Ares, menuntut lebih. ​"Tidak bisa, Raya. Aku sudah menunggu sepanjang malam," geram

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 404

    Tarian mereka semakin intim, tubuh saling menempel mengikuti irama musik yang menghentak. Lampu strobe yang berkedip menciptakan bayangan-bayangan di wajah mereka, membuat momen ini terasa seperti mimpi. Ares tidak lagi peduli dengan sekitar. Tangannya yang tadinya hanya bertengger sopan di pinggang Raya kini mulai bergerak lebih berani—mengusap punggung, meremas pinggang, turun ke lengkungan tubuh istrinya. Lalu tanpa peringatan, Ares menarik Raya lebih dekat dan menciumnya—ciuman yang penuh, dalam, dan sama sekali tidak peduli bahwa mereka berada di tengah kerumunan. Bibirnya menuntut, lidahnya mengeksplorasi, tangannya meremas pantat Raya dengan possesif. Raya tersentak kecil, tapi kemudian tertawa di sela-sela ciuman—tawa yang lepas dan bahagia. Tangannya melingkar di leher Ares, membalas ciuman dengan sama bernafsunya. Saat ciuman terlepas, Raya terengah sambil menatap mata suaminya yang gelap penuh hasrat. "Ares! Kita di tempat umum!" "Aku tidak peduli," gumam Ares sambil m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status