로그인Kapal pesiar mewah The Majestic Star membelah ombak dengan anggun. Di salah satu dek privat kelas VVIP, Ares Mahardika berdiri dengan setelan kasual linen, menyesap wine merahnya dengan ekspresi paling rileks yang pernah dilihat dunia. Di sampingnya, Raya tampil mempesona dengan dress sabrina putih, membiarkan angin laut mempermainkan rambutnya. "Ares, kamu yakin ini tidak keterlaluan?" Raya bertanya, meskipun tangannya dengan manja melingkar di lengan suaminya. "Kita benar-benar mematikan semua ponsel. Bagaimana kalau Karin menangis atau Kelana berkelahi dengan temannya?" Ares terkekeh, suara baritonnya menyatu dengan deru mesin kapal yang halus. Ia merogoh saku, mengeluarkan dua ponsel yang layarnya gelap gulita. "Biarkan saja, Sayang. Karin sudah SMP, dia harus belajar bahwa dunia tidak selalu berputar di sekitar tangisannya. Kelana sudah SMA, dia calon penerus Mahardika, harus bisa menyelesaikan masalah tanpa mengadu pada Daddynya." Ia menjeda, lalu tertawa licik. "Lagi pula
Di Villa pribadi keluarga Mahardika di Lombok. Ares duduk bersandar di kursi malas. Rambutnya kini telah memutih sempurna, menyisakan gurat-gurat ketampanan maskulin yang bertransformasi menjadi kewibawaan seorang pria senja yang matang. Di sampingnya, Raya sedang sibuk menyesap teh melati hangat. Meski kerutan halus mulai menghiasi sudut matanya, binar di sana tetap sama seperti tiga puluh tahun lalu saat ia masih menjadi sekretaris yang galak bagi Ares. "Ares, lihat itu," tunjuk Raya ke arah bibir pantai. Di sana, Kelana yang sudah menjadi CEO tangguh menggantikan ayahnya, sedang menggendong putra kecilnya. Tak jauh dari mereka, Karin tertawa lepas bersama suaminya, sementara Kenzie—si anak hilang yang akhirnya pulang—sedang asyik memanggang daging bersama David dan istrinya. Kenzie dan David juga sudah menua. "Sebahagia ini ya kita bisa kumpul semuanya," bisik Raya. Ares mengalihkan pandangannya dari anak-cucunya, lalu menatap Raya. Ia meraih tangan istrinya, menggenggam je
Televisi masih menyala, menampilkan serial Netflix yang tadi ditonton Karin dan Gia, namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar fokus ke layar.Karin duduk di karpet dengan kaki ditekuk, jemarinya terus memutar-mutar ujung bantal sofa. Sesekali ia melirik jam dinding, lalu beralih menatap pintu depan yang masih tertutup rapat. Di sofa, Kelana tetap dengan laptopnya, namun jika diperhatikan lebih dekat, kursor di layarnya hanya bergerak berputar-putar tanpa mengetik satu kata pun. Gia, yang menyadari ketegangan itu, hanya diam sambil sesekali mengusap bahu Karin untuk menenangkan."Kak, kok lama banget sih?" gumam Karin, suaranya serak. "Dokter Indri kan biasanya cepat kalau periksa Mami. Jangan-jangan... jangan-jangan beneran ada bayi?"Kelana menghela napas, menutup laptopnya dengan suara klik yang tegas. Ia menatap adiknya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya. "Karin, tenang. Mau ada bayi atau enggak, itu bukan kiamat. Yang paling penting itu kondisi Mami. Usi
Setelah prosedur transvaginal dimulai, resolusi di layar monitor menjadi jauh lebih tajam. Dokter Indri menggerakkan alatnya dengan perlahan, mencari setiap sudut rahim Raya. "Nah, ini dia sumber kegelisahan kalian," ujar Dokter Indri pelan. Raya memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya berdebar hingga ke telinga. Raya memejamkan mata rapat-rapat, jemarinya meremas sprei rumah sakit. "Dokter... katakan saja. Ada janin di sana? Apa saya benar-benar hamil di usia empat puluh lima tahun?" Sementara Ares mencondongkan tubuhnya, wajahnya hampir menempel pada monitor. "Itu dia kan, Dok? Titik hitam itu? Dia sedang bersembunyi?" Dokter Indri mematikan mesin USG, melepaskan sarung tangannya, kemudian memberikan tisu pada Raya untuk membersihkan diri. Raya bangkit dengan kaki yang terasa lemas. Ares merangkul pinggang istrinya, menuntunnya seolah Raya adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Begitu mereka duduk, Dokter Indri memutar layar monitor ke arah mereka. "Ibu Raya, Pak
"Silakan duduk, Pak Ares, Ibu Raya," sapa dr. Indri ramah. Ia telah mengenal pasangan ini sejak kehamilan Karin dua puluh tahun yang lalu. "Wah, sudah lama sekali ya. Ada keluhan apa hari ini?" Ares berdehem, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak sedikit serak. "Istri saya. Dia... yah, telat datang bulan. Sudah dua bulan." Dokter Indri mengangkat alisnya, lalu tersenyum simpul sambil mencatat di rekam medis. "Dua bulan?" "Iya, Dok. Biasanya gak pernah telat. Tadi sempet tespack, garisnya dua tapi samar banget," jawab Raya lirih. Wajahnya memerah. Ia merasa seperti remaja yang tertangkap basah melakukan kesalahan, padahal ia sedang duduk bersama suaminya yang sah. "Baik, usia empat puluh lima ya. Kita periksa dulu. Silakan berbaring di bed, kita lihat lewat USG," ujar dr. Indri sambil memakai sarung tangan lateksnya. Raya merebahkan diri dengan perasaan campur aduk. Ares berdiri tepat di samping kepala Raya, menggenggam tangannya seolah-olah istrinya sedang akan menjala
Ares dan Raya menuruni tangga. Ares tampak gagah dengan kaos polo dan celana bahan, sementara Raya terlihat anggun dengan dress kuning meski wajahnya menyiratkan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan.Karin sedang asyik bersandar di karpet bulu bersama Gia, pacar Kelana di ruang keluarga menonton film di netflix. Iamenoleh pertama kali. "Loh, Daddy sama Mami mau ke mana? Rapi banget, mau kondangan?" tanya Karin heran.Dahinya mengernyit melihat orang tuanya sudah rapi seperti hendak menghadiri jamuan penting. Di sofa, Kelana yang sedang fokus dengan laptop di pangkuannya—postur tubuh dan tatapan matanya yang tajam benar-benar duplikat Ares di masa muda—turut mendongak."Mau ke dokter," jawabnya dengan nada penuh semangat yang tidak biasa.Ares menyunggingkan senyum lebar, seolah baru saja memenangkan tender proyek raksasa. Kelana seketika menghentikan jarinya yang sedang menari di atas keyboard. Ia menutup setengah layar laptopnya. "Ke dokter? Siapa yang sakit? Daddy tensinya nai







