LOGIN"Iya, nanti kuajak. Kalau dia mau," jawab Kayden dengan nada datar, matanya masih tertuju pada jalan di depan."Kok kalau, sih? Harus mau, dong!" ujar Rania sedikit memaksa.Kayden menghela napas pelan. "Ibu tahu kan pacarku pemalu."Kalimat itu langsung membuat Amelia tersentak, merasa dirinya terpanggil. Refleks dia mengalihkan pandangannya ke samping, pipinya mulai memanas. Tapi setelah beberapa percakapan singkat lagi, Kayden langsung memutus panggilan."Siapa?" tanya Amelia dengan tatapan penuh rasa penasaran.Kayden menoleh sekilas. "Ibu. Dia minta bawa pacarku ke rumahnya.""N-nggak," tolak Amelia langsung, kepalanya menggeleng cepat. "Aku pulang sendiri kalau kamu mau ketemu Nenek Rania."Amelia hendak merapikan tasnya, seolah bersiap untuk turun di persimpangan berikutnya. Namun tangan Kayden dengan cepat menghentikannya."Nggak usah. Kamu ikut aja," ujarnya dengan tegas."Nanti Nenek Rania curiga dong kalau aku yang ikut," sahut Amelia masih terlihat sedikit gelisah.Kayden
"N-nggak, Pak. Itu bukan saya. Saya bahkan nggak tau ada pesan itu," jawab Amelia langsung, masih tak percaya dengan apa yang ia lihat di layar ponsel Alvin.Alvin langsung menarik napas panjang. "Jadi benar kan, kamu tidur sama laki-laki itu?"Amelia menelan ludah. Tangannya yang terkepal masih terus gemetar, namun dia berusaha tetap tenang, menjaga napas tetap teratur. "Pak, begini sebenarnya. Saya—"Namun belum sempat Amelia menjelaskan, Alvin tiba-tiba menyela dengan suara yang lebih lembut. "Amelia, tolong jujur. Kamu diancam, kan?"Amelia mengerjap pelan, matanya membelalak. "Hah?""Apa ada sesuatu yang buat kamu terpaksa berhubungan sama dia? Ini nggak wajar soalnya. Usia kalian terpaut sangat jauh. Apalagi laki-laki itu ayah sahabat kamu," lanjut Alvin mendesaknya.Namun nada suara Alvin terdengar khawatir, bukan menghakimi.Amelia buru-buru menggelengkan kepala. "Nggak. Bukan gitu, Pak.""Jangan bohong, Amel," bantah Alvin bersikeras. "Kita bisa terus terang, saya bisa bant
"M-maksudnya apa ya, Pak Alvin? Saya nggak ngerti," ucap Amelia masih menyangkal, meski jantung berdebar panik saat ini."Jangan pura-pura bodoh, Amelia. Saya ada buktinya. Sekarang jawab bener atau nggak pertanyaan saya?" sahut Alvin mendesaknya.Amelia terdiam sejenak. Hatinya tak tenang, penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan. "Pak Alvin tau dari mana?" tanyanya dengan suara pelan, sedikit berhati-hati.Terdengar helaan napas pelan dari seberang telepon, seolah Alvin sedang menahan sesuatu. "Soal itu bisa kita ketemu sebentar? Cuma berdua aja, nggak nyaman ngobrol di telepon gini. Saya udah pulang dari luar negeri."Amelia terdiam lagi, hatinya ragu. Perlahan menoleh ke arah Kayden yang masih mengobrol dengan Karina di depan stasiun. Pria itu pasti tak akan mengizinkannya bertemu Alvin tanpa alasan yang jelas."Kalau gitu agak sore di kampus aja, Pak. Saya lagi di luar soalnya," jawab Amelia."Oke. Saya tunggu," ucap Alvin lalu memutus panggilan.Amelia menatap ponselnya sambil
"Hah? Kok tiba-tiba ngomong gitu?" tanya Kayden dengan raut keheranan. Suaranya terdengar bingung sekaligus waspada.Karina menyeka sudut matanya. Dia sudah sedikit lebih tenang. "Biar Papa cepet nikah, jadi Mama nggak bakal dateng gangguin lagi."Alis Kayden mengernyit. Dia langsung menyadari maksud ucapan Karina saat ini. Wajahnya berubah menjadi dingin. "Jadi tadi ketemu Mama kamu? Dia bilang apa aja sampai bikin kamu nangis?"Pertanyaan itu tepat sasaran. Karina tak menjawab, hanya mengalihkan pandangan. Namun diamnya, itu sudah cukup memberi Kayden jawaban.'Melisa sialan! Beraninya dia manfaatin Karina,' batin Kayden mengumpat. Tapi dia berusaha menahan amarahnya di depan Karina."Ekhem!" Kayden berdehem pelan, mencoba menetralkan emosinya. "Oke kalau kamu nggak mau bilang. Tapi nggak segampang itu melamar orang lain. Apalagi dia masih muda."Karina mengerjap pelan, semakin penasaran. "Emang umurnya berapa? Kapan mau Papa kenalin?"Kayden menarik napas panjang. Lalu menyungging
"Maaf tante. Saya nggak mau. Itu bukan urusan saya. Ayah juga udah lama kabur, saya nggak berhubungan lagi sama dia," balas Amelia dengan tegas.Melisa melotot kesal. Matanya menatap Amelia dengan pandangan merendahkan. Satu tangannya menunjuk tepat ke arah Amelia."Mana saya peduli! Kalau nggak bayar, saya bakal lapor polisi. Dan kamu yang pertama saya tuntut!""Nggak bisa gitu dong, tan—" Belum selesai Amelia membantah, Melisa langsung menyela dengan suara tinggi."Halah, saya nggak mau tahu. Kamu harus lunasi hutang itu!" Melisa kemudian mengeluarkan sebuah catatan kecil dari tas mahalnya. Dia menulis sesuatu di atasnya."Ini nominal hutang dan nomor rekening saya. Kalau kamu belum lunasi sampai akhir bulan ini, saya bakal datang ke sini lagi. Ngerti?!" lanjut Melisa sedikit membentak, sambil melempar kertas itu ke wajah Amelia.Amelia terbelalak dengan wajah menegang. Tangannya terkepal, mencoba menahan amarah sekaligus rasa hina yang Melisa lakukan padanya. Kertas di wajah Ame
"Maksud kamu apa? Kok ngomong gitu ke orang tua sendiri? Aku itu mama kamu!" suara Melisa mulai meninggi. "Aku cuma nanya aja. Kenapa mama marah?" sahut Karina santai. Karina sama sekali tak berkedip. Dia menatap langsung Ibunya yang mulai melotot.Melisa menggeram kesal. Tangannya terkepal erat berusaha menahan kekesalan dalam dada. "Apa papa kamu yang ngajarin kamu ngomong begini?" "Apa, sih? Nggak ada hubungannya sama papa. Aku udah dewasa, tau mana yang benar dan mana yang salah," balas Karina tak habis pikir dengan tuduhan ibunya.Melisa tertawa hambar, emosinya sudah tak terbendung. "Oh? Jadi maksud kamu mama salah?"Karina langsung menepuk jidat. "Astaga. Aku nggak nyalahin—" Tapi belum selesai Karina bicara, Melisa langsung menyela dengan suara yang tak lagi ramah."Tetep aja, perkataan kamu itu nggak pantes ke orang tua kamu. Sebenarnya gimana Kayden mendidik kamu, sih?! Nggak tau sopan santun!" bentaknya meluapkan kekesalan yang tertahan sejak tadi.Karina terdiam sejena







