MasukAaron merangkak naik ke atas ranjang mendekati Alena. Matanya yang bulat dipenuhi kabut gairah yang selalu muncul setiap kali melihat tubuh Alena yang indah.
“Kau sangat beruntung adikku, kau akan menjadi menantu dari keluarga terkaya di kota ini.” Jemarinya menggerayangi pelipis Alena dengan penuh nafsu. Aaron benar-benar sudah tergila-gila pada adik tirinya itu. “Tapi membayangkan dirimu disetubuhi pria lain membuatku sedikit kesal.” Saat Aaron hendak mencium bibir Alena, gadis itu membuang wajah ke samping. Hal itu membuat Aaron berdecih. “Berhentilah bersikap keras kepala, adikku.” Pria itu meremas payudara Alena hingga gadis itu merintih kesakitan. “Bukankah harusnya kau bersyukur? Sial, ini sangat tidak adil. Padahal aku yang sudah merawatmu dengan kedua tanganku sampai sebesar ini, tapi bisa-bisanya justru pria lain yang akan merasakan keperawananmu.” Alena sungguh muak dengan perilaku kakak tirinya. Ia muak dijadikan budak nafsu oleh pria itu sampai berkali-kali mencoba untuk bunuh diri. Naasnya, ia tidak pernah berhasil karena Aaron akan selalu menyelamatkannya. “Alena... Seandainya saja kau bukan anak haram ayah, aku sangat ingin menjadikanmu simpananku, sayang.” “Kau benar-benar menjijikkan, Aaron!” “Kau yang membuatku seperti ini, adikku. Kau yang datang sendiri ke rumah ini dan tersenyum padaku untuk menggodaku.” “Aku tidak pernah menggodamu! Aku datang untuk meminta pertanggungjawaban Axel sebagai ayah biologisku! Kau yang sudah gila! Kalian semua benar-benar gila!” “Diamlah, Alena! Apa kau pikir ayah akan peduli padamu? Kau hanya anak haram! Kau dibesarkan hanya untuk dijual!” Air mata Alena jatuh menetes di pipi tatkala jemari Aaron merambat masuk ke celana dalamnya. Ia sungguh mengutuk pria itu agar mendapat karma buruk. “Jujurlah padaku, Alena. Kau juga menyukai ini, kan?” Alena tidak menjawab. Tubuhnya telah mati untuk merasakan kenikmatan. Yang tersisa hanya rasa jijik dan mual. Melihat Alena menangis tanpa suara, Aaron justru semakin bergairah. Ia melepas gesper untuk menurunkan celananya, membebaskan miliknya yang sudah mengeras oleh gairah. “Buka mulutmu, sayang. Biarkan milikku mengisi mulutmu sampai penuh.” Alena menatap nyalang pada pria menjijikkan itu. “Kalau kau berani memasukkan penis menjijikkanmu ke mulutku, akan kugigit milikmu sampai terputus!” Plak! Aaron menampar pipi putih Alena hingga meninggalkan jejak merah. Gadis itu sangat tidak penurut. Selalu saja membangkang perintahnya. “Kalau begitu nikmatilah hukumanmu karena sudah membuatku marah, adikku.” Dengan kasar, Aaron melentangkan tubuh Alena di ranjang. Ikatan pada kedua tangan dan kakinya membuat gadis itu tidak bisa memberontak. “Kau benar-benar bajingan, Aaron!” Aaron tidak peduli. Pria itu menggesekkan miliknya pada milik Alena. Kenikmatan yang hanya dirasakan sepihak membuat ia semakin menggila dan sangat ingin memasukkan miliknya. Namun Aaron tahu batasannya karena keperawanan Alena harus utuh sampai suaminya sendiri yang mendapatkannya. Dengan frustrasi, pria itu lalu duduk di atas perut datar Alena dan mulai mencengkeram kedua payudara Alena untuk mengimpit miliknya. “Oh, sial, Alena, kenapa tubuhmu sangat nikmat? Hanya melakukan dengan payudaramu saja sudah membuatku ingin keluar.” Alena memejamkan mata selama Aaron melakukannya. Ia sungguh sangat ingin membunuh pria itu dengan tangannya sendiri. “Sial... Arghh! Aku sangat menyukai tubuhmu adikku. Kau benar-benar nikmat!” Setelah mencapai klimaks, Aaron kembali mengenakan celananya tanpa mau repot-repot membersihkan cairannya yang berceceran di tubuh dan di wajah Alena. Ia hanya melepaskan ikatan pada tangan gadis itu lalu turun. “Oh ya, aku hampir lupa. Besok Ayah akan membawamu ke rumah calon suamimu. Jadi, pakailah pakaian yang bagus. Buat dia tertarik padamu.” Setelah mengatakan itu, Aaron benar-benar meninggalkan kamar Alena. Ia pergi begitu saja, meninggalkan gadis itu dalam keadaan berantakan. Tanpa membuang waktu, Alena segera melepaskan tali yang mengikat kedua pergelangan kakinya. Bekas lecet terlihat jelas di kulitnya akibat perlawanan yang tadi ia lakukan. Alena pernah melaporkan perbuatan kakak tirinya kepada polisi. Namun, laporan itu tidak pernah membuahkan hasil. Aaron adalah seorang pengacara, sementara ayah mereka menjabat sebagai kepala polisi. Dengan kekuasaan yang dimiliki keluarganya, Alena seolah tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan keadilan. Alena kemudian pergi ke kamar mandi dengan selimut yang membungkus tubuh. Di wastafel, Alena membasuh wajahnya agar bersih dari cairan milik Aaron. Sedangkan air matanya mengalir lebih deras dari pada air itu sendiri. Jika ia dilahirkan hanya untuk menerima semua ketidakadilan ini, bukankah lebih baik ia tidak pernah lahir ke muka bumi? Seandainya Tuhan memang ada, Alena ingin semua orang yang telah melakukan hal buruk padanya dijatuhi hukuman yang lebih mengerikan dari pada neraka.“Jadi, karena takut aku menceraikan putrimu, kau memintaku menandatangani perjanjian di atas materai?” Damian menyimpulkan maksud pertemuan mereka hari ini. Axel Teresha, yang datang jauh-jauh bersama putrinya ke perusahaan di tengah jam kerja, mengangguk mantap. “Perjanjian itu hanya berlaku sampai kalian memiliki seorang anak. Setelah itu, kau boleh melakukan apa pun yang kau inginkan.” Damian duduk tenang di hadapan calon istrinya. Jemarinya mengetuk pelan sandaran sofa. Axel benar-benar licik. Pria itu sudah memikirkan semuanya dengan matang dan berusaha menyingkirkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Mungkin Axel berpikir Damian akan menceraikan Alena setelah beberapa bulan menikah. Karena itu, ia sengaja menyiapkan perjanjian tertulis sebagai jaminan. “Dan kalian akan memanfaatkan anak itu sebagai alasan untuk terus berhubungan dengan keluarga kami. Begitu?” Tatapan Damian beralih lurus kepada Alena. Wanita itu tampak tenang dan licik seperti ayahnya. Ju
Di meja makan itu, hanya Axel dan Rosalin yang terlihat antusias membicarakan pernikahan antara Alena dan Damian. “Kita harus segera menentukan tanggalnya,” ujar Rosalin bersemangat. “Bagaimana kalau bulan depan? Waktu persiapannya masih cukup.” “Bulan depan terlalu cepat,” sela Elsa. “Setidaknya beri mereka waktu untuk saling mengenal.” Rosalin tertawa kecil. “Mereka bisa saling mengenal setelah menikah. Bukankah yang terpenting adalah keluarga kita sudah menyetujuinya?” Elsa terdiam. Ia tidak menyukai cara wanita itu berbicara seolah pernikahan tersebut hanyalah kesepakatan semata. “Kalau begitu, bagaimana dengan dua bulan lagi?” Axel ikut menyela. “Saya akan memastikan semuanya dipersiapkan dengan baik.” Julian tidak langsung menanggapi. Ia melirik Damian yang sejak tadi hanya diam. Putranya itu bahkan belum menyentuh gelas di hadapannya. “Damian,” panggil Julian. “Kau tidak keberatan?” Semua mata langsung tertuju kepadanya. Damian meletakkan pisau dan garpu yang
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya Teresha.” Rosalin langsung tersenyum lebar mendengar sambutan tersebut. Ia tampak begitu senang mendapat sambutan hangat dari calon besannya yang berasal dari keluarga kaya raya. Dengan langkah cepat, wanita itu menghampiri Elsa lalu menggenggam tangannya. “Terima kasih sudah mengundang kami untuk makan malam, Nyonya Van Houten. Suatu kehormatan bagi kami bisa berkunjung ke kediaman keluarga sebesar ini.” Elsa hanya membalas dengan senyum tipis. Senyum anggun yang biasa diperlihatkan seorang nyonya dari keluarga terpandang. Di belakang Elsa, Julian dan kedua putranya turut menyambut keluarga Teresha. Namun, berbeda dengan Elsa, raut wajah mereka terlihat kaku dan kurang bersahabat. Terutama pria yang mengenakan tuxedo abu-abu. Tatapan matanya begitu dingin hingga membuat Alena sedikit gugup. Axel kemudian memperkenalkan keluarganya. “Tuan dan Nyonya Van Houten, izinkan saya memperkenalkan putra kami, Aaron Teresha. Dan ini putri kami, Alena T
Plak!Tamparan keras mendarat di pipi putra bungsu keluarga Van Houten. Suara yang menggema di seluruh ruangan itu membuat Elsa ikut tersentak.Christian memegangi pipi kirinya yang terasa perih dan panas. Matanya berkaca-kaca saat menatap sang ayah.“Aku tidak membunuh orang itu, Ayah! Percayalah padaku!”“Kau boleh menyangkal semua tuduhan itu, tetapi bukti yang ada mengarah padamu, Christian!” hardik Julian dengan nada penuh amarah.“Ibu, percayalah padaku. Aku tidak membunuh siapa pun.” Christian beralih meminta dukungan kepada ibunya.Elsa percaya pada putra bungsunya. Namun, di hadapan bukti-bukti yang ada, ia tidak tahu bagaimana membela Christian.“Kak Damian...” Christian menatap kakaknya dengan tatapan penuh harap. “Apa Kakak juga tidak percaya padaku?”Damian terdiam. Ia menatap wajah adiknya yang kini dipenuhi keputusasaan.Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang benar-benar ingin percaya bahwa Christian adalah pembunuh. Mereka semua mengenal sifatnya. Christian Van Hout
Aaron merangkak naik ke atas ranjang mendekati Alena. Matanya yang bulat dipenuhi kabut gairah yang selalu muncul setiap kali melihat tubuh Alena yang indah. “Kau sangat beruntung adikku, kau akan menjadi menantu dari keluarga terkaya di kota ini.”Jemarinya menggerayangi pelipis Alena dengan penuh nafsu. Aaron benar-benar sudah tergila-gila pada adik tirinya itu. “Tapi membayangkan dirimu disetubuhi pria lain membuatku sedikit kesal.”Saat Aaron hendak mencium bibir Alena, gadis itu membuang wajah ke samping. Hal itu membuat Aaron berdecih. “Berhentilah bersikap keras kepala, adikku.” Pria itu meremas payudara Alena hingga gadis itu merintih kesakitan. “Bukankah harusnya kau bersyukur? Sial, ini sangat tidak adil. Padahal aku yang sudah merawatmu dengan kedua tanganku sampai sebesar ini, tapi bisa-bisanya justru pria lain yang akan merasakan keperawananmu.”Alena sungguh muak dengan perilaku kakak tirinya. Ia muak dijadikan budak nafsu oleh pria itu sampai berkali-kali mencoba u
Dua bulan lalu, perusahaan Van Houten kembali memenangkan sebuah proyek besar dengan nilai fantastis. Keberhasilan itu bahkan mendapat apresiasi langsung dari gubernur yang mengundang keluarga Van Houten untuk menghadiri jamuan makan malam di kediaman pribadinya. Namun, di tengah kebahagiaan itu Julian justru mendapat kabar buruk soal putra bungsunya. Saat makan malam berlangsung, ponsel Julian berdering. Nama Axel Teresha, kepala kepolisian kota, muncul di layar. Julian segera mengangkatnya.“Tuan Julian, Putra kedua Anda, Christian Van Houten ditemukan di sebuah lokasi yang sedang kami gerebek malam ini. Di tempat itu ditemukan narkoba dalam jumlah besar dan ada seorang pria yang ditemukan tewas di lokasi tersebut.”Kabar itu bagaikan petir di tengah langit cerah. Namun, Julian berusaha mempertahankan ketenangannya. Ia masih berada di kediaman gubernur dan tidak ingin membuat siapa pun curiga.“Ada apa, Julian?” tanya Elsa pelan. Ia mengenal suaminya dengan baik. Melihat rahang Ju







