INICIAR SESIÓNDua bulan lalu, perusahaan Van Houten kembali memenangkan sebuah proyek besar dengan nilai fantastis. Keberhasilan itu bahkan mendapat apresiasi langsung dari gubernur yang mengundang keluarga Van Houten untuk menghadiri jamuan makan malam di kediaman pribadinya. Namun, di tengah kebahagiaan itu Julian justru mendapat kabar buruk soal putra bungsunya.
Saat makan malam berlangsung, ponsel Julian berdering. Nama Axel Teresha, kepala kepolisian kota, muncul di layar. Julian segera mengangkatnya. “Tuan Julian, Putra kedua Anda, Christian Van Houten ditemukan di sebuah lokasi yang sedang kami gerebek malam ini. Di tempat itu ditemukan narkoba dalam jumlah besar dan ada seorang pria yang ditemukan tewas di lokasi tersebut.” Kabar itu bagaikan petir di tengah langit cerah. Namun, Julian berusaha mempertahankan ketenangannya. Ia masih berada di kediaman gubernur dan tidak ingin membuat siapa pun curiga. “Ada apa, Julian?” tanya Elsa pelan. Ia mengenal suaminya dengan baik. Melihat rahang Julian yang mengeras, Elsa tahu ada sesuatu yang buruk baru saja terjadi. Damian yang juga hadir di acara makan malam itu ikut memerhatikan. Julian mengulas senyum tipis. “Bukan apa-apa. Pak Gubernur, saya izin keluar sebentar.” Tanpa menunggu lebih lama, Julian meninggalkan meja makan dan berjalan menuju halaman depan. Begitu berada di luar, ia kembali menempelkan ponsel ke telinganya. “Tuan Axel, apa Anda sudah memastikan keterlibatan putra saya dengan benar?” “Bukti-bukti awal mengarah kepada putra Anda, Tuan Julian. Dan keadaan Christian saat ini cukup buruk.” Julian menggenggam ponselnya erat. “Saya ingin pengacara saya segera menemuinya.” “Tentu saja Anda bisa melakukan itu. Tapi saya sarankan Anda jangan terburu-buru. Kasus ini bisa berkembang menjadi jauh lebih besar.” Julian terdiam. Axel Teresha dikenal sebagai kepala polisi yang gemar memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Julian sudah lama mengetahui reputasi pria itu. Karena itu, ia bisa menebak ke mana arah pembicaraan tersebut. “Berapa yang Anda inginkan?” tanya Julian akhirnya. “Ya ampun, kenapa Anda bertanya seperti itu? Saya jadi tersinggung Tuan Julian,” balas Axel dramatis. Julian yakin ada sesuatu yang diinginkan Axel darinya. “Katakan apa maumu Axel Teresha.” Di seberang panggilan, Axel tersenyum menyeringai. Sudah lama ia mencari kesempatan ini, dan rupanya sekarang Tuhan sedang berbaik hati padanya. “Astaga, Anda memang cepat memahami situasi Tuan Julian. Hm... bagaimana kalau kita membahas masalah ini sambil makan malam?” ** “Rosalin, di mana anak itu?” Rosalin yang sedang mengecat kuku di sofa segera meletakkan botol kutex di meja. Ia menghampiri suaminya yang baru saja pulang. “Mungkin sedang bermalas-malasan di kamarnya. Ada apa, Axel?” “Besok kita akan bertamu ke rumah Van Houten untuk makan malam. Jadi pastikan keadaan anak itu baik-baik saja sampai saat itu.” Kedua mata bulat Rosalin membesar. “Ya Tuhan, Axel, apa akhirnya kita akan berbesan dengan mereka?” Wajah licik Axel menyeringai. “Sudah kubilang, membesarkan anak itu akan memberi keuntungan bagi kita.” Rosalin mencium bibir suaminya dengan perasaan yang bahagia. “Kalau begitu aku akan memberitahu anak itu supaya tidak melakukan hal bodoh.” Kamar ‘anak itu' berada di lantai dua berhadapan dengan kamar putra mereka, Aaron Teresha. Saat melihat kamar Aaron kosong, Rosalin menghela napas berat. Ia yakin putranya itu sedang berada di kamar ‘anak itu' untuk bermain-main. Karena itu, ia harus mengetuk pintu agar Aaron tidak marah. “Aaron, apa kau di dalam?” Tidak adanya respon dari dalam kamar membuat Rosalin kehilangan kesabaran. Ia khawatir putranya akan kehilangan kendali dan berakhir melakukan kesalahan fatal. Namun baru saja ia memegang hendel, pintu sudah dibuka dari dalam dan Aaron muncul di sana dengan pakaian berantakan dan wajahnya penuh keringat. Melihat kondisi putranya benar-benar membuat Rosalin merasa cemas. “Aaron—“ “Ada apa, Ibu?” Rosalin segara menarik lengan putranya lalu berbisik, “Nak, Ibu sudah memperingatkanmu agar tidak gegabah. Jangan sampai kamu kehilangan akal sehat seperti ayahmu!” Pria muda itu terkekeh mendengar ocehan ibunya. “Tenang saja, Ibu, adikku masih perawan. Aku hanya bermain-main saja dengannya.” Rosalin memijat pelipisnya pusing. Ia tidak mengerti kenapa putranya yang tampan dan populer itu harus tergila-gila pada ‘anak itu'. Putranya sama saja dengan suaminya. Mereka dibutakan oleh wanita jalang yang berparas cantik. “Baiklah, Ibu percaya padamu. Besok kita akan makan malam di rumah Van Houten. Ayah sudah mengatur semuanya jadi pastikan anak itu baik-baik saja sampai dia menikah dengan salah satu putra mereka.” Mendengar hal itu, Aaron tentu tidak senang. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan karena Alena dibesarkan memang hanya untuk dijual ke keluarga kaya. “Aku mengerti, Ibu. Berhentilah mengkhawatirkan sesuatu yang tidak penting.” Setelah mengantar ibunya ke lantai bawah, Aaron kembali ke kamar Alena. Adik tirinya itu masih terduduk di atas kasur dengan kedua tangan terikat di tiang. Melihatnya saja sudah membuat Aaron bergairah lagi. Sayang sekali ia tidak bisa memilikinya secara utuh. “Adikku, akhirnya kau akan menikah dengan keluarga Van Houten. Apa kau senang, huh?”“Selamat datang kembali, Alena.” Elsa menyambut calon menantunya dengan ramah. Ia sudah mendengar dari Julian tentang syarat yang diajukan putra mereka. Meski belum tahu alasannya, tapi ia sendiri tidak keberatan jika Alena tinggal bersama mereka lebih awal. Karena setidaknya mereka bisa memantau keseharian gadis itu. Alena membalas keramahan Nyonya Elsa dengan senyum sopan. Ke depannya, ia bertekad akan bersikap baik agar calon mertuanya itu tidak membenci kehadirannya di rumah ini. “Ayo masuk. Kamu pasti lelah.”“Terima kasih, Nyonya.”Elsa menatap gadis muda itu lalu menghela napas pelan. “Panggil aku ibu, Alena, karena sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini.”Kata-kata itu memberi ketenangan pada hati Alena. Ia tersenyum lebih lepas sampai matanya menyipit. “Baik, Ibu.”“Sekarang bagaimana kalau kita melihat kamarmu dulu?” ajak Elsa. Alena mengangguk. Lalu keduanya naik ke lantai dua diikuti pelayan pria yang membawakan koper-koper milik Alena. “Nah, ini kamar y
“Jadi, karena takut aku menceraikan putrimu, kau memintaku menandatangani perjanjian di atas materai?” Damian menyimpulkan maksud pertemuan mereka hari ini. Axel Teresha, yang datang jauh-jauh bersama putrinya ke perusahaan di tengah jam kerja, mengangguk mantap. “Perjanjian itu hanya berlaku sampai kalian memiliki seorang anak. Setelah itu, kau boleh melakukan apa pun yang kau inginkan.” Damian duduk tenang di hadapan calon istrinya. Jemarinya mengetuk pelan sandaran sofa. Axel benar-benar licik. Pria itu sudah memikirkan semuanya dengan matang dan berusaha menyingkirkan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Mungkin Axel berpikir Damian akan menceraikan Alena setelah beberapa bulan menikah. Karena itu, ia sengaja menyiapkan perjanjian tertulis sebagai jaminan. “Dan kalian akan memanfaatkan anak itu sebagai alasan untuk terus berhubungan dengan keluarga kami. Begitu?” Tatapan Damian beralih lurus kepada Alena. Wanita itu tampak tenang dan licik seperti ayahnya. Ju
Di meja makan itu, hanya Axel dan Rosalin yang terlihat antusias membicarakan pernikahan antara Alena dan Damian. “Kita harus segera menentukan tanggalnya,” ujar Rosalin bersemangat. “Bagaimana kalau bulan depan? Waktu persiapannya masih cukup.” “Bulan depan terlalu cepat,” sela Elsa. “Setidaknya beri mereka waktu untuk saling mengenal.” Rosalin tertawa kecil. “Mereka bisa saling mengenal setelah menikah. Bukankah yang terpenting adalah keluarga kita sudah menyetujuinya?” Elsa terdiam. Ia tidak menyukai cara wanita itu berbicara seolah pernikahan tersebut hanyalah kesepakatan semata. “Kalau begitu, bagaimana dengan dua bulan lagi?” Axel ikut menyela. “Saya akan memastikan semuanya dipersiapkan dengan baik.” Julian tidak langsung menanggapi. Ia melirik Damian yang sejak tadi hanya diam. Putranya itu bahkan belum menyentuh gelas di hadapannya. “Damian,” panggil Julian. “Kau tidak keberatan?” Semua mata langsung tertuju kepadanya. Damian meletakkan pisau dan garpu yang
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya Teresha.” Rosalin langsung tersenyum lebar mendengar sambutan tersebut. Ia tampak begitu senang mendapat sambutan hangat dari calon besannya yang berasal dari keluarga kaya raya. Dengan langkah cepat, wanita itu menghampiri Elsa lalu menggenggam tangannya. “Terima kasih sudah mengundang kami untuk makan malam, Nyonya Van Houten. Suatu kehormatan bagi kami bisa berkunjung ke kediaman keluarga sebesar ini.” Elsa hanya membalas dengan senyum tipis. Senyum anggun yang biasa diperlihatkan seorang nyonya dari keluarga terpandang. Di belakang Elsa, Julian dan kedua putranya turut menyambut keluarga Teresha. Namun, berbeda dengan Elsa, raut wajah mereka terlihat kaku dan kurang bersahabat. Terutama pria yang mengenakan tuxedo abu-abu. Tatapan matanya begitu dingin hingga membuat Alena sedikit gugup. Axel kemudian memperkenalkan keluarganya. “Tuan dan Nyonya Van Houten, izinkan saya memperkenalkan putra kami, Aaron Teresha. Dan ini putri kami, Alena T
Plak!Tamparan keras mendarat di pipi putra bungsu keluarga Van Houten. Suara yang menggema di seluruh ruangan itu membuat Elsa ikut tersentak.Christian memegangi pipi kirinya yang terasa perih dan panas. Matanya berkaca-kaca saat menatap sang ayah.“Aku tidak membunuh orang itu, Ayah! Percayalah padaku!”“Kau boleh menyangkal semua tuduhan itu, tetapi bukti yang ada mengarah padamu, Christian!” hardik Julian dengan nada penuh amarah.“Ibu, percayalah padaku. Aku tidak membunuh siapa pun.” Christian beralih meminta dukungan kepada ibunya.Elsa percaya pada putra bungsunya. Namun, di hadapan bukti-bukti yang ada, ia tidak tahu bagaimana membela Christian.“Kak Damian...” Christian menatap kakaknya dengan tatapan penuh harap. “Apa Kakak juga tidak percaya padaku?”Damian terdiam. Ia menatap wajah adiknya yang kini dipenuhi keputusasaan.Tidak ada seorang pun di ruangan itu yang benar-benar ingin percaya bahwa Christian adalah pembunuh. Mereka semua mengenal sifatnya. Christian Van Hout
Aaron merangkak naik ke atas ranjang mendekati Alena. Matanya yang bulat dipenuhi kabut gairah yang selalu muncul setiap kali melihat tubuh Alena yang indah. “Kau sangat beruntung adikku, kau akan menjadi menantu dari keluarga terkaya di kota ini.”Jemarinya menggerayangi pelipis Alena dengan penuh nafsu. Aaron benar-benar sudah tergila-gila pada adik tirinya itu. “Tapi membayangkan dirimu disetubuhi pria lain membuatku sedikit kesal.”Saat Aaron hendak mencium bibir Alena, gadis itu membuang wajah ke samping. Hal itu membuat Aaron berdecih. “Berhentilah bersikap keras kepala, adikku.” Pria itu meremas payudara Alena hingga gadis itu merintih kesakitan. “Bukankah harusnya kau bersyukur? Sial, ini sangat tidak adil. Padahal aku yang sudah merawatmu dengan kedua tanganku sampai sebesar ini, tapi bisa-bisanya justru pria lain yang akan merasakan keperawananmu.”Alena sungguh muak dengan perilaku kakak tirinya. Ia muak dijadikan budak nafsu oleh pria itu sampai berkali-kali mencoba u







