FAZER LOGINUcapan Alena menimbulkan rasa tidak nyaman di hati Damian. Tanpa ia sadari, ekspresi wajahnya menjadi semakin dingin. “Sudah kukatakan. Satu-satunya orang yang bisa mengakhiri pernikahan ini hanya kau, Alena Teresha.” Damian mengepalkan tangannya di dalam saku. Tatapannya tertuju lekat pada wajah cantik Alena yang duduk tenang di hadapannya. Wanita itu sudah berkali-kali mengecewakannya, tetapi berkali-kali juga ia mengabaikan kekecewaan itu. Bahkan setelah mengetahui bahwa Alena hanya ingin memanfaatkannya demi mengandung keturunannya, ia masih saja menginginkan wanita itu. Ia sudah memberikan begitu banyak toleransi atas segala keburukan Alena. Dan sekarang wanita itu masih ingin meminta berpisah darinya? Benar-benar banyak maunya. Rahang Damian mengeras. “Kalau kau memang ingin bercerai dariku, katakan pada ayahmu. Tapi sebelum itu, minta dia untuk menyerahkan bukti yang memberatkan Chris pada kami.” Sikap dingin Damian menyadarkan Alena, bahwa sekeras apa pun
Aaron mendengus sinis. Ia menarik dagu Annalise, mencibirnya di dalam hati. ‘Jalang kecil.’ “Buka mulutmu.” Annalise tampak ragu, ini adalah pengalaman pertamanya. Jadi ia merasa ini terlalu jorok. Benda ini, bukankah di dalamnya banyak bakteri? Jika dimasukkan ke dalam mulut, bukankah bakterinya akan ikut masuk? Selama ia masih berpikir, Aaron sudah tidak sabar. Ia membuka bibir wanita itu dengan jempolnya, lalu menekan kepalanya mendekat. Annalise terbelalak saat Aaron dengan paksa memasukkan miliknya ke dalam mulutnya yang kecil. Ia pikir, ia akan mual, tapi ternyata rasanya lumayan. Annalise sangat polos dalam hal ini. Ia tidak pernah berpacaran ataupun menonton film biru. Jadi ia sama sekali tidak tahu apa saja yang bisa membuat seorang pria terpuaskan. Melihat kebodohan Annalise, Aaron merasa frustrasi. Ia akhirnya memaju-mundurkan pinggulnya sendiri untuk mencari kepuasannya. Saat milik pria itu mencapai tenggorokan, Annalise merasa tidak nyaman dan ingin muntah
Wajah Annalise memerah malu. Ia memang sudah jatuh cinta pada pria itu sejak pandangan pertama. Di matanya, Aaron adalah sosok pria yang dewasa dan hangat. Wajahnya yang tampan sudah pasti menjadi incaran banyak perempuan. Dan yang paling Annalise suka dari pria itu adalah riwayat percintaannya yang bersih. Aaron belum pernah memiliki kekasih atau pun digosipkan suka menghabiskan malam dengan wanita bayaran. Pria itu benar-benar suci bagaikan Dewa. Karena itu, Annalise tidak akan melewatkan kesempatan ini. Ia langsung mencondongkan tubuh dan mencium bibir Aaron sebagai tanda setuju. Begitu melihat reaksi Annalise, rahang Aaron langsung mengeras. Wanita seperti ini terlalu mudah didapatkan. Tidak ada tantangan dan sangat membosankan. Namun, ia sudah terlanjur marah pada Alena. Apa yang dilakukan wanita itu sudah membuat sesuatu di dalam dirinya bangkit dan butuh pelampiasan. Aaron segera membawa Annalise ke dalam gedung hotel. Ia memesan kamar dengan cepat dan langsung menu
Mata Alena membelalak. Ia sama sekali tidak menyangka Damian akan menciumnya secara tiba-tiba, terlebih di luar ruangan seperti ini. Untuk beberapa saat, pikirannya kosong. Ia bahkan lupa bagaimana harus bereaksi. Ketika akhirnya tersadar, Alena buru-buru mendorong dada Damian. Namun, pria itu tidak segera melepaskannya. Tatapannya yang gelap terpaku pada wajah Alena, seakan sedang berusaha mencari sesuatu dari ekspresi wanita itu. Alena bertanya dengan suara tertahan, “Damian, apa yang kamu lakukan?” Damian tidak segera menjawab. Sejujurnya, ia sendiri tidak mengerti dengan tindakannya saat ini. Sejak melihat Alena begitu akrab dengan Noel, suasana hatinya terus memburuk. Awalnya, ia pikir itu hanya perasaan kesal karena tidak bisa membuat wanita itu patuh. Damian pernah menegaskan bahwa Alena tidak boleh melakukan sesuatu yang dapat mencoreng nama baik keluarga Van Houten. Namun, semakin ia mengingat kejadian di restoran tadi, semakin ia menyadari bahwa bukan itu masalah
Suara familier itu membuat Alena refleks menoleh. Seketika, hatinya tersentak saat melihat sosok tinggi suaminya sudah berdiri di belakang kursinya. “Damian?” Wajah pria itu sedingin es. Tatapannya menghunus tajam ke arah Noel, membuat suasana di meja mereka mendadak terasa menegangkan. Noel bisa merasakan atmosfer di antara mereka. Ia menghargai Alena dan tidak ingin membuat wanita itu mendapat masalah karena dirinya. Karena itu, ia mengangkat kedua tangan sedikit sebagai tanda menyerah. “Tenanglah, Tuan Damian. Kami hanya makan siang bersama.” Alena buru-buru berdiri. Ia tidak ingin Damian semakin salah paham. “Damian, Noel memenangkan persidangan, jadi kami makan siang bersama untuk merayakannya.” Tatapan Damian akhirnya beralih perlahan kepada Alena, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya menatap istrinya dalam diam dengan ekspresi yang sulit dibaca. Hati Alena tercekat. Tatapan itu membuatnya merasa seolah-olah dirinya baru saja tertangkap basah melaku
Alena sebenarnya ingin segera pulang. Tapi karena Noel mengatakan ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya, ia akhirnya setuju untuk makan siang bersama. Alena juga tidak membawa kendaraan. Karena itu, ia menerima tawaran Noel untuk pergi bersama menggunakan mobil miliknya. Begitu mereka tiba di restoran, Noel segera turun dari mobil. Ia mengitari kendaraan, lalu membukakan pintu untuk Alena. Bahkan, ia mengangkat tangan untuk melindungi kepala wanita itu agar tidak terbentur saat keluar. Pemandangan itu kebetulan tertangkap oleh Damian yang baru saja turun dari mobilnya. Awalnya, Damian hanya menoleh sekilas ke samping. Namun, siapa sangka ia justru melihat istrinya sedang bersama si tukang kebun. Wajah Damian seketika menggelap. Ia memperhatikan Noel yang bersikap begitu perhatian kepada Alena. Pemandangan itu membuat suasana hatinya memburuk sampai tanpa ia sadari tangannya sudah terkepal kencang. Leon yang berdiri di sampingnya juga melihat Alena memasuki r







