Share

5. Rahasia Jenni (2)

Author: pramudining
last update publish date: 2025-08-09 09:19:52

Happy Reading

*****

Jenni menatap sang pembantu tajam. Menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri. "Ssstt, diam!" bentaknya.

Ardha bungkam, menggigit bibir bawahnya disertai meremas kedua tangannya. "Bu ... Bapak nggak akan mati, kan?"

"Saya bilang diam," bentak Jenni. Perempuan itu mulai sibuk menegakkan badan Harsa setelah memeriksa tubuh yang lemah tersebut. "Bantu saya angkat."

"Ba-baik." Ardha mulai mendekati tubuh majikan lelakinya. Meletakkan tangan kanan Harsa ke pundaknya, sedangkan tangan kiri, berada di pundak Jenni.

Sang nyonya rumah memberi perintah masuk ke ruang kerja. Harsa  didudukkan pada kursi kebesaran yang sering dipakai Jenni untuk mendesain gaun dan pakaian.

"Bu, Bapak mau diapain ini?" tanya Ardha, sekali lagi. Rasa penasaran membuatnya terus mengejar jawaban   pada sang nyonya rumah.

"Jangan banyak tanya." Jenni mendelik, mulai emosi karena Ardha yang terlalu banyak bertanya. "Jaga dia sampai saya kembali lagi."

Ardha mengangguk walau masih ketakutan jika majikannya mati. Namun, ketika sadar bahwa obat yang dia masukkan tadi adalah obat pemberian Harsa sendiri, pembantu itupun tenang.

"Semoga Bapak nggak akan menyakiti diri sendiri demi masalah ini," gumam Ardha.

"Apa kamu sangat mengkhawatirkanku?" kata Harsa lirih.

Sang pembantu membulatkan mata ketika majikannya membuka mata. "Pak, Anda benar-benar nggak kenapa-napa?"

"Seperti yang kamu lihat." Lelaki dengan potongan rambut klimis yang selalau rapi tersebut, merentangkan tangannya.

"Syukurlah. Saya sangat ketakutan ketika Bapak tadi tiba-tiba pingsan dan tertidur."

"Tenang, tetaplah bergerak sesuai kewajaran," bisik Harsa. Setelahnya, lelaki itu kembali ke posisi semula karena mendengar suara langkah mendekat ke ruangan tersebut. 

"Gimana keadaannya?"

"Bapak dari tadi nggak bergerak sama sekali, Bu. Saya benar-benar takut kalau sampai Bapak meninggal," sahut sang pembantu, berpura-pura.

"Diamlah, saya tidak sebodoh itu sampai harus membunuhnya di rumah sendiri." Jenni mengeluarkan selembar kertas, lalu bergerak memegang jempol Harsa. Mencelupkan permukaan jempol yang terdapat sidik jari pada tinta dan memindahkannya pada kertas yang dibawa tadi.

Ardha mengamti tingkah majikannya tanpa berkedip sama sekali. Entah kertas apa yang dibawa Jenni, dia semakin yakin jika hubungan pernikahan kedua majikannya itu tidak baik-baik saja.

"Bantu saya memindahkan Bapak ke kamar," pinta Jenni setelah menyimpan kertas yang sudah dibubuhi sidik jari Harsa.

Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Ardha menuruti semua perkataan Jenni hingga sampai di kamar utama yang terletak di lantai dua. 

"Kamu rapikan tidurnya, saya akan menelpon dokter agar tidak ada kecurigaan apa pun darinya."

"Baik, Bu."

Ardha membenarkan letak tidur majikan lelakinya. Namun, saat itu juga kedua mata Harsa terbuka.

"Bapak!" teriak Ardha yang langsung dibungkam dengan telapak tangan majikannya.

"Cepat kamu ke ruang kerja dan ambil kertas yang sudah dibubuhi cap jempolku," perintah Harsa.

"Tapi, Pak. Ibu masih keluar. Takutnya beliau ada di ruang kerjanya."

Harsa diam, kemingkinan besar perkataan pembantunya itu benar. "Jika seperti itu, kamu cari dia. Setelahnya, katakan jika aku sudah siuman dan mulai tidak bisa mengendalikan diri."

"Hah? Maksudnya apa, tidak bisa mengendalikan diri?"

"tidak perlu banyak bertanya. Cepat katakan seperti yang aku perintah." Harsa memasang wajah menakutkan seperti pertama Ardha bertemu dengannya.

Ardha keluar kamar dan berusaha memanggil majikannya, turun ke lantai bawah, mencari ke semua ruangan yang ada di sana bahkan sampai ke ruangl kerja. Namun, Jenni belum juga ditemukan.

"Ke mana sebenarnya, Bu Jenni?" gumam Ardha. Kakinya terus melangkah hingga sampai ke kolam renang. Samar, dia mendengar percakapan sang majikan.

"Aku sudah memagang suratv kuasa itu, Bebe. Lalu, apa langkah kita selanjutnya?"

Ardha bergerak mendekati sang majikan, tetapi tidak menyapa atau memberi tahu seperti yang diperintahkan Harsa. Dia bersembunyi dan menguping pembicaraan Jenni dengan seorang pria melalui video call.

"Sebentar lagi, obat itu akan bereaksi dan pastinya Harsa butuh pelampiasan untuk meredamnya." Lelaki yang sedang berkomunikasi dengan Jenni, terus menceritakan secara gamblang rencana jahatnya pada Harsa.

Ardha membekap mulutnya tak percaya jika ada seorang istri yang begitu jahat dan ingin mencelakai suaminya sendiri. "Pantas Pak Harsa memintaku untuk memihaknya, ternyata Bu Jenni benar-benar jahat."

"Saat itu, tidak ada penghalang bagi kita berdua," kata lelaki, lawan bicara Jenni. Keduanya pun tertawa.

Ardha menutup mulutnya rapat-rapat, dia ingin segera pergi dari tempat persembunyiannya dan menceritakan apa yang sudah didengar pada Harsa. Namun, ketika berbalik, sikunya mengenai vas bunga yang membuat bunga tersebut jatuh berantakan. Bunyinya begitu nyaring.

"Siapa di sana?!" bentak Jenni yang langsung menoleh ke sumber suara.

Ardha menampakkan dirinya dan memasang wajah resah. "Saya, Bu. Maaf jika saya memecahkan vas bunga itu. Saya terburu-buru mencari Bu Jenni karena keadaan Pak Harsa yang nggak baik-baik saja," katanya tergopoh.

"Tidak baik-baik saja bagaimana?"

"Ibu harus melihatnya sendiri. Saya bingung menjelaskannya." Ardha sengaja menarik tangan kanan majikannya. Jenni dengan cepat memutus sambungan videonya. 

Sang pembantu mengajak majikannya kembali ke kamar utama untuk melihat keadaan Harsa. Namun, sesampainya di kamar tersebut, tidak ada seorang pun.

"Pak ... Bapak di mana?' teriak Ardha panik. Dia terus memanggil-manggil majikannya. Membuka pintu kamar mandi seolah dia sang pemilik kamar.

"Sudah, jangan dicari lagi. Mungkin, dia memang tidak ada di kamar ini."

"Lalu, di mana?"

"Kita cari ke kamarmu saja." Jenni melangkahkan kakinya terlebih dulu, keluar kamar. Ardha pun mengikutinya dari belakang.

"Coba kamu buka kamarmu. Apakah benar dia ada di dalam."

Ardha membuka pintu kamarnya dan saat itulah terlihat Harsa yang tengah mengerang berada di sana.

"Gimana?" tanya Jenni.

"Iya, Bu. Bapak ada di dalam, tapi kenapa?"

Tak menjawab, Jenni malah mendorong tubuh pembantunya dan mengunci dari luar.

"Bu ... Bu. Kenapa saya dikunci?" teriak Ardha.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menggoda Suami Majikanku   190. Dua Jagoan

    Happy Reading*****Hari-hari yang dijalani Ardha setelah dinyatakan hamil, makin membahagiakan. Perempuan itu hidup bak ratu. Semua serba dilayani dan bahkan sangat dimanja oleh sang suami. Bukan cuma suaminya, tetapi seluruh keluarga memanjakan perempuan tersebut apalagi sejak mengetahui jika janin yang dikandungnya kembar. Sikap protektif dan posesif makin kuat dalam diri Elang. Jika memungkinkan, Ardha harus tetap berada di kasur tanpa melakukan aktifitas apa pun.Kalimat protes yang dilontarkan Ardha, cuma dianggap angin lalu. Si kecil pun malah ikut-ikutan protektif. Selalu cerewet jika sang mami ingin melakukan pekerjaan yang sedikit berat ataupun menguras tenaga, misalnya berkebun. Kini, kehamilan Ardha sudah mencapai 36 Minggu. Perkiraan lahiran pun tinggal beberapa hari lagi. Semua persiapan sudah rampung bahkan kamar si kembar juga sudah selesai. Sekarang, seluruh keluarga sedang berkumpul di gazebo halaman belakang rumah kedua orang tua Ardha. Tak lupa, Melati juga me

  • Menggoda Suami Majikanku   189. Garis Dua

    Happy Reading*****Hari-hari yang dijalani Ardha dan Elang cukup menggembirakan. Keduanya hidup bahagia bersama putri kecil mereka, Zanitha hingga tepat sebulan setelah pernikahan, pasangan tersebut mendapat kejutan yang telah ditunggu-tunggu.Semua bermula ketika perempuan itu sering merasa kelelahan dan mual di pagi hari. Oleh karena, Elang tak tahan dan curiga dengan keadaan sang istri. Lelaki itupun menghubungi mama mertuanya untuk memastikan sesuatu."Kamu beli beberapa test pack dengan merk berbeda di apotek. Setelah itu, suruh Ardha tes urine dengan semua alat yang sudah kamu beli. Bentar lagi, Mama akan ke rumah kalian," tulis Melati membalas chat menantunya.Sejak Ardha resmi menikah dengan Elang. Melati dan Wisnu pindah rumah. Walau jaraknya cuma beberapa ratus meter dari kediaman utama Elang, tetapi karena kesibukan sang pengusaha muda, perempuan paruh baya tersebut jarang sekali bertemu. Setiap hari, hanya Ardha yang ditemui di rumahnya karena perempuan itu sudah memutusk

  • Menggoda Suami Majikanku   188. Dedek Bayi

    Happy Reading*****Cepat, Ardha mendorong tubuh sang suami. Membenarkan pakaiannya serta rambutnya yang berantakan. Lalu, menatap sekeliling. Sama seperti yang dilakukan sang istri, Elang juga mulai merapikan diri dan menatap sekeliling. "Kamu di mana? Nggak da seorang pun di vila ini. Nggak usah mengada-ada, deh, kalau ngomong," ucap Elang pada sang penelpon. "Aku sudah balik villa. Rencananya, ingin menghabiskan malam bersama kalian berdua sebelum kita balik. Tapi, kayaknya kalian terlalu asyik sendiri. Nggak lucu kalau sampai Mas Yandra minta hal sama seperti yang kalian lakukan," ucap Thalia disertai tawa. Terdengar juga suara Yandra terkikik mendengar perkataan sang kekasih."Apaan sih, Yang. Kok, jadi aku kambing hitamnya?" kata sang pengacara yang mampu ditangkap oleh indera Elang."Kalian berdua ini benar-benar mengganggu. Kalau sudah balik villa ngapain nelpon? Ganggu kesenangan orang aja," sahut Elang sedikit keras. "Gara-gara kalian adonan anakku, jadi berantakan.""Lan

  • Menggoda Suami Majikanku   187. Ekplorasi Kemesraan

    Happy Reading*****Elang kembali mengecup singkat, bibir sang istri. Sengaja pamer kemesraan di depan pasangan yang belum resmi tersebut. "Mas, apaan, sih," ucap Ardha lirih. "Suamimu emang norak, Ar. Kekanakan banget ngelakuin itu di hadapan kami berdua," ucap lelaki yang berdiri di hadapan Elang."Salah sendiri nyusul kami ke sini. Sudah tahu aku sama istri lagi bulan madu, malah ganggu," cibir Elang. "Kalau mau mesra-mesraan kayak kami, ya, nikah sana.""Hei," ucap perempuan yang tak lain adalah asisten Elang, Thalia. "Aku ke sini bukan karena Mas Yandra ada kerjaan. Bukan mau ngerecoki acara bulan madu kalian.""Benarkah?" tanya Elang tak percaya. Thalia mencebik, bola matanya memutar malas. "Tanya aja sama orangnya. Aku bukan pembohong, ya.""Ini juga yang mau aku bicarakan sama kamu, Lang. Aku mau nitip dia sebentar. Kalau Thalia ikut aku kerja, dia pasti bosan. Makanya, mumpung kalian bulan madu, sekalian aja ajak dia. Kalian nggak mungkin terus-terusan gituan siang-malam,

  • Menggoda Suami Majikanku   186. Gaya Baru

    Happy Reading*****Takut jika sang suami akan menceritakan pengalaman pertama mereka ketika bulan madu, dulu. Melati mencubit paha suaminya, secara otomatis Wisnu melepaskan tangannya yang menutupi mulut perempuan paruh baya tersebut. "Nggak usah dengerin omongan ayahmu. Sana balik kamar kalau masih ingin berduaan," suruh Melati pada putri dan menantunya. "Boleh, ya, Ma?" tanya Elang yang langsung diangguki oleh Melati. "Nitip Za, ya, Ma, Yah," tambahnya. "Sana pergi," usir Wisnu sambil mengibaskan tangan kanannya. "Mas Awan malu-maluin aja. Nggak sungkan sama sekali," kata Ardha lirih. Jika boleh jujur, perempuan itu ingin menghilang saat ini juga. Sang suami terlalu berterus terang jika dirinya sangat ingin berduaan. "Malu-maluin gimana, sih, Dek. Mas, cuma tanya. Apakah benar diijinkan balik kamar dan nitip kesayangan kita sama mereka? Salahnya, di mana?" Bolo mata Elang berputar, alisnya juga naik turun dengan wajah cengengesan tanpa rasa sungkan sama sekali. "Halah kalian

  • Menggoda Suami Majikanku   185. Parah

    Happy Reading*****Tawa pun menggema di seluruh kamar tersebut, hanya karena perkataan absurd Harjuna. Semua jadi berbuntut panjang. Zanitha bukan tipe anak kecil yang mudah puas setelah dijelaskan. Apalagi, penjelasan yang dikarang Elang tadi, tidak cukup lugas dan masuk logika anak seumuran Zanitha. "Kok, Papi sama yang lain tertawa, sih?" Bibir si kecil maju. Sepertinya, Zanitha kecewa karena para orang dewasa sengaja menertawakan perkataannya tadi. "Gimana kami nggak tertawa, Sayang," ucap Elang. Mengangkat tubuh putri kecilnya yang cantik ke pangkuan. "Istilah drakula yang dimaksud itu nggak nyata cuma kiasan saja alias perumpamaan.""Papi tadi nggak ngomong gitu. Ya, Za takut kalau mami berubah jadi drakula beneran." Zanitha menangkupkan kedua tangannya di pipi sang papi. Lalu, sedikit memiringkan kepalanya ke leher Elang yang terdapat tanda merah seperti bekas gigitan. "Sakit, nggak, Pi?" tanya si kecil sambil menyentuh kulit leher Elang yang kemerahan.Elang cuma bisa mena

  • Menggoda Suami Majikanku   123. Bukan Saudara Kandung

    Happy Reading*****Suhendra menatap istrinya dengan cemas. Lalu, berganti menatap dua anak muda di hadapannya bergantian. "Inilah yang Bapak takutkan. Kalian nggak bisa menerima kabar mengejutkan seperti tadi. Makanya, Bapak meminta kalian untuk untuk makan terlebih dahulu. Penjelasan kami selanju

  • Menggoda Suami Majikanku   76. Badai Belum Berlalu

    Happy Reading*****Thalia kembali memasukkan potongan kue brownies ke mulutnya. "Kenapa kamu belum menjelaskan padanya, Lang?" tanyanya pada si bos."Sudah tak jelaskan, tapi Adek nggak pernah percaya. Dikira aku bohong," jawab Elang. Lelaki itu malah meneruskan memakan kuenya hingga habis. Sement

  • Menggoda Suami Majikanku   52. Sahabat Baru

    Happy Reading*****"Kamu ingat dengan boneka ini?" Terharu, sang asisten berdiri. Thalia memeluk Ardha erat. "Jadi, kamu sama sekali nggak melupakan aku?" ucapnya. Ardha diam, dia masih tidak mengerti dengan perkataan Thalia. "Apa maksudmu? Siapa kamu sebenarnya?" tanyanya. Thalia melepaskan pel

  • Menggoda Suami Majikanku   49. Galau

    Happy Reading*****Cepat, Harsa membalas pesan yang dikirimkan oleh Elang. "Dari mana Anda mendapatkan foto ini. Istriku tidak akan berbuat gila dengan bermain bersama lelaki sebanyak ini." tulisnya. Bukannya menjawab, Elang malah melakukan panggilan pada Harsa. "Coba Pak Harsa cek keberadaan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status