Home / Rumah Tangga / Menghancurkan Suamiku / 2. Duka Terbungkus Kemewahan

Share

2. Duka Terbungkus Kemewahan

last update Last Updated: 2025-03-29 13:18:32

Dari luar, kehidupan Marianna tampak sempurna. Ia memiliki rumah mewah, pakaian mahal, dan status sosial yang diidamkan banyak wanita. Namun, di balik dinding berlapis marmer itu, kehidupan pernikahannya dengan Abimanyu adalah neraka yang terselubung kemewahan. Tidak ada cinta di sana, hanya kepemilikan. Tidak ada rasa aman, hanya ketakutan yang terus menghantui setiap jejak langkahnya.

Pada suatu malam, saat bulan purnama menggantung di langit yang luas. Setiap keluarga bercengkerama di rumah masing-masing, menikmati malam hangat penuh canda tawa dan percakapan tentang hari yang telah mereka lewati. Itu adalah sebuah kemewahan, sesuatu yang tak Marianna miliki. Kemewahan yang ada padanya hanyalah sutra yang membalut tubuh indahnya, serta status sebagai istri Abimanyu Efmeros. Pria yang diidam-idamkan banyak wanita di luar sana.

Mereka hanya tak mengetahui corak asli Abimanyu.

Marianna berkutat dengan alat-alat dapur. Bergerak cekatan, menyiapkan makan malam seorang diri. Ia sudah memastikan, tadi Adrian tengah bermain boneka di ruang tamu, dan Abimanyu ada di sana. Marianna berusaha tenang, membiarkan suaminya mengasuh anak mereka.

Dan wanita itu kembali tenggelam dengan pikirannya.

PRAANG!

Suara kaca pecah membuyarkan lamunan Marianna. Ia tersentak, menoleh ke arah ruang tamu tempat Abimanyu berdiri dengan tangan mengepal. Wajahnya memerah, matanya menyala dengan amarah yang sudah tak asing lagi.

"Apa gunanya punya istri kalau dia bahkan tak bisa mengurus anaknya sendiri?!" bentaknya.

Di sudut ruangan, seorang bocah kecil menggenggam boneka kelinci lusuhnya, matanya penuh ketakutan. Putra mereka, Adrian, yang baru berusia lima tahun, berdiri kaku tanpa suara, terlalu takut untuk menangis.

Marianna buru-buru berlari menghampiri anaknya, menariknya ke dalam pelukan.

“Kenapa sayang? Kamu tidak terluka kan?”

Adrian bergetar hebat.

“A-Aku cuma disuruh membantu ayah menuang minumannya...” jawab bocah itu dengan suara parau.

Marianna meletakkan satu tangannya di punggung si kecil, menenangkan Adrian.

"Abi, ini bukan salah Adrian," ucapnya hati-hati, berusaha menjaga nada suaranya tetap lembut agar tidak semakin menyulut emosi suaminya.

Namun, Abimanyu tidak peduli.

"Dia menjatuhkan gelasku, Marianna! Kau tahu berapa harga wine itu?! Apa kau tahu seberapa berharganya?!"

Marianna mengepalkan jemarinya di balik punggung Adrian, menahan diri agar tidak membalas dengan kata-kata tajam. Seberapa berharganya? Lebih berharga dari anaknya sendiri? Lebih berharga dari harga dirinya yang sudah lama diinjak-injak?

“Kau yang memintanya melakukan itu, harusnya kau berpikir sebelum memerintah!”

“Kau terlalu memanjakannya, Marianna!”

Abimanyu mendekat, menarik tangan Adrian dengan kasar.

“Harusnya kalau tangan kecilmu ini tidak kuat mengangkat botol, tak perlu sok ingin membantu!”

Abimanyu mencengkeram tangan mungil itu, tak menyadari efek dari aksinya. Adrian gemetar, kemudian setetes air mata jatuh menuruni pipinya. Iris coklat terangnya menunjukkan ketakutan.

“Jangan menangis! Kau anak lelaki! Jika kau anakku, harusnya kau bertanggung jawab atas kesalahanmu!”

Abimanyu menarik putranya sendiri menjauh dari pelukan ibunya. Kemudian mendorongnya jatuh ke lantai, dan menatapnya dengan tatapan kematian.

“Bersihkan. Kumpulkan pecahan gelasnya, dan lap wine yang tumpah hingga bersih”

“Abimanyu!”

“Lakukan, Adrian!”

Marianna mencegah, menatap Abimanyu dengan ekspresi memohon.

“Biar aku saja... yang melakukannya”

Abimanyu tetap pada pendiriannya. Pria itu menarik Marianna ke dalam dekapannya, mencengkeram kasar wajah sang hawa  untuk mengancam Adrian.

“Adrian. Lakukan perintahku.”

“B-Baik ayah...”

Adrian bangkit, mengambil lap beserta kantung plastik kecil. Bocah itu segera bergerak tak karuan karena panik. Tangan mungilnya mengais-ngais pecahan kaca, memasukkannya ke dalam kantung plastik. Ia juga mengeringkan tumpahan wine dengan tergesa-gesa. Setelah minuman merah itu mengering, barulah tampak tetesan cairan darah lainnya.

Darah.

Saking takutnya, bocah itu tak sadar telah melukai tangannya sendiri saat mengumpulkan pecahan kaca.

“ADRIAN!” pekik Marianna, mendorong tubuh Abimanyu dan segera memeluk putranya. Menyentuh luka Adrian dengan tangan bergetar. Marianna terisak.

Luka Adrian menyakitinya.

Seolah baru menyadari bahwa ia kehilangan kendali, Abimanyu menarik napas dalam, lalu berjalan mendekat. Tangannya terulur, bukan untuk menyakiti, tetapi untuk mengelus kepala anaknya dengan kasar.

"Kau harus belajar lebih hati-hati, bocah. Jangan seperti ibumu yang selalu membuatku kesal."

Adrian mengangguk pelan, meski tubuh kecilnya masih gemetar. Marianna menahan napas, menekan gejolak kemarahan dalam dirinya. Seberapa lama lagi ia bisa bertahan dalam rumah tangga ini? Seberapa lama lagi ia harus melihat anaknya tumbuh dalam ketakutan?

Menjalani kehidupan seorang istri yang hanya sebuah simbol.

Bukan hanya dalam sikap, kebejatan Abimanyu juga terlihat dalam tanggung jawab finansialnya. Meski dikenal sebagai pria kaya dengan bisnis yang berkembang pesat, uangnya tak pernah benar-benar mengalir ke Marianna dan Adrian. Sebagian besar kebutuhan rumah tangga ditanggung oleh Marianna sendiri, menggunakan sisa warisan orang tuanya yang semakin menipis.

“Bulan ini juga... dia hanya memberi uang bulanan dua juta rupiah... Apa dia gila?” Gumam Marianna menatap rekap keuangan rumah mereka. Mencatat perbendaharaan adalah kebiasaannya, pun pemasukan dan pengeluaran. Semua itu ia lakukan untuk mengevaluasi tingkat konsumsi keluarga mereka.

Suatu sore, Marianna duduk di ruang kerjanya, menatap angka-angka yang tertera di layar laptopnya. Rekening tabungannya hampir habis. Selama ini, ia berpikir bahwa Abimanyu akan berubah, bahwa suaminya akan mengambil peran sebagai kepala keluarga yang seharusnya. Tapi, itu hanya angan-angan kosong.

“Aku terlalu malu untuk meminta bantuan finansial pada kak Exander... Setelah perseteruan kami dahulu... Aku tak ingin membuatnya melakukan hal buruk pada Abimanyu”

Karena bagi Exander, Marianna, adik perempuannya yang manis sudah berubah.

Dan semua itu karena Abimanyu.

Pintu ruangannya terbuka, dan Abimanyu masuk tanpa mengetuk, seperti biasa.

"Aku butuh uang," katanya tanpa basa-basi.

Marianna mengangkat wajahnya, menatap pria itu dengan keterkejutan yang nyaris berubah menjadi tawa sinis.

"Uang? Untuk apa?"

"Bisnis. Ada proyek besar yang harus kudanai."

Marianna menutup laptopnya perlahan. "Aku sudah tidak punya uang lagi, Abi."

Abimanyu mengernyitkan dahi, lalu tertawa singkat. "Jangan bercanda, Marianna. Kau punya warisan orang tuamu."

"Dan kau sudah menghabiskan hampir semuanya." Suaranya terdengar dingin dan tegas kali ini.

Wajah Abimanyu menegang, tapi ia tidak langsung marah. Ia mendekat, mencondongkan tubuhnya di atas meja, menatap istrinya dengan tatapan yang pernah membuat Marianna jatuh cinta, tapi kini hanya terasa seperti jerat yang siap menyesakkan lehernya.

"Kau istriku, Marianna. Segala milikmu adalah milikku juga," bisiknya.

“Dan segala milikmu hanya milikmu dan keluargamu, begitu?” Balas Marianna dengan nada mengancam.

“Jangan mengungkit yang tidak-tidak, Marianna”

“Faktanya begitu, Abimanyu. Kau memberiku uang bulanan sebanyak dua juta, sedangkan kakak dan ibumu kau beri lima juta!”

“Kau membandingkan dirimu dengan keluargaku?!” Abimanyu membentak.

“Aku hanya menyatakan fakta! Aku tidak minta kau melebihkan anggaran yang kau berikan untukmu, namun setidaknya berikan anggaran yang adil untuk kami! Lima juta untuk keluargamu, maka lima juta untuk kami. Jika kami dua juta, maka mereka pun begitu”

“Mereka keluargaku, jika bisa maka aku harus memberi lebih!”

“DAN KAMI ANAK DAN ISTRIMU, ABI!”

“MARIANNA!”

PLAKK!

“Kau menamparku?”

Abimanyu terhenyak.

“Kau menampar istrimu untuk membela kakak dan ibumu, luar biasa”

“Anna, aku...”

“Padahal kau bisa bersikap adil pada kami... hanya perlu adil. Kau bahkan tak perlu menamparku”

Abimanyu mendekat, memeluk Marianna erat. Pria itu mengelus punggung istrinya, berusaha menenangkan.

“Maaf ya sayang... kamu sepertinya salah paham..” ujar Abimanyu.

Marianna hanya diam dan mendengarkan.

“Kamu nggak tahu ya? Akhir-akhir ini kesehatan ibu menurun... kemarin saja beliau beberapa kali ke rumah sakit, berobat. Belum lagi kontrol ke dokter... semua itu butuh uang kan?”

“Kemarin ibu kelihatan sehat. Masa tiba-tiba sakit?” Selidik Marianna.

“Ya, namanya penyakit sayang... tak bisa diprediksi kapan datangnya kan? Ibu juga sudah semakin sepuh”

Marianna mengangguk.

“Jadi aku bagi uangku lebih banyak buat ibu, karena beliau harus berobat. Kamu paham kan? Kamu kan anak berbakti sayang, pasti mengerti khawatirnya anak saat orangtuanya sakit..”

Lagi-lagi alasan. Namun hati nurani Marianna ternyata kembali menang melawan logika.

“...Iya”

Marianna menggigit bibirnya, menahan keinginan untuk menangis. Ia tahu, berdebat dengan Abimanyu hanya akan membuatnya semakin terluka, baik secara fisik ataupun emosional.

Di taman rumah mereka, Adrian asyik bermain dengan sebuah lampu gas yang dibawa temannya. Tiga bocah di taman itu bertingkah layaknya peneliti yang mengagumi barang kuno.

“Waah, keren! Ini namanya apa?” Tanya Adrian, antusias.

“Ini namanya petromak. Lampu gas gitu. Punya kakekku” Jawab bocah bersurai mahogani.

“Dih, petromak. Jadul banget namanya” Jawab bocah satunya.

“Yaudah deh, sebut nama lainnya saja biar terdengar kece!”

“Memang apa nama lainnya?” Adrian membakar sebuah rumput basah diatas petromak.

Gaslight” Jawab bocah berkulit pucat.

Sementara gaslighting adalah...

Kekejaman yang terselubung kata-kata manis nan meyakinkan.

Dan Abimanyu selalu berhasil membuat Marianna mempertanyakan ideologinya sendiri.

Sikap Abimanyu tidak hanya kasar dan semena-mena, tetapi juga penuh kebohongan. Ia pandai berkata manis, membuat Marianna percaya bahwa semuanya akan membaik, bahwa pria itu masih memiliki sisi lembut yang ia kenal dahulu. Namun, setiap kali Marianna mulai mempercayainya, pria itu akan menghancurkan harapannya lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menghancurkan Suamiku   6. Kegamangan

    Malam itu, Marianna duduk di meja makan, menunggu Abimanyu pulang.Di hadapannya, hidangan sudah tertata rapi, tetapi ia tidak merasa lapar. Yang lebih memenuhi kepalanya adalah kata-kata Adrian di sekolah tadi."Tante Kasandra bilang aku akan punya dua Mama."Napasnya terasa berat.Saat akhirnya pintu terbuka dan Abimanyu masuk, ekspresinya seperti biasa: lelah, tetapi tetap menyunggingkan senyum tipis.“Aku pulang.”Marianna membalas senyum itu dengan datar.“Kau pulang larut lagi.”Abimanyu melepas jasnya, lalu mengecup puncak kepalanya. “Biasa, Sayang. Meeting di luar kota, revisi proposal, klien rewel.” Ia mengambil gelas berisi es teh di meja dan menyesapnya santai.Marianna memperhatikannya dalam diam sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati.“Aku bertemu Adrian di sekolah tadi.”Abimanyu mengangkat alis.“Lalu?”“Dia bilang sesuatu yang menarik.”“Oh, ya?” Suaminya tertawa kecil, mencubit dagu Marianna seolah menganggapnya menggemaskan.“Anak lima tahun memang suka bicara an

  • Menghancurkan Suamiku   5. Harga Sebuah Martabat

    Berapa harga minyak goreng dan gas hari ini?Sebuah pertanyaan sepele yang jawabannya mungkin akan mengejutkan setiap suami. Tak mengira, betapa sulitnya para istri harus mengelola uang, memutar otak agar uang itu cukup, dan memikirkan menu makanan yang berbeda-beda setiap hari. Cukup di modal, tidak membosankan, namun tetap bergizi.Dan terkadang, martabat juga dipertaruhkan dalam hal yang sering dianggap sepele ini.Marianna berdiri di depan meja kasir dengan jari-jari yang menggenggam erat dompetnya. Ia menelan ludah, menatap angka yang tertera di layar mesin kasir, Rp780.000.Ia membuka dompet dengan gerakan hati-hati. Selembar lima puluh ribuan, beberapa lembar dua puluh ribuan, beberapa receh seribuan. Total uangnya hanya Rp500.000.Napasnya tercekat.Tidak.Ini tidak mungkin.Istri seorang Abimanyu Efmeros, perempuan yang selama ini hidup dalam kemewahan, yang setiap harinya mengenakan pakaian dari butik eksklusif dan menghadiri pesta sosialita… sekarang berdiri di sini, di pas

  • Menghancurkan Suamiku   4. Teori Perselingkuhan

    Matahari sore memancarkan sinarnya yang hangat, menciptakan bayangan panjang di taman kompleks perumahan elite itu. Marianna duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang, tangannya terampil menyuapi Adrian yang sibuk memainkan mobil-mobilan di atas meja piknik kecilnya.Sekelompok ibu-ibu berkumpul tak jauh dari sana, masing-masing dengan anak-anak mereka yang tengah bermain di ayunan atau perosotan. Suara tawa bocah-bocah bercampur dengan obrolan ringan para ibu, sebagian besar tentang resep masakan, sekolah anak, dan... kehidupan rumah tangga.“Ah, kalau lihat Bu Marianna ini rasanya iri ya,” suara seorang ibu, yang dikenal sebagai Bu Rina, melengking dengan nada kagum.“Cantik, elegan, anaknya pintar, suaminya sukses. Hidupnya benar-benar seperti di dongeng.”Beberapa ibu lainnya mengangguk setuju."Iya, iya! Kalau lihat Bu Marianna, kayaknya nggak ada beban hidup sama sekali. Kayaknya suaminya juga setia banget ya, Mbak?" celetuk yang lain sambil melirik Marianna yang hanya terseny

  • Menghancurkan Suamiku   3. Demi Anakku

    Apa alasan seorang wanita bertahan dalam pernikahan bermahligai lingkaran api?Anak.Marianna duduk di pinggir ranjang, menatap tubuh kecil yang terlelap di sampingnya. Adrian, putranya yang baru berusia lima tahun, menggenggam jemari ibunya bahkan dalam tidurnya, seolah takut kehilangan satu-satunya tempat berlindung yang tersisa di dunia ini. Wajah mungilnya terlihat damai, meskipun hanya beberapa jam lalu ia menangis karena teriakan Abimanyu memenuhi rumah, menghantam dinding seperti badai yang tak kunjung reda.Di luar kamar, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Marianna menahan napas. Ia mengenali irama langkah itu. Sedikit gontai, tanda bahwa pemiliknya baru saja menghabiskan malam dengan alkohol dan, kemungkinan besar, wanita lain. Ia memejamkan mata sesaat, berdoa agar Abimanyu langsung masuk ke kamarnya sendiri tanpa membuat keributan.Namun harapannya sia-sia.Pintu kamar terbuka perlahan, dan Abimanyu berdiri di ambangnya. Matanya yang gelap menelusuri ruangan, berh

  • Menghancurkan Suamiku   2. Duka Terbungkus Kemewahan

    Dari luar, kehidupan Marianna tampak sempurna. Ia memiliki rumah mewah, pakaian mahal, dan status sosial yang diidamkan banyak wanita. Namun, di balik dinding berlapis marmer itu, kehidupan pernikahannya dengan Abimanyu adalah neraka yang terselubung kemewahan. Tidak ada cinta di sana, hanya kepemilikan. Tidak ada rasa aman, hanya ketakutan yang terus menghantui setiap jejak langkahnya.Pada suatu malam, saat bulan purnama menggantung di langit yang luas. Setiap keluarga bercengkerama di rumah masing-masing, menikmati malam hangat penuh canda tawa dan percakapan tentang hari yang telah mereka lewati. Itu adalah sebuah kemewahan, sesuatu yang tak Marianna miliki. Kemewahan yang ada padanya hanyalah sutra yang membalut tubuh indahnya, serta status sebagai istri Abimanyu Efmeros. Pria yang diidam-idamkan banyak wanita di luar sana.Mereka hanya tak mengetahui corak asli Abimanyu.Marianna berkutat dengan alat-alat dapur. Bergerak cekatan, menyiapkan makan malam seorang diri. Ia sudah mem

  • Menghancurkan Suamiku   1. Sekedar Gundik

    Marianna selalu memahami bahwa keindahan bukan sekadar anugerah, melainkan alat yang, jika digunakan dengan presisi, dapat membuka pintu menuju segala kemungkinan. Sejak dulu, ia mengasah pesona dan ketenangannya menjadi perisai yang sempurna. Memproyeksikan gambaran seorang istri yang paripurna. Namun, di balik tirai kemewahan yang membungkus pernikahannya, ia mulai mempertanyakan apakah ia benar-benar istri atau sekadar properti yang dikagumi, disentuh, tetapi tidak pernah benar-benar dihargai.Malam itu, ia duduk di hadapan meja rias, matanya menelusuri pantulan dirinya di cermin besar yang berbingkai emas. Gaun tidurnya yang berbahan satin jatuh dengan anggun di pundaknya, menampilkan keindahan yang selama ini selalu dipuja suaminya. Namun, ada sesuatu yang asing di dalam tatapan itu. Sebuah kehampaan yang semakin hari semakin sulit ia sembunyikan. Mata indahnya seolah mati, netra hazel berpendar dengan cahaya suram.Pintu kamar terbuka tanpa ketukan."Kenapa duduk sendirian di si

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status