INICIAR SESIÓNApa kau setuju pada pernyataan, istri hanyalah pelengkap untuk suaminya? Marianna sudah puas hidup hanya sebagai gundik bagi suaminya, Abimanyu. Seluruh tubuh, jiwa, dan cinta sudah ia curahkan, namun Marianna tetap kalah dengan masa lalu sang suami, Kasandra Aluna. Cinta Abimanyu hanya untuk Kasandra. Marianna juga menderita selama menyandang status sebagai istri Abimanyu Efmeros. Dibandingkan melepas suaminya tanpa mendapatkan apapun, Marianna yang dahulu dicap sebagai wanita paling sempurna kini menolak menjatuhkan gelarnya tersebut. Ah, tidak sayang. Marianna bukan wanita sembrono yang melabrak pelakor dengan gegabah, ia lebih suka cara elegan. Dengan ini, Marianna Fropium sang Wanita Marijuana akan kembali menebarkan candu pada para targetnya, menjadikan mereka bidaknya. Hanya untuk menghancurkan hidup dua manusia hina itu, Abimanyu dan Kasandra.
Ver másHujan turun pelan di luar jendela, menari di atas kaca seperti tetes air mata yang tak diizinkan jatuh. Lampu di ruangan itu temaram, membentuk bayangan samar di wajah seorang wanita yang duduk dengan punggung tegak, tetapi sorot matanya kosong.
Marianna Fropium tidak pernah terlihat sekacau ini.
Rambut hitam pekatnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, jatuh di atas bahunya seperti kelopak bunga yang telah layu. Bibir merahnya pucat, ujung jemarinya yang lentik terus meremas gelas kosong di tangannya. Jika seseorang yang tak mengenalnya melihatnya saat ini, mereka mungkin mengira dia hanyalah wanita biasa yang lelah oleh kehidupan.
Tapi Marianna tidak pernah menjadi wanita biasa.
"Aku tidak gila, bukan?" suaranya terdengar rapuh, hampir seperti bisikan. Sepasang mata hazel itu beralih menatap dua orang di hadapannya.
Lisabeth Candrakala, sahabat sekaligus psikiater yang tengah menangani Marianna, menghela napas. Wanita itu duduk di sofa dengan ekspresi penuh pemikiran, jemarinya yang ramping menopang dagunya. Tidak ada catatan atau alat perekam di tangannya. Mungkin karena ini bukan sesi terapi biasa. Ini bukan tentang pasien. Ini tentang sahabat.
Di sudut lain, Selias Anthares hanya diam. Pria itu duduk dengan sikap santai, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat atmosfer ruangan terasa lebih dingin. Jasnya yang berwarna hitam tanpa cela, rambutnya tertata sempurna, seperti biasa. Jika Lisabeth adalah suara empati dalam ruangan ini, maka Selias adalah keheningan yang menusuk.
"Tidak gila, Marianna." Lisabeth akhirnya bersuara, lembut tetapi terukur. Ia melanjutkan,
"Tapi kau... berbeda."
Marianna tertawa. Sebuah tawa tanpa kebahagiaan.
"Berbeda?" Ia memiringkan kepalanya, matanya memancarkan sesuatu yang tidak bisa ditebak.
"Lucu sekali, Lisa. Kau tahu, dulu aku adalah segalanya. Wanita yang sempurna. Cantik, cerdas, menawan. Istri yang baik. Aku adalah impian banyak orang."
Ia menegakkan tubuhnya, meletakkan gelas kosong di meja dengan sedikit lebih kuat dari yang seharusnya.
"Tapi apa yang kudapat? Seorang suami yang memperlakukanku seperti gundik. Sebuah pernikahan yang hanya formalitas. Cinta yang bahkan bukan milikku."
Ruangan itu hening sejenak.
Lisabeth memperhatikannya dengan saksama.
"Dan sekarang? Kau ingin apa, Marianna?"
Marianna terdiam mendengar pertanyaan Lisabeth. Ia kemudian menoleh, menatap lurus ke arah Selias.
"Kau tidak akan menghakimiku, kan?"
Pria itu mendesah pelan, menyesap kopinya sebelum menjawab,
"Aku tidak tertarik menghakimi siapa pun."
Lisabeth melirik Selias sebelum kembali pada Marianna.
"Kau ingin bicara tentang dia lagi, bukan? Abimanyu? Dan... Kasandra?"
Ada kilatan tajam di mata Marianna. Wanita itu menangkup wajah Lisabeth dengan kasar, membuat ketegangan.
"Jangan sebut nama wanita itu di hadapanku."
Lisabeth tidak terkejut. Ia sudah mengenal Marianna terlalu lama untuk tahu batas-batasnya.
"Kalau begitu, katakan padaku. Apa yang sebenarnya kau inginkan, Marianna? Kau sudah tahu apa yang terjadi. Kau bisa pergi dan meninggalkan mereka dalam kebusukan mereka sendiri."
Marianna tersenyum. Senyum yang sangat manis, sangat halus... tetapi begitu beracun.
"Meninggalkan mereka? Tidak, sayang." Ia beranjak dari kursinya, berjalan pelan menuju jendela, membiarkan jemarinya menyentuh kaca yang dingin.
"Aku lebih suka melihat mereka hancur... dengan tanganku sendiri."
Lisabeth diam, tetapi Selias menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Seolah dia baru saja melihat sesuatu yang berbahaya di dalam diri wanita itu.
Dan dia benar.
Hening sejenak. Hanya suara hujan yang mengisi ruangan, iramanya seakan mengikuti detak jantung yang kian mengencang.
"Kau tahu, Lis?" Marianna melanjutkan, masih menatap keluar jendela,
"Aku dulu percaya bahwa karma akan bekerja dengan sendirinya. Bahwa orang yang menyakitiku akan mendapatkan balasannya dari semesta. Tapi lihatlah, hidup mereka masih baik-baik saja. Bahkan bahagia. Sedangkan aku? Aku adalah wanita yang di sia-siakan."
Ia tertawa pelan, tetapi tawa itu lebih terdengar seperti serpihan kesedihan yang tajam. Tanpa diduga, Marianna menghantamkan telapak tangannya beberapa kali ke jendela dengan kekuatan yang berlebih. Jendela kaca itu pecah, serpihannya berhamburan di udara. Melukai tangan Marianna. Sebuah aksi yang membuat Lisabeth dan Selias panik, segera mendekat. Marianna meraung, teriakannya menggema. Tangis tak terelakkan, wanita itu menjambak rambutnya sendiri dengan tangan berlumuran darah. Selias menariknya menjauh dari jendela, sementara Lisabeth segera memeluk sahabatnya.
Air hujan masuk ke dalam ruangan, udara dingin terasa.
“Apa yang kau lakukan Marianna? Apa kau gila?” Tanya Selias dengan suara rendah yang terdengar seperti geraman.
Marianna depresi.
Ia hanya berharap, perih yang terasa di tubuhnya dapat mengalihkan rasa sakit dalam luka batin.
“Sudah cukup, Marianna. Sudah” Lisabeth memeluk Marianna erat-erat, mengusap punggungnya. Ia membawa sahabatnya duduk di sofa, membiarkan tangisnya keluar. Terdengar pilu, namun itulah obat yang sesungguhnya.
Lisabeth mungkin adalah seorang psikiater, namun ia belum pernah mengalami sendiri dihancurkan oleh pria yang harusnya menjadi rumah.
Jadi Lisabeth hanya membiarkan Marianna menangis, meraung, dan mencakar pakaiannya.
Lelaki se-brengsek apa yang telah menghancurkanmu, Marianna?
"Jika semesta tidak akan menghukum mereka, maka aku yang akan melakukannya."
Lisabeth bersandar pada sofa, ekspresinya rumit.
"Dendam hanya akan mengubahmu menjadi seseorang yang kau benci, Marianna."
Marianna terisak, perlahan mencoba menenangkan diri. Wanita itu menatapnya.
"Mungkin. Tapi aku sudah tidak peduli lagi." Matanya menyorot ke arah Selias.
"Kau mengerti, bukan?"
Selias tetap diam sejenak, sebelum akhirnya beranjak dari tempatnya berdiri. Pria itu membuka laci di ruangan Lisabeth, mengambil perban, kapas dan antiseptik sebelum berjalan mendekat, menatap Marianna dengan cara yang sulit diartikan. Tangannya terulur, membersihkan luka wanita itu dengan gerakan lembut sebelum membalutnya dengan perban.
"Aku tidak akan mencoba mengubah keputusanmu, Marianna," katanya pelan, ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan,
"Aku hanya ingin tahu... seberapa jauh kau siap melangkah?"
Marianna menatapnya balik, lama. Kemudian, senyumnya merekah lagi, tetapi kali ini ada sesuatu yang lebih dingin di baliknya.
"Sejauh yang dibutuhkan."
Lisabeth tampak khawatir dengan jawaban Marianna.
“Kau yakin?”
Marianna menjawab mantap.
“Sangat yakin. Aku hanya membutuhkan bantuan kalian.”
Selias mengangkat alis.
“Kami rasa, tak etis bila kami ikut campur dalam masalah pribadimu.” Ucap pria bersurai klimis itu.
“Aku yang meminta kalian, bukan kalian yang memaksa ikut campur.”
Lisabeth terdiam, tak akan membantah lagi. Jika Marianna menginginkannya, maka Lisabeth hanya perlu memainkan perannya dengan baik demi mewujudkan keinginan Marianna.
“Baiklah, ceritakan pada kami situasinya. Kami akan membantu semampu kami” Ucap Lisabeth, sementara Selias hanya mengangguk.
Marianna tersenyum kelam.
“Semuanya dimulai dari sana”
Malam itu, Marianna duduk di meja makan, menunggu Abimanyu pulang.Di hadapannya, hidangan sudah tertata rapi, tetapi ia tidak merasa lapar. Yang lebih memenuhi kepalanya adalah kata-kata Adrian di sekolah tadi."Tante Kasandra bilang aku akan punya dua Mama."Napasnya terasa berat.Saat akhirnya pintu terbuka dan Abimanyu masuk, ekspresinya seperti biasa: lelah, tetapi tetap menyunggingkan senyum tipis.“Aku pulang.”Marianna membalas senyum itu dengan datar.“Kau pulang larut lagi.”Abimanyu melepas jasnya, lalu mengecup puncak kepalanya. “Biasa, Sayang. Meeting di luar kota, revisi proposal, klien rewel.” Ia mengambil gelas berisi es teh di meja dan menyesapnya santai.Marianna memperhatikannya dalam diam sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati.“Aku bertemu Adrian di sekolah tadi.”Abimanyu mengangkat alis.“Lalu?”“Dia bilang sesuatu yang menarik.”“Oh, ya?” Suaminya tertawa kecil, mencubit dagu Marianna seolah menganggapnya menggemaskan.“Anak lima tahun memang suka bicara an
Berapa harga minyak goreng dan gas hari ini?Sebuah pertanyaan sepele yang jawabannya mungkin akan mengejutkan setiap suami. Tak mengira, betapa sulitnya para istri harus mengelola uang, memutar otak agar uang itu cukup, dan memikirkan menu makanan yang berbeda-beda setiap hari. Cukup di modal, tidak membosankan, namun tetap bergizi.Dan terkadang, martabat juga dipertaruhkan dalam hal yang sering dianggap sepele ini.Marianna berdiri di depan meja kasir dengan jari-jari yang menggenggam erat dompetnya. Ia menelan ludah, menatap angka yang tertera di layar mesin kasir, Rp780.000.Ia membuka dompet dengan gerakan hati-hati. Selembar lima puluh ribuan, beberapa lembar dua puluh ribuan, beberapa receh seribuan. Total uangnya hanya Rp500.000.Napasnya tercekat.Tidak.Ini tidak mungkin.Istri seorang Abimanyu Efmeros, perempuan yang selama ini hidup dalam kemewahan, yang setiap harinya mengenakan pakaian dari butik eksklusif dan menghadiri pesta sosialita… sekarang berdiri di sini, di pas
Matahari sore memancarkan sinarnya yang hangat, menciptakan bayangan panjang di taman kompleks perumahan elite itu. Marianna duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang, tangannya terampil menyuapi Adrian yang sibuk memainkan mobil-mobilan di atas meja piknik kecilnya.Sekelompok ibu-ibu berkumpul tak jauh dari sana, masing-masing dengan anak-anak mereka yang tengah bermain di ayunan atau perosotan. Suara tawa bocah-bocah bercampur dengan obrolan ringan para ibu, sebagian besar tentang resep masakan, sekolah anak, dan... kehidupan rumah tangga.“Ah, kalau lihat Bu Marianna ini rasanya iri ya,” suara seorang ibu, yang dikenal sebagai Bu Rina, melengking dengan nada kagum.“Cantik, elegan, anaknya pintar, suaminya sukses. Hidupnya benar-benar seperti di dongeng.”Beberapa ibu lainnya mengangguk setuju."Iya, iya! Kalau lihat Bu Marianna, kayaknya nggak ada beban hidup sama sekali. Kayaknya suaminya juga setia banget ya, Mbak?" celetuk yang lain sambil melirik Marianna yang hanya terseny
Apa alasan seorang wanita bertahan dalam pernikahan bermahligai lingkaran api?Anak.Marianna duduk di pinggir ranjang, menatap tubuh kecil yang terlelap di sampingnya. Adrian, putranya yang baru berusia lima tahun, menggenggam jemari ibunya bahkan dalam tidurnya, seolah takut kehilangan satu-satunya tempat berlindung yang tersisa di dunia ini. Wajah mungilnya terlihat damai, meskipun hanya beberapa jam lalu ia menangis karena teriakan Abimanyu memenuhi rumah, menghantam dinding seperti badai yang tak kunjung reda.Di luar kamar, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Marianna menahan napas. Ia mengenali irama langkah itu. Sedikit gontai, tanda bahwa pemiliknya baru saja menghabiskan malam dengan alkohol dan, kemungkinan besar, wanita lain. Ia memejamkan mata sesaat, berdoa agar Abimanyu langsung masuk ke kamarnya sendiri tanpa membuat keributan.Namun harapannya sia-sia.Pintu kamar terbuka perlahan, dan Abimanyu berdiri di ambangnya. Matanya yang gelap menelusuri ruangan, berh






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.