MasukApa alasan seorang wanita bertahan dalam pernikahan bermahligai lingkaran api?
Anak.
Marianna duduk di pinggir ranjang, menatap tubuh kecil yang terlelap di sampingnya. Adrian, putranya yang baru berusia lima tahun, menggenggam jemari ibunya bahkan dalam tidurnya, seolah takut kehilangan satu-satunya tempat berlindung yang tersisa di dunia ini. Wajah mungilnya terlihat damai, meskipun hanya beberapa jam lalu ia menangis karena teriakan Abimanyu memenuhi rumah, menghantam dinding seperti badai yang tak kunjung reda.
Di luar kamar, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Marianna menahan napas. Ia mengenali irama langkah itu. Sedikit gontai, tanda bahwa pemiliknya baru saja menghabiskan malam dengan alkohol dan, kemungkinan besar, wanita lain. Ia memejamkan mata sesaat, berdoa agar Abimanyu langsung masuk ke kamarnya sendiri tanpa membuat keributan.
Namun harapannya sia-sia.
Pintu kamar terbuka perlahan, dan Abimanyu berdiri di ambangnya. Matanya yang gelap menelusuri ruangan, berhenti pada sosok Marianna yang masih terjaga di ranjang. Bibirnya melengkung dalam senyum miring yang membuat dada Marianna sesak.
"Kenapa belum tidur?" suaranya serak, bercampur aroma alkohol yang menyengat.
Marianna menghela napas pelan.
"Adrian baru saja tertidur. Aku tidak ingin membangunkannya."
Abimanyu mengabaikan jawaban itu. Ia melangkah masuk, lalu duduk di pinggir ranjang. Tangannya terulur, menyentuh dagu Marianna dengan gerakan yang seharusnya lembut, namun terasa seperti belenggu dingin.
"Aku merindukanmu, Marianna," bisiknya.
Marianna menahan diri agar tidak bergidik. Ia tahu maksud di balik kata-kata itu.
"Adrian ada di sini," ucapnya, berusaha menghindari tatapan suaminya.
Abimanyu mendengus.
"Lalu? Dia tertidur."
Marianna menahan napas. Ia ingin menolak, ingin mengatakan bahwa ia lelah, bahwa ia tidak ingin menjadi pemuas nafsunya malam ini. Namun, ia tahu Abimanyu tidak akan peduli. Menolak hanya akan berujung pada kemarahan, dan kemarahan itu akan menyisakan luka yang lebih dalam daripada sekadar menyerahkan dirinya pada pria yang dulu pernah ia cintai.
Jadi, ia mengalah. Demi Adrian. Demi ketenangan malam ini.
Hari-Hari berulang seperti neraka.
Pagi datang dengan keheningan yang mencekik. Abimanyu sudah pergi sebelum matahari terbit, seperti biasa. Marianna bangun dengan tubuh terasa lelah, namun ia tidak punya pilihan selain segera mengurus Adrian.
Saat ia menyiapkan sarapan, suara tawa kecil anaknya menjadi satu-satunya hal yang membuatnya tetap bertahan. Adrian tidak tahu apa-apa tentang neraka yang dijalani ibunya. Ia masih melihat dunia dengan mata polosnya, mempercayai bahwa ayahnya adalah sosok yang baik, bahwa rumah ini adalah tempat yang aman.
"Mama, nanti sore kita bisa pergi ke taman?" tanya Adrian sambil mengunyah roti panggangnya.
Marianna tersenyum tipis. "Tentu, sayang. Kita bisa bermain di sana."
Adrian bersorak kecil, lalu kembali menikmati sarapannya. Marianna mengusap kepala anaknya dengan lembut, menahan air mata yang nyaris jatuh. Ia ingin memberinya kehidupan yang lebih baik. Ia ingin anaknya tidak perlu hidup dalam ketakutan seperti dirinya. Namun, bagaimana caranya?
Saat ia sibuk dengan pikirannya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Abimanyu muncul di layar:
Transferkan lima puluh juta ke rekeningku. Sekarang.
Marianna menatap layar itu dengan kosong. Lima puluh juta? Dari mana? Ia sudah hampir tidak memiliki apa-apa lagi. Warisannya yang dulu berlimpah kini perlahan habis, tergerus oleh kebiasaan Abimanyu yang tidak pernah puas.
Dengan tangan gemetar, ia membalas pesan itu:
Aku tidak punya uang sebanyak itu, Abi.
Balasannya datang dalam hitungan detik.
Kau pasti punya. Jangan membuatku marah, Marianna.
Marianna menggigit bibirnya. Ia tahu apa yang akan terjadi jika menolak. Ia tahu ancaman itu bukan sekadar kata-kata kosong.
Dengan hati hancur, ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya dan mentransfer sisa uang yang dimilikinya. Lima puluh juta rupiah, hilang dalam sekejap, untuk seorang pria yang bahkan tidak pernah benar-benar menghargainya.
Demi Adrian, Aku Bertahan.
Hari itu berlalu dengan rasa sakit yang menggumpal di dada. Saat sore tiba, Marianna menepati janjinya pada Adrian. Mereka pergi ke taman kecil dekat rumah, di mana anaknya bisa bermain tanpa khawatir.
Marianna duduk di bangku taman, memperhatikan Adrian yang tertawa riang di ayunan. Wajah bocah itu penuh kebahagiaan, seolah tidak ada beban di dunia ini. Dan mungkin memang begitulah seharusnya seorang anak hidup, tanpa perlu tahu betapa kelamnya kenyataan.
Namun, Marianna tahu bahwa kebahagiaan ini tidak akan bertahan lama jika ia tetap berada di sisi Abimanyu. Cepat atau lambat, pria itu akan menghancurkan semuanya, termasuk Adrian.
Ia menggenggam tangannya erat. Ia tidak bisa terus seperti ini. Ia harus menemukan jalan keluar.
Ketika Adrian berlari menghampirinya, tertawa dengan nafas tersengal, Marianna menarik anaknya ke dalam pelukan. Ia menanamkan kecupan di ubun-ubunnya, menahan air mata yang mengancam jatuh.
Demi anakku, aku akan bertahan. Tapi tidak selamanya.
Karena suatu hari nanti, ia akan menemukan cara untuk membebaskan dirinya dan Adrian dari neraka ini.
Dan pada hari itu, Abimanyu akan menyesali semua yang pernah ia lakukan.
---
Adrian bermain di kamarnya malam itu. Sebelum mendengar sebuah teriakan pertama. Ia segera berdiri, menguping di balik pintu kamar yang tertutup. Tubuh mungilnya gemetar. Ruangan terasa semakin sempit, seolah dinding-dindingnya bergerak mendekat, menekan udara dari paru-parunya. Ia membekap mulutnya sendiri, takut suara napasnya yang tersengal-sengal terdengar oleh orang-orang di luar sana, orang-orang yang seharusnya melindunginya, bukan menakutinya.
Teriakan ibunya membelah udara, tajam seperti pecahan kaca.
"Kenapa kamu terus berbohong padaku, Bi?! Aku sudah tahu semuanya! Kamu pikir aku ini bodoh?"
Suara dentuman keras menggema di ruangan sebelah. Mungkin vas bunga yang pecah, mungkin kursi yang terlempar. Adrian tidak ingin tahu. Ia sudah cukup melihat piring melayang, cukup mendengar suara benda jatuh dan suara tamparan yang menggema di rumah mewah ini.
Lalu suara ayahnya menyusul. Datar, dingin, tapi memuakkan di telinga Adrian.
"Kau berisik, Marianna. Selalu berlebihan. Kau mau jadi istri yang bagaimana, hah? Aku sudah capek mendengar ocehanmu."
Terdengar suara tubuh berbenturan dengan furnitur. Adrian mengejang, merapatkan lututnya ke dada. Ia ingin berlari ke arah ibunya, ingin menghentikan ayahnya, tapi ia tidak bisa bergerak. Kakinya terasa beku. Ia hanya bisa menekan wajahnya ke lutut, berharap semuanya berhenti.
Tapi suara bentakan masih terdengar.
"Jangan sentuh aku!"
"Kalau kau terus seperti ini, aku akan pergi! Dan aku tidak akan peduli lagi!"
Adrian mencengkeram lengan bajunya erat-erat. Dadanya terasa sakit, seperti ada tangan tak terlihat yang meremasnya dari dalam. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali rumah ini terasa hangat, kapan terakhir kali ayah dan ibu tersenyum tanpa kepalsuan di mata mereka.
Ia ingin keluar dari sini. Ia ingin berlari. Tapi ke mana?
Ia anak kecil, dan ini satu-satunya rumah yang ia punya.
Adrian memeluk lututnya erat di belakang pintu, telinganya berdenging oleh teriakan yang saling bersahutan di luar kamar.
“KAMU MAU LARI KE MANA, HAH?!”
BRAK!
Suara barang pecah berhamburan. Adrian tersentak. Ia menggigit lengannya sendiri, berusaha menahan suara isakannya. Tapi tubuhnya tetap gemetar.
“Kamu ini istri yang baik, ya?” Suara ayahnya terdengar dingin, nyaris mengejek.
“Istri yang rela berlutut di kaki suami, yang diam ketika diperlakukan seperti ini?” lanjutnya.
“Kamu pikir aku takut padamu, Abimanyu?!” suara ibunya balas berteriak, tapi Adrian tahu, itu suara seseorang yang putus asa, seseorang yang mencoba terdengar kuat padahal sudah kelelahan.
Suara benda berat jatuh ke lantai, lalu suara langkah kaki menyeret. Sesuatu berbenturan keras dengan dinding. Lalu suara ibunya teredam, seperti seseorang tengah menekan lehernya.
“Kamu ini... benar-benar menyedihkan, Marianna.”
Adrian menutup telinganya.
Dia tidak ingin mendengar ini. Dia tidak ingin membayangkan apa yang terjadi di luar sana.
Tapi suara napas ibunya yang terengah-engah masih terdengar.
“Jangan bicara seakan-akan kamu lebih baik dariku...” Marianna terdengar tersenyum sinis.
“Kamu tidak akan pernah lebih baik dariku, Abi.”
Sebuah tamparan keras mendarat.
Adrian tersentak.
Tiba-tiba saja, tubuhnya bergerak sendiri. Ia berusaha berani, tangannya bergetar saat meraih gagang pintu. Ia membuka pintunya sedikit, cukup untuk mengintip.
Dan yang ia lihat membuat perutnya mual.
Ibunya terjatuh di lantai, pipinya memerah akibat tamparan tadi. Ayahnya berdiri di depannya, ekspresinya kosong. Seperti melihat seseorang yang sudah tak berharga.
Adrian tidak paham.
Bukankah ayahnya dulu mencintai ibunya? Bukankah mereka dulu keluarga yang bahagia?
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Adrian membatu. Ia bisa merasakan seseorang mengambil langkah, bayangan gelap yang berdiri di ambang pintu.
"Adrian?"
Itu suara ibunya. Lirih, hampir patah.
Tapi Adrian tidak menjawab. Ia hanya menutup matanya lebih erat, berpura-pura tidak ada, berpura-pura tidak pernah mendengar, berpura-pura ia bukan bagian dari rumah ini.
Mata Marianna bergerak, lalu menangkap sosok kecil yang mengintip dari pintu.
Tatapannya seketika berubah.
“Adrian...”
Suara ibunya begitu lembut, begitu rapuh.
Abimanyu ikut menoleh ke arahnya.
Adrian ingin lari. Tapi tubuhnya membeku.
Sebelum ia sempat bereaksi, Marianna bangkit dan berlari ke arahnya. Tangannya langsung menarik tubuh kecil Adrian ke dalam pelukan erat, seakan anaknya adalah satu-satunya hal yang masih berharga baginya.
“Kamu tidak apa-apa, sayang?” bisik Marianna, jemarinya membelai rambut anaknya dengan gelisah.
Adrian menatap lurus ke arah ayahnya, masih bingung, masih ketakutan.
Tapi Abimanyu hanya menatapnya kembali.
“Lihat itu.” Abimanyu mendengus, lalu tertawa miring.
“Ibu dan anak yang malang.”
Marianna merasakan tubuh Adrian mengejang di pelukannya, dan tatapannya langsung membunuh.
“Diam, Abimanyu.”
“Kenapa? Takut Adrian melihat siapa ibunya sebenarnya?”
Adrian menutup matanya erat.
“Sudah cukup...” suaranya kecil, nyaris tak terdengar.
Tapi tak ada yang mendengar.
Mereka terus bertengkar. Terus menyalahkan.
Dan di dalam dekapan ibunya, Adrian sadar.
Mereka tidak akan pernah berhenti. Tidak akan pernah berubah.
Tangannya mencengkeram gaun ibunya erat, tapi bukan untuk mencari perlindungan.
Untuk pertama kalinya, Adrian merasakan sesuatu yang lain selain ketakutan.
Kekecewaan.
Dan perlahan-lahan, kebencian.
“Adrian?”
Suara itu memanggilnya lagi, kali ini lebih mendesak. Kekhawatiran ibunya semakin memuncak, tapi Adrian tetap diam. Ia menggigit bibirnya, menahan isak tangis yang nyaris pecah. Jika ia bersuara sekarang, ibunya akan tahu ia mendengar segalanya, dan ia tidak ingin ibunya semakin terluka karena dirinya.
Namun, sepasang tangan lembut mendekapnya lebih erat, dan wajah pucat Marianna tampak menyedihkan di hadapannya. Matanya merah, bekas air mata masih membekas di pipinya, dan di sudut bibirnya ada sedikit darah. Adrian menatapnya, tidak berani bergerak.
“Oh, sayang...”
Marianna langsung menarik Adrian lebih dalam ke pelukannya. Tubuh ibunya gemetar, seakan ia pun sama takutnya. Ia membelai rambut anaknya dengan jemari yang dingin, sementara Adrian hanya bisa diam, memandang kosong ke arah pintu kamar yang masih terbuka.
Di luar sana, Abimanyu masih berdiri. Matanya gelap, ekspresinya tak terbaca. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, menghela napas seolah semua ini hanya masalah kecil yang melelahkan.
"Kau buat anak kita takut, Marianna," ucapnya, nada suaranya datar tapi menyakitkan.
Marianna menegang. Adrian bisa merasakan ibunya menarik napas panjang sebelum menjawab, suaranya gemetar menahan emosi.
“Aku yang membuatnya takut? Kamu pikir aku yang mulai semua ini?”
Abimanyu tidak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangannya, seolah bosan.
Adrian menggenggam gaun ibunya dengan erat. Ia ingin berteriak agar mereka berhenti. Ia ingin berkata bahwa ia benci melihat ibunya menangis, benci mendengar suara ayahnya yang dingin, benci dengan rumah ini yang tak lagi terasa seperti rumah.
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya satu kata, lirih dan hampir tak terdengar.
“Jangan bertengkar...”
Marianna menegang. Adrian merasakan bagaimana tubuh ibunya membeku, bagaimana jemarinya sedikit gemetar saat membelai rambutnya.
Abimanyu, untuk pertama kalinya malam itu, terlihat sedikit terkejut.
Tapi hanya sebentar. Ia lalu tersenyum miring, sebuah senyum yang Adrian tidak mengerti.
“Kau lihat?” katanya kepada Marianna.
“Anak kita sendiri tidak menginginkan pertengkaran ini.”
Marianna menggigit bibirnya, lalu menarik Adrian semakin erat dalam pelukannya. Ia tidak menjawab.
Tapi Adrian tahu. Ia tahu bahwa apa pun yang ia katakan, tak akan mengubah apa pun. Ia hanya anak kecil, tidak lebih dari bidak kecil dalam permainan besar yang ia sendiri tidak mengerti.
Dan di dalam dekapan ibunya yang dingin, Adrian menyadari satu hal.
Sesuatu. Tepatnya, pola pikir baru yang ia pelajari di usia yang amat belia.
Cinta itu bukan sesuatu yang indah.
Cinta itu menyakitkan. Membuat orang berubah. Membuat orang hancur. Membuat rumah yang seharusnya hangat menjadi tempat yang menyesakkan.
Dan mungkin, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka semua.
Malam itu, Marianna duduk di meja makan, menunggu Abimanyu pulang.Di hadapannya, hidangan sudah tertata rapi, tetapi ia tidak merasa lapar. Yang lebih memenuhi kepalanya adalah kata-kata Adrian di sekolah tadi."Tante Kasandra bilang aku akan punya dua Mama."Napasnya terasa berat.Saat akhirnya pintu terbuka dan Abimanyu masuk, ekspresinya seperti biasa: lelah, tetapi tetap menyunggingkan senyum tipis.“Aku pulang.”Marianna membalas senyum itu dengan datar.“Kau pulang larut lagi.”Abimanyu melepas jasnya, lalu mengecup puncak kepalanya. “Biasa, Sayang. Meeting di luar kota, revisi proposal, klien rewel.” Ia mengambil gelas berisi es teh di meja dan menyesapnya santai.Marianna memperhatikannya dalam diam sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati.“Aku bertemu Adrian di sekolah tadi.”Abimanyu mengangkat alis.“Lalu?”“Dia bilang sesuatu yang menarik.”“Oh, ya?” Suaminya tertawa kecil, mencubit dagu Marianna seolah menganggapnya menggemaskan.“Anak lima tahun memang suka bicara an
Berapa harga minyak goreng dan gas hari ini?Sebuah pertanyaan sepele yang jawabannya mungkin akan mengejutkan setiap suami. Tak mengira, betapa sulitnya para istri harus mengelola uang, memutar otak agar uang itu cukup, dan memikirkan menu makanan yang berbeda-beda setiap hari. Cukup di modal, tidak membosankan, namun tetap bergizi.Dan terkadang, martabat juga dipertaruhkan dalam hal yang sering dianggap sepele ini.Marianna berdiri di depan meja kasir dengan jari-jari yang menggenggam erat dompetnya. Ia menelan ludah, menatap angka yang tertera di layar mesin kasir, Rp780.000.Ia membuka dompet dengan gerakan hati-hati. Selembar lima puluh ribuan, beberapa lembar dua puluh ribuan, beberapa receh seribuan. Total uangnya hanya Rp500.000.Napasnya tercekat.Tidak.Ini tidak mungkin.Istri seorang Abimanyu Efmeros, perempuan yang selama ini hidup dalam kemewahan, yang setiap harinya mengenakan pakaian dari butik eksklusif dan menghadiri pesta sosialita… sekarang berdiri di sini, di pas
Matahari sore memancarkan sinarnya yang hangat, menciptakan bayangan panjang di taman kompleks perumahan elite itu. Marianna duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang, tangannya terampil menyuapi Adrian yang sibuk memainkan mobil-mobilan di atas meja piknik kecilnya.Sekelompok ibu-ibu berkumpul tak jauh dari sana, masing-masing dengan anak-anak mereka yang tengah bermain di ayunan atau perosotan. Suara tawa bocah-bocah bercampur dengan obrolan ringan para ibu, sebagian besar tentang resep masakan, sekolah anak, dan... kehidupan rumah tangga.“Ah, kalau lihat Bu Marianna ini rasanya iri ya,” suara seorang ibu, yang dikenal sebagai Bu Rina, melengking dengan nada kagum.“Cantik, elegan, anaknya pintar, suaminya sukses. Hidupnya benar-benar seperti di dongeng.”Beberapa ibu lainnya mengangguk setuju."Iya, iya! Kalau lihat Bu Marianna, kayaknya nggak ada beban hidup sama sekali. Kayaknya suaminya juga setia banget ya, Mbak?" celetuk yang lain sambil melirik Marianna yang hanya terseny
Apa alasan seorang wanita bertahan dalam pernikahan bermahligai lingkaran api?Anak.Marianna duduk di pinggir ranjang, menatap tubuh kecil yang terlelap di sampingnya. Adrian, putranya yang baru berusia lima tahun, menggenggam jemari ibunya bahkan dalam tidurnya, seolah takut kehilangan satu-satunya tempat berlindung yang tersisa di dunia ini. Wajah mungilnya terlihat damai, meskipun hanya beberapa jam lalu ia menangis karena teriakan Abimanyu memenuhi rumah, menghantam dinding seperti badai yang tak kunjung reda.Di luar kamar, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Marianna menahan napas. Ia mengenali irama langkah itu. Sedikit gontai, tanda bahwa pemiliknya baru saja menghabiskan malam dengan alkohol dan, kemungkinan besar, wanita lain. Ia memejamkan mata sesaat, berdoa agar Abimanyu langsung masuk ke kamarnya sendiri tanpa membuat keributan.Namun harapannya sia-sia.Pintu kamar terbuka perlahan, dan Abimanyu berdiri di ambangnya. Matanya yang gelap menelusuri ruangan, berh
Dari luar, kehidupan Marianna tampak sempurna. Ia memiliki rumah mewah, pakaian mahal, dan status sosial yang diidamkan banyak wanita. Namun, di balik dinding berlapis marmer itu, kehidupan pernikahannya dengan Abimanyu adalah neraka yang terselubung kemewahan. Tidak ada cinta di sana, hanya kepemilikan. Tidak ada rasa aman, hanya ketakutan yang terus menghantui setiap jejak langkahnya.Pada suatu malam, saat bulan purnama menggantung di langit yang luas. Setiap keluarga bercengkerama di rumah masing-masing, menikmati malam hangat penuh canda tawa dan percakapan tentang hari yang telah mereka lewati. Itu adalah sebuah kemewahan, sesuatu yang tak Marianna miliki. Kemewahan yang ada padanya hanyalah sutra yang membalut tubuh indahnya, serta status sebagai istri Abimanyu Efmeros. Pria yang diidam-idamkan banyak wanita di luar sana.Mereka hanya tak mengetahui corak asli Abimanyu.Marianna berkutat dengan alat-alat dapur. Bergerak cekatan, menyiapkan makan malam seorang diri. Ia sudah mem
Marianna selalu memahami bahwa keindahan bukan sekadar anugerah, melainkan alat yang, jika digunakan dengan presisi, dapat membuka pintu menuju segala kemungkinan. Sejak dulu, ia mengasah pesona dan ketenangannya menjadi perisai yang sempurna. Memproyeksikan gambaran seorang istri yang paripurna. Namun, di balik tirai kemewahan yang membungkus pernikahannya, ia mulai mempertanyakan apakah ia benar-benar istri atau sekadar properti yang dikagumi, disentuh, tetapi tidak pernah benar-benar dihargai.Malam itu, ia duduk di hadapan meja rias, matanya menelusuri pantulan dirinya di cermin besar yang berbingkai emas. Gaun tidurnya yang berbahan satin jatuh dengan anggun di pundaknya, menampilkan keindahan yang selama ini selalu dipuja suaminya. Namun, ada sesuatu yang asing di dalam tatapan itu. Sebuah kehampaan yang semakin hari semakin sulit ia sembunyikan. Mata indahnya seolah mati, netra hazel berpendar dengan cahaya suram.Pintu kamar terbuka tanpa ketukan."Kenapa duduk sendirian di si







