Share

1. Sekedar Gundik

last update Huling Na-update: 2025-03-29 13:18:20

Marianna selalu memahami bahwa keindahan bukan sekadar anugerah, melainkan alat yang, jika digunakan dengan presisi, dapat membuka pintu menuju segala kemungkinan. Sejak dulu, ia mengasah pesona dan ketenangannya menjadi perisai yang sempurna. Memproyeksikan gambaran seorang istri yang paripurna. Namun, di balik tirai kemewahan yang membungkus pernikahannya, ia mulai mempertanyakan apakah ia benar-benar istri atau sekadar properti yang dikagumi, disentuh, tetapi tidak pernah benar-benar dihargai.

Malam itu, ia duduk di hadapan meja rias, matanya menelusuri pantulan dirinya di cermin besar yang berbingkai emas. Gaun tidurnya yang berbahan satin jatuh dengan anggun di pundaknya, menampilkan keindahan yang selama ini selalu dipuja suaminya. Namun, ada sesuatu yang asing di dalam tatapan itu. Sebuah kehampaan yang semakin hari semakin sulit ia sembunyikan. Mata indahnya seolah mati, netra hazel berpendar dengan cahaya suram.

Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.

"Kenapa duduk sendirian di sini?" Suara berat itu terdengar tenang, tetapi mengandung sesuatu yang tidak bisa diabaikan.

Keinginan.

Abimanyu berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih dengan beberapa kancing terbuka, seakan penampilannya yang sedikit acak-acakan sudah cukup untuk menarik perhatian. Matanya menelusuri tubuh Marianna dengan intensitas yang terlalu familiar, tatapan khas seorang pria yang menginginkan kepemilikan.

Marianna menoleh perlahan, tersenyum tipis seperti yang sudah terbiasa ia lakukan.

"Aku hanya berpikir." Ucapnya pelan.

Langkah Abimanyu mendekat, tangannya terulur untuk menyentuh bahu mulus Marianna yang terekspos.

 "Berpikir tentang apa?"

Sejenak, ia ingin berbicara jujur. Ingin mengatakan bahwa ia lelah memainkan peran yang tak pernah benar-benar ia inginkan. Bahwa setiap hari yang ia jalani terasa seperti sandiwara tanpa akhir. Namun, ia tahu, Abimanyu tidak tertarik pada percakapan yang semacam itu.

"Tentang kita," akhirnya ia berbisik, memilih kata yang aman.

Abimanyu menyeringai kecil, seakan menganggap itu sebagai undangan terselubung.

"Kalau begitu, kau tidak seharusnya hanya berpikir. Kau seharusnya merasakan." Ia membungkuk, membiarkan bibirnya menyentuh kulit di belakang telinga Marianna, sebuah sentuhan yang seharusnya membangkitkan gairah, tetapi yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang semakin menekan dadanya.

Marianna menarik napas pelan, menekan perasaan asing yang bergejolak di dalam dirinya.

"Aku lelah, Abi. Jangan hari ini ya?" bisiknya, nyaris tak terdengar.

Pria itu tertawa ringan, seolah ucapan itu bukan sesuatu yang perlu dianggap serius. Jemarinya menelusuri bahu Marianna dengan kelembutan yang bertolak belakang dengan intensitas di matanya.

"Jangan terlalu banyak berpikir, sayang. Kau tahu aku tidak bisa menahan diri jika kau terlihat secantik ini."

Dan di sanalah letak masalahnya. Baginya, kecantikan Marianna bukanlah sesuatu yang dihargai, melainkan sesuatu yang dimiliki. Ia bukan wanita yang dicintai dengan utuh, tetapi sekadar karya seni yang dipajang dan dinikmati.

Tangannya terangkat, menyentuh jemari Abimanyu yang bertumpu di bahunya.

"Jadi, kau tidak bisa menahan diri?"

Senyum pria itu melebar.

"Tentu saja tidak. Kau selalu membuatku kehilangan akal."

Marianna bangkit dari kursinya, berdiri di hadapan suaminya. Ia menatap pria itu dalam diam, mencari sesuatu di dalam matanya. Sebuah kepastian, sebuah makna yang lebih dari sekadar hasrat sesaat. Tetapi ia hanya menemukan refleksi dari apa yang telah ia duga selama ini: dirinya hanyalah pemuas kebutuhan biologis. Tidak lebih, tidak kurang.

Maka, ia melakukan apa yang selalu ia lakukan. Menjadi sempurna. Ia tersenyum, lembut dan menggoda, seperti yang diharapkan darinya.

"Kalau begitu, apa yang kau tunggu?" bisiknya.

Abimanyu menyeringai, membawa tubuh Marianna ke atas ranjang. Tangan kokohnya mulai menyusuri kulit putih tanpa cacat milik sang istri, sebelum mendekatkan wajahnya pada Marianna dan menciumnya dengan brutal.

Marianna hanya membalas tanpa minat. Entah mengapa, dari banyaknya hal di dunia, bersetubuh dengan suaminya sendiri harus terasa hampa. Ia merasa gagal, namun bertanya-tanya disaat yang sama.

Mengapa terasa hampa? Bukankah hal ini harusnya membuatnya berhasrat?

“Mari kita lihat” Abimanyu meraih dagu Marianna, ibu jarinya menekan bibir ranum yang membengkak akibat ulahnya. Ibu jarinya menggali ke dalam mulutnya, merasakan tekstur lidahnya. Saat keluar, ibu jari itu telah berlumuran saliva.

Marianna menatap kosong.

Pria bermata coklat yang tengah asyik menikmati tubuhnya kini mulai melucuti pakaian sang hawa. Mengekspos tubuh molek nan indah, mahakarya yang tak pernah dinikmati pria selain dirinya.

“Astaga” Gumam Abimanyu dengan suara serak.

Tangannya mulai melepas kancing bajunya sendiri. Menatap wajah cantik Marianna yang terbaring di bawahnya. Abimanyu mulai menyentuh tubuh istrinya dengan sensual. Mulai dari menekan aset di dada Marianna yang terpampang jelas tanpa sehelai kain menutupi, menggigit lehernya hingga meninggalkan bekas, dan menekan pinggang wanita itu. Marianna hanya diam.

Hanya diam.

Sementara Abimanyu semakin lapar. Ia ingin menenggelamkan dirinya pada dekapan Marianna. Membenamkan miliknya pada milik istrinya. Menyatukan tubuh mereka.

Sang adam mulai melepas bawahannya sendiri, menatap tubuh indah di hadapannya yang pasrah. Kulit mulus dengan selapis kain saja yang tersisa. Hanya sebuah celana dalam hitam berbahan brukat yang sangat kontras dengan kulit putih Marianna. Abimanyu melucuti kain pelindung terakhir Marianna, kemudian mengangkat kedua kaki sang wanita ke atas bahunya. Telunjuk dan jari tengah segera menggali ke celah di bawah sana, merasakan ketat dan sempitnya liang itu. Abimanyu mengeluarkan lagi jarinya, tersenyum bangga.

“Bersiaplah. Aku takkan melakukannya dengan lembut, sayang” Bisik Abimanyu.

Marianna hanya mengangguk pelan.

Dan serangan mendadak datang. Menghujam, penuh pemaksaan. Marianna memejamkan matanya. Tangannya menggenggam seprai dengan erat. Di bawah sana terasa perih. Abimanyu mulai menghentak kasar, membuat Marianna terkejut, punggungnya melengkung menahan nyeri.

“A-Abi... Pelan-pelan” Cicit Marianna.

Abimanyu tidak merespon. Pria itu malah menjatuhkan diri diatas tubuh Marianna, hingga dada mereka saling berhimpitan. Nafas keduanya beradu, dan Marianna dapat melihat gairah tak terbendung di mata Abimanyu. Pria itu mencium bibir ranum Marianna dengan kasar hingga lecet dan berdarah. Menggigit leher sang wanita di sana sini, dan turun ke dada. Mengigit dua buah yang terpahat sempurna, kemudian menghisap dengan nikmat. Semua Abimanyu lakukan tanpa menghentikan hentakan kasar di bawah sana. Marianna membiarkan dirinya meremas seprai daripada mencakar punggung suaminya.

“Kau hanya diam sejak tadi. Apa aku harus bermain lebih kasar demi mendengarmu mendesah dan menangis?” Ancam Abimanyu.

Marianna menggeleng. Abimanyu segera menarik keluar pedang kokohnya dari celah kenikmatan, sebelum menusukkannya lagi dengan lebih kasar.

“AHHH!” Erang Marianna menahan sakit.

“Gerakkan tubuhmu, berikan goyangan. Apa kamu lupa cara melakukannya, Marianna?”

Wanita itu ketakutan, segera melakukan titah Abimanyu.

“A-Ah...” suara desahan merdu itu mengalun di malam yang sunyi, penuh pemaksaan.

“Bagus”

Keringat, nafas yang berat, saliva, dan hasrat. Semuanya bercampur menjadi satu. Seprai basah. Entah karena air mata atau keringat.

Marianna meneteskan air mata. Ini menyakitkan. Melukai dirinya, baik fisik maupun harga dirinya.

Abimanyu malah tersenyum puas, menjilati air mata yang mengalir ke pipi  Marianna.

Hentakan demi hentakan kembali datang. Abimanyu menggila. Bahkan kaki ranjang bisa patah kapan saja, seolah menyerah menjalankan tugasnya. Tiga ronde harus Marianna lewati sepanjang malam.

Malam itu berlangsung seperti malam-malam sebelumnya. Cahaya redup dari lampu kamar membentuk bayangan mereka di cermin besar, menciptakan ilusi romantisme yang kosong. Sentuhan Abimanyu penuh gairah, tetapi tidak pernah benar-benar sampai ke dalam hati Marianna. Setiap ciuman, setiap desahan, setiap erangan hanyalah bagian dari rutinitas yang telah ia pelajari di luar kepala.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda malam ini. Di antara sentuhan yang seharusnya membakar gairah, ada dingin yang merayapi hatinya. Ia tidak lagi sekadar merasa kosong, tetapi mulai mempertanyakan apakah dirinya masih memiliki kendali atas hidupnya sendiri.

"Kau luar biasa, seperti biasa," gumam Abimanyu, puas, jemarinya menelusuri tulang punggung Marianna dengan kepemilikan mutlak. Namun, di balik mata terpejamnya, Marianna hanya bertanya dalam hati:

Apakah aku bahagia?

Pagi hampir datang.

Ketika akhirnya pria itu menarik diri, menatapnya dengan kebanggaan seorang pemilik yang baru saja menikmati barang berharganya, Marianna hanya tersenyum samar. Ia sudah sangat terlatih dalam hal ini.

"Kau milikku, Marianna," suara itu penuh keyakinan.

"Tak ada yang bisa menggantikanmu."

Marianna hanya menunduk sedikit, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. Kata-kata itu seharusnya memberinya rasa aman, tetapi justru sebaliknya. Jika ia benar-benar tak tergantikan, mengapa bayangan samar masa lalu masih terselip dalam setiap tatapan Abimanyu? Mengapa, meskipun tubuhnya dipuja, hatinya selalu merasa terasing?

Ia menarik selimut, menutupi tubuhnya dengan satin yang dingin.

"Aku ingin mandi."

Abimanyu hanya mengangguk, seolah tidak peduli. Ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, dan setelah itu, dunia bisa berjalan seperti biasa.

Di dalam kamar mandi, Marianna menyalakan shower, membiarkan air hangat menyentuh kulitnya. Jemarinya mengusap wajahnya, tetapi bukan untuk menikmati sensasi relaksasi, melainkan untuk memastikan bahwa dirinya masih ada, bahwa ia bukan sekadar bayangan yang tersisa setelah setiap malam yang sama ini.

Matanya menangkap bayangannya sendiri di cermin. Wajah cantik, bibir merah yang sedikit bengkak akibat ciuman suaminya, dan mata hazel yang kini tampak semakin kosong. Ia terlihat sempurna, seperti biasa. Tetapi di dalam dirinya, ada kepingan yang terus retak, dan retakan itu semakin melebar.

Tetesan air jatuh dari rambutnya, bercampur dengan air mata yang akhirnya tak bisa ia tahan lebih lama.

Marianna segera membungkus tubuhnya dengan baju mandi, menghindar dari kenyataan bahwa tubuhnya memiliki bekas-bekas percintaan. Ia menenangkan dirinya sendiri, atau lebih tepatnya membohongi diri. Ini bukanlah pemaksaan, ini adalah kewajiban. Memuaskan hasrat suaminya adalah kewajiban. Tak ada istilah pemaksaan bila yang menggagahinya adalah suaminya sendiri.

Iya, kan?

Atau itu hanya sugesti Marianna?

Wanita itu segera menepis pemikiran negatif, memilih mengeringkan tubuhnya dan mulai memakai piyama. Setelah merasa rapi, ia berjalan keluar dari kamar mandi. Dengan langkah lebar yang tertatih, menghindari gesekan di bawah sana. Perih, sakit, pegal.

Remuk redam.

Di ranjang yang berantakan, Abimanyu sudah tertidur pulas, tanpa mengetahui apa yang perlahan tumbuh di dalam diri wanita yang tidur di sisinya.

Dan seperti biasa, Marianna kembali ke tempat tidurnya, kembali memainkan peran istri yang sempurna.

Suaminya adalah pria yang baik.

Abimanyu mencintainya dan anak mereka.

Abimanyu tidak se-brengsek yang pernah dia pikirkan.

Namun isakan akhirnya lolos dari bibirnya. Marianna tidak kuat.

Wanita itu memilih pergi ke kamar anak semata wayangnya, Adrian. Berbaring di sisi putranya, memeluknya dengan penuh cinta. Menatap wajah damai yang tertidur pulas.

Ini satu-satunya momen dimana Marianna merasa aman dan tenang. Aroma Adrian jauh lebih menenangkan dibandingkan suara Abimanyu.

Tapi mengapa?

Marianna menghela nafas lelah. Ia memilih memejamkan matanya. Namun rasa sakit di area sensitifnya sungguh mengganggu.

Tunggu sebentar.

Mengapa ia menerima rasa sakit ini begitu saja? Bukankah ia berhak meminta Abimanyu melakukannya lebih lembut?

Mengapa ia merasa...

Abimanyu tak peduli apa yang ia rasakan?

Seolah pria itu menganggapnya...

Sekedar gundik.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menghancurkan Suamiku   12. Aku Tak Pernah Mengemis

    “Terus Ma, penjahatnya dipukul sama Iron Man!”Pagi itu, Marianna duduk di ruang makan, mengaduk kopi yang mulai mendingin tanpa berniat meminumnya. Di hadapannya, Adrian duduk dengan sendok kecil di tangan, mencoba menangkap perhatian ibunya. Namun, pikirannya masih terjebak dalam peristiwa malam sebelumnya.“Penjahatnya dipukul, ya?” ulangnya dengan senyum tipis.Saat ia baru saja akan menyuapi Adrian, suara langkah tegas terdengar dari kamar. Abimanyu keluar dengan wajah segar, seolah dunia ini berjalan sesuai keinginannya. Aroma parfum mewah melekat di tubuhnya, seakan menegaskan bahwa ia masih seorang Abimanyu Efmeros yang sempurna. Tanpa peduli pada pandangan istrinya yang penuh pertanyaan, ia langsung berjalan menuju meja dan meraih kunci mobilnya.“Aku akan makan di rumah Mama,” ujarnya santai, bahkan tanpa menoleh pada Marianna.Wanita itu terdiam sejenak, menatap suaminya dengan keterkejutan yang samar. “Kau bahkan belum sarapan.”“Ada acara keluarga. Aku tidak bisa melewatk

  • Menghancurkan Suamiku   11. Kewarasan

    “Mati saja. Mati saja kau, sialan. Masalah seperti ini saja tak bisa kau hadapi.” Bisiknya.Malam itu, Marianna duduk di depan meja riasnya, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Cahaya temaram dari lampu tidur membuat bayangannya tampak lebih pucat, lebih rapuh. Gaun tidur sutra yang membalut tubuhnya terasa seperti belenggu dingin yang mengingatkan bahwa ia bukan lagi seorang istri, melainkan sekadar pemuas nafsu bagi lelaki yang pernah ia cintai.Ia menghela napas panjang, tangannya gemetar saat menyentuh kulit lehernya yang masih terasa panas akibat cengkeraman kasar yang sering kali ia terima. Sejak kapan dirinya berubah menjadi seseorang yang tidak ia kenali? Sejak kapan pernikahannya, yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan, berubah menjadi perang dingin yang penuh dengan penindasan?Pintu kamar terbuka tanpa ketukan, dan sosok Abimanyu muncul dengan wajah yang menandakan kelelahan, namun di matanya terpancar sesuatu yang lain: hasrat yang telah lama menjadi mo

  • Menghancurkan Suamiku   10. Bukan Anak Kita?

    “Teh melati? Aromanya agak kuat. Tapi menenangkan. Hanya saja... agak horor kalau diminum malam”Denting gelas kaca yang diletakkan di atas meja terdengar pelan di ruangan yang dipenuhi aroma teh melati. Marianna duduk di sofa, menatap ke luar jendela dengan mata yang kosong. Hari itu, hujan turun perlahan, membasahi jalanan yang sepi di luar sana. Namun, di dalam ruangan itu, badai yang lebih dahsyat sedang berkecamuk dalam hatinya.Di seberangnya, mata kecoklatan memperhatikan. Lisabeth Candrakala. Wanita itu menyesap tehnya, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara, "Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini, kan?"Marianna mati kutu. Tangannya meremas rok yang ia kenakan, jari-jarinya yang ramping sedikit gemetar. Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Lisabeth bukan hanya seorang sahabat, tetapi juga seorang psikiater yang intuisinya menyamai silet. Dan hari ini, tidak ada alasan lain bagi Lisabeth untuk memanggilnya kecuali untuk membicarakan satu hal: pernikahannya."Aku hanya

  • Menghancurkan Suamiku   9. Dia Anakmu!

    “Hah, entah dengan lacur mana lagi dia tidur, Lis.”Ia memutus sambungan telepon mendadak. Rasa pahit di lidahnya menjadi tanda, sebentar lagi ia akan menangis. Ia tak suka Lisabeth mengetahui kerapuhannya.Marianna sudah lama berhenti berharap. Bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang secuil kepedulian dari pria yang seharusnya menjadi kepala keluarganya. Ia masih ingat hari-hari ketika ia menunggu dengan sabar, percaya bahwa Abimanyu akan berubah. Bahwa suaminya itu akan melihat dirinya dan Adrian sebagai keluarga yang pantas diperjuangkan.Namun, hari demi hari berlalu dengan kenyataan yang semakin menghancurkan. Abimanyu bukan hanya seorang pria yang tidak setia, tetapi juga seorang ayah yang tidak peduli. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat putranya tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan oleh ayah kandungnya sendiri.Pagi itu, Marianna menyiapkan sarapan seperti biasa. Meskipun tidak ada yang berubah dari rutinitasnya, ada sesuatu yang semakin menggerogot

  • Menghancurkan Suamiku   8. Mengasah Pisau

    Marianna menelan ludah untuk kesekian kalinya.“Tidak, ini semua tidak benar. Ya, Maria. Dia suamimu. Kau... tidak, aku benci pikiranku” Ia berbisik lirih.Malam itu, ia berdiri di dapur, tangannya gemetar saat menuangkan segelas air. Adrian sudah tertidur di kamarnya, dan Abimanyu baru saja pulang dalam keadaan mabuk berat. Langkahnya tidak stabil, tubuhnya beraroma campuran antara alkohol dan parfum wanita lain. Tidak perlu menebak dari mana ia berasal.“Kau tidak bisa melakukan ini terus-menerus, Abi,” suara Marianna bergetar, meskipun ia berusaha terdengar tegar. “Kita masih punya anak. Adrian butuh ayahnya.”Abimanyu menatapnya dengan mata merah. Ia tertawa kecil, mencemooh. “Kau pikir aku peduli? Aku sudah cukup baik tetap memberimu rumah untuk tinggal.”“Kau tidak memberiku rumah. Rumah ini dari uang kita berdua,” balas Marianna dengan napas tertahan. Ia tahu ia seharusnya tidak melawan, tidak ketika pria di hadapannya sedang dalam kondisi seperti ini. Namun, kelelahan dan kema

  • Menghancurkan Suamiku   7. Bajingan, Abimanyu.

    Marianna merasakan jantungnya berdegup kencang. Adrenalin mengalir deras di nadinya, namun ia menekan gejolak emosinya. Tidak, ia tidak boleh gegabah. Tidak boleh mempermalukan diri sendiri.Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggung, lalu melangkah menuju meja tempat Kasandra duduk."Kasandra," suaranya terdengar tenang, tapi dingin.Kasandra mendongak, sedikit terkejut melihat Marianna berdiri di sana. Namun, ekspresi itu segera berubah menjadi seringai kecil. Seringai kemenangan."Oh, Marianna. Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini," ucapnya ringan, seperti tidak ada yang salah.Marianna tidak menggubris basa-basi itu. Tatapannya langsung tertuju pada kotak bekal yang digenggam Kasandra."Itu milikku," ujarnya singkat.Kasandra mengangkat alis, lalu dengan sengaja memutar kotak bekal itu di tangannya, memperlihatkan detailnya dengan gerakan santai. Menunjukkan bahwa ia tahu Marianna akan mengenalinya."Oh, ini?" Kasandra tersenyum, lalu membuka tutupnya sedikit. Aroma

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status