Share

11. Kewarasan

last update Dernière mise à jour: 2026-02-26 18:12:08

“Mati saja. Mati saja kau, sialan. Masalah seperti ini saja tak bisa kau hadapi.” Bisiknya.

Malam itu, Marianna duduk di depan meja riasnya, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Cahaya temaram dari lampu tidur membuat bayangannya tampak lebih pucat, lebih rapuh. Gaun tidur sutra yang membalut tubuhnya terasa seperti belenggu dingin yang mengingatkan bahwa ia bukan lagi seorang istri, melainkan sekadar pemuas nafsu bagi lelaki yang pernah ia cintai.

Ia menghela napas panjang
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Menghancurkan Suamiku   12. Aku Tak Pernah Mengemis

    “Terus Ma, penjahatnya dipukul sama Iron Man!”Pagi itu, Marianna duduk di ruang makan, mengaduk kopi yang mulai mendingin tanpa berniat meminumnya. Di hadapannya, Adrian duduk dengan sendok kecil di tangan, mencoba menangkap perhatian ibunya. Namun, pikirannya masih terjebak dalam peristiwa malam sebelumnya.“Penjahatnya dipukul, ya?” ulangnya dengan senyum tipis.Saat ia baru saja akan menyuapi Adrian, suara langkah tegas terdengar dari kamar. Abimanyu keluar dengan wajah segar, seolah dunia ini berjalan sesuai keinginannya. Aroma parfum mewah melekat di tubuhnya, seakan menegaskan bahwa ia masih seorang Abimanyu Efmeros yang sempurna. Tanpa peduli pada pandangan istrinya yang penuh pertanyaan, ia langsung berjalan menuju meja dan meraih kunci mobilnya.“Aku akan makan di rumah Mama,” ujarnya santai, bahkan tanpa menoleh pada Marianna.Wanita itu terdiam sejenak, menatap suaminya dengan keterkejutan yang samar. “Kau bahkan belum sarapan.”“Ada acara keluarga. Aku tidak bisa melewatk

  • Menghancurkan Suamiku   11. Kewarasan

    “Mati saja. Mati saja kau, sialan. Masalah seperti ini saja tak bisa kau hadapi.” Bisiknya.Malam itu, Marianna duduk di depan meja riasnya, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Cahaya temaram dari lampu tidur membuat bayangannya tampak lebih pucat, lebih rapuh. Gaun tidur sutra yang membalut tubuhnya terasa seperti belenggu dingin yang mengingatkan bahwa ia bukan lagi seorang istri, melainkan sekadar pemuas nafsu bagi lelaki yang pernah ia cintai.Ia menghela napas panjang, tangannya gemetar saat menyentuh kulit lehernya yang masih terasa panas akibat cengkeraman kasar yang sering kali ia terima. Sejak kapan dirinya berubah menjadi seseorang yang tidak ia kenali? Sejak kapan pernikahannya, yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan, berubah menjadi perang dingin yang penuh dengan penindasan?Pintu kamar terbuka tanpa ketukan, dan sosok Abimanyu muncul dengan wajah yang menandakan kelelahan, namun di matanya terpancar sesuatu yang lain: hasrat yang telah lama menjadi mo

  • Menghancurkan Suamiku   10. Bukan Anak Kita?

    “Teh melati? Aromanya agak kuat. Tapi menenangkan. Hanya saja... agak horor kalau diminum malam”Denting gelas kaca yang diletakkan di atas meja terdengar pelan di ruangan yang dipenuhi aroma teh melati. Marianna duduk di sofa, menatap ke luar jendela dengan mata yang kosong. Hari itu, hujan turun perlahan, membasahi jalanan yang sepi di luar sana. Namun, di dalam ruangan itu, badai yang lebih dahsyat sedang berkecamuk dalam hatinya.Di seberangnya, mata kecoklatan memperhatikan. Lisabeth Candrakala. Wanita itu menyesap tehnya, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara, "Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini, kan?"Marianna mati kutu. Tangannya meremas rok yang ia kenakan, jari-jarinya yang ramping sedikit gemetar. Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Lisabeth bukan hanya seorang sahabat, tetapi juga seorang psikiater yang intuisinya menyamai silet. Dan hari ini, tidak ada alasan lain bagi Lisabeth untuk memanggilnya kecuali untuk membicarakan satu hal: pernikahannya."Aku hanya

  • Menghancurkan Suamiku   9. Dia Anakmu!

    “Hah, entah dengan lacur mana lagi dia tidur, Lis.”Ia memutus sambungan telepon mendadak. Rasa pahit di lidahnya menjadi tanda, sebentar lagi ia akan menangis. Ia tak suka Lisabeth mengetahui kerapuhannya.Marianna sudah lama berhenti berharap. Bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang secuil kepedulian dari pria yang seharusnya menjadi kepala keluarganya. Ia masih ingat hari-hari ketika ia menunggu dengan sabar, percaya bahwa Abimanyu akan berubah. Bahwa suaminya itu akan melihat dirinya dan Adrian sebagai keluarga yang pantas diperjuangkan.Namun, hari demi hari berlalu dengan kenyataan yang semakin menghancurkan. Abimanyu bukan hanya seorang pria yang tidak setia, tetapi juga seorang ayah yang tidak peduli. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat putranya tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan oleh ayah kandungnya sendiri.Pagi itu, Marianna menyiapkan sarapan seperti biasa. Meskipun tidak ada yang berubah dari rutinitasnya, ada sesuatu yang semakin menggerogot

  • Menghancurkan Suamiku   8. Mengasah Pisau

    Marianna menelan ludah untuk kesekian kalinya.“Tidak, ini semua tidak benar. Ya, Maria. Dia suamimu. Kau... tidak, aku benci pikiranku” Ia berbisik lirih.Malam itu, ia berdiri di dapur, tangannya gemetar saat menuangkan segelas air. Adrian sudah tertidur di kamarnya, dan Abimanyu baru saja pulang dalam keadaan mabuk berat. Langkahnya tidak stabil, tubuhnya beraroma campuran antara alkohol dan parfum wanita lain. Tidak perlu menebak dari mana ia berasal.“Kau tidak bisa melakukan ini terus-menerus, Abi,” suara Marianna bergetar, meskipun ia berusaha terdengar tegar. “Kita masih punya anak. Adrian butuh ayahnya.”Abimanyu menatapnya dengan mata merah. Ia tertawa kecil, mencemooh. “Kau pikir aku peduli? Aku sudah cukup baik tetap memberimu rumah untuk tinggal.”“Kau tidak memberiku rumah. Rumah ini dari uang kita berdua,” balas Marianna dengan napas tertahan. Ia tahu ia seharusnya tidak melawan, tidak ketika pria di hadapannya sedang dalam kondisi seperti ini. Namun, kelelahan dan kema

  • Menghancurkan Suamiku   7. Bajingan, Abimanyu.

    Marianna merasakan jantungnya berdegup kencang. Adrenalin mengalir deras di nadinya, namun ia menekan gejolak emosinya. Tidak, ia tidak boleh gegabah. Tidak boleh mempermalukan diri sendiri.Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggung, lalu melangkah menuju meja tempat Kasandra duduk."Kasandra," suaranya terdengar tenang, tapi dingin.Kasandra mendongak, sedikit terkejut melihat Marianna berdiri di sana. Namun, ekspresi itu segera berubah menjadi seringai kecil. Seringai kemenangan."Oh, Marianna. Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini," ucapnya ringan, seperti tidak ada yang salah.Marianna tidak menggubris basa-basi itu. Tatapannya langsung tertuju pada kotak bekal yang digenggam Kasandra."Itu milikku," ujarnya singkat.Kasandra mengangkat alis, lalu dengan sengaja memutar kotak bekal itu di tangannya, memperlihatkan detailnya dengan gerakan santai. Menunjukkan bahwa ia tahu Marianna akan mengenalinya."Oh, ini?" Kasandra tersenyum, lalu membuka tutupnya sedikit. Aroma

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status