MasukMalam itu, Marianna duduk di meja makan, menunggu Abimanyu pulang.
Di hadapannya, hidangan sudah tertata rapi, tetapi ia tidak merasa lapar. Yang lebih memenuhi kepalanya adalah kata-kata Adrian di sekolah tadi.
"Tante Kasandra bilang aku akan punya dua Mama."
Napasnya terasa berat.
Saat akhirnya pintu terbuka dan Abimanyu masuk, ekspresinya seperti biasa: lelah, tetapi tetap menyunggingkan senyum tipis.
“Aku pulang.”
Marianna membalas senyum itu dengan datar.
“Kau pulang larut lagi.”
Abimanyu melepas jasnya, lalu mengecup puncak kepalanya. “Biasa, Sayang. Meeting di luar kota, revisi proposal, klien rewel.” Ia mengambil gelas berisi es teh di meja dan menyesapnya santai.
Marianna memperhatikannya dalam diam sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati.
“Aku bertemu Adrian di sekolah tadi.”
Abimanyu mengangkat alis.
“Lalu?”
“Dia bilang sesuatu yang menarik.”
“Oh, ya?” Suaminya tertawa kecil, mencubit dagu Marianna seolah menganggapnya menggemaskan.
“Anak lima tahun memang suka bicara aneh.”
Marianna menghirup napas dalam-dalam, berusaha menjaga ketenangannya.
“Dia bilang… Tante Kasandra mengatakan sesuatu padanya. Bahwa aku tak perlu capek-capek mengurus semuanya sendirian. Karena Papa dan Tante akan ikut mengurus Adrian juga.”
Sejenak, ada perubahan halus di wajah Abimanyu.
Tapi hanya sedetik. Lalu ia tertawa. Tawa ringan, seolah ini hanya lelucon sepele.
“Astaga, Sayang, kau percaya ocehan anak-anak? Kasandra hanya ramah. Kau tahu dia suka anak kecil.”
Marianna masih diam.
“Jangan berpikir aneh-aneh, hm?” lanjutnya, mengulurkan tangan untuk menggenggam jari-jari Marianna yang dingin.
“Kasandra hanya teman. Dia sering ikut kalau aku jemput Adrian karena kebetulan lewat saja. Lagipula, aku kan ayahnya. Salahkah aku menjemput anakku sendiri?”
Marianna menatapnya, mencari sesuatu di balik mata cokelat gelap suaminya itu.
“Tapi…”
“Tapi apa, Sayang?”
“Tapi Adrian bilang Kasandra juga mengatakan bahwa aku tidak perlu khawatir karena Adrian akan punya dua Mama.”
Kali ini Abimanyu mendesah, meletakkan gelasnya dengan sedikit lebih keras.
“Marianna,” suaranya lebih dalam, lebih serius.
“Kau tahu, kau punya kebiasaan terlalu memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu.”
“Abimanyu—”
“Dengar.” Abimanyu meraih tangannya, mengusapnya lembut.
“Aku tahu kau lelah. Kau ibu rumah tangga yang hebat, kau mengurus Adrian dengan baik. Tapi akhir-akhir ini, aku melihat kau terlalu cemas, terlalu paranoid. Aku tidak mau kau jadi seperti ibuku.”
Marianna mengerjap, tersentak dengan perbandingan itu.
Ibunya mertua memang pernah mengalami depresi berat. Selalu mencurigai suaminya selingkuh, sampai akhirnya ditinggalkan.
Dan sekarang… Suaminya membandingkannya dengan wanita itu?
“Jangan sampai hal-hal kecil membuatmu kehilangan akal sehat,” lanjut Abimanyu. Suaranya lembut, penuh simpati.
“Aku mencintaimu. Aku ada di sini. Aku pulang padamu setiap malam, kan? Aku tidak ke mana-mana.”
Marianna mengatup bibirnya.
Pikiran di kepalanya bertubrukan satu sama lain.
Kata-kata suaminya masuk akal, tetapi… entah kenapa, rasanya seperti ada sesuatu yang salah.
Namun, ketika Abimanyu menariknya ke dalam pelukan hangatnya, membisikkan bahwa ia mencintainya, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Marianna mulai ragu.
Mungkin dia memang terlalu berpikir berlebihan.
Mungkin ini hanya akumulasi dari rasa lelah dan beban sebagai seorang ibu.
Mungkin… ia harus lebih percaya pada suaminya.
Marianna menghela napas dan memejamkan mata.
Tidak sadar bahwa ia baru saja jatuh lebih dalam ke dalam jebakan manipulasi pria yang dicintainya.
Pagi itu, Marianna bangun lebih awal dari biasanya.
Udara masih segar, burung-burung berkicau di luar jendela, dan aroma kopi yang baru diseduh memenuhi dapur. Di hadapannya, sebuah kotak bekal sudah hampir selesai ia siapkan.
Nasi yang masih mengepul, lauk favorit Abimanyu, irisan telur dadar, dan sedikit potongan buah. Ia menghiasnya dengan rapi, memastikan semua tampak sempurna.
"Suami yang pulang larut pasti lapar di kantor," pikirnya.
Ketika Abimanyu turun, ia menyambutnya dengan senyum lembut.
"Aku buatkan bekal untukmu."
Suaminya sempat mengerjap, sebelum akhirnya tersenyum tipis dan menerima kotak bekal itu.
"Terima kasih, Sayang. Kau selalu perhatian."
Marianna mengangguk, merasa hangat di dadanya.
Namun, hari demi hari berlalu… dan sesuatu mulai terasa aneh.
Kotak bekal yang ia berikan setiap pagi selalu hilang.
Abimanyu tidak pernah membawanya pulang, tidak pernah mengembalikannya ke dapur. Ketika ditanya, jawaban suaminya selalu sama:
"Oh, aku lupa membawanya pulang."
"Aku makan di kantor, tapi tempatnya tertinggal."
"Ada meeting mendadak, jadi aku kasih ke satpam kantor."
Jawaban-jawaban itu masuk akal, tapi… kenapa rasanya ada yang janggal?
Hingga suatu hari... hari yang mengubah segalanya.
Siang Itu, di Sebuah Café
Marianna tidak berniat mampir. Awalnya, ia hanya ingin mencari angin segar setelah mengantar Adrian ke sekolah. Namun, matanya tanpa sadar menangkap sosok yang tidak asing.
Di salah satu sudut café, duduklah seorang wanita dengan anggun, rambut panjang tergerai sempurna, bibirnya merah seperti selalu.
Kasandra Aluna.
Wanita itu tengah mengobrol dengan seseorang yang duduk di hadapannya, tetapi perhatian Marianna terkunci pada satu hal: sebuah kotak bekal yang digenggam Kasandra.
Kotak bekal berwarna hijau pastel, dengan sedikit goresan di sudutnya.
Kotak yang sama dengan yang selalu ia siapkan untuk Abimanyu.
Darah Marianna terasa membeku.
Tiba-tiba, ia merasa ingin muntah.
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, napasnya memburu.
Kenapa kotak bekal suaminya ada di tangan wanita itu?
Pagi itu, Marianna bangun lebih awal dari biasanya.
Udara masih segar, burung-burung berkicau di luar jendela, dan aroma kopi yang baru diseduh memenuhi dapur. Di hadapannya, sebuah kotak bekal sudah hampir selesai ia siapkan.
Nasi yang masih mengepul, lauk favorit Abimanyu, irisan telur dadar, dan sedikit potongan buah. Ia menghiasnya dengan rapi, memastikan semua tampak sempurna.
"Suami yang pulang larut pasti lapar di kantor," pikirnya.
Ketika Abimanyu turun, ia menyambutnya dengan senyum lembut.
"Aku buatkan bekal untukmu."
Suaminya sempat mengerjap, sebelum akhirnya tersenyum tipis dan menerima kotak bekal itu.
"Terima kasih, Sayang. Kau selalu perhatian."
Marianna mengangguk, merasa hangat di dadanya.
Namun, hari demi hari berlalu… dan sesuatu mulai terasa aneh.
Kotak bekal yang ia berikan setiap pagi selalu hilang.
Abimanyu tidak pernah membawanya pulang, tidak pernah mengembalikannya ke dapur. Ketika ditanya, jawaban suaminya selalu sama:
"Oh, aku lupa membawanya pulang."
"Aku makan di kantor, tapi tempatnya tertinggal."
"Ada meeting mendadak, jadi aku kasih ke satpam kantor."
Jawaban-jawaban itu masuk akal, tapi… kenapa rasanya ada yang janggal?
Dan kejanggalan itu terpatahkan, beralih menjadi realita.
Realita bahwa Kasandra benar-benar terlibat lebih jauh dengan Abimanyu. Wanita sombong dengan dandanan menor, bedak setebal dinding toko bahan bangunan, eyeliner meliuk bak garis khatulistiwa, dan ekspresi songong yang membuat hasrat menampar wanita itu tumbuh di dada Marianna.
"Apa kulempar dengan sendal saja? Astaga Marianna, itu tindakan yang sungguh tak elegan. Kalau mau menghardik wanita sepertinya, aku harus melakukannya dengan anggunly" Monolog Marianna.
“Terus Ma, penjahatnya dipukul sama Iron Man!”Pagi itu, Marianna duduk di ruang makan, mengaduk kopi yang mulai mendingin tanpa berniat meminumnya. Di hadapannya, Adrian duduk dengan sendok kecil di tangan, mencoba menangkap perhatian ibunya. Namun, pikirannya masih terjebak dalam peristiwa malam sebelumnya.“Penjahatnya dipukul, ya?” ulangnya dengan senyum tipis.Saat ia baru saja akan menyuapi Adrian, suara langkah tegas terdengar dari kamar. Abimanyu keluar dengan wajah segar, seolah dunia ini berjalan sesuai keinginannya. Aroma parfum mewah melekat di tubuhnya, seakan menegaskan bahwa ia masih seorang Abimanyu Efmeros yang sempurna. Tanpa peduli pada pandangan istrinya yang penuh pertanyaan, ia langsung berjalan menuju meja dan meraih kunci mobilnya.“Aku akan makan di rumah Mama,” ujarnya santai, bahkan tanpa menoleh pada Marianna.Wanita itu terdiam sejenak, menatap suaminya dengan keterkejutan yang samar. “Kau bahkan belum sarapan.”“Ada acara keluarga. Aku tidak bisa melewatk
“Mati saja. Mati saja kau, sialan. Masalah seperti ini saja tak bisa kau hadapi.” Bisiknya.Malam itu, Marianna duduk di depan meja riasnya, menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kosong. Cahaya temaram dari lampu tidur membuat bayangannya tampak lebih pucat, lebih rapuh. Gaun tidur sutra yang membalut tubuhnya terasa seperti belenggu dingin yang mengingatkan bahwa ia bukan lagi seorang istri, melainkan sekadar pemuas nafsu bagi lelaki yang pernah ia cintai.Ia menghela napas panjang, tangannya gemetar saat menyentuh kulit lehernya yang masih terasa panas akibat cengkeraman kasar yang sering kali ia terima. Sejak kapan dirinya berubah menjadi seseorang yang tidak ia kenali? Sejak kapan pernikahannya, yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan, berubah menjadi perang dingin yang penuh dengan penindasan?Pintu kamar terbuka tanpa ketukan, dan sosok Abimanyu muncul dengan wajah yang menandakan kelelahan, namun di matanya terpancar sesuatu yang lain: hasrat yang telah lama menjadi mo
“Teh melati? Aromanya agak kuat. Tapi menenangkan. Hanya saja... agak horor kalau diminum malam”Denting gelas kaca yang diletakkan di atas meja terdengar pelan di ruangan yang dipenuhi aroma teh melati. Marianna duduk di sofa, menatap ke luar jendela dengan mata yang kosong. Hari itu, hujan turun perlahan, membasahi jalanan yang sepi di luar sana. Namun, di dalam ruangan itu, badai yang lebih dahsyat sedang berkecamuk dalam hatinya.Di seberangnya, mata kecoklatan memperhatikan. Lisabeth Candrakala. Wanita itu menyesap tehnya, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya bersuara, "Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini, kan?"Marianna mati kutu. Tangannya meremas rok yang ia kenakan, jari-jarinya yang ramping sedikit gemetar. Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Lisabeth bukan hanya seorang sahabat, tetapi juga seorang psikiater yang intuisinya menyamai silet. Dan hari ini, tidak ada alasan lain bagi Lisabeth untuk memanggilnya kecuali untuk membicarakan satu hal: pernikahannya."Aku hanya
“Hah, entah dengan lacur mana lagi dia tidur, Lis.”Ia memutus sambungan telepon mendadak. Rasa pahit di lidahnya menjadi tanda, sebentar lagi ia akan menangis. Ia tak suka Lisabeth mengetahui kerapuhannya.Marianna sudah lama berhenti berharap. Bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang secuil kepedulian dari pria yang seharusnya menjadi kepala keluarganya. Ia masih ingat hari-hari ketika ia menunggu dengan sabar, percaya bahwa Abimanyu akan berubah. Bahwa suaminya itu akan melihat dirinya dan Adrian sebagai keluarga yang pantas diperjuangkan.Namun, hari demi hari berlalu dengan kenyataan yang semakin menghancurkan. Abimanyu bukan hanya seorang pria yang tidak setia, tetapi juga seorang ayah yang tidak peduli. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat putranya tumbuh dengan perasaan tidak diinginkan oleh ayah kandungnya sendiri.Pagi itu, Marianna menyiapkan sarapan seperti biasa. Meskipun tidak ada yang berubah dari rutinitasnya, ada sesuatu yang semakin menggerogot
Marianna menelan ludah untuk kesekian kalinya.“Tidak, ini semua tidak benar. Ya, Maria. Dia suamimu. Kau... tidak, aku benci pikiranku” Ia berbisik lirih.Malam itu, ia berdiri di dapur, tangannya gemetar saat menuangkan segelas air. Adrian sudah tertidur di kamarnya, dan Abimanyu baru saja pulang dalam keadaan mabuk berat. Langkahnya tidak stabil, tubuhnya beraroma campuran antara alkohol dan parfum wanita lain. Tidak perlu menebak dari mana ia berasal.“Kau tidak bisa melakukan ini terus-menerus, Abi,” suara Marianna bergetar, meskipun ia berusaha terdengar tegar. “Kita masih punya anak. Adrian butuh ayahnya.”Abimanyu menatapnya dengan mata merah. Ia tertawa kecil, mencemooh. “Kau pikir aku peduli? Aku sudah cukup baik tetap memberimu rumah untuk tinggal.”“Kau tidak memberiku rumah. Rumah ini dari uang kita berdua,” balas Marianna dengan napas tertahan. Ia tahu ia seharusnya tidak melawan, tidak ketika pria di hadapannya sedang dalam kondisi seperti ini. Namun, kelelahan dan kema
Marianna merasakan jantungnya berdegup kencang. Adrenalin mengalir deras di nadinya, namun ia menekan gejolak emosinya. Tidak, ia tidak boleh gegabah. Tidak boleh mempermalukan diri sendiri.Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggung, lalu melangkah menuju meja tempat Kasandra duduk."Kasandra," suaranya terdengar tenang, tapi dingin.Kasandra mendongak, sedikit terkejut melihat Marianna berdiri di sana. Namun, ekspresi itu segera berubah menjadi seringai kecil. Seringai kemenangan."Oh, Marianna. Aku tidak menyangka bertemu denganmu di sini," ucapnya ringan, seperti tidak ada yang salah.Marianna tidak menggubris basa-basi itu. Tatapannya langsung tertuju pada kotak bekal yang digenggam Kasandra."Itu milikku," ujarnya singkat.Kasandra mengangkat alis, lalu dengan sengaja memutar kotak bekal itu di tangannya, memperlihatkan detailnya dengan gerakan santai. Menunjukkan bahwa ia tahu Marianna akan mengenalinya."Oh, ini?" Kasandra tersenyum, lalu membuka tutupnya sedikit. Aroma







