MasukBerapa harga minyak goreng dan gas hari ini?
Sebuah pertanyaan sepele yang jawabannya mungkin akan mengejutkan setiap suami. Tak mengira, betapa sulitnya para istri harus mengelola uang, memutar otak agar uang itu cukup, dan memikirkan menu makanan yang berbeda-beda setiap hari. Cukup di modal, tidak membosankan, namun tetap bergizi.
Dan terkadang, martabat juga dipertaruhkan dalam hal yang sering dianggap sepele ini.
Marianna berdiri di depan meja kasir dengan jari-jari yang menggenggam erat dompetnya. Ia menelan ludah, menatap angka yang tertera di layar mesin kasir, Rp780.000.
Ia membuka dompet dengan gerakan hati-hati. Selembar lima puluh ribuan, beberapa lembar dua puluh ribuan, beberapa receh seribuan. Total uangnya hanya Rp500.000.
Napasnya tercekat.
Tidak.
Ini tidak mungkin.
Istri seorang Abimanyu Efmeros, perempuan yang selama ini hidup dalam kemewahan, yang setiap harinya mengenakan pakaian dari butik eksklusif dan menghadiri pesta sosialita… sekarang berdiri di sini, di pasar tradisional, menawar harga bawang dan cabai.
Dan tetap tidak cukup.
"Bu, kalau ayamnya dikurangin setengah bisa nggak?" tanyanya dengan suara seramah mungkin, menyembunyikan guncangan dalam dirinya.
Penjual sayur menatapnya, awalnya ragu, lalu mengangguk.
"Bisa, Bu. Saya potongin ya."
Marianna mengangguk dengan anggun, meski dalam dirinya ada sesuatu yang terasa seperti retak.
"Shuut, lihat tuh. Cantik-cantik dompetnya tercekik. Masa ayam seekor minta jadi setengah doang?"
"Biasalah, mungkin gaya hidupnya kayak orang tajir. Padahal finansial kejepit"
Dua ibu rumah tangga bergunjing di belakang Marianna. Berbisik, namun menusuk telinga dan dada Marianna.
Ia mengulurkan uang dengan senyuman kecil, menerima kembalian beberapa ribu rupiah. Lalu bergegas pergi dengan kantong belanjaannya. Tapi itu belum selesai.
Ada listrik dan air yang harus dibayar.
Di loket pembayaran listrik, tangannya mencengkeram erat struk yang diberikan petugas.
Rp315.000.
Uangnya tinggal Rp120.000.
Marianna menggigit bibir.
"Maaf, Bu. Pembayaran harus penuh, nggak bisa dicicil," ujar petugas tanpa ekspresi, seolah itu hal sepele.
Tapi bagi Marianna saat ini, itu bukan hal sepele.
Ia menelan ludah, lalu dengan gerakan halus, ia merogoh tas tangannya. Di sana, terselip kartu debitnya. Tapi ia tahu, saldo di dalamnya hampir kosong.
Jantungnya berdetak cepat.
Haruskah ia menelepon Abimanyu? Meminta uang tambahan seperti istri manja yang tidak bisa mengelola keuangan rumah tangga?
Tidak.
Harga dirinya masih ada.
Maka ia melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia menggeser struk listrik itu, menatap petugas dengan tatapan tenang, dan berkata,
“Saya bayar bulan depan saja. Biar sekaligus”
Petugas menatap Marianna dengan cibiran.
Lalu, dengan kepala tegak dan langkah anggun, Marianna meninggalkan tempat itu.
Dari luar, ia masih terlihat seperti wanita kaya yang berbelanja untuk keluarganya. Tapi hanya dirinya yang tahu, bahwa hari ini, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasa miskin.
Marianna duduk di bangku taman kota, diam, termenung.
Di hadapannya, beberapa keluarga tengah menikmati siang yang cerah. Seorang ayah menggendong putrinya di bahu, membuat bocah itu tertawa ceria. Seorang ibu menyuapi anaknya es krim, wajah mereka penuh kasih sayang. Sekelompok anak kecil berlarian di rerumputan, bermain bola dengan penuh semangat.
Pemandangan itu seharusnya biasa saja. Tapi bagi Marianna saat ini, rasanya menohok.
Dulu, ia merasa keluarganya seperti itu. Dulu, ia merasa ia hidup dalam dongeng. Tapi sekarang?
Perutnya keroncongan, haus mulai menyerang tenggorokannya. Tadi di pasar ia tak berani membeli air mineral. Lima ribu rupiah terlalu berharga untuk dihamburkan.
Ia menggigit bibir.
Mata hazelnya melirik ke arah seorang ibu yang baru saja membeli sebotol air dari pedagang keliling. Wanita itu meneguknya perlahan, santai, tanpa beban. Seolah harga sebuah minuman tak ada artinya.
Tenggorokannya kering.
Marianna menghela napas, lalu bangkit. Ia berjalan dengan langkah ringan, berusaha tetap anggun meski ada sesuatu dalam dirinya yang terasa seperti runtuh.
Ia masuk ke kamar mandi taman. Suasananya lengang, hanya ada satu atau dua bilik yang tertutup.
Di sudut ruangan, wastafel berjejer rapi di bawah cermin besar. Dari kran itu, air mengalir deras.
Sebersih apa air ini? Apakah aman untuk diminum?
Marianna tak peduli.
Ia menangkupkan kedua tangannya di bawah aliran air, menampungnya sebisa mungkin, lalu membawanya ke bibir.
Dingin. Segar. Tapi juga pahit.
Bukan pahit karena rasanya. Tapi pahit karena realita.
Seorang Marianna Flopium, istri Abimanyu Efmeros, seorang sosialita yang biasa menikmati wine mahal, kini harus menenggak air mentah dari wastafel umum karena suaminya hanya memberinya Rp500.000 untuk bertahan hidup.
Ia meneguk lagi.
Lalu lagi.
Dan lagi.
Sampai perutnya terasa cukup terisi, sampai tenggorokannya tak lagi kering.
Kemudian, ia menegakkan punggungnya, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan menatap bayangannya di cermin.
Matanya berbinar, bukan karena kepercayaan diri. Tapi karena sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
Sebuah kesadaran.
Sebuah keputusan.
Bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya hidup seperti ini selamanya.
Namun, apakah Marianna merasa menyesal telah memilih menikah dengan Abimanyu saat ini?
Tidak.
Marianna tidak pernah menyesal, untuk saat ini. Abimanyu memberinya banyak pelajaran hidup, dan ia tak keberatan. Asalkan Abimanyu menjaga kesetiaannya dan cintanya pada Marianna.
Marianna tak menyesal.
Karena ia mencintai Abimanyu.
Setelah mengatur napas dan memastikan wajahnya tidak terlalu pucat, Marianna melangkah keluar dari taman kota. Matahari siang masih menyengat, tetapi pikirannya jauh lebih dingin.
Ia menumpang taksi ke taman kanak-kanak Adrian. Perjalanan terasa lebih panjang dari biasanya, atau mungkin karena pikirannya terus-menerus dipenuhi pertanyaan, tentang uang belanja yang terus menipis, tentang perkataan ibu-ibu di taman kemarin, tentang segala hal yang mulai terasa tidak benar dalam rumah tangganya.
Begitu sampai, Marianna turun dan berjalan masuk ke halaman sekolah. Anak-anak berlarian, beberapa berbaris menunggu jemputan, beberapa duduk di ayunan, tertawa riang. Namun, matanya langsung tertuju pada Adrian yang berdiri di sudut taman bermain, berbicara dengan seorang wanita.
Wanita yang sangat ia kenali.
Kasandra.
Marianna menghentikan langkahnya, detak jantungnya meningkat.
Kasandra berjongkok di depan Adrian, tersenyum, berbicara dengan lembut. Tangannya mengusap kepala anak itu, jari-jarinya bermain dengan rambutnya seolah mereka memiliki kedekatan yang alami.
Napas Marianna tercekat.
Adrian tersenyum malu-malu, tangan mungilnya menggenggam tangan Kasandra dengan polos.
Kasandra kemudian mendekat, membisikkan sesuatu ke telinga Adrian, yang membuat bocah itu mengangguk kecil.
Marianna tak bisa bergerak.
Lalu, Kasandra menoleh.
Dan dalam sepersekian detik itu, mata mereka bertemu.
Senyum Kasandra tetap manis, tetapi ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang membuat Marianna merasakan guncangan aneh di dadanya.
Perlahan, wanita itu bangkit. Dengan anggun, ia menepuk kepala Adrian sekali lagi sebelum berjalan pergi.
Marianna masih terpaku.
Apa yang baru saja terjadi?
Kenapa Kasandra bisa ada di sini?
Dan... Apa yang barusan ia bisikkan pada anaknya?
Marianna akhirnya menggerakkan kakinya, berjalan mendekat dengan senyum yang ia paksakan.
“Adrian,” panggilnya lembut.
Bocah itu menoleh dengan mata berbinar.
“Mama!”
Marianna berjongkok, menyapu rambut putranya dengan lembut. Namun, hatinya bergemuruh.
“Tadi ngobrol apa sama Tante Kasandra?” tanyanya dengan nada seolah sekadar ingin tahu.
Adrian mengayunkan tubuhnya malu-malu.
“Tante bilang… Mama nggak perlu capek-capek urus semuanya sendirian.”
Marianna membeku.
“Maksudnya, sayang?”
Adrian mengerutkan kening, mencoba mengingat dengan lebih jelas. “Tante Kasandra bilang… Kalau nanti Papa dan Tante bakal urus aku juga. Jadi Mama bisa istirahat.”
Jantung Marianna berdegup keras.
“Apa Tante bilang yang lain?” suaranya nyaris bergetar.
Adrian menatapnya polos.
“Tante bilang kalau aku nggak usah takut… Soalnya aku akan punya dua Mama.”
Dunia Marianna seakan berhenti berputar.
Napasnya tercekat, tetapi ia tersenyum. Tersenyum seperti wanita yang tidak terguncang, tersenyum seperti ibu yang ingin meyakinkan anaknya bahwa semua baik-baik saja.
Bangsat.
Begitulah isi hatinya, namun Marianna menahan lisannya untuk tak mengatakan kata-kata mutiara semacam itu dihadapan buah hatinya. Ia ingin menjaga Adrian tetap murni, tetap bersih. Di usia belia, anak-anak seperti burung beo yang seringkali meniru ucapan orang-orang disekitarnya, terutama orang tua.
Ia meraih tangan Adrian.
“Ayo pulang, Sayang.”
Namun sebelum berbalik, matanya menangkap sosok Kasandra di dekat gerbang. Wanita itu berdiri di sana, tersenyum tipis, seolah menunggu reaksi Marianna.
Dan Marianna, dengan segala martabat yang masih ia genggam, hanya menatapnya dingin sebelum berbalik dan melangkah pergi.
Mungkin Kasandra menginginkan Abimanyu, namun ia percaya suaminya masih memiliki kemampuan otak yang cukup baik untuk menentukan dan melihat, bahwa Marianna lebih baik dalam segala aspek jika dibandingkan dengan Kasandra.
Tapi ini belum selesai.
Tidak akan pernah selesai.
Dan ketika langkah Marianna menginjak yang kesepuluh, Kasandra berteriak di kejauhan.
"Mbak Marianna yang cantik, besok jangan lupa bersolek ya? Sekedar memakai lipstik. Aku kasihan kamu gak sempat sama sekali untuk sekedar mempercantik diri"
Sialan. Bajingan. Wanita perek.
Hati Marianna menjerit, namun ia hanya tersenyum di kejauhan. Awalnya begitu, namun niatnya berubah setelah melihat wajah tengik Kasandra.
"Kasandra, besok kami mau merenovasi rumah. Datanglah ke rumah kami, sepertinya dempul di wajahmu cukup kokoh untuk menggantikan semen lima senti"
Wajah Kasandra memerah, sementara Adrian menatap pongah sebelum terbahak mendengar ucapan ibunya.
Malam itu, Marianna duduk di meja makan, menunggu Abimanyu pulang.Di hadapannya, hidangan sudah tertata rapi, tetapi ia tidak merasa lapar. Yang lebih memenuhi kepalanya adalah kata-kata Adrian di sekolah tadi."Tante Kasandra bilang aku akan punya dua Mama."Napasnya terasa berat.Saat akhirnya pintu terbuka dan Abimanyu masuk, ekspresinya seperti biasa: lelah, tetapi tetap menyunggingkan senyum tipis.“Aku pulang.”Marianna membalas senyum itu dengan datar.“Kau pulang larut lagi.”Abimanyu melepas jasnya, lalu mengecup puncak kepalanya. “Biasa, Sayang. Meeting di luar kota, revisi proposal, klien rewel.” Ia mengambil gelas berisi es teh di meja dan menyesapnya santai.Marianna memperhatikannya dalam diam sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati.“Aku bertemu Adrian di sekolah tadi.”Abimanyu mengangkat alis.“Lalu?”“Dia bilang sesuatu yang menarik.”“Oh, ya?” Suaminya tertawa kecil, mencubit dagu Marianna seolah menganggapnya menggemaskan.“Anak lima tahun memang suka bicara an
Berapa harga minyak goreng dan gas hari ini?Sebuah pertanyaan sepele yang jawabannya mungkin akan mengejutkan setiap suami. Tak mengira, betapa sulitnya para istri harus mengelola uang, memutar otak agar uang itu cukup, dan memikirkan menu makanan yang berbeda-beda setiap hari. Cukup di modal, tidak membosankan, namun tetap bergizi.Dan terkadang, martabat juga dipertaruhkan dalam hal yang sering dianggap sepele ini.Marianna berdiri di depan meja kasir dengan jari-jari yang menggenggam erat dompetnya. Ia menelan ludah, menatap angka yang tertera di layar mesin kasir, Rp780.000.Ia membuka dompet dengan gerakan hati-hati. Selembar lima puluh ribuan, beberapa lembar dua puluh ribuan, beberapa receh seribuan. Total uangnya hanya Rp500.000.Napasnya tercekat.Tidak.Ini tidak mungkin.Istri seorang Abimanyu Efmeros, perempuan yang selama ini hidup dalam kemewahan, yang setiap harinya mengenakan pakaian dari butik eksklusif dan menghadiri pesta sosialita… sekarang berdiri di sini, di pas
Matahari sore memancarkan sinarnya yang hangat, menciptakan bayangan panjang di taman kompleks perumahan elite itu. Marianna duduk di bangku kayu di bawah pohon rindang, tangannya terampil menyuapi Adrian yang sibuk memainkan mobil-mobilan di atas meja piknik kecilnya.Sekelompok ibu-ibu berkumpul tak jauh dari sana, masing-masing dengan anak-anak mereka yang tengah bermain di ayunan atau perosotan. Suara tawa bocah-bocah bercampur dengan obrolan ringan para ibu, sebagian besar tentang resep masakan, sekolah anak, dan... kehidupan rumah tangga.“Ah, kalau lihat Bu Marianna ini rasanya iri ya,” suara seorang ibu, yang dikenal sebagai Bu Rina, melengking dengan nada kagum.“Cantik, elegan, anaknya pintar, suaminya sukses. Hidupnya benar-benar seperti di dongeng.”Beberapa ibu lainnya mengangguk setuju."Iya, iya! Kalau lihat Bu Marianna, kayaknya nggak ada beban hidup sama sekali. Kayaknya suaminya juga setia banget ya, Mbak?" celetuk yang lain sambil melirik Marianna yang hanya terseny
Apa alasan seorang wanita bertahan dalam pernikahan bermahligai lingkaran api?Anak.Marianna duduk di pinggir ranjang, menatap tubuh kecil yang terlelap di sampingnya. Adrian, putranya yang baru berusia lima tahun, menggenggam jemari ibunya bahkan dalam tidurnya, seolah takut kehilangan satu-satunya tempat berlindung yang tersisa di dunia ini. Wajah mungilnya terlihat damai, meskipun hanya beberapa jam lalu ia menangis karena teriakan Abimanyu memenuhi rumah, menghantam dinding seperti badai yang tak kunjung reda.Di luar kamar, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Marianna menahan napas. Ia mengenali irama langkah itu. Sedikit gontai, tanda bahwa pemiliknya baru saja menghabiskan malam dengan alkohol dan, kemungkinan besar, wanita lain. Ia memejamkan mata sesaat, berdoa agar Abimanyu langsung masuk ke kamarnya sendiri tanpa membuat keributan.Namun harapannya sia-sia.Pintu kamar terbuka perlahan, dan Abimanyu berdiri di ambangnya. Matanya yang gelap menelusuri ruangan, berh
Dari luar, kehidupan Marianna tampak sempurna. Ia memiliki rumah mewah, pakaian mahal, dan status sosial yang diidamkan banyak wanita. Namun, di balik dinding berlapis marmer itu, kehidupan pernikahannya dengan Abimanyu adalah neraka yang terselubung kemewahan. Tidak ada cinta di sana, hanya kepemilikan. Tidak ada rasa aman, hanya ketakutan yang terus menghantui setiap jejak langkahnya.Pada suatu malam, saat bulan purnama menggantung di langit yang luas. Setiap keluarga bercengkerama di rumah masing-masing, menikmati malam hangat penuh canda tawa dan percakapan tentang hari yang telah mereka lewati. Itu adalah sebuah kemewahan, sesuatu yang tak Marianna miliki. Kemewahan yang ada padanya hanyalah sutra yang membalut tubuh indahnya, serta status sebagai istri Abimanyu Efmeros. Pria yang diidam-idamkan banyak wanita di luar sana.Mereka hanya tak mengetahui corak asli Abimanyu.Marianna berkutat dengan alat-alat dapur. Bergerak cekatan, menyiapkan makan malam seorang diri. Ia sudah mem
Marianna selalu memahami bahwa keindahan bukan sekadar anugerah, melainkan alat yang, jika digunakan dengan presisi, dapat membuka pintu menuju segala kemungkinan. Sejak dulu, ia mengasah pesona dan ketenangannya menjadi perisai yang sempurna. Memproyeksikan gambaran seorang istri yang paripurna. Namun, di balik tirai kemewahan yang membungkus pernikahannya, ia mulai mempertanyakan apakah ia benar-benar istri atau sekadar properti yang dikagumi, disentuh, tetapi tidak pernah benar-benar dihargai.Malam itu, ia duduk di hadapan meja rias, matanya menelusuri pantulan dirinya di cermin besar yang berbingkai emas. Gaun tidurnya yang berbahan satin jatuh dengan anggun di pundaknya, menampilkan keindahan yang selama ini selalu dipuja suaminya. Namun, ada sesuatu yang asing di dalam tatapan itu. Sebuah kehampaan yang semakin hari semakin sulit ia sembunyikan. Mata indahnya seolah mati, netra hazel berpendar dengan cahaya suram.Pintu kamar terbuka tanpa ketukan."Kenapa duduk sendirian di si







